NovelToon NovelToon
Love Mercenary Killer

Love Mercenary Killer

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: bgreen

Penculikan yang salah berujung pada malam panas. Lalu, wanita menghilang. Obsesi sang pembunuh bayaran dimulai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bgreen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

1 kamar

Maple menangis tersedu-sedu di dalam mobil, bahunya bergetar hebat. Ia seakan putus asa dengan hidupnya yang begitu menyedihkan sedari dulu, hidup yang penuh perjuangan dan kesepian.

"Kenapa ini terjadi padaku? Setiap hari aku hanya tahu bekerja dan mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhanku tanpa kenal waktu, aku bahkan tak bisa hidup dengan normal seperti orang-orang seusia ku pada umumnya. Dan sekarang aku harus mati tanpa tahu kenapa diriku harus mati," ucap Maple dengan sedih di dalam tangisnya, air matanya terus mengalir membasahi pipinya, saat pria itu tak mengubris semua pertanyaannya. Ia merasa seperti boneka yang dipermainkan takdir.

"Berhentilah menangis," ucap Rex datar, suaranya dingin dan tanpa emosi. Ia merasa terganggu dengan tangisan wanita itu, meskipun ia tidak tahu mengapa.

"Kenapa aku harus berhenti menangis? " Teriak Maple yang putus asa dan sudah lelah dengan apa yang terjadi padanya. Ia merasa tidak ada yang peduli padanya, bahkan pria yang akan membunuhnya pun tidak mau mendengarkannya.

Rex langsung menepikan mobilnya di bahu jalan yang sepi, di bawah naungan pepohonan yang rindang. Tindakannya itu membuat Maple semakin ketakutan, jantungnya berdegup kencang. Dengan gerakan cepat, Rex meraih tengkuk leher Maple dan menariknya mendekat, lalu melumat bibirnya dengan kasar.

Sontak hal itu membuat Maple terkejut dan memberontak. Ia mendorong tubuh pria itu sekuat tenaga, mencoba melepaskan diri dari ciuman paksa tersebut. Namun kekuatan pria itu begitu kuat, seperti batu karang yang kokoh, hingga pukulan yang dilakukan Maple tak mempengaruhi pria tersebut.

Rex menggigit bibir bawah wanita itu dengan lembut namun memaksa, membuat wanita itu seketika membuka mulutnya. Rex dengan leluasa memanfaatkan kesempatan itu untuk melumat bibir wanita itu dengan dalam, menjelajahi setiap sudutnya dengan lidahnya.

Maple yang sedari tadi mencoba menjauhkan wajah pria itu yang terus menciuminya akhirnya menyerah. Ia memejamkan matanya, air matanya semakin deras mengalir, merasakan sentuhan yang kasar namun entah mengapa juga terasa memabukkan.

Hiks.. Hiks...

Maple pasrah dan menangis tersedu-sedu saat pria itu masih terus menciuminya bibirnya dengan kasar dan memainkan l1d4hnya ke dalam mulut Maple. Ia merasa jijik dan terhina, namun ia tidak bisa berbuat apa-apa.

Rex bisa merasakan rasa asin dari air mata wanita itu saat menciuminya. Air mata itu membasahi bibirnya, membuatnya merasa bersalah sekaligus terangsang. Dengan perlahan ia melepaskan ciumannya itu dan melihat wanita itu menangis dengan tubuh yang bergetar hebat. Wajahnya pucat, matanya sembab, dan bibirnya merah karena ciumannya.

"Diamlah, jika kau tak ingin aku melakukan hal yang lebih dari sekedar ini," ucap Rex, suaranya serak dan penuh ancaman. Ia berusaha menyembunyikan gejolak yang berkecamuk dalam dirinya, kembali memasang topeng dingin dan tanpa emosi.

Seketika Maple menghentikan tangisnya, meskipun isakannya masih terdengar. Ia memalingkan wajahnya menghadap jendela mobil, menghindari tatapan pria itu. Ia takut pria itu akan mulai melecehkan dirinya jika dia tak mendengarkan ucapan pria itu. Ia merasa seperti hewan yang terpojok, tidak ada jalan keluar.

Rex yang melihat wanita itu mulai tenang, ia pun kembali membenarkan tempat duduknya dan memulai perjalanan. Ia mengemudi dengan kecepatan tinggi, berusaha melupakan kejadian tadi dan mengendalikan dirinya.

*

*

*

Sepanjang perjalanan, hanya keheningan yang membalut kabin mobil tersebut, keheningan yang mencekam dan menyesakkan. Maple terdiam, wajahnya memandangi pemandangan di luar jendela dengan tatapan kosong, seolah jiwanya telah pergi. Pikirannya melayang, mencoba mencerna semua kejadian yang menimpanya.

Sedangkan Rex, ia fokus mengemudi, kedua tangannya mencengkeram erat kemudi. Pikirannya dipenuhi kekhawatiran, mencari tempat yang aman baginya dan wanita itu dari kejaran musuh yang ingin membunuh mereka.

