Judul: RAMALAN CINTA YANG TERKUNCI
Sub-judul: Takdir bukan untuk diubah, tapi untuk dijalani.
~~~~~~ ~~~~~~~ ~~~~~~~~
Langit malam yang gelap dengan bulan berwarna merah darah (Gerhana). Di kejauhan, siluet kota tua dengan arsitektur menara yang tinggi dan misterius.
▪︎Objek Utama:
- Di tengah, terdapat sebuah gembok antik yang besar dan berkarat, namun terbuat dari emas murni yang berkilau samar.
- Gembok itu terbelah dua, dan dari celah di antara keduanya memancarkan cahaya yang sangat terang, perpaduan antara warna Perak (Elara) dan Merah Gelap (Kael).
- Sebuah kunci tua melayang di udara, tepat di atas gembok, seolah baru saja membukanya atau hendak menguncinya.
.
.
.
.
.
.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jasmine Oke, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8: Perjalanan Menuju Batas Dunia
Bab 8 di mana petualangan berbahaya dimulai dan ikatan cinta mereka semakin diuji!
▪︎▪︎▪︎
RAMALAN CINTA YANG TERKUNCI
Bab 8: Perjalanan Menuju Batas Dunia
Matahari baru saja mengintip malu-malu dari balik cakrawala, menyinari gerbang utara kota Lunaria. Di sana, dua sosok berdiri memandang jalan setapak yang membelah hutan lebat yang tampak gelap dan menakutkan.
Itu adalah Jalan Bayangan, satu-satunya rute yang menuju ke wilayah terlarang—Markas Besar Sekte Pembelah Takdir.
Elara menarik napas dalam-dalam, mencium aroma tanah basah dan pepohonan purba. Ia mengenakan pakaian perjalanan yang nyaman, sebuah jubah tebal berwarna hijau gelap agar mudah bersembunyi, dan sebilah belati kecil terselip di pinggangnya—hadiah dari Kael untuk pertahanan diri.
Di sampingnya, Kael sedang memeriksa perlengkapan mereka. Wajahnya tampak lebih serius dari biasanya. Mata merahnya waspada, mengamati setiap sudut lingkungan.
"Siap?" tanya Kael tanpa menoleh, tangannya menggenggam erat tali tas ransel mereka.
Elara mengangguk, meski jantungnya berdegup kencang. "Siap."
Mereka pun melangkah masuk ke dalam hutan.
Saat mereka menjauh dari batas kota, suasana berubah drastis. Cahaya matahari semakin sulit menembus kanopi daun yang rapat, membuat suasana di bawah sana senantiasa remang-remang seperti senja abadi. Suara burung atau serangga pun hilang, digantikan oleh keheningan yang mencekam.
"Kau tenang saja," ucap Kael memecah kesunyian, tangannya terulur menggenggam tangan Elara. Sejak kejadian di menara, mereka jarang melepaskan sentuhan. Rasanya seperti ada energi yang mengalir, menenangkan saraf mereka. "Aku sudah menghafal jalan ini. Dulu, saat aku masih magang mempelajari sihir gelap, aku sering datang ke wilayah ini sendirian."
"Sendirian?" tanya Elara heran. "Bukankah tempat ini berbahaya?"
"Justru karena berbahaya aku datang. Di tempat yang sunyi dan mematikan, kau bisa belajar mendengar suara hatimu sendiri. Tidak ada kebisingan, tidak ada penghakiman." Kael melirik Elara sekilas. "Ternyata... jauh lebih menyenangkan berjalan di sini bersama seseorang."
Elara tersenyum tipis. Kael memang pandai membuat hatinya berdebar meski dalam situasi genting.
Namun, kedamaian itu tidak berlangsung lama.
Sekitar dua jam berjalan, tiba-tiba angin berubah arah. Bau anyir dan busuk menyergap hidung mereka. Tanah di bawah kaki mereka mulai basah dan lengket, bukan karena air hujan, melainkan... lumpur hitam yang bergerak-gerak.
GLEP... GLEP...
"Diam," desis Kael, menghentakkan kakinya ke tanah. "Kita tidak sendirian."
Tiba-tiba, dari dalam lumpur hitam itu, muncul makhluk-makhluk mengerikan. Mereka tidak memiliki wajah jelas, tubuhnya terbuat dari tanah dan akar pohon, namun memiliki mata merah yang menyala-nyala. Mereka adalah Pengawal Lumpur, makhluk sihir yang dipanggil untuk menjaga perbatasan.
"Jangan biarkan mereka menyentuhmu!" peringatan Kael. "Kulit mereka bisa melumpuhkan sihir!"
