Putri Azura dari kerajaan Utara, menikah dengan pangeran Xavier, putra Mahkota kerajaan Selatan. Xavier membenci Azura saat mengetahui wanita itu hanya memanfaatkannya demi pernikahan politik. Semua orang yang pernah dekat dengan Azura pun berpaling darinya dan menganggapnya wanita jahat yang haus akan kekuasaan.
Namun, apakah sang putri benar-benar jahat? Atau dia hanya menjadi boneka politik yang berusaha bertahan hidup?
Nanti akan terungkap bahwa di balik keanggunan dan kepintarannya, Princess Azura diam-diam melindungi Xavier dan orang-orang yang dia sayangi dari bahaya yang jauh lebih besar. Kebencian perlahan berubah jadi keraguan, hingga akhirnya kebenaran mengejutkan terkuak, kebenaran tentang betapa pahitnya kisah hidup Azura dan cintanya yang tulus terhadap Xavier.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mae_jer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nasehat Basten
Malam harinya, Xavier belum balik-balik ke kamar. Karena ada Azura di sana. Xavier duduk bersandar malas di kursi kayu yang cukup besar, gelas berisi minuman keras di tangannya sudah hampir kosong, sementara botol di sebelahnya sudah berkurang isinya cukup banyak. Basten duduk di hadapannya, sepupu sekaligus saudara iparnya, salah satu orang yang paling dia percaya saat suasana hatinya sedang berantakan seperti ini.
Basten menatap pria di hadapannya itu dengan pandangan prihatin. Ia tahu betul bagaimana perasaan Xavier. Sebelum pernikahan ini terjadi, Xavier sering bercerita tentang ia menyelamatkan wanita cantik yang entah kenapa berhasil mencuri hatinya sejak pertama ia melihatnya. Kini, saat kenyataan terbongkar bahwa Emely itu sebenarnya adalah Azura, Putri Kerajaan Utara yang menjadi musuh politik, dan menikahinya hanya untuk misi tertentu, hati Xavier hancur berkeping-keping.
"Xavier," ucap Basten pelan, memecah keheningan yang cukup lama. Ia meletakkan gelasnya di meja, menatap lekat wajah sepupunya yang terlihat lelah namun matanya masih memancarkan amarah yang belum padam.
"Aku tahu kau terluka. Aku tahu kau merasa dikhianati, dipermainkan, dan dibohongi. Tapi dengarkan nasihatku sebagai saudaramu, dia itu istrimu sekarang. Sudah terikat sah di mata hukum dan kerajaan. Jangan perlakukan dia terlalu kejam. Seberat apa pun masa lalu dan niat awalnya, dia tetap wanita, dan dia adalah tanggung jawabmu sekarang."
Xavier tertawa sinis, suara tawanya terdengar kering dan penuh kepahitan. Ia meneguk habis cairan keras di gelasnya, lalu menggebrakkan gelas itu ke meja hingga berbunyi nyaring. Matanya menatap tajam ke arah Basten, sorot matanya penuh kekecewaan dan rasa jijik yang mendalam.
"Kau tidak tahu apa-apa, Basten. Kau tidak mengerti siapa wanita yang kunikahi itu," jawab Xavier dengan suara serak dan berat. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap Basten dengan pandangan yang sulit diartikan, campuran antara marah dan rasa sakit yang mendalam.
"Kau pikir dia wanita suci, wanita yang layak kujaga dan kuhormat? Kau salah besar."
Xavier berhenti sejenak, napasnya memburu seolah menahan sesuatu yang berat di dadanya. Ia mengingat kembali momen saat tubuhnya menyatu dengan Azura, momen di mana ia menyadari kenyataan pahit itu, momen yang membuat rasa benci dan kecewanya meluap melebihi batas wajar.
"Wanita itu... bukan lagi gadis suci, Basten," ucap Xavier akhirnya dengan nada rendah namun penuh penekanan, seolah kata-kata itu adalah racun yang keluar dari mulutnya.
"Saat kami berhubungan, ternyata dia sudah pernah disentuh laki-laki lain. Sudah pernah dimiliki laki-laki lain sebelum aku. Huh! Kau tahu betapa jijiknya aku menyadari bahwa wanita yang dulu aku anggap murni, bersih dan harus ku lindungi, ternyata sama kotornya dengan wanita-wanita murahan di pasar?"
Basten terbelalak kaget, mulutnya sedikit terbuka karena tak percaya. Ia sama sekali tidak menyangka akan mendengar hal semacam itu. Di matanya, meski Azura terlihat dingin, angkuh, dan penuh rahasia, ia tak pernah menyangka wanita itu memiliki sisi seperti itu. Ia selalu melihat Azura sebagai wanita yang tegar, kuat, dan cerdas, yang mungkin terjebak dalam situasi politik yang rumit.
