Wang Chan hanyalah pemuda biasa dari Desa Hitam. Berkali-kali ditolak oleh sekte karena bakat rendah dan kekuatan lemah.
Namun saat desa mereka dihancurkan oleh monster iblis, ia tak punya pilihan selain melarikan diri sambil membawa seorang teman wanitanya.
Di tengah dunia kultivasi yang kejam, Wang Chan harus bertahan hidup dengan kekuatan yang nyaris tak berarti. Dari pelarian putus asa itulah, takdirnya mulai berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chizella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4: Menyadari untuk kesekian kalinya, Qing Yi itu cantik
Setelah Wang Chan mandi, ia mendapati Qing Yi tengah tertidur nyenyak. Padahal masih pagi, matahari baru saja naik, dan burung-burung masih bertengger di bubungan atap.
Tapi setelah perjalanan panjang semalaman, tentu saja Qing Yi merasa lelah juga.
Tubuhnya yang mungil itu tergolek di ranjang dengan posisi tidak karuan, satu tangan terentang ke samping, satu kaki menjuntai keluar dari selimut, rambut hitamnya bertebaran di atas bantal seperti tinta tumpah.
Wanita itu tidur agak berantakan. Pakaian tidur krem yang dikenakannya sekarang terlihat lebih longgar dari biasanya, mungkin karena bahan katun tipis yang melar setelah dipakai.
Akibat geliatnya saat tidur, bajunya tersingkap ke atas hingga memperlihatkan pahanya yang putih dan mulus, kulitnya begitu halus hingga hampir memantulkan cahaya samar dari jendela.
Sementara di bagian ketiak, lipatan kulitnya yang bersih juga terekspos sepenuhnya tanpa sedikit pun bulu halus, seperti pahatan giok yang sempurna.
Dadanya yang besar dan montok juga hampir keluar dari balik kain tipis itu, putingnya yang merah muda samar-samar terlihat karena tekanan kain yang sempit.
Membuat Wang Chan menggelengkan kepalanya.
"Jika yang di sini bukan aku, mungkin kau sudah diperkosa, Qing Yi."
Suaranya pelan, setengah bergumam.
Ia berdiri di samping ranjang selama beberapa detik, cukup lama untuk menghayati betapa rentannya wanita ini sebenarnya.
Di desa dulu mungkin tidak masalah, karena semua orang saling mengenal.
Tapi di kota sebesar Jiang ini? Dengan laki-laki asing di mana-mana? Qing Yi terlalu ceroboh.
Wang Chan menarik selimut, sehelai kain katun tebal berwarna biru tua, kemudian menutupi tubuh Qing Yi dengan hati-hati.
Ia merapikan ujung selimut di sekitar leher Qing Yi, memastikan tidak ada celah sedikit pun yang bisa dimasuki angin pagi. Seolah tidak mau dinginnya angin pagi merenggut kehangatan wanita itu.
Tangannya sempat berhenti sejenak di atas selimut, sesaat setelah selesai membereskannya.
Ada dorongan untuk mengelus rambut Qing Yi yang berantakan itu, tapi ia urungkan.
Wang Chan kemudian duduk di pojok ranjang. Kaki kirinya dilipat ke atas, punggungnya bersandar pada tiang kayu ranjang yang berukir kasar.
Matanya menembus jendela kecil, menatap langit yang mulai membiru.
"Ranah Golden Core. Bertahun-tahun hanya berada di ranah ini..." gumamnya.
Suaranya penuh dengan rasa pahit yang ia simpan terlalu lama. Golden Core, itulah pencapaian tertingginya setelah bertahun-tahun berlatih seperti orang kesurupan.
Sementara anak-anak seusianya yang berbakat sudah ada yang menembus Ranah Nascent Soul.
Luo Peiran sendiri, pahlawan desa itu, bahkan baru saja diterima di Sekte Bulan Kabut dengan ranah yang sama dengannya, tapi Luo Peiran punya koneksi, punya rekomendasi dari tetua sekte, punya nama yang sudah dikenal.
Sementara Wang Chan? Wang Chan tidak punya apa-apa.
Wang Chan melihat ke arah Qing Yi. Wajah wanita itu dalam tidurnya terlihat damai, bibirnya sedikit mengerucut, alisnya yang lentik tidak berkerut, napasnya teratur dan dalam.
Di bawah cahaya pagi yang masuk lewat jendela, kulit Qing Yi tampak bersinar lembut seperti mutiara. Wang Chan menyadari untuk kesekian kalinya, Qing Yi itu cantik.
Bukan hanya cantik biasa, tapi benar-benar memiliki paras yang bisa membuat laki-laki mana pun menoleh. Dan ia juga memiliki bakat kultivasi yang tidak buruk, hanya saja ia malas berlatih.
"Aku mungkin kesulitan, tapi Qing Yi kelihatannya memiliki masa depan yang baik. Jika saja salah satu dari kami bisa menerobos Ranah Nascent Soul."
Ranah Nascent Soul. Tahap di mana jiwa terlahir kembali di dalam inti emas.
Di ranah itu, seseorang bisa terbang tanpa pedang, bisa bertahan hidup meskipun tubuh hancur, bisa menggunakan teknik-teknik yang dianggap mustahil oleh kultivator ranah bawah.
Jika salah satu dari mereka mencapai ranah itu, hidup mereka akan berubah drastis.
Sejujurnya, Wang Chan juga berniat untuk membuat Qing Yi lebih kuat.
Bukan untuk melindunginya, terlalu memalukan baginya untuk dilindungi wanita.
Tapi agar ia tidak perlu khawatir dengan Qing Yi. Agar ketika ia pergi berkelana, ia tidak perlu memikirkan apakah Qing Yi baik-baik saja.
Agar ketika ia menghadapi musuh, ia tahu bahwa di belakangnya ada seseorang yang bisa menjaga dirinya sendiri.
"Melawan musuh dengan ranah yang sama, aku sangat yakin bisa menang. Tapi jika mereka memiliki banyak senjata magis, itu lain cerita."
Senjata magis berbeda dengan senjata biasa. Kekuatan senjata magis tentu saja lebih unggul, selalu digunakan oleh kultivator untuk meningkatkan kekuatan tempurnya.
Wang Chan tidak pernah memiliki satu pun senjata magis dalam hidupnya. Pedang kayunya yang usang itu bahkan tidak layak disebut senjata.
Sementara para kultivator sekte besar sering kali memiliki setidaknya tiga atau empat senjata magis, satu untuk bertarung, satu untuk terbang, satu untuk bertahan, dan satu cadangan.
Wang Chan menghela napas panjang.
Dadanya terasa sesak oleh beban yang tidak pernah ia ceritakan kepada siapa pun.
Lalu ia bangkit dari ranjang.
Setelah menghela napas panjang, Wang Chan akhirnya memutