Gwen baru sadar bahwa menjadi dewasa itu tidak seasyik telenovela favoritnya. Tagihan menumpuk, kopi tidak pernah cukup, dan setiap pertemuan keluarga selalu berakhir dengan satu pertanyaan maut: “Kapan nikah?” Bisakah Gwen bertahan, menghindari pertanyaan itu, dan tetap mempertahankan kebebasannya—tanpa menyerah pada “dunia dewasa” yang penuh aturan absurd?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Honey Brezee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20 - Nadine Indira Surya
Nadine Indira Surya cantik, mungil, dan anggun, kulitnya putih bersih, wajahnya menawan dengan senyum yang bisa membuat siapa pun terpana. Masih muda, tapi aura percaya dirinya sudah memikat. Pantas sang adik klepek-klepek.
Kalau Aga gak doyan, matanya pasti kelilipan, batin Gwen. Setelah drama hujan-hujanan tadi, Aga mengajaknya makan malam bersama Nadine.
“Jadi ini nih, calonnya Angga?” Kalimat kedua yang dia lontarkan setelah memperkenalkan diri. Nada suaranya tidak lah nyinyir, malah terkesan meroasting.
“Angga sudah takut banget bakal kehilangan kamu, Mbak, makanya dia nyuruh aku buru-buru ketemu Mbak. Padahal aku masih patah hati, lho! Dasar memang, Gak punya hati!”
Gwen terdiam. Nadine se-friendly ini? Ia sudah siap menghadapi jambakan atau tamparan karena merebut calon suaminya, apalagi setelah drama kemarin, saat Nadine meraung-raung ditinggal Aga.
“Kamu gak usah mikirin soal Papa, Angga. Kedua orangtuaku akan menerima apapun keputusanku."
Gwen hanya duduk diam, memperhatikan Aga dan Nadine. Kali ini, mereka tampak cukup akrab, berbeda jauh dari kemarin yang penuh ketegangan.
"Kemarin gue udah ketemu bokap lo, minta maaf karena gak bisa melanjutkan perjodohan ini," ucap Aga sambil memotong steaknya, lalu menyodorkannya ke Gwen.
"Gercep juga ternyata, takut banget ditinggal ya?" kekeh Nadine.
"Ya iyalah, ditinggal beli minum bentar aja, udah mau ditikung," gerutu Aga, kesal mengingat kejadian saat lari pagi di Bedugul, membuat Gwen tersedak minumnya.
"Hati-hati, baby," Aga mengusap punggung Gwen pelan.
"Iyuh, pengin muntah liatnya," gumam Nadine.
Namun Aga seolah tidak peduli. Pria itu justru mengambil napkin dan mengelap sudut bibir Gwen yang basah.
"Jadi pengen nyium," bisiknya.
Gwen refleks menyenggol kaki Aga, takut Nadine sedih. Tapi Nadine malah terkekeh.
"Wah, untung gak jadi nikah. Nafsuan ternyata,"
Aga berdecak. "Selera gue juga bukan lo."
Refleks, Gwen mencubit pinggang Aga kencang. Pria itu merintih kesakitan.
"Baby, kalau mau cubit nanti aja dikamar, bisa puas main cubit-cubitan," goda Aga.
"Aga!"
"Yes, baby!"
"Sorry, Nadine… dia rada gila," ucap Gwen, malu.
"Tenang, baby. Dia juga sama gilanya," balas Aga sambil menyuapi Gwen dengan steak di piringnya.
"Dia langsung jatuh cinta pada Pandji hanya dengan pelukan bocah edan itu," tambah Aga, santai.
Hah? Gwen tercengang, apalagi ketika melihat Nadine tersipu malu di depannya.
"Kamu suka Pandji?"
Nadine mengangguk pelan, kedua tangannya menutupi wajah yang memerah.
"Udah jadian dong?" tanya Gwen antusias, matanya berbinar. Ia tahu adiknya sangat mencintai Nadine.
"Gak boleh! Di mana-mana yang tua dulu yang bercinta. Duh, jadi tegang. Pulang yuk," ucap Aga sambil tersenyum menggoda.
Gwen menusuk tiga potong daging dengan satu garpu, lalu menyuapkannya ke Aga, berharap pria itu diam dan tidak membuatnya malu di depan Nadine.
Di saat yang sama, Nadine tertawa— tawa renyah dan lepas, sangat berbeda dengan kesan anggun yang pertama kali Gwen lihat darinya.
