NovelToon NovelToon
Zee Dan Kamera Tua

Zee Dan Kamera Tua

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Time Travel / Mengubah Takdir
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: _SyahLaaila

Setelah bertahun-tahun tak pernah dibuka, gudang tua di belakang rumah akhirnya kembali disentuh Zee. Dia hanya berniat merapikan peninggalan kedua orang tuanya yang telah lama tiada. Di antara debu dan kardus usang, Dia menemukan sebuah kamera analog tua yang tak pernah Dia ingat sebelumnya, kamera itu masih menyimpan satu gulungan film.

Karena penasaran, Zee mencoba memotret halaman belakang rumahnya, tempat sumur lama yang sudah kering berdiri sunyi di dalam pagar, tidak ada yang aneh saat Dia menekan tombol rana. Namun saat hasil cetaknya muncul, Dia terkejut.

Di dekat sumur kering itu, tampak sebuah pintu tua transparan, berdiri tegak tanpa dinding, seolah-olah mengarah tepat ke bibir sumur, pintu itu tidak ada saat Dia memotret.

Zee bingung apa maksud dari jepretan kamera tua itu? Penasaran lanjutan cerita nya? Yukk ikutin kelanjutan ceritanya...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon _SyahLaaila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

12.

Zee kembali ke apartemennya dengan langkah cepat, pikirannya masih dipenuhi kejadian aneh yang baru saja Dia alami. Begitu pintu tertutup di belakangnya, suara notifikasi dari ponselnya tiba-tiba berbunyi nyaring di dalam ruangan yang hening.

Zee mengernyit, lalu mengambil ponselnya. Sebuah pesan dari aplikasi AetherShop muncul di layar.

*Pesan Masuk

Selamat kepada pemilik terpilih, Anda mendapatkan sebuah batu berlian karena membantu seseorang, dengan kegunaannya bisa teleportasi.

Zee terdiam, matanya menatap layar ponselnya tanpa berkedip. "ini serius?" gumamnya.

Semua ini terasa begitu tidak nyata, seolah-olah Dia sedang hidup di dalam cerita novel transmigrasi yang sering Dia baca. Di mana tokohnya mendapatkan kemampuan aneh secara tiba-tiba.

Namun rasa penasarannya lebih besar dari pada keraguannya.

Zee menggenggam batu berlian kecil itu dengan erat, permukaannya dingin, tapi ada sensasi halus seperti aliran energi yang berdenyut pelan di dalamnya.

Dia menarik nafas panjang dan menghembuskannya pelan-pelan. "Kalau ini benar berhasil, sungguh suatu keberuntungan yang besar." gumamnya

Zee memejamkan mata dan membayangkan rumahnya, sumur tua di belakang rumah kecil itu, tempat pertama semua keanehan ini bermula.

Dalam sekejap, lingkungan di sekitarnya berubah. Dan ketika Dia membuka mata kembali... Dia sudah berdiri di rumah kecil sumur tua.

"Benar-benar berhasil, gila parah..." bisiknya pelan, masih sulit percaya.

Namun kali ini, Dia tidak ingin berlama-lama tenggelam dalam keterkejutan. Tubuhnya terasa lengket oleh keringat dan udara air laut dan perutnya pun mulai lapar.

Tanpa membuang waktu, Zee segera masuk ke dalam rumah. Dia membersihkan diri dengan air hangat, membiarkan segala rasa lelah dan kebingungan perlahan luruh bersama air yang mengalir.

Setelah selesai membersihkan tubuhnya, Zee turun ke dapur di lantai satu. Aroma makanan langsung menyambutnya.

Makanan yang sudah di siapkan Bu Maya, walaupun hidangannya sederhana, seperti ikan bakar kecap, kangkung tumis terasi, nasi putih, namun menggugah selera dan terasa nikmat.

Zee tersenyum kecil, Tanpa perlu memanaskan makanannya lagi, Dia mulai menyantapnya dengan tenang.

Setelah itu, Zee kembali ke kamarnya, tubuhnya yang lelah akhirnya menyerah dan tertidur pulas.

Sementara itu, jauh di sebuah Desa Pesisir. Doni duduk di atas pasir, memeluk erat sebuah kantong plastik yang berisi susu besar dan lima roti isi cokelat dan daging.

Angin laut meniup rambutnya pelan, namun Dia tetap menunggu dengan sabar. Matanya menatap ke arah laut, menunggu seseorang.

Beberapa menit berlalu, sebuah perahu kecil akhirnya muncul di kejauhan. Doni segera berdiri, wajahnya langsung cerah. Dia berlari kecil mendekat saat perahu itu di tarik ke daratan.

"Ayah, sudah pulang?" tanya Doni dengan suara penuh semangat.

"Iya Nak," jawab Pak Sam sambil tersenyum lelah, lalu matanya tertuju pada anaknya dengan intens. Pak Sam memperhatikan Doni dari ujung rambut hingga ujung kaki, Pak Sam merasa anaknya berbeda.

"Siapa yang memberikan pakaian dan sendal yang kamu pakai Nak?, Dan apa yang ada di pelukan, serta di punggung mu itu Nak?" tanya Pak Sam tanpa memberi waktu bagi Doni menjawab.

Doni tersenyum lebar, matanya berbinar. "Oh ini, Ayah! Susu dan roti, enak banget! Doni sudah coba tadi. Nanti Ayah dan Ibu juga harus coba ya!, sedangkan yang di punggungnya ini tas ransel di dalamnya semua keperluan Doni."

Pak Sam terdiam sejenak, wajahnya berubah lebih serius. "Dari mana kamu dapat semua itu Nak? Apakah dari orang-orang negeri seberang?" tanya Pak Sam pelan.

Doni menggeleng cepat, "Bukan Ayah, ini semua dari kakak cantik, namanya Kak Zee."

Pak Sam mengernyit, "Kak Zee?" ulangnya.

"Iya, Kak Zee itu datang dari dalam hutan, Ayah. Dia tidak datang pakai kapal besar seperti orang negara seberang."

Angin laut berhembus lebih kencang. Pak Sam menatap ke arah hutan yang dimaksud anaknya.

Ada sesuatu yang terasa... tidak biasa. Dan tanpa mereka sadari, pertemuan kecil itu akan menjadi awal dari perubahan besar yang tidak pernah mereka bayangkan.

Mereka pun berjalan pulang ke rumah. Saat tiba, Bu Yati sudah berdiri di depan pintu dengan wajah penuh kekhawatiran. Tatapannya langsung tertuju pada suami dan anaknya.

"Ayah dan Doni sudah balik? kenapa lama sekali?" tanyanya dengan nada cemas.

Pak Sam menghela napas pelan. Wajahnya terlihat lelah, namun ada sesuatu yang ingin Dia sampaikan.

"Maaf ya, Bu. Kita masuk dulu ke dalam... ada yang ingin Ayah ceritakan," ujar Pak Sam

"Iya, Bu! Doni juga ada yang mau kasih ke Ayah dan Ibu," sambung Doni cepat, tak bisa menyembunyikan antusiasnya.

Bu Yati mengernyit, Dia baru sadar kalau ada yang berubah dari anaknya.

Dari ujung rambut hingga kaki... Doni tampak berbeda. Lebih bersih, rapi, bahkan ada sesuatu yang Dia bawa di pelukan dan di punggungnya.

"Ya sudah, ayo masuk. Ibu juga sudah masak ubi jalar dan ikan rebus." kata Bu Yati sambil mengambil ikan dan jaring dari tangan suaminya.

Mereka bertiga pun masuk ke dalam rumah. Pak Sam menuju ke belakang untuk membersihkan diri, sementara Doni langsung duduk dengan penuh semangat dan membuka ranselnya tanpa sabar.

Satu per satu isi tas itu Dia keluarkan. Baju, celana, handuk, sabun mandi, sikat gigi, Pepsodent, sisir, sandal, handbody, minyak rambut, parfum dan bedak.

Semuanya tertata rapi di lantai. "Wah... Kak Zee baik sekali." gumam Doni pelan, matanya mulai berkaca-kaca.

Bu Yati tertegun melihat semua itu. "Nak... ini semua kamu dapat dari mana?" tanyanya hati-hati. Ada rasa bingung, tapi juga ketakutan. Takut jika anaknya mengambil sesuatu bukan miliknya.

Barang-barang itu... terlihat begitu bagus. Seperti milik orang dari negeri seberang.

"Eh, Ibu..." Doni sedikit kaget, lalu buru-buru menjelaskan.

"Ini semua dari Kak Zee, Bu. Kak Zee itu tinggal di bangunan tinggi dan mewah yang muncul dari pepohonan di hutan lebat... di tempat Ayah biasa parkir perahu, bukan dari orang negeri seberang, Bu..."

Nada suaranya penuh kehati-hatian, takut Ibunya salah paham seperti Ayahnya tadi.

"Oh begitu..." Bu Yati masih terlihat ragu.

"Tapi... Kamu tidak diapa-apakan oleh orang itu, kan?"

Doni langsung menggeleng. "Tidak kok, Bu. Kak malah bantu Doni mandi dan bersihin diri." jawab Doni sambil tersenyum kecil

"Oh iya, Kak Zee juga kasih roti sama susu. Enak banget, Bu... kita tunggu Ayah dulu, baru makan sama-sama ya."

"Iya, Nak," jawab Bu Yati lembut.

Tak lama kemudian, Pak Sam kembali dari belakang rumah. Kali ini Dia membawa tiga gelas kosong di tangannya.

Tadi Dia sempat hendak bergabung, namun percakapan mereka membuatnya kembali mengambil gelas.

"Ini... gelas untuk kita coba susu itu," ujar Pak Sam

"Baik,, Yah!" jawab Doni cepat.

Dia mengambil gelas-gelas itu, lalu dengan hati-hati menuangkan susu ke masing-masing gelas. Setelah itu, Dia membagikan roti kepada kedua orang tuanya.

"Nah... ini untuk Ayah, dan ini untuk Ibu," katanya sambil tersenyum lebar.

Mereka bertiga pun duduk bersama. Untuk sesaat, rumah kecil itu terasa begitu hangat.

Pak Sam mengigit roti itu perlahan, matanya langsung membesar.

"Astaga... enak sekali, Nak. Seumur hidup Ayah belum pernah merasakan roti dan susu seenak ini." gumamnya pelan dengan suara yang bergetar.

"Terima kasih ya, Nak... Kamu mau berbagi dengan Ayah dan Ibu."

"Iya, Nak... terima kasih banyak," tambah Bu Yati dengan matanya mulai berkaca-kaca.

Doni tersenyum lebar, hatinya terasa gembira. "Sama-sama, Ayah... Ibu..."

Di tengah kesederhanaan itu, mereka merasakan sesuatu yang jarang hadir dalam hidup mereka. Kebahagiaan kecil yang terasa begitu besar.

Suasana hangat itu perlahan mereda. Sisa roti di tangan Pak Sam terhenti di tengah jalan.

Tatapannya berubah, tidak lagi sekedar penuh rasa syukur, melainkan berat. Seolah menyimpan sesuatu yang sejak tadi Dia tahan.

Pak Sam meletakkan gelasnya pelan di lantai. "Bu, ada hal lain yang ingin Ayah bicarakan," ucap Pak Sam pelan.

Bu Yati menoleh, wajahnya kembali diliputi kekhawatiran. "Apa lagi, Yah?."

Pak Sam menarik napas panjang. Tangannya saling menggenggam, seakan mencoba menguatkan diri sendiri

"Ikan di laut, sudah semakin sedikit."

Kalimat itu sederhana, tapi terasa berat. Sehingga membuat Bu Yati terdiam sesaat.

Doni yang sedari tadi tersenyum, perlahan ikut menoleh ke Ayahnya.

"Maksud Ayah?" tanya Bu Yati hati-hati.

Pak Sam menunduk sesaat, lalu kembali mengangkat wajahnya.

"Ayah sudah beberapa hari ini melaut lebih jauh dari biasanya... tapi hasilnya tetap saja sedikit," katanya lirih.

"Bahkan tempat-tempat yang dulu selalu penuh ikan... sekarang hampir kosong." lanjut Pak Sam

Suasana kembali sunyi. Hanya suara angin yang berhembus pelan dari luar rumah.

"Kenapa bisa begitu, Yah? Tanya Doni polos.

Pak Sam menatap anaknya sejenak, lalu menghela napas berat. "Mungkin... karena orang-orang dari negeri seberang itu."

Bu Yati langsung menegang. "Negeri seberang...?"

Pak Sam mengangguk pelan. "Ayah pernah melihat kapal besar di tengah laut. Bukan kapal biasa... besar sekali, dengan lampu terang, dan suara mesin yang sangat keras."

Dia berhenti sejenak, mengingatkan kejadian waktu itu. "Mereka tidak menangkap ikan seperti kita, tapi mereka membom laut."

Mata Doni membelalak. "Membom...?" tanya Doni

"Iya Nak, dengan satu ledakan... ikan-ikan langsung mati atau pingsan. Dan setelah itu mereka tinggal mengambil semuanya." jawab Pak Sam pelan.

Bu Yati menutup mulutnya, kaget sekaligus sedih. "Ya Ampun... itu kan merusak laut..."

Pak Sam mengangguk. "Bukan hanya ikan yang mati, Bu. Terumbu karang juga hancur, padahal itu tempat ikan berkembang biak..." Suaranya mulai bergetar.

"Kalau terus seperti ini... lama-lama kita tidak punya apa-apa lagi untuk di tangkap." lanjut Pak Sam

Doni menunduk, menggenggam roti di tangannya erat-erat.

"Terus... kita harus bagaimana, Yah?" tanya Doni pelan.

Pak Sam terdiam cukup lama sebelum menjawab. "Entahlah, Nak..."

Pak Sam menatap ke arah luar rumah, ke arah laut yang tak terlihat dari sana.

"Ayah hanya bisa berharap, masih ada jalan untuk mencegah mereka orang-orang negeri seberang. Kalau tidak bagaimana kelangsungan hidup seluruh masyarakat Desa Pesisir ini."

Bu Yati mendekat sedikit, menyentuh lengan suaminya. "Kita pasti bisa bertahan, Yah," ucapnya lembut, meski ada keraguan yang Dia sembunyikan.

Sedangkan di sisi lain, Doni perlahan mengangkat wajahnya. Pikirannya kembali ke satu sosok, Kak Zee.

Di dalam hatinya, muncul harapan kecil. Mungkin... Kak Zee bisa membantu mereka.

1
Ida Kurniasari
Doble up thorr
Ida Kurniasari
Doble up thor
Ida Kurniasari
Doble up dong thorr😍
keyza formoza
lanjut thoorr
Ida Kurniasari
sangat sangat menarik thor
SyahLaaila: siap kak☺️
total 1 replies
Ida Kurniasari
bagus banget thorr,lanjutt up😍
Ida Kurniasari
😍
Chen Nadari
The best Thorr
SyahLaaila: makasih kak☺️
total 1 replies
Ida Kurniasari
baru bab satu aja udah deg degan thor,ceritamu bikin penasaran
Musdalifa Ifa
menguji kesabaran
Andira Rahmawati
mau nabung dulu biar puas entar bacanya👍👍💪💪💪
Andira Rahmawati
trusss semangat💪💪💪 lanjuttt
Andira Rahmawati
lama amattt jadi penasaran...
Andira Rahmawati
hadir thorr
Twis G
semangat author 🌹🌹🌹
Narina
lanjut thor semakin penasaran 😍😍
Narina
cerita nya seru thor lanjut 🌷🌷🌷
SyahLaaila: siap kak ☺️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!