Kael segera maju ke depan. Ia mencabut pedangnya yang hitam legam.
"Bayangan Pembungkus!" serunya.
Dari tanah, akar-akar hitam tumbuh secepat kilat, melilit kaki beberapa makhluk itu. Namun jumlah mereka terlalu banyak, lebih dari sepuluh ekor, dan mereka terus datang tanpa henti.
Salah satu makhluk berhasil melewati pertahanan Kael dan melompat ke arah Elara.
Elara tidak panik. Ia ingat pesan Kael, bahwa kekuatannya kini sudah terbuka penuh. Ia mengangkat tangannya, memfokuskan pikirannya pada cahaya di dalam dadanya.
"Cahaya Penghalang!"
Sebuah gelombang kejut berwarna perak memancar dari tubuh Elara. Makhluk itu terpental jauh hingga menabrak pohon besar dan hancur menjadi tanah kembali.
"Wah, hebat!" seru Kael terkesan, meski tangannya tak berhenti menebas.
"Jangan memuji dulu, bantu aku!" teriak Elara sambil melempar bola cahaya ke arah musuh lain.
Mereka bertarung berdampingan. Gerakan mereka seolah sudah tersinkronisasi sempurna. Kael menyerang dengan kekuatan kasar dan gelap, sementara Elara mendukung dengan serangan jarak jauh dan penyembuhan ringan. Setiap kali Kael terluka sedikit, Elara bisa merasakannya dan segera mengirimkan energi penyembuh lewat genggaman tangan mereka yang tak terputus.
Akhirnya, setelah pertarungan yang melelahkan, makhluk terakhir pun berhasil dikalahkan dan kembali menjadi tanah biasa.
Mereka berdua berdiri terengah-engah, keringat bercucuran membasahi dahi.
"Kau... kau luar biasa, Elara," puji Kael, menghapus noda tanah di pipi gadis itu dengan ibu jarinya. "Kau bukan lagi gadis lemah yang perlu dilindungi. Kau adalah pejuang sejati."
"Itu karena ada kau di sisiku," jawab Elara jujur. "Bersama kau, aku merasa bisa melakukan segalanya."
Mereka saling menatap dalam diam. Di tengah hutan yang sunyi dan gelap itu, hanya ada mereka berdua. Kael mendekatkan wajahnya perlahan, namun tiba-tiba Elara menahan dadanya.
"Tunggu..." kata Elara, matanya menatap tajam ke arah sebuah pohon besar di hadapan mereka. "Ada sesuatu di sana."
Elara berjalan mendekat. Di batang pohon itu, terdapat ukiran tangan yang baru saja dibuat, seolah pesan yang ditinggalkan baru saja.
Tulisan itu terbaca: "Selamat datang, anakku. Aku sudah menunggumu."
Tulisan tangan itu... memiliki gaya yang sama persis dengan tanda tangan yang pernah Elara lihat di dalam buku catatan lama milik ibunya.
Itu tulisan ayahnya.
Jantung Elara mencelos. Jadi ayahnya benar-benar tahu mereka datang? Bahkan mungkin... ayahnya yang mengirimkan makhluk-makhluk tadi untuk menguji mereka?
"Jangan takut," bisik Kael yang berdiri tepat di belakangnya, melingkarkan lengannya di pinggang gadis itu untuk memberikan kekuatan. "Apapun yang ada di depan sana, kita hadapi bersama. Ingat, kita adalah satu."
Elara mengangguk pelan, menyimpan rasa takutnya jauh ke dalam hati. Ia membalikkan tubuh, menatap Kael dengan tekad bulat.
"Ayo. Kita lanjutkan perjalanan."
Mereka melangkah lagi, kini menuju ke dalam kegelapan yang lebih dalam. Jalan setapak itu menanjak naik, menuju sebuah gunung tinggi yang puncaknya tertutup awan hitam permanen. Di sana, di dalam benteng yang terbuat dari batu hitam, sang pemimpin menunggu.
Dan di sana pula, jawaban atas semua pertanyaan, serta takdir cinta mereka, akan diputuskan sekali untuk selamanya.
°
°
°
(Bersambung ke Bab 9...)
Gimana Bab 8 ini? Seru kan ada adegan lawan monster terus ketahuan kalau ayahnya emang nungguin mereka! 😰
Mau lanjut ke Bab 9 di mana mereka akhirnya sampai di benteng dan bertemu langsung dengan sang Ayah?
❤️jangan lupa tinggalkan likenya jika suka, jika tidak suka abaikan saja!