Lima tahun menikah, Stella merasa hidupnya sempurna bersama Abbas, suami yang penyayang. Kehadiran Annisa—yang diperkenalkan Abbas sebagai adik sepupu yatim piatu—bahkan disambut Stella dengan tangan terbuka layaknya adik kandung sendiri.
Namun, fatamorgana itu hancur saat Stella menemukan slip reservasi hotel di saku jas Abbas. Bukan sekadar perjalanan bisnis, slip itu mencantumkan paket Honeymoon Suite untuk Mr. Abbas & Mrs. Annisa.
Kebenaran pahit terungkap: adik sepupu yang datang ternyata adalah istri siri suaminya selama setahun terakhir. Terjebak dalam pengkhianatan di bawah atap yang sama, Stella harus memilih: bertahan demi janji suci yang telah ternoda, atau pergi demi harga diri saat Annisa mulai menuntut pengakuan sah sebagai istri kedua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
...Terik matahari di lokasi proyek pembangunan resort di kawasan Lembang itu tidak sebanding dengan panasnya hati Stella. ...
...Sejak mereka tiba, Rangga seolah berubah menjadi sosok mandor yang sangat cerewet dan penuh tuntutan....
...Meskipun Stella berusaha profesional, Rangga terus mencari celah untuk menunjukkan kekuasaannya. ...
...Berkali-kali ia meminta Stella merevisi sketsa tata ruang di tempat, memaksanya berjalan memutar meninjau kontur tanah yang sebenarnya sudah selesai diperiksa. ...
...Stella mulai merasa tidak nyaman karena Rangga sengaja memperlambat pekerjaan agar mereka harus benar-benar menginap....
..."Pak Rangga, kalau kita fokus pada bagian struktur utama sekarang, kita bisa selesai sebelum maghrib dan langsung kembali ke Jakarta," tegas Stella sambil menyeka keringat di dahinya....
...Rangga hanya tersenyum miring sambil melirik jam tangannya. ...
..."Jangan terburu-buru, Stella. Kualitas tidak bisa dipaksakan. Sepertinya kita memang harus bermalam untuk melihat suasana pencahayaan lokasi ini di pagi buta besok."...
...Saat Rangga sibuk berbicara dengan kepala kontraktor, Stella menjauh sejenak ke arah rimbunan pohon pinus. ...
...Ia menarik napas dalam dan merogoh ponselnya. Telepon Penenang: Di tengah tekanan Rangga, Stella mencuri waktu untuk menelepon Khan....
...Panggilan itu langsung diangkat pada nada kedua....
..."Halo, sayang?" Suara Khan terdengar agak serak ...
...namun sangat menenangkan....
..."Khan, kamu sudah selesai?" bisik Stella, suaranya nyaris bergetar....
..."Baru saja keluar dari ruang operasi. Pasiennya stabil," jawab Khan. ...
...Ia menangkap nada gelisah di suara calon istrinya. ...
..."Ada apa? Rangga mengganggumu?"...
..."Dia sengaja memperlambat semuanya, Khan. Sepertinya aku benar-benar harus menginap karena pekerjaannya belum menyentuh poin utama. Aku hanya rindu suaramu."...
...Suara Khan yang baru saja selesai operasi menjadi satu-satunya kekuatan Stella untuk tetap bertahan di sana. ...
...Mereka berbicara singkat, namun cukup untuk mengisi kembali energi Stella....
...Namun, di seberang sana, setelah menutup telepon, wajah Khan berubah dingin. ...
...Ia melepaskan jas dokternya dan mengambil kunci mobil di meja kerja. ...
...Firasatnya mengatakan bahwa membiarkan Stella sendirian dengan pria yang terobsesi padanya adalah kesalahan besar....
...Tanpa memberi tahu Stella, Khan diam-diam memutuskan untuk menyusul Stella yang ada di Bandung. ...
...Ia tidak peduli meskipun ia harus berkendara menembus kemacetan antar kota setelah operasi yang melelahkan. ...
...Baginya, keselamatan dan ketenangan hati Stella adalah prioritas yang tidak bisa ditawar oleh siapa pun—termasuk oleh ambisi seorang Rangga....
...Malam di Lembang terasa begitu dingin, namun suasana di restoran hotel tempat mereka menginap justru terasa begitu menyesakkan. ...
...Di sebuah sudut yang privat dengan pemandangan kerlip lampu kota dari ketinggian, Rangga menyiapkan makan malam romantis di hotel tempat mereka menginap, berusaha sekali lagi meruntuhkan hati Stella dengan segala kemewahan....
...Meja itu dihiasi bunga mawar merah langka, lilin-lilin aromaterapi, dan hidangan kelas dunia yang sengaja dipesan Rangga. Namun, Stella duduk dengan wajah kaku. ...
...Baginya, semua kemewahan ini terasa seperti penjara berlapis emas....
..."Stella, lihatlah semua ini. Aku bisa memberikan dunia yang jauh lebih indah daripada sekadar kehidupan di rumah sakit," ucap Rangga dengan suara rendah, matanya menatap intens....
...Stella menggeleng pelan. "Aku sudah bilang, Rangga, ini tidak akan mengubah apa pun."...
