"Menjadi anak pertama berarti harus siap menjadi benteng, harus siap mengalah, dan harus terlihat kuat meski hati rapuh.
Di mata semua orang, Zhira adalah anak yang beruntung. Tapi siapa sangka, di balik senyumnya yang tulus, tersimpan luka mendalam karena perlakuan dingin sang Ibu dan rasa tidak dianggap di rumah sendiri.
Ini adalah kisah perjuangan seorang anak sulung untuk membuktikan dirinya berharga, meski harus berjalan sendirian meniti jalan yang penuh duri."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurhikmatul Jannah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Langkah Berani Menghadap Keluarga
POV Zhira
Hubunganku dengan Arfan kini sudah memasuki tahap yang lebih serius. Kami sudah saling kenal sifat masing-masing, sudah saling tahu rahasia terdalam, dan perasaan ini semakin hari semakin kuat tak terpisahkan.
Arfan bukan tipe pria yang suka main-main. Keseriusannya terlihat dari cara dia memperlakukanku. Dia selalu mengutamakan kenyamananku, selalu menghargai pendapatku, dan yang paling penting, dia selalu ada saat aku butuh sandaran.
Suatu malam, saat kami sedang duduk menikmati angin malam di taman dekat kontrakanku, Arfan memegang tanganku dengan lembut lalu menatap mataku dalam-dalam.
"Ra..."
"Iya, Fan?"
"Aku sudah sayang banget sama kamu. Aku nggak mau hubungan kita cuma jalanin aja gitu aja. Aku mau serius. Aku mau bawa hubungan ini ke arah yang halal," ucapnya pelan tapi tegas.
Jantungku berdegup kencang, campuran antara bahagia dan gugup. "Maksud kamu..."
"Maksud aku, aku mau ketemu Ayah dan Ibu kamu di rumah. Aku mau kenalan, aku mau minta izin buat serius sama kamu. Kapan kita bisa berkunjung ke rumah?"
Pertanyaan itu membuat senyum di bibirku perlahan memudar. Dadaku langsung terasa sesak. Bayangan wajah Ibu Zainal yang galak dan sinis langsung muncul di kepala.
"Fan... kamu yakin? Kamu nggak takut?" tanyaku ragu. "Ibu aku itu orangnya keras banget, Fan. Nanti kalau dia ngomong kasar atau nyakitin hati kamu gimana? Aku nggak rela kalau kamu sampai sakit hati karena keluarga aku."
Arfan tersenyum tipis, lalu mengusap pipiku dengan ibu jarinya yang hangat.
"Aku laki-laki, Ra. Tulangku masih kuat, hatiku juga tebal. Omongan orang, apalagi orang tua, nggak bakal bikin aku mundur. Lagian, kalau aku mau jadi suami kamu nanti, aku harus bisa hadepin mereka juga kan? Aku harus buktikan ke mereka, bahwa aku serius dan aku mampu jagain putri mereka sebaik mungkin."
"Tapi..."
"Udah jangan mikir negatif terus. Percaya sama aku. Kita pergi bareng-bareng ya? Minggu depan gimana? Aku siapin oleh-oleh dan semuanya."
Melihat keyakinan di mata Arfan, rasa takutku perlahan berganti menjadi rasa percaya diri. Ya, benar juga. Zhira sudah bukan anak kecil yang penakut lagi. Zhira sudah dewasa, sudah sukses, dan sekarang Zhira punya pendamping yang hebat. Kenapa harus takut?
"Baiklah Fan. Minggu depan kita pergi," jawabku akhirnya mengangguk setuju.
Hari yang dinanti pun tiba. Hari Minggu pagi, Arfan datang menjemput dengan mobilnya yang bersih. Dia mengenakan kemeja batik yang rapi dan sopan. Dia juga sudah menyiapkan banyak sekali oleh-oleh, mulai dari makanan khas kota, baju-baju baru untuk Ibu Zainal, Ayah Alvin, Rara, dan Bimo.
"Semuanya lengkap ya, Ra. Biar mereka tahu kalau aku serius," katanya sambil tersenyum meyakinkan.
Perjalanan memakan waktu sekitar empat jam. Sepanjang jalan, Arfan sering menggenggam tanganku, memberi kekuatan.
