Nono dan Ayu adalah sepasang kekasih yang unik. Mereka sering bertengkar soal hal-hal kecil—mulai dari soal baju, jalan mana yang lebih cepat, sampai soal makanan. Tetangga bilang mereka kayak air dan minyak, nggak pernah akur. Tapi siapa sangka, di balik setiap pertengkaran dan perdebatan, tersimpan rasa sayang yang besar dan perhatian yang tulus. Bagaimana kisah mereka bertahan dan tetap bersama meski sering beda pendapat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon I Putu Merta Ariana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sejuknya Pegunungan dan Hangatnya Budaya
Setelah menikmati keindahan pantai selatan selama beberapa hari, Nono dan Ayu pun melanjutkan perjalanan mereka. Tujuan selanjutnya adalah sebuah daerah pegunungan yang terkenal dengan udaranya yang sangat sejuk, pemandangan alam yang hijau, dan juga desa adat yang masih sangat menjaga kearifan lokalnya.
Perjalanan menuju ke sana membawa mereka melewati jalanan yang mulai menanjak dan berkelok-kelok. Semakin tinggi mereka naik, pemandangan di sekitar mereka pun berubah. Sawah-sawah hijau perlahan berganti menjadi hutan-hutan yang rindang dan perbukitan yang tertutup kabut tipis. Udara yang masuk melalui celah jendela mobil pun terasa semakin dingin dan segar.
"Wah, dingin banget udaranya, Bun!" seru Nara sambil mengucek matanya yang baru saja bangun dari tidur singkatnya di kursi belakang. Dia langsung memeluk boneka beruang kesayangannya erat-erat.
Ayu menoleh dan tersenyum melihat tingkah lucu putrinya itu. "Iya dong, sayang. Kan kita lagi naik ke atas gunung. Nanti pas sampai di sana, dinginnya bisa-bisa bikin kita gemetar lho. Makanya Bunda udah siapin jaket tebal buat kita semua di tas depan tuh."
Nono yang sedang memegang setir mobil pun ikut bersuara. "Tapi seru kan, Nar? Kita bisa main salju nanti lho—eh, nggak salju sih, tapi kabut tebal yang dingin. Hahaha. Tapi beneran, tempatnya indah banget kata orang-orang."
Tiba-tiba Ayu menoleh dengan tatapan sedikit tajam. "Eh, Mas Nono, jangan dong bawa mobilnya ngebut-ngebut di jalan yang berkelok gini. Kan bahaya banget. Pelan-pelan aja, kan kita juga mau nikmatin pemandangan. Kamu tuh ya, kadang semangatnya kelewatan," seru Ayu dengan nada khasnya yang tegas tapi penuh perhatian.
Nono tertawa renyah. "Ya ampun, Tuan Putri. Iya deh, iya deh. Aku pelan-pelan kok. Kamu jangan khawatir terus. Aku kan suami yang hati-hati dan bertanggung jawab. Puas?"
Ayu mendengus pelan tapi tersenyum lebar. "Hmph, baru tahu kamu. Dasar kalau ngomong manis banget. Oke deh, aku percaya sama kamu."
Siang harinya, mereka pun tiba di desa wisata yang menjadi tujuan mereka. Desa itu terletak di dataran tinggi, dikelilingi oleh gunung-gunung yang megah dan hamparan kebun teh yang hijau luas. Aroma tanah basah dan tanaman hijau bercampur menjadi satu, menciptakan udara yang sangat bersih dan menyehatkan.
Mereka menginap di sebuah penginapan berbentuk rumah adat yang unik dan sangat nyaman. Bangunannya terbuat dari kayu yang kuat, dengan atap yang curam dan dekorasi ukiran yang indah.
"Wah, rumah ini keren banget, Yah! Kayak rumah di cerita dongeng ya," seru Nathan sambil berkeliling melihat-lihat penginapan mereka dengan mata berbinar.
"Iya dong, kan? Bunda yang pilih tempatnya. Pasti bagus dong," jawab Ayu bangga sambil meletakkan tas mereka di atas tempat tidur yang empuk dan hangat.
Nono yang sedang membuka jendela besar di ruangan itu pun tersenyum. "Iya, Yu. Kamu emang jago banget milih tempat. Tempat ini emang luar biasa. Suasananya tenang banget dan pemandangannya indah banget."
