Di buang ke Desa Kenangan, tempat Oma-nya menghabiskan sisa umur. Nero Vano Christian malah tidak sengaja bertemu dengan seorang gadis manis bernama Ainun Salsabila Adiakara. Gadis yang awalnya hanya sekedar mengusik hati.. Lalu menjadi alasan untuk Nero mulai mengenal Tuhan.
Ikuti kisahnya~
Happy Reading ><
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BiMO33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 27: SAFARI TARAWIH & MARATON SPIRITUAL LASKAR AS-SITTAH
Ramadan di Tarim bukan sekadar bulan puasa; ia adalah "balapan ketahanan" tingkat tinggi bagi jiwa. Jika dulu Muhammad Nero Vane Akbar bangga bisa begadang di bengkel modifikasi hingga subuh, memacu adrenalin di atas aspal panas, kini fisiknya ditantang dengan ujian yang jauh lebih berat: standby di masjid dari salat Isya hingga menjelang Sahur.
Di Tarim, Tarawih bukanlah ritual cepat saji 11 atau 23 rakaat. Ini adalah maraton spiritual yang bisa berlangsung berjam-jam. Bacaan Al-Qur'an dilantunkan dengan panjang, mendalam, dan syahdu, seolah setiap ayat ditarik langsung dari sumur kedalaman hati para imamnya.
"Malam ini jadwal kita 'Safari', Ro," bisik Ucok sambil merapikan sarungnya yang sedikit melintir akibat gerakan sujud yang intens. Matanya berbinar meski wajahnya tampak lelah. "Kita mulai dari Masjid Jami' Tarim, geser ke Masjid Ba'alawi, dan tutup malam di Masjid Al-Muhdhor. Kuat kau?"
Nero menyeringai, tangannya cekatan membetulkan sorban hijau khasnya yang sudah mulai longgar. Otot-otot kakinya berkedut siap berlari, namun kali ini bukan untuk balapan liar. "Dulu gue kuat muterin sirkuit Senayan sepuluh kali tanpa henti, Sob. Masa cuma pindah-pindah masjid aja kalah? Gaspol!" jawabnya penuh semangat.
MASJID 1: KHUSYUK DI BAWAH MENARA TANAH LIAT
Menara ikonik berbahan tanah liat itu menjulang gagah membelah langit malam Tarim. Suasana di dalamnya terasa magis, hampir tidak nyata. Aroma kayu gaharu yang dibakar di sudut-sudut masjid bercampur dengan hawa dingin gurun yang menusuk tulang, menciptakan atmosfer yang membuat bulu kuduk berdiri.
Nero berdiri himpit-himpitan di antara jamaah yang begitu padat. Saat Imam mulai membaca ayat-ayat awal, keheningan pecah bukan oleh suara ribut, melainkan oleh isak tangis tertahan. Suara tangisan jamaah terdengar pelan, bersahutan seperti orkestra rasa sakit dan harap kepada Tuhan.
Dada Nero bergetar hebat. Pemuda yang dulu hanya hafal lirik lagu-lagu dugem dan deru mesin motor, kini merasakan setiap harakat ayat suci menembus pori-porinya, meremas jantungnya dengan lembut namun pasti. Air matanya menetes tanpa sadar, membasahi pipi yang biasanya dingin.
"Gila..." batin Nero terguncang saat ia bersujud lama, dahinya menempel erat pada karpet dingin. "Ini lebih high, lebih bikin mabuk daripada adrenalin apa pun yang pernah gue rasakan di lintasan balap."
MASJID 2: TANTANGAN "KAKI BETON" DI BA'ALAWI
Perjalanan berlanjut ke Masjid Ba'alawi. Tantangannya berganti wujud. Jika di Al-Muhdhor ujiannya adalah emosi, di sini ujiannya adalah fisik murni. Jamaahnya membludak hingga meluber ke pelataran luar, memaksa mereka berdiri berhimpitan tanpa ruang gerak.
"Aduh, Kang Nero... kaki saya udah kayak mau copot nih. Rasanya abis naik Gunung Manglayang tanpa alas kaki," keluh Asep di sela-sela jeda antar rakaat. Ia terlihat menyeringai sambil diam-diam memijat betisnya yang kram.
"Sstt! Asep, ingat pahalanya!" seru Fikri, si "Khotib Jalanan", sambil tetap berusaha menjaga wibawa posturnya meski keringat mengucur deras. "Satu langkah menuju masjid itu satu dosa dihapus. Kalau kamu jalan kaki safari begini, dosa se-Bandung bisa ludes semua!"
"Masalahnya bukan dosa yang hilang, Kang," sahut Asep dengan wajah memelas yang justru mengundang geli. "Nyawa saya yang berasa mau keluar lewat jempol kaki!"