“Angga, aku pengen ngobrol sama Mbak Gwen, deh, kamu bisa pergi dulu gak? Atau duduk di pojokan sana, kayak Pandji yang selalu nemenin kamu kalau ketemu aku.”
Gwen tertawa dengan permintaan konyol yang membuat Aga menghela napas besar. Pria itu memilih mengalah, dengan membawa Ice Americano ke meja sudut yang kosong.
“Aku kira, counter dia hanya aku, ternyata, bisa ngalah juga sama kamu,” Ucap Gwen, saat sudah berdua dengan Nadine.
“Dia nurut, karena ada maunya.” Nadine terkekeh.
"Soal kemarin, aku minta maaf ya, Mbak," ucap Nadine. "Aku bodoh… terlalu buta sampai tidak melihat cinta tulus dari pria di sampingku."
"Sejak awal, Aga tidak pernah mencintaiku. Dia hanya bilang akan mencoba membuka hatinya. Saat itu, aku terlalu egois… aku pikir bisa menaklukannya, tapi ternyata aku salah."
Gwen menatap Nadine, ragu tapi penasaran. “Jadi… kamu nggak pernah merasa… sakit karena Aga?” tanyanya pelan, mencoba memahami perasaan Nadine.
Nadine menunduk sebentar, menarik napas dalam-dalam. “Tentu saja sakit, Mbak. Tapi aku sadar, rasa sakit itu bukan karena aku nggak dicintai… tapi karena aku terlalu memaksakan apa yang seharusnya nggak bisa aku paksa.”
Gwen mengangguk, merasa terkejut sekaligus kagum. Nadine terdengar dewasa, kuat, tapi tetap jujur dengan emosinya sendiri.
“Kalau aku di posisi kamu, mungkin aku bakal… marah terus sama Aga, atau malah gak mau bertemu,” Gwen mengakui dengan suara lirih.
Nadine tersenyum tipis. “Bisa jadi. Tapi aku memilih belajar menerima. Toh, hidup nggak selalu sesuai rencana, kan? Aku cuma nggak mau menahan perasaan seseorang yang jelas nggak bisa aku miliki.”
Gwen menelan ludah, hatinya campur aduk. Ada rasa lega mendengar Nadine bicara begitu, tapi sekaligus canggung. Nadine cantik, ramah, dan… dewasa, jauh melebihi ekspektasinya, membuat Gwen merasa kecil sekaligus kagum.
“Aku… aku senang bisa ngobrol sama kamu, Nadine. Bener-bener nggak nyangka kamu se-friendly ini,” Gwen akhirnya berkata, suaranya agak bergetar.
Nadine menepuk tangan Gwen pelan. “Hehe… tenang, Mbak. Kita kan calon keluarga, jadi nggak boleh canggung… demi masa depan.”
“Aku minta nomor Mbak, boleh? Kalau pas libur kuliah dan pulang ke Bali, kita bisa nongkrong begini. Calon suami Mbak si songong itu jangan diajak.” Dagunya mengarah pada Aga yang duduk di meja sudut dan asyik bermain ponsel. Gwen meringis. Ada desir aneh saat dia menyematkan status ‘Calon Suami’ untuk pria yang duduk beberapa meja di belakangnya.
“Boleh.” Gwen tersenyum tulus dan mengeluarkan ponsel dari dalam tas.
"Baby, sampai kapan aku mau dianggurin disini. Dingin, gak ada yang meluk." protes Aga matanya menatap kesal kearah Nadine.
Nadine mendengus geli. “Gak nyangka sih, cowok modelan Aga yang wajahnya jutek itu bisa bucin kayak oppa-oppa Korea.”
“Wajahnya memang bintang satu, gak ramah,” timpal Gwen.
Mereka berdua langsung tertawa, renyah dan lepas.
Sementara itu, Aga menggeram kesal dari kejauhan, jelas tidak terima diabaikan. Pria itu akhirnya berdiri, melangkah mendekat dengan ekspresi manyun yang dibuat-buat—seolah siap merebut kembali perhatian sang pujaan hati yang sejak tadi dicuri darinya.
inilah inti perjalanan ke depan
good job thor
lanjuttt
ga berasa baca marathon dari bab 1 - 15 tiba2 habis... 👍
kalau "kita" berarti yang diajak berbicara ikut terlibat....