No plagiat 🚫
Jenderal Pemanah Langit : Dendam Di Atas Luka Desa
Dalam semalam, hidup Song Yuan hancur. Desa Songjia dibumihanguskan, meninggalkan 130 nyawa bersimbah darah, termasuk ayahnya, sang Jenderal besar, dan ibunya dari klan bangsawan Bai. Song Yuan yang sekarat dengan anak panah di dada, terpaksa menelan pahitnya pengkhianatan.
Berbekal dua lencana rahasia dan bimbingan sadis dari Mo Chen, si "Ular Hitam", Song Yuan bangkit dari abu kehancuran. Tanpa senjata, ia menempa raga di hutan monster untuk menuntut balas.
Akankah sang pewaris klan Song kembali sebagai pahlawan, atau iblis yang haus darah?
"Setiap embusan napas musuhku adalah utang nyawa yang harus dibayar lunas!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sang Pemanah Bayangan
Tujuh tahun telah berlalu sejak asap Desa Songjia padam, namun bagi Song Yuan, waktu seolah berhenti di dalam kegelapan Hutan Hitam.
Kini, bukan lagi bocah sepuluh tahun yang ringkih yang berdiri di sana. Pemuda yang kini berusia tujuh belas tahun itu berdiri tegak dengan tubuh yang ramping namun keras seperti baja tempaan. Rambut hitamnya dibiarkan panjang terikat asal, dan matanya... matanya kini memiliki kilatan yang sama dengan Mo Chen—tajam, dingin, dan tidak memiliki emosi.
"Tuan, aku sudah kembali," ucap Yuan. suaranya berat, tenang, dan nyaris seperti desisan ular.
Ia melemparkan lima kepala serigala hitam berukuran raksasa ke lantai gua. Masing-masing serigala itu memiliki satu lubang panah tepat di antara kedua matanya. Tidak ada luka lain. Satu tembakan, satu nyawa.
Mo Chen yang sedang meminum ramuan berwarna ungu dari cawan tulang hanya melirik sekilas. "Tujuh tahun, dan kau masih butuh waktu setengah hari hanya untuk membereskan lima ekor anjing hutan?"
Yuan tidak membantah. Dia sudah tahu kalau dipuji Mo Chen itu lebih mustahil daripada melihat salju turun di gurun. "Hutan bagian barat sedang bergejolak. Ada pergerakan dari luar."
"Oh? Akhirnya anjing-anjing Ibukota itu berani mengendus ke sini?" Mo Chen bangkit berdiri. Tubuhnya yang terbungkus jubah sisik hitam bergerak dengan kelenturan yang tidak masuk akal. "Berikan busurmu."
Yuan menyerahkan busur kayu hitamnya yang kini sudah dimodifikasi dengan tulang-tulang binatang monster. Mo Chen menarik talinya, lalu melepaskannya tanpa anak panah. Suara dentingannya begitu nyaring hingga meretakkan sedikit dinding gua.
"Kau sudah menguasai Teknik Pernapasan Ular dan Bidikan Tanpa Mata. Tapi kau masih punya satu kelemahan besar, Yuan-er," Mo Chen mendekat, ujung kukunya yang tajam menggores dagu Yuan. "Kau masih menyimpan lencana kayu murahan itu di balik bajumu."
Yuan terdiam. Tangannya secara refleks menyentuh dadanya, tempat lencana dari ayahnya berada.
"Dendammu adalah kekuatanmu, tapi kenanganmu adalah racunmu," desis Mo Chen. "Jika kau ingin membantai orang-orang yang membunuh orang tuamu, kau harus menjadi lebih dingin dari pedang yang menebas mereka. Jangan biarkan sisa kehangatan Desa Songjia membuat tanganmu gemetar saat harus menarik tali busur di depan kaisar nanti."
"Tanganku tidak akan pernah gemetar lagi, Tuan," jawab Yuan datar.