Candaan itu sukses membuat Nero dan teman-temannya menahan tawa di tengah shaf, mencoba mengubahnya menjadi senyum tipis agar tidak mengganggu kekhusyukan orang lain. Nero menggeleng-gelengkan kepala, menatap kegigihan sahabat-sahabatnya. Zul, si jenius IT yang biasa duduk manis dengan laptop, kini wajahnya merah padam dan bajunya basah kuyup oleh keringat, namun matanya tetap fokus mengikuti bacaan Imam. Semangat mereka tak terbendung.
MASJID 3: PUNCAK KESERUAN & SAHUR JALANAN
Pukul 02.00 dini hari. Mereka tiba di masjid terakhir, sebuah masjid kecil di ujung kota yang suasananya lebih intim. Tarawih di sini diisi dengan dzikir-dzikir panjang yang menenangkan jiwa yang lelah.
Selesai shalat, mereka tidak langsung kembali ke asrama. Tradisi "berburu" makanan sahur di pinggiran jalan Tarim menjadi penutup malam yang dinanti. Mereka duduk lesehan di atas trotoar yang masih menyimpan hangat sisa panas siang tadi. Di depan mereka terhampar roti khubuz segar dan gelas-gelas berisi susu unta hangat.
"Gelar kita 'Laskar As-Sittah' kayaknya malam ini perlu diganti jadi 'Laskar Encok'," celetuk Ucok sambil meringis memegang urat kakinya yang tegang, memicu tawa renyah di antara mereka.
"Tapi seru, kan?" Nero nimbrung, membagi-bagikan roti kepada teman-temannya dengan senyum lebar. "Gue nggak pernah ngerasa sehidup ini sebelumnya. Tubuh lelah, tapi jiwa... jiwa rasanya ringan banget."
Gus Aris, yang sedari tadi diam menikmati susunya, tiba-tiba berbicara dengan suara lembutnya yang menyejukkan. "Mas Nero, kamu tahu kenapa kita lari-lari dari satu masjid ke masjid lain malam ini? Bukan sekadar cari pahala banyak."
Ia menatap Nero dalam-dalam. "Agar bumi ini menjadi saksi di hari Kiamat nanti. Setiap jengkal tanah yang kita injak untuk ibadah akan berbicara. Tanah di Al-Muhdhor, tanah di Ba'alawi, bahkan trotoar ini... semuanya akan bersaksi bahwa Muhammad Nero Vane Akbar pernah sujud di sini, pernah menangis di sini, dan pernah mencintai Tuhannya di sini."
Nero terdiam. Kalimat Gus Aris menghantam hatinya lebih keras daripada tabrakan di lintasan balap mana pun. Ia mendongak, menatap langit Tarim yang mulai berubah warna dari hitam pekat menjadi biru fajar. Ingatan tentang Ainun muncul lagi, namun kali ini tanpa rasa sedih atau menyesal. Hanya ada doa tulus.
Ainun, batinnya. Aku berharap, di Kairo sana, kamu juga sedang merasakan kebahagiaan yang sama. Bahwa kita sedang berjalan di jalur yang berbeda, namun menuju Cahaya yang sama.
"Alhamdulillah," bisik Nero lirih, air mata kembali menggenang. "Makasih ya Allah, udah narik hamba keluar dari sirkuit sesat, dan menempatkan hamba di sirkuit yang benar."
Tiba-tiba, suasana hening itu pecah oleh teriakan Asep yang menunjuk ke arah gang sempit di seberang jalan.
"EIH! LIAT ITU! Penjual gorengan khas Yaman (Foul dan Falafel) baru buka! Wanginya nggak main-main! Siapa yang mau balapan lari ke sana? Yang paling lambat bayar semua makanannya!"
Mata Nero langsung berbinar. Insting pembalapnya kambuh seketika. Ia langsung melompat berdiri, mengambil posisi start ala pembalap profesional di atas trotoar.
"Eh, urusan lari jangan nantangin mantan juara jalanan, Sep! Siap-siap dompet lo tipis!" seru Nero tertawa. "Satu... Dua... Tiga... GO!"
Dan malam itu, di penghujung sahur, enam pemuda Nusantara itu melesat berlarian melewati lorong-lorong tua Tarim yang sunyi. Gelak tawa mereka pecah, menggema di antara dinding-dinding tanah liat kuno. Jauh dari kebisingan klakson dan mesin motor yang dulu menjadi dunia Nero, namun sangat dekat dengan ketenangan jiwa yang hakiki.
Mereka berlari bukan untuk piala, bukan untuk taruhan uang, melainkan untuk merayakan kehidupan baru mereka sebagai hamba yang sedang jatuh cinta pada Sang Pencipta.