Keesokan harinya, mereka memutuskan untuk mengunjungi desa adat yang terletak tidak jauh dari penginapan mereka. Desa itu terkenal dengan budayanya yang masih sangat terjaga, rumah-rumah tradisionalnya yang unik, dan masyarakatnya yang ramah dan hangat.
Saat mereka tiba di desa itu, mereka disambut dengan sangat ramah oleh tetua desa dan warga setempat. Mereka diajak berkeliling melihat rumah-rumah adat, mendengarkan cerita tentang sejarah desa, dan bahkan diajak melihat proses pembuatan kerajinan tangan khas desa itu yang sangat indah.
"Wah, ternyata bikin kain tenun itu susah ya, Bu. Harus sabar banget dan teliti," kata Nathan takjub saat melihat seorang ibu warga desa sedang menenun kain dengan motif yang rumit dan indah.
"Iya, sayang. Semua hal yang indah dan berharga itu butuh proses dan kesabaran yang besar lho," jawab Ayu lembut sambil mengusap kepala Nathan.
Sementara itu, Nono sedang asyik mengobrol dengan beberapa bapak-bapak warga desa di sebuah balai desa. Mereka berdiskusi tentang cara bertani di dataran tinggi dan bagaimana masyarakat desa menjaga alam sekitar mereka agar tetap lestari.
"Anak muda kamu hebat ya, Bu. Bisa ngobrol sama bapak-bapak kita dengan santai dan paham soal pertanian," puji salah satu ibu warga desa kepada Ayu.
Ayu tersenyum bangga. "Iya, Bu. Suami aku emang orangnya suka belajar hal baru dan ramah sama semua orang. Tapi..." Ayu berhenti sebentar lalu tertawa kecil. "Tapi kadang juga suka keras kepala kalau lagi beda pendapat sama aku."
Ibu warga itu pun tertawa lepas mendengarnya. "Ah, wajar dong, Bu. Suami istri kan emang gitu. Saling melengkapi. Kalau sama-sama pendiam, nanti malah sepi. Yang penting kan saling sayang."
Ayu mengangguk setuju. "Iya, Bu. Bener banget."
Sore harinya, setelah mengucapkan terima kasih dan berpamitan kepada warga desa yang ramah, Nono dan Ayu pun kembali ke penginapan mereka. Perjalanan hari ini memberikan banyak pengalaman baru dan wawasan yang luas bagi mereka semua, terutama bagi Nathan dan Nara.
Malam itu, udara di luar terasa sangat dingin, bahkan ada kabut tipis yang turun. Namun, di dalam rumah adat mereka, suasana terasa begitu hangat dan nyaman. Mereka duduk melingkar di atas karpet tebal di ruang tengah, sambil menikmati wedang ronde hangat dan kue-kue manis yang mereka beli di desa tadi.
"Senang banget ya hari ini, Mas," kata Ayu pelan sambil menyesap wedang ronde-nya dengan nikmat. "Kita jadi tahu banyak soal budaya mereka, dan warganya ramah-ramah banget."
Nono mengangguk setuju sambil menatap istri dan anak-anaknya dengan mata berbinar penuh cinta. "Iya, Yu. Aku juga senang banget. Perjalanan ini bener-bener ngajarin kita banyak hal. Kita jadi sadar betapa kayanya Indonesia ini, baik alamnya maupun budayanya. Dan aku senang banget bisa lewatin semua ini bareng kamu dan anak-anak."
"Mas..." panggil Ayu pelan, lalu dia menatap Nono dengan tatapan lembut. "Makasih ya udah bikin rencana perjalanan ini. Aku nggak nyangka bakal seindah dan seberharga ini buat kita semua."
Nono tersenyum lebar, lalu dia merangkul bahu Ayu dan juga kedua anak mereka yang sedang asyik memakan kue. "Sama-sama, Yu. Kita kan tim yang hebat. Dan ingat, ini baru sebagian kecil dari perjalanan kita. Masih banyak tempat indah lain yang bakal kita kunjungi bareng-bareng."
Mereka pun tertawa bahagia bersama. Di malam yang dingin dan berkabut itu, hati mereka terasa begitu hangat dan penuh dengan rasa syukur. Mereka tahu, cerita perjalanan mereka masih panjang, dan masih banyak petualangan seru yang menanti mereka di depan sana. Tapi mereka juga yakin, selama mereka berempat saling bergandengan tangan, setiap tempat yang mereka kunjungi akan menjadi tempat yang indah dan penuh kenangan.