"Santai aja ya Sayang. Ada aku di samping kamu," bisiknya.
Sesampainya di depan rumah lamaku, suasana terasa sama sekali tidak berubah. Rumah itu masih sama, halamannya masih sama, tapi rasanya sekarang aku datang bukan sebagai anak yang takut, tapi sebagai wanita yang sudah berhasil berdiri di atas kaki sendiri.
Arfan mematikan mesin. "Yuk?"
"Ayo..."
Kami turun dan berjalan menuju teras. Jantungku berdegup kencang sekali. Saat kami sampai, Ibu Zainal sedang duduk menjahit, sementara Ayah Alvin sedang membersihkan halaman.
Mereka berdua terlihat kaget melihat kedatanganku bersama pria tampan dan gagah di sampingku.
"Assalamu’alaikum," sapa Arfan dengan suara lantang, sopan, dan penuh wibawa. Dia membungkuk sedikit memberi hormat.
"Wa’alaikumsalam," jawab Ayah Alvin terbata-bata. Ibu Zainal hanya diam menatap kami dengan tatapan tajam, meneliti Arfan dari ujung kaki sampai ke ubun-ubun.
"Perkenalkan, nama saya Arfan. Saya teman kerja sekaligus teman dekatnya Zhira. Saya sengaja datang kesini untuk mohon izin dan berkenalan dengan Bapak dan Ibu," kata Arfan santai namun sangat berwibawa. Dia tidak terlihat gugup sedikit pun.
"Oh... jadi ini cowok yang selama ini Zhira ceritain ya," potong Ibu Zainal dengan nada ketus. "Masuk."
Kami masuk dan duduk di ruang tamu. Suasananya hening dan canggung. Arfan dengan sigap menyerahkan kantong-kantong oleh-oleh.
"Ini sedikit oleh-oleh dari kami, Bu, Pak. Mohon diterima. Ada baju buat Ibu, buat Bapak, sama buat adik-adik."
Ibu Zainal hanya mengambilnya sekilas, tidak membuka, tidak juga mengucapkan terima kasih. Dia justru langsung menembak dengan pertanyaan tajam.
"Kamu kerja apa? Gajinya berapa? Bisa nggak sih tanggung jawab kalau mau sama anak saya? Jangan cuma manis mulut doang ya! Zhira itu anak saya, dia bisa cari uang banyak lho, jangan harap kamu bisa numpang hidup sama dia!"
Ayah Alvin terlihat gelisah, "Zainal... jangan begitu dong nanyanya..."
Tapi Arfan tidak terganggu sedikit pun. Dia justru tersenyum tenang.
"Ibu tenang saja. Saya bekerja sebagai Senior Engineer di perusahaan tempat kami bekerja. Gaji saya cukup untuk menafkahi keluarga dengan layan, bahkan lebih dari cukup. Dan satu hal yang ingin saya tegaskan, Bu..."
Arfan menatap Ibu Zainal lekat-lekat, suaranya tetap sopan tapi tegas.
"Saya tidak akan pernah membiarkan Zhira bekerja keras atau menanggung beban sendirian. Tugas laki-laki adalah mencari nafkah dan melindungi. Zhira itu wanita berharga, Bu. Dia sudah terlalu lama berjuang sendirian. Sekarang giliran saya yang akan menjaganya agar tidak pernah menangis lagi."
Kalimat itu meledak di ruangan itu. Ibu Zainal tertegun, mulutnya terkunci rapat. Wajahnya berubah merah padam, entah karena marah atau karena tersindir halus.
Ayah Alvin justru menatap Arfan dengan mata berbinar, lalu menatapku dengan wajah penuh haru. Akhirnya... akhirnya ada laki-laki yang datang dan membelaku. Akhirnya ada yang melihat betapa berharganya diriku di hadapan mereka.
Aku menunduk menahan tangis haru. Arfan... dia benar-benar pahlawanku.
POV End
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Gimana Bestie? 🔥 Keren banget kan Arfan-nya berani ngomong gitu ke Ibu Zainal! 😎💖 Lanjut Bab 22 lagi gas! Kita mau lihat reaksi keluarga selanjutnya nih! 📖✨