...Rangga berdiri, melangkah mendekati Stella tepat saat suasana di lobi hotel mulai ramai. ...
...Tanpa disangka, Khan muncul di lobi hotel tepat saat Rangga sedang berusaha menguraikan perasaannya. ...
...Khan berdiri di sana, masih mengenakan kemeja yang sedikit kusut setelah perjalanan jauhnya, matanya tajam menyapu ruangan hingga menemukan sosok sang calon istri....
...Rangga melihat kedatangan Khan dari sudut matanya. ...
...Alih-alih merasa takut, insting kompetitifnya yang gelap justru bangkit. ...
...Dengan gerakan yang sangat cepat dan tak terduga, Rangga menarik pinggang Stella hingga tubuh wanita itu merapat padanya....
...Stella tersentak kaget, namun sebelum ia sempat mendorong, ia mencium bibir Stella. ...
...Rangga melakukan itu dengan sengaja, sebuah klaim sepihak yang bertujuan untuk menghancurkan harga diri pria yang baru saja tiba itu....
...Darah Khan mendidih seketika. Pemandangan itu bagaikan sembilu yang menyayat jantungnya. Namun, sebagai seorang dokter yang terbiasa mengendalikan emosi di bawah tekanan, ia tidak berteriak. ...
...Dengan langkah yang tenang namun sangat berat dan mengintimidasi, Khan menghampiri mereka....
...Langkah kaki Khan bergema di atas lantai marmer lobi, menciptakan keheningan yang mencekam bagi siapa pun yang menyaksikannya. ...
...Stella berhasil melepaskan diri dengan wajah pucat dan mata berkaca-kaca, menatap Khan dengan rasa takut akan kesalahpahaman yang mungkin terjadi....
..."Khan, ini tidak seperti yang kamu lihat," bisik Stella dengan suara bergetar....
...Khan berhenti tepat di depan Rangga. Ia tidak menatap Stella terlebih dahulu, melainkan mengunci pandangannya pada Rangga dengan tatapan yang sanggup membekukan udara di sekitar mereka. ...
...Tangannya terkepal kuat di samping tubuh, menahan ledakan amarah demi martabat wanita yang sangat ia cintai....
...Khan tidak melayangkan pukulan, tidak juga memaki. ...
...Di tengah kerumunan lobi yang terpaku menyaksikan drama tersebut, Khan tersenyum dan menggenggam tangan Stella, menariknya dengan lembut namun pasti dari jangkauan Rangga. ...
...Tanpa sepatah kata pun kepada pria yang baru saja melecehkan harga dirinya itu, Khan mengajaknya pulang....
...Malam yang dingin di jalur perjalanan Bandung-Jakarta terasa jauh lebih membeku. ...
...Di dalam mobil Khan hanya diam, kedua tangannya mencengkeram kemudi hingga buku-buku jarinya memutih. ...
...Stella mencoba menyentuh lengan Khan, namun pria itu sedikit menjauhkan tangannya, tetap fokus pada jalanan di depan dengan tatapan kosong....
...Ketegangan itu memuncak ketika Khan tiba-tiba meminggirkan kendaraannya di bahu jalan tol yang sepi. ...
...Sampai ia menghentikan mobilnya, Khan masih belum berani menatap Stella. ...
...Napasnya terdengar berat, seolah sedang memikul beban yang tak kasat mata....
..."Aku melepaskan kamu, Stella. Aku tidak mau menghancurkan kebahagiaan kamu bersama dengan Rangga," ucap Khan dengan suara yang sangat tenang, namun justru ketenangan itulah yang membuat jantung Stella terasa berhenti berdetak....
...Stella tersentak, rasa perih menjalar di dadanya mendengar keputusan sepihak itu. ...
...Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya luruh membasahi pipinya....
..."Khan, apa maksud kamu? Aku mencintai kamu, Khan!" seru Stella dengan suara serak. Ia meraih wajah Khan, memaksanya untuk saling beradu pandang. ...
..."Ciuman itu paksaan! Aku tidak menginginkannya! Bagaimana bisa kamu berpikir aku akan bahagia dengan pria yang sudah merusak segalanya?"...
...Khan akhirnya menoleh, matanya terlihat merah karena menahan emosi yang luar biasa. ...
..."Aku melihat caramu menatap masa depan bersamanya di proyek itu, Stella. Dia bisa memberikan dunia bisnis yang kamu cintai, sesuatu yang tidak bisa aku berikan sebagai seorang dokter yang waktunya habis di rumah sakit. Aku hanya tidak ingin menjadi penghalang bagi ambisimu."...
..."Ambisi? Duniamu adalah duniaku, Khan!" Stella terisak, memeluk lengan Khan dengan erat. ...
..."Jangan hukum aku atas kesalahan orang lain. Jangan buang aku hanya karena egomu terluka!"...
...Keheningan kembali menyergap kabin mobil itu, hanya menyisakan suara isak tangis Stella yang memohon agar cinta mereka tidak berakhir di pinggir jalan tol yang gelap malam itu....
tapi ada nunggu masa iddah juga di sini 🤭🙏
dan suaminya menikah siri dengan Annisa ?!?? Hmmm..... 🤔🤔🤔