Hingga perjalanan yang begitu panjang, melewati jalanan berliku dan hutan yang lebat, membuat perut Maple berbunyi dengan nyaring di dalam mobil yang hening tersebut.

KRUKK..., suara lapar tak bisa ditahan oleh Maple saat ini. Perutnya terus mengeluarkan bunyi nyaring, memecah keheningan yang tegang. Ia merasa malu, namun ia tidak bisa mengendalikan rasa laparnya.

Entah sejak kapan Maple terakhir kali makan, ia pun tak mengingatnya lagi, terlalu banyak kejadian yang menimpanya saat ini. Ia merasa lemas dan pusing, tenaganya terkuras habis.

*

Rex pun yang mendengar suara lapar dari perut wanita itu, merasa iba sekaligus kesal. Ia semakin melajukan mobilnya, menekan pedal gas dalam-dalam, agar cepat sampai di tempat di mana ada penduduk atau tempat makan di dekat sana. Ia tidak ingin wanita itu mati kelaparan di tangannya.

Hingga beberapa menit kemudian, ia pun sampai di kota kecil di daerah sana. Kota itu tampak sepi dan tenang, jauh dari hiruk pikuk perkotaan. Rex membelokkan mobilnya menuju ke motel sederhana di kota kecil tersebut.

"Jangan berpikir untuk kabur," ucap Rex, suaranya dingin dan memperingatkan, menatap tajam ke arah Maple. Tatapannya seolah bisa menembus jiwanya.

Rex pun keluar dari mobil, begitu juga Maple dengan ragu-ragu. Rex langsung menggandeng tangan Maple dengan erat, cengkeramannya kuat dan tidak memberi kesempatan wanita itu untuk melarikan diri, dan membawanya masuk ke dalam motel tersebut.

"Pesan 1 kamar dengan bed king size," ucap Rex kepada resepsionis yang tampak terkejut melihat penampilan mereka berdua.

Resepsionis itu langsung memberikan kunci setelah Rex membayar biaya kamar. Rex masih menggenggam tangan Maple, berjalan menuju ke kamar yang ia pesan.

Keduanya langsung masuk ke dalam kamar yang dipesan Rex. Kamar itu sederhana, namun bersih dan rapi. Rex langsung menutup pintu kamar dan menguncinya dari dalam.

Seketika hal itu membuat Maple kaget. Jantungnya berdegup kencang, ketakutan mulai menguasai dirinya. Maple dengan cepat mengambil sesuatu barang di dalam kamar untuk dijadikan senjata di tangannya. Ia meraih vas bunga keramik yang ada di atas meja kecil di dekat tempat tidur.

Tubuhnya bergetar hebat dan ketakutan, ia takut pria itu akan memperkosanya di kamar ini. Ia siap membela diri, meskipun nyawanya menjadi taruhannya.

Rex yang saat itu melihat wanita itu tampak ketakutan, mengabaikannya. Ia tahu apa yang wanita itu takutkan, namun ia tidak berniat melakukan hal itu.

Rex dengan santai mengecek setiap sudut kamar serta kamar mandi di dalam kamar tersebut, memastikan tidak ada orang lain yang bersembunyi.

Setelah ia rasa cukup aman di kamar tersebut, Rex pun mengambil telepon di kamar tersebut dan memesan sarapan pagi untuk keduanya. Ia memesan makanan yang cukup banyak, berharap wanita itu bisa makan dengan lahap.

*

Maple yang sedari tadi masih terpaku di posisinya dengan vas bunga keramik di tangannya, hanya bisa diam dan mengamati gerak-gerik Rex. Ia merasa tegang dan waspada, siap menyerang jika pria itu mencoba mendekatinya.

Rex duduk di sofa usang di kamar itu, lalu menghidupkan rokoknya dan mulai menikmati rokok tersebut tanpa memperdulikan wanita itu. Asap rokok mengepul di udara, memenuhi ruangan dengan aroma tembakau yang kuat. Ia tampak tenang dan santai, seolah tidak ada bahaya yang mengintai.

Tak lama kemudian, terdengar ketukan dari luar kamar. "Pesanan anda, Tuan," ucap pelayan dari balik pintu kamar, suaranya sopan.

Rex yang selalu waspada, instingnya tajam dan terlatih, ia mengeluarkan pistolnya dari balik jaketnya. Dengan gerakan cepat, ia mulai mengecek peluru di dalam pistolnya, memastikan semuanya terisi penuh, dan menyelipkannya kembali ke belakang celananya. Ia tidak ingin lengah, sedikit saja kesalahan bisa berakibat fatal.

Dengan perlahan, ia membuka sedikit pintu tersebut untuk melihat siapa yang berada di depan pintu itu. Saat terlihat seorang pria resepsionis tadi, dengan seragam motel yang rapi, ia pun membuka pintu itu lebih lebar dan mengambil pesanan makanan yang ia pesan. Ia tetap waspada, matanya mengawasi setiap gerakan pria itu.

1
perahu kertas
😯😯
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!