Yvone Faranes adalah seorang Mafia yang memiliki keahlian dalam bidang persenjataan, meracik obat-obatan dan racun, tewas akibat konspirasi dari beberapa orang. Bukannya ke alam baka, Yvone justru terbangun di tubuh gendut milik Rose Reinhart.
Rose Reinhart adalah istri dari Arsen Reinhart 32 tahun, yang meninggal dunia akibat overdosis obat-obatan yang dikonsumsinya. Semasa hidup, ia selalu dihina dan direndahkan oleh keluarga suaminya karena kondisi fisiknya yang gendut dan jelek.
Bahkan Arsen, suaminya sendiri enggan menyentuhnya lantaran tubuhnya itu. Tidak hanya itu, Rose kerap dihina karena tak kunjung memberikan keturunan bagi keluarga Reinhart.
Hingga kehadiran Renata, disebut-sebut akan menjadi pengganti Rose untuk memberikan apa yang keluarga Reinhart inginkan.
Kini, Rose berbeda. Dengan keahlian milik Yvone yang berada di tubuhnya, ia merubah penampilannya dan memberi pelajaran pada orang-orang yang menindasnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ElleaNeor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13. Operasi Plastik
Hatsyi!
Seluruh ruangan terkejut saat tiba-tiba Arsen bersin dengan sangat keras. Tidak ada angin tidak ada hujan, tiba-tiba bersin. Arsen merasa aneh. Hal itu memicu reaksi yang berlebih bagi Renata.
“Pak Arsen, Anda tidak apa-apa?” tanya Renata dengan ekspresi khawatir.
“Tidak! Aku tidak….”
Hatsyi!!!
Lagi-lagi suara bersin Arsen membuat seisi ruangan terkejut. Acara meeting jadi terjeda lantaran hal ini.
Renata segera meraih tisue dan air putih, lalu menyodorkannya pada Arsen.
“Pak Arsen, minum dulu.”
Arsen meraih tisue, namun menolak minum air putih. Ia khawatir saat ia menenggak air putih, lalu tiba-tiba bersin lagi. Arsen tidak ingin semua jadi kacau.
Hatsyi!
Arsen tak berhenti bersin.
“Apa Pak Arsen sedang flu?” tanya salah satu anggota meeting yang merupakan perwakilan dari perusahaan lain.
Mendengar itu, Arsen menatap orang tersebut. “Tidak, saya sedang tidak flu,” jawabnya.
“Tapi kenapa Anda bersin-bersin terus?” tanya peserta meeting yang lain.
Kali ini Arsen terdiam. Ia juga merasa aneh karena tiba-tiba bersin berkali-kali. Padahal sejak tadi ia merasa baik-baik saja. Ia juga tidak mengkonsumsi makanan atau minuman aneh yang bisa menyebabkan flu.
“Sepertinya ada yang sedang membicarakan Anda, Pak Arsen. Kata orang tua jaman dulu. Jika kita bersin tanpa sebab, itu artinya ada yang membicarakan kita,” ujar peserta meeting yang lainnya.
“Apa iya?” Arsen bertanya-tanya. Ia pernah mendengar soal hal ini. Tetapi Arsen hanya menganggapnya sebagai mitos belaka.
“Mungkin saja istri Anda sedang merindukan Anda, dan ingin Anda segera pulang, Pak Arsen.”
Mendengar hal itu, Renata menatap tajam orang yang berbicara itu karena telah menyinggung soal istri Arsen.
“Ah mungkin saja. Kalau begitu kita lanjutkan meetingnya dan selesaikan dengan cepat.”
Sementara itu, Sui yang merasa Rose sangat blak-blakan segera, mendekati wanita itu kemudian berbisik, “Nyonya, kenapa Anda bicara begitu?”
“Apa aku salah? Arsen memang sedang bersama Renata ‘kan?”
“Iya, tapi mereka sedang bekerja. Bukan berpacaran.”
“Sayang, apa selama ini Arsen menyakitimu?” tanya Merlin. “Aku lihat, kedekatannya dengan wanita bernama Renata itu sangat tidak lumrah.”
Yvone melihat kesedihan di wajah ibunya Rose, jadi merasa bersalah. Mungkin ini maksud Sui. Rose adalah wanita yang lemah lembut. Pasti tidak akan tega membuat orang lain sedih. Berbeda dengan Yvone yang terkesan blak-blakan dan tidak peduli perasaan orang lain.
“Ya, aku juga sering melihat mereka bersama di tempat umum, meski urusan kerja, tapi entah mengapa aku merasa mereka punya kedekatan khusus,” timpal Mattheo. “Nak, jika kau punya masalah, katakan pada kami.”
Yvone menatap Sui, dan melihat pelayan itu menggeleng kecil. Yvone mengerti apa yang Sui maksud.
“Emm…Bukan begitu Ma, Pa. Arsen memang sering bersama dengan Renata karena dia adalah asisten pribadinya.”
Merlin menatap wajah putrinya, mencoba membaca isi hati Rose. Kemudian tatapannya jatuh ke penampilan Rose yang tak biasa. Putrinya tidak terlalu menyukai warna gelap.
Meski begitu, Merlin tidak memprotes. Ia justru senang karena Rose kali ini lebih memperhatikan penampilannya. Hanya saja ia merasa kecewa lantaran berat badan Rose semakin lama semakin bertambah. Ia khawatir karena hal itulah, Arsen jadi berpaling.
“Lebih baik bicaranya sambil duduk, aku akan suruh pelayan untuk menyiapkan makanan,” kata Merlin.
“Tidak, Ma. Aku kemari bukan untuk makan.”
Mendengar itu, lagi-lagi Merlin dan Mattheo saling pandang. Saat berkunjung kemari, Rose biasanya akan meminta dibuatkan makanan favoritnya.
“Kenapa, Sayang?” tanya Merlin heran.
“Aku sedang diet, Ma. Sebenarnya kedatanganku kemari karena suatu hal.”
“Apa, Sayang?” tanya Merlin khawatir.
“Pinjamkan aku uang. Aku ingin melakukan operasi plastik.”
“Apa?” Merlin dan Mattheo terkejut setengah mati. Keduanya kembali terlibat saling pandang. Merasa heran dengan keinginan sang putri. Mereka semakin yakin jika terjadi sesuatu antar Rose dan Arsen.
“Nak, apa kau yakin?” tanya Mattheo memastikan. “Apa Arsen yang menyuruhmu untuk melakukan itu? Apa dia sungguh berpaling darimu?”
Yvone menatap Mattheo. Kekhawatiran terlihat jelas di wajah pria itu. Membuat Yvone jadi tidak tega. Biasanya Yvone tidak begini, apa karena ia berada dalam tubuh Rose, ia jadi merasakan semua hal yang dirasakan oleh wanita itu?
“Pa, Arsen tidak pernah menuntutku, hanya saja aku sadar. Aku adalah seorang model, dan aku ingin mengembalikan bentuk tubuhku seperti dulu,” ucap Yvone.
“Apa itu artinya kau akan kembali ke dunia model?” tanya Merlin antusias.
Yvone tampak berpikir, ia tidak memiliki rencana ke arah sana. Ia hanya ingin mengembalikan penampilannya, lalu membalas perbuatan orang-orang yang menindasnya selama ini.
“Emm…soal itu, kita lihat saja nanti,” jawab Yvone akhirnya.
Mendengar itu, senyum di bibir Merlin seketika terbit. Dulu ia sangat bangga melihat Rose menjadi seorang bintang. Tetapi semua berubah saat Rose memutuskan untuk vakum dari karirnya. Dan kini ia sangat menantikan hal itu kembali.
“Itu ide bagus, Sayang. Kami akan selalu mendukungmu.” Merlin lantas menatap Mattheo sebentar, kemudian kembali pada Rose. “Kami bisa saja membantu memberikanmu pinjaman, Sayang. Hanya saja saat ini perusahaan ayahmu sedang tidak stabil. Mungkin kami hanya bisa meminjamkan sedikit,” ujar Merlin.
Mendengar itu, Yvone sedikit kecewa. Yang Sui katakan benar, operasi plastik membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Otak Yvone kembali berputar. Apa dirinya memang harus mengambil harta milik Yvone?
“Nak, apa Arsen tidak memberikanmu uang?” tanya Mattheo. “Saat ini bisnisnya sedang naik, dia juga beberapa kali memenangkan tender. Apa dia tidak bersedia memberikanmu biaya operasi?”
Yvone terdiam. Ia sungguh tidak tahu soal itu, yang ia tahu adalah keuangan dipegang oleh Brighita. Arsen juga memberikan tunjangan bulanan yang lebih banyak kepada Renata. Mengingat itu, membuat Yvone kesal saja.
“Aku akan coba bicarakan dengannya nanti.”
“Sayang, bagaimana jika kau jual perhiasan saja. Bukankah kami sering memberikanmu perhiasan, Arsen juga ‘kan? Bagaimana kalau dijual saja?”
“Apa? Perhiasan? Perhiasan yang man…”
Ucapan Yvone terhenti tatkala Sui dengan sengaja menyenggol lengannya.
“Itu ide bagus sekali, Nyonya Merlin,” sahut Sui. Ia melirik ke arah Yvone, sembari mengedipkan sebelah mata. “Perhiasan yang diberikan Anda dan juga Tuan Arsen pasti cukup untuk biaya operasi plastik, tinggal cari tambahan sedikit saja. Benar ‘kan, Nyonya.”
Lagi-lagi Sui menyenggol lengan Yvone. Kali ini jelas supaya dirinya menyetujui ucapan Sui.
“Ya, benar.” Akhirnya Yvone mengiyakan. Yvone lantas bangkit dari duduknya. “Kalau begitu aku pulang dulu, Pa, Ma.”
Merlin mendongak, menatap putrinya. “Rose, kau sungguh tidak ingin makan dulu?” tawar Merlin.
Yvone menggeleng. “Berat badanku sudah berkurang 5 kg dengan mengurangi makan. Dan aku tidak ingin usahaku sia-sia,” kata Yvone.
Mendengar itu, Merlin mengulas senyum. “Baiklah, Sayang. Katakan pada kami jika kau ingin berangkat, kami akan mentransfer uang padamu.”
“Tentu, kalau begitu kami pamit.”
Yvone hendak melangkah, tetapi dihentikan oleh Suara Merlin.
“Rose, tunggu.” Merlin menyadari sesuatu, lalu ia melangkah cepat mendekati Rose.
“Ada apa, Ma?”
“Rose, di mana kalung yang kami berikan? Kenapa kau tidak memakainya?”
Mendengar itu, Yvone seketika membeku.