"Kita lihat saja. Hari ini, latihan terakhirmu," Mo Chen mengeluarkan sebuah botol kecil berisi cairan hitam pekat. "Minum ini. Ini adalah racun Jiwa yang Terbelah. Jika kau selamat, kau bukan lagi manusia, melainkan senjata yang siap dilesatkan. Jika kau gagal... setidaknya aku tidak perlu repot-repot menguburmu."
Yuan menerima botol itu tanpa ragu. Dia sudah terbiasa dengan "minuman" maut dari Mo Chen. Sebelum meminumnya, ia menatap keluar gua, ke arah langit yang mulai mendung.
Ayah, Ibu... lihatlah aku sekarang. Jenderal Galak yang kalian didik sudah mati. Yang tersisa hanyalah pemanah yang akan meruntuhkan langit Ibukota," batinnya.
Gluk!
Yuan meminum racun itu dalam sekali teguk.
Detik berikutnya, ia terjatuh dengan teriakan yang tertahan. Rasanya seperti ribuan jarum panas sedang menjahit kembali setiap inci ototnya. Mo Chen hanya berdiri di sampingnya, menatap dengan senyum sadis yang penuh kebanggaan tersembunyi.
"Tumbuhlah, Monsterku. Dunia sudah terlalu lama tenang tanpa bau darah klan Song," bisik Mo Chen.
Malam itu, Hutan Hitam bergetar bukan karena badai, tapi karena aura membunuh yang dilepaskan oleh Song Yuan. Transformasi terakhir telah dimulai. Sosok
Jenderal Pemanah Langit sudah lahir dari rahim penderitaan.
"Tumbuhlah, Monsterku. Dunia sudah terlalu lama tenang tanpa bau darah klan Song," bisik Mo Chen.
Dunia Song Yuan seketika runtuh dalam kegelapan. Racun itu bukan sekadar membakar daging, tapi seolah-olah ada tangan-tangan tak terlihat yang sedang merobek jiwanya, memisahkan kenangan manis masa kecil dari insting membunuhnya.
Di tengah rasa sakit yang menghancurkan itu, bayangan wajah ibunya yang tersenyum di Desa Songjia muncul sesaat, namun segera tertelan oleh api hitam yang berkobar di dalam dadanya.
Lencana kayu di balik bajunya terasa semakin berat, seolah ingin menahan Song Yuan agar tetap menjadi manusia. Namun, Yuan justru mencengkeram lantai gua hingga kuku-kukunya berdarah. Ia tidak butuh kehangatan. Ia hanya butuh kekuatan untuk menarik tali busurnya di atas tumpukan mayat musuhnya.
Perlahan, teriakan Yuan mereda, digantikan oleh suara napas yang berat dan beraturan—Pernapasan Ular yang telah sempurna.
Saat ia membuka mata, pupil matanya bukan lagi bulat seperti manusia biasa, melainkan memanjang vertikal, tajam menembus kegelapan gua. Kilatan emas dingin terpancar dari sana.
Malam itu, Hutan Hitam tidak lagi bergetar karena badai, melainkan karena keheningan yang mematikan. Song Yuan berdiri perlahan, tubuhnya memancarkan aura membunuh yang begitu pekat hingga tanaman di sekitar mulut gua layu seketika.
Dia bukan lagi putra Desa Songjia yang malang.
Dia adalah Jenderal Pemanah Langit—sebuah bencana yang baru saja dilepaskan dari rahim penderitaan, siap memburu matahari dari singgasananya.
"Mereka bilang aku anak baik, tapi mereka tidak tahu hobi malamku. Menghitung detak jantung musuh dari kejauhan adalah melodi favoritku. Aku tidak butuh mendekat untuk menghancurkanmu; aku hanya butuh satu tarikan napas dan satu anak panah untuk mengaudit dosamu. Berani lari? Panahku jauh lebih cepat dari rasa takutmu!" 🏹💨😏