"Itu... kau yakin? Mungkin saja ada kesalahpahaman..." coba Basten berkilah, meski ia tahu Xavier bukan tipe orang yang bicara sembarangan soal hal demikian.
"Kesalahpahaman apa?! Aku merasakannya sendiri! Kau pikir aku tidak bisa membedakan?!" bentak Xavier, suaranya meninggi karena emosi yang kembali meluap. Ia kembali bersandar ke kursi, menutup matanya rapat-rapat sambil mengusap wajahnya dengan kasar.
"Dia cuma seorang penipu, Basten. Dia membohongiku soal jati dirinya, membohongiku soal perasaannya, dan ternyata membohongiku juga soal kesuciannya. Apa lagi yang tersisa darinya yang masih jujur? Tidak ada. Semuanya palsu."
Basten diam sejenak, merenungi ucapan sepupunya. Meski terkejut dan sedikit percaya dengan apa yang dikatakan Xavier, hatinya tetap merasa ada sesuatu yang ganjil. Ada suara kecil di dalam hatinya yang mengatakan bahwa Azura bukanlah wanita jahat atau wanita murahan seperti tuduhan itu.
Selama ia mengamati wanita itu, saat makan bersama, saat berbicara dengan utusan, atau saat berjalan melewati koridor, ia melihat sorot mata yang bukan penuh kejahatan, melainkan sorot mata yang penuh beban berat, ketakutan, dan kesedihan yang dalam. Seolah wanita itu sedang memikul dunia ini sendirian.
Basten kadang berpikir ada alasan kuat mengapa wanita itu bertindak demikian. Namun melihat kondisi Xavier yang saat ini sedang terbakar amarah, penuh kekecewaan, dan terlihat seperti pria yang patah hati parah, Basten memilih untuk menahan pendapatnya. Jika ia bicara sekarang, Xavier pasti tidak akan mau mendengar dan justru akan semakin marah.
"Aku mengerti kemarahanmu," kata Basten pelan, mencoba menenangkan suasana.
"Tapi kau harus ingat, kadang apa yang kita lihat dan rasakan belum tentu benar. Hati-hati dengan tindakanmu. Jangan sampai kau menyesal suatu hari nanti."
Xavier mendengus keras, tidak menggubris ucapan itu. Baginya, kenyataan sudah sangat jelas dan nyata di depan mata. Azura adalah musuh, penipu, dan wanita yang sudah ternoda. Tidak ada lagi yang perlu dipertanyakan.
Waktu terus berjalan, Xavier akhirnya bangkit berdiri, tubuhnya sedikit bergoyang namun ia sadar sepenuhnya. Ia tidak benar-benar mabuk, hanya saja kepalanya terasa berat karena alkohol dan pikiran yang kacau. Ia berpamitan pada Basten, lalu berjalan tertatih menuju tenda pribadinya.
Ia masuk tenda sekitar pukul satu malam. Ia berhenti sejenak di depan tenda, menarik napas panjang, lalu melangkah masuk.
Cahaya di dalam tenda itu remang-remang, hanya diterangi satu lilin besar yang menyala redup. Di dalam sana hening, hanya terdengar suara napas halus. Saat matanya mulai terbiasa dengan cahaya yang minim itu, pandangannya jatuh ke lantai di sudut ruangan, bukan ke arah kasur besar yang empuk di tengah ruangan.
Di sana, terbaring sosok mungil yang diselimuti selimut tipis. Azura tidur di atas lantai papan yang keras dan dingin, tubuhnya melengkung seolah sedang menahan rasa sakit atau melindungi sesuatu di dalam pelukannya. Rambut panjangnya terurai berantakan menutupi sebagian wajahnya yang pucat.
Xavier berdiri diam di sana, menatap sosok itu dengan tatapan yang sulit diartikan. Awalnya ia hanya merasa kesal.
Baguslah kalau kau tahu diri
Mantan raja barat dan tuan hart corries, langsung hormat dan berlutut dihadapan kakek david...luarbiasa banyak kejutan dari xavier raja dan azura ratu...
kakek david ternyata ayahnya mantan raja barat dan tuan hart corries, mungkin kakek david ingin tenang bersembunyi di desa...
sangat bahagia dan terharu pertemuan ayah dan anak yg bertahun-tahun terpisah, para warga desa dibuat terkejut ternyata kakek david bukan orang sembarangan...
kebetulan macam apa ini didesa yang kecil dan terpencil bukan hanya terdapat ratu yang bersembunyi tapi juga ayah raja,dari anak raja...ei....gimana ini maksudnya, kakek dari raja,apa ya namanya😂😂😂
jgan kasih Xavier lolos dengan mudah 🫣🤣🤣
😁😜🤭