"Di saat napas terakhir Pak Tua Arman dianggap sebagai akhir dari kejayaan keluarga Chandra, seorang asing berpakaian putih muncul tanpa suara. Tak ada obat, tak ada mantra rumit. Ia hanya membungkuk, membisikkan satu kalimat di telinga kakek yang sekarat itu, lalu berbalik pergi. Detik berikutnya, jantung kembali berdetak kuat, membuat para anak tercengang. Siapakah dia? Dan apa yang diucapkannya untuk menantang kematian?"
"Sebuah kalimat yang mengubah takdir. Saat dunia medis menyatakan Kakek sekarat, seorang asing bernama Yun Miao muncul dan menyembuhkannya hanya dengan satu kalimat perintah. Siapakah Yun Miao, dan bagaimana kalimat sederhana bisa melawan maut?"
Mohon maaf ya teman-teman kalau novel pertamaku belum bisa membuat kalian puas bacanya. InsyaAllah aku akan terus berusaha agar novelku selanjutnya bisa memenuhi keinginan dan kriteria kalian semua.... Terimakasih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Auzora Maleeka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
04
"Berhenti." Cegah Nyonya Amira
Sehingga mereka yang akan ke kamar Tuan Arman pun berhenti.
"Rendi. kau nggak perkenalkan dulu ?" Tanya Nyonya Amira sambil melihat ke arah Nadira.
"Ibu, ini... Ini adalah Nona Nadira Yunita."Jawab Tuan Rendi.
Sedangkan Nadira langsung melihat ke arah Nyonya Amira yang sedang duduk di kursi.
"Hahaha.... Ternyata nama keluargamu Yunita. Namamu bagus. Nggak seperti ibumu, sudah bersama Ayahmu bertahun-tahun, bahkan nama keluarga saja nggak ada." Sahut Nyonya Amira sambil melihat ke arah Nadira.
"Istrinya Dito ? Ternyata jauh lebih muda darinya." Tanya Nadira.
Saat Nyonya Amira ingin menjawab perkataan Nadira, omongannya langsung dipotong oleh Rendi.
"Ibu, ibu sekarang tolong prioritaskan hal yang lebih penting. Ayah nggak bisa menghembuskan napas terakhirnya, ia menderita kesakitan, kami sebagai anak-anak juga sangat khawatir." Ujar Tuan Rendi sambil berbicara pelan kepada ibunya.
"Dia menderita atau nggak, apa hubungannya denganku ?" Tukas Nyonya Amira.
"Ibu, aku tahu anda merasa sedih, tapi anggap saja demi aku. Oke ? Aku nggak bisa melihat Ayahku meninggal dengan nggak tenang."Sahut Tuan Rendi
Sedangkan ditempat itu Pak Eko berbicara dengan Nyonya Saskia, entah apa yang mereka ributkan atau mereka bicarakan sehingga tidak mendengarkan pembicaraan di sekitarnya.
"Sekarang, dia bisa meninggal dengan tenang. Ternyata seorang wanita penggoda. Pantas saja, walau sudah mati saja masih terbayang. Masuklah, cepat pergi, supaya dia cepat mati." Tukas Nyonya Amira sambil melihat ke arah Nadira dengan wajah yang seakan sangat marah besar.
"Nona Nadira mohon dimaklumi." Ucap Tuan Rendi.
Saat Nadira akan masuk kedalam, dia berhenti tepat didepan Nyonya Sonia.
"Energi hitam ini.... ?" Tanya Nadira di dalam hati sambil melihat ke arah Nyonya Sonia. Sedangkan, Nyonya Sonia yang terus dilihat oleh Nadira, merasa heran seakan-akan akan dikuliti hidup-hidup. Sedangkan yang dilihat oleh Nadira menyapanya dengan menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
Nyonya Saskia pun bingung kenapa kakak iparnya terus dilihat oleh Nadira, seakan-akan mereka adalah kenalan lama.
Setelah itu dia kembali melihat ke arah Nyonya Amira sambil berkata dan menunjuk ke arah Amira. "Kau, turut berdukacita."
Setelah Nadira mengucapkan itu, ia pun masuk kedalam kamar Tuan Arman diikuti oleh Tuan Rendi dan Pak Eko.
"Baik." Jawab Nyonya Amira.
"Arman, sepanjang hidupmu, kau bersikap dingin dan nggak berperasaan padaku. Tapi di akhir hidupmu, kau membuatku menjadi bahan tertawaan terbesar. Bahkan, keturunan wanita yang kau cintai itu berani mengasihi ku. Ini benar-benar penghinaan yang tak tertahankan."Sambung Nyonya Amira.
Sedangkan, di dalam kamar Tuan Arman kondisinya masih sama tapi, dia masih di dampingi oleh Tuan Rayhan disisinya.
"Ayah. Bisnis keluarga Chandra yang anda dirikan sudah berdiri di puncak, dihormati oleh ribuan orang. Bahkan ketika anda tahu hidup anda nggak akan lama lagi, anda tetap tenang. Tapi bagaimana anda bisa nggak menghembuskan nafas terakhir anda karena seorang wanita." Kata Tuan Rayhan marah sambil memukul sisi kasur Tuan Arman untuk meluapkan amarahnya.
"Apakah wanita itu baik ? Apakah dia begitu baik ? Puluhan tahun telah berlalu. Anda masih menderita dan tinggal tulang belulang, apa itu sepadan ? Kakak tadi sedang keluar terburu-buru. Harusnya orang yang ditunggu-tunggu oleh Ayah seharusnya sudah tiba."Sambung Tuan Rayhan.
Sedangkan Adrian, tertidur sambil berdiri di tembok kamar Tuan Arman pada saat Tuan Rayhan bercerita tentang kondisi saat ini. Dia lebih fokus untuk tidur dari pada mendengarkan Pamannya berbicara.
Setelah beberapa menit kemudian, datanglah Tuan Rendi dan Pak Eko, dengan membawa Nadira ke arah Tuan Arman yang mana masih saja tertidur, dan disampingnya ada Tuan Rayhan yang setia disisinya Tuan Arman. Sedangkan Adrian masih saja tertidur sambil berdiri.
"Silahkan." Tuan Rendi mempersilahkan Nadira untuk melihat keadaan Tuan Arman.
Sedangkan Nadira, yang melihat Adrian masih saja tertidur di tembok sambil berdiri itu, tidak tahu jika ada orang lain yang masuk kedalam kamar Tuan Arman, selain Ayah dan Pamannya beserta Kepala Pelayan Keluarga Chandra.
"Anak durhaka, sudah seperti ini masih berani tidur."Sentak Tuan Rendi kepada anaknya sehingga Adrian bisa bangun.
"Paman, Ayah. Aku juga nggak berdaya, beberapa hari ini aku bermimpi bertemu Nenek, dan nggak bisa tidur."Kata Adrian kepada Ayahnya.
Setalah itu Adrian, diacuhkan oleh Ayahnya karena sekarang fokusnya itu kepada Sang Ayah dan Nona Nadira tersebut. Yang mana katanya adalah teman lama Ayahnya.
"Tolong anda kesana. Asalkan Ayahku bisa melepaskan keterikatannya dan pergi dengan tenang, keluarga Chandra pasti akan sangat berterima kasih padamu." Pinta Tuan Rendi kepada Nadira
"Minggir." Kata Nadira kepada Adrian. Karena Adrian menghalangi jalannya untuk menuju ke sisi Tuan Arman.
"Silahkan."Kata Adrian sambil menunjukkan jalan.
Kemudian Nadira berjalan ke arah Tuan Arman berada, dan juga melihat kondisi Tuan Arman yang sebenarnya. Sedangkan Tuan Rendi dan Adrian mendekat ke arah Nadira.
"Lama sakit dan terbaring di tempat tidur, nggak ada bau nggak sedap, tampaknya keturunan Dito cukup berbakti." Timpal Nadira.
Setelah Nadira selesai berbicara, Tuan Arman terbatuk ditempat tidurnya, hingga membuat mereka kaget dan panik.
"Cepat panggil dokter." Ucap Tuan Rayhan.
Sedangkan Adrian, segera berlari ke arah samping tempat tidur Tuan Arman tapi tidak bisa, karena badannya diberikan mantra oleh Nadira agar tidak bisa sampai ke tempat tidur Tuan Arman.
"Tunggu." Cegah Nadira.
"Kenapa kau melamun ? Cepat tekan bel." Sentak Tuan Rayhan dengan marah. Karena melihat Adrian yang hanya diam saja.
"Aku kan sudah bilang nggak perlu." Tolak Nadira.
"Bukan aku nggak mau menekan. Aku juga nggak tahu kenapa aku nggak bisa bergerak."Ucap Adrian yang masih berdiri mematung karena mantra yang Nadira berikan belum dilepas.
"Nggak perlu." Tolak Nadira.
"Aku nggak peduli apa yang kau lakukan, segera hentikan. Ayahku sedang sangat kesakitan, Kau masih ingin...." Kata Tuan Rayhan.
"Kalau kau mau ingin dia lebih nyaman, tutup mulutmu." Potong Nadira cepat.
Sehingga membuat Tuan Rayhan berhenti berbicara dan sambil melirik ke arah kakaknya, apalagi kakaknya juga melirik ke arahnya.
Sedangkan keadaan Tuan Arman sudah cukup memprihatinkan. Sehingga mereka tidak bisa berbuat apa-apa, selain menunggu apa yang akan dilakukan oleh Nadira selanjutnya.
"Kak, kenapa orang ini nggak ada sopan santun ?" Kata Tuan Rayhan berbisik kepada sang kakak sambil memandang ke arah Nadira.
"Dia memang begini." Jawab Tuan Rendi.
Sedangkan Nadira yang dibicarakan, acuh tak acuh kalau dia sedang dibicarakan oleh keduanya, dia hanya fokus pada Tuan Arman.
"Setelah masalah ini selesai, aku akan kasih dia uang agar dia cepat pergi. Orang seperti ini, tidak pantas berada di keluarga Chandra lama-lama." Sahut Tuan Rayhan kepada sang kakak sambil tetap memandang ke arah Nadira.
Sementara Adrian, ia tetap diposisi yang sama, tidak bisa bergerak sama sekali.
"Baiklah." Balas Tuan Rendi sambil menepuk pundak sang adik.
"Sekarang kita lihat dia bisa atau nggak."Sambung Tuan Rendi.
Kemudian Nadira pun melangkah lebih dekat lagi ke arah Tuan Arman, sambil memindahkan payung yang ia pegang ke tangan kirinya. Sedangkan telunjuk kanannya ia arahkan ke dahi Tuan Arman untuk memberikan kekuatan kepadanya.
"Dito." Panggil Nadira.
"Dito ?" Tanya Tuan Rendi.
"Dia panggil siapa ?" Kata Tuan Rayhan.
"Apa panggil Ayah kita ? Ayah kita yang legendaris ternyata memiliki nama panggilan Dito ?" Sambung Tuan Rendi.
Setelah selesai, Nadira menurunkan jari telunjuknya dan menyuruh Dito untuk bangun.
"Bangunlah." Ucap Nadira.
"Haa.. Nona Nadira, ada yang nggak kau ketahui. Ayahku hanya tinggal napas terakhir. Dia nggak bisa sadar lagi. Anda bilang saja beberapa... Dia....?" Tanya Tuan Rendi.
Tuan Rendi tidak bisa menyelesaikan kata-katanya karena, melihat Tuan Arman membuka matanya. Sedangkan Tuan Rayhan juga tidak kalah terkejut karena melihat Ayahnya yang sudah mulai membuka mata.
Sedangkan Tuan Arman yang sudah sadar pun ia melihat sekelilingnya, lalu dia terkejut karena melihat Nona nya berada disana.