Setelah mendapatkan donor mata, Zivanna hampir tidak pernah bisa tidur nyenyak. Mimpi setiap malam dia bermimpi aneh bahkan terkadang buruk yang sering membuatnya terbangun dengan jantung berdebar tidak karuan.
Zivanna berpikir mungkin dirinya sedang stress jadi untuk sementara dia akan tinggal bersama neneknya di desa.
Tetapi siapa sangka ketika tinggal di desa, mimpi aneh Zivanna semakin menjadi-jadi menyebabkan dia sering mondar-mandir ke puskesmas dan bertemu Alvaro, dokter tampan yang membantunya menangani masalahnya.
Ternyata, mimpi-mimpi yang selalu mengganggu Zivanna berasal dari potongan penglihatan pemilik mata sebelumnya yang telah mengalami begitu banyak siksaan.
Dibantu oleh Alvaro, Zivanna akan membalaskan dendam pemilik penglihatan sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nita kinanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31. Lagi
Zivanna bangun dalam keadaan terengah-engah. Mimpi di perkebunan tebu dengan laki-laki berjaket hitam itu datang lagi.
Zivanna bergegas bangun. Setelah mimpi seperti ini dia tidak akan bisa memejamkan matanya lagi. Alhasil, Zivanna mondar mandir di dalam kamarnya sambil memikirkan siapa sosok laki-laki bejat ini hingga akhirnya muncul satu nama, Cahyo.
Dia memiliki jaket hitam itu, dia juga terbiasa di area perkebunan tebu dan dia juga dekat dengan Ayu. Laki-laki itu memang terlihat baik tetapi penjahat selalu bisa menyembunyikan kejahatannya.
Begitu matahari bersinar, Zivanna langsung pergi ke perkebunan tebu dan menemukan Cahyo sudah ada di sana.
"Cahyo, bisa kita bicara?" tanya Zivanna tanpa basa-basi.
"Ada apa Ziva?" balas laki-laki itu.
"Apa yang kamu lakukan pada Ayu sore itu?"
"Apa yang kamu bicarakan, Ziva? Aku tidak tahu maksudmu?"
"Jangan pura-pura Cahyo. Aku tahu yang kamu lakukan pada Ayu sore itu, dan juga pagi itu di kamarnya. Mengakulah!" Tatapan tajam Zivanna dan kata-katanya yang tegas dengan nada mengancam membuat Cahyo sedikit takut. Bukan takut pada Zivanna tetapi takut jika rahasianya terbongkar.
"Aku benar-benar tidak tahu apa-apa!" kilah Cahyo.
"Jangan bohong! Meski aku tidak memiliki bukti, aku tahu persis apa yang kamu lakukan terhadap Ayu! Di perkebunan ini dan di dalam kamarnya, semuanya aku tahu! Kalau kamu tidak mengakui perbuatanmu aku pastikan hidupmu tidak akan tenang!"
"Kamu tiba-tiba masuk ke dalam kamarnya, lalu memper**sanya, sementara Suci yang tidak tahu diri itu, mengunci pintunya dari luar! Benar, kan?!"
Cahyo terdiam membeku. Zivanna sampai tahu sedetail itu.
"Jawab aku, Cahyo! Itu yang kamu lakukan pada Ayu, kan? Apa kalian bersekongkol, hah?! Gadis tidak berdosa itu kalian sakiti! Apa salah Ayu pada Kalian?!! Apa kalian tidak memiliki perasaan?! Dimana hati nurani kalian?! Sifat kalian ini tidak lebih baik dari binatang!"
"Cukup, Ziva, cukup!" Cahyo tidak kuat mendengar makian Zivanna. Bahkan, tanpa makian itu pun Cahyo sangat menyesali perbuatannya. Hampir setiap hari dia mengutuk dirinya sendiri.
Rasanya dia tidak kuat terus menyembunyikan ini dan menanggung rasa bersalah itu seumur hidupnya. "Aku sama sekali tidak berniat melakukannya. Aku benar-benar tidak bermaksud... "
Tanpa basa-basi Zivanna melemparkan tangannya menampar pipi Cahyo. "Tidak sengaja katamu?! Kamu tidak bermaksud tetapi sampai dua kali melakukannya?! Itu yang kamu katakan tidak sengaja?!!" bentak Zivanna tidak puas. Rasanya tamparan itu belum apa-apa jika dibandingkan dengan penderitaan Ayu. Kalau diizinkan, dan kalau bisa Zivanna ingin menghajar laki-laki yang terlihat baik tetapi ternyata juga jelmaan iblis itu.
Cahyo tidak berusaha menepis ketika tangan Zivanna menamparnya. Rasa bersalah itu benar-benar membelenggu dirinya. Jika Zivanna sudah mengetahuinya lebih baik dia mengaku saja. Mungkin itu bisa mengurangi beban di hatinya. "Dari mana kamu tahu?"
"Dari mana aku tahu?!" ulang Zivanna. "Kau pikir saja siapa yang mengetahui perbuatan bejatmu itu?"
Cahyo tidak menjawab. Tapi di dalam hatinya Cahyo tahu jika perbuatan di perkebunan tebu itu hanya dirinya sendiri dan Ayu yang tahu. Kalau di dalam kamar pagi itu, Suci juga mengetahuinya. Tetapi Cahyo yakin tidak mungkin Suci yang memberitahu Zivanna.
"Aku tahu dari Ayu sendiri!" jawab Zivanna yang membuat mata Cahyo terbelalak.
"Bagaimana... ?!"
"Tidak penting bagaimana caranya aku bisa tahu, yang jelas aku mengetahui semuanya. Dan meskipun aku tidak memiliki bukti, kamu tidak bisa menyangkalnya."
Cahyo terduduk lemas di pinggir jalan. Kilatan kejadian pagi itu kembali berkelebat di benaknya.
Hari itu hari Minggu. Suci datang ke rumahnya meminta tolong untuk membenarkan genteng yang bocor.
Cahyo langsung menyanggupinya karena hari ini dia juga libur. Selain itu dia juga ingin bertemu Ayu. Cahyo begitu rindu dengan gadis itu. Dia ingin sekali melihat wajahnya, atau setidaknya dia ingin tahu kondisinya.
Biasanya kalau ada hal-hal seperti ini Ayu yang datang ke rumah meminta tolong kepadanya secara langsung. Tetapi sepertinya Ayu masih marah kepadanya jadi kali ini Suci yang datang.
Sesampainya di rumah Ayu, Cahyo celingukan mencari gadis itu tetapi dia tidak terlihat. Sejak kejadian di perkebunan tebu, Ayu memang selalu menghindarinya. Bahkan ketika dia menyusul Ayu jualan di puskesmas untuk meminta maaf pun Ayu tidak mau menemuinya. Wajar saja. Cahyo sama sekali tidak menyalahkan Ayu karena memang perbuatannya tidak bisa di maafkan.
"Ayu dimana?" tanya Cahyo ketika Suci datang membawa secangkir kopi untuknya.
"Itu lagi bersiap-siap di kamar. Mau jualan," jawab gadis licik itu. "Mas Cahyo minum kopinya dulu. Biar aku cari pinjaman tangga," lanjutnya kemudian pergi.
Sambil menunggu Suci kembali membawa tangga, Cahyo pun menyeruput kopinya. Tidak ada yang aneh. Hubungannya dengan Suci sebelumnya tidaklah buruk. Memang tidak terlalu dekat, tetapi setidaknya tidak seperti sekarang.
Sesekali Cahyo melongok ke depan pintu berharap Ayu keluar dan melihatnya. Dulu dia biasa keluar masuk rumah itu. Tetapi setelah kejadian di perkebunan tebu itu, Cahyo tidak berani. Dia khawatir akan membuat Ayu ketakutan jika tiba-tiba masuk.
Sementara itu Suci tidak benar-benar pergi mencari tangga. Dia hanya bersembunyi di balik tembok sambil menunggu reaksi dari sesuatu yang dia masukkan ke dalam kopi yang baru saja dia berikan untuk Cahyo.
Ketika Suci melihat Cahyo mulai gelisah, barulah dia masuk ke kamar Ayu. Dia mengajak kakak tirinya itu untuk berbicara, tetapi sebenarnya dia hanya sedang mengulur waktu.
Cahyo merasa tubuhnya mulai panas. Bukan demam, melainkan panas yang tidak bisa dia jelaskan dengan kata-kata.
Semakin lama Cahyo semakin gelisah. Ada sesuatu di dalam dirinya yang meronta-ronta ingin segera dilepaskan.
Cahyo tidak kuat. Dia ingin pulang, tetapi sebelumnya dia harus pamit agar Suci tidak mencarinya karena sudah berjanji akan membenahi genteng rumahnya yang bocor.
Cahyo masuk ke dalam rumah, dan langsung mendengar suara percakapan dari dalam kamar Ayu. Cahyo segera masuk ke kamar itu, tujuannya hanya satu, ingin pamit pulang.
Belum sempat mengatakan apa-apa, Suci berlari keluar lalu mengunci pintunya. Seperti yang sudah Cahyo duga sebelumnya, Ayu ketakutan melihat dirinya dan mengusirnya.
Cahyo tidak bergeming. Akhirnya dia bisa bertemu Ayu. Dia ingin menggunakan kesempatan ini untuk meminta maaf, tetapi Ayu begitu takut melihat dirinya.
Ayu berteriak semakin keras dan itu membuat Cahyo semakin ingin mendekat. Cahyo hanya ingin meminta maaf, tetapi Ayu semakin histeris dan ketakutan.
Cahyo memeluk Ayu, berniat menenangkan gadis itu. Tetapi yang terjadi tidak demikian. Cahyo tidak tahu apa yang terjadi pada tubuhnya. Rasanya dia tidak bisa mengendalikan diri. Ada hasrat yang tidak bisa dia tahan yang memaksanya untuk melakukan perbuatan bejat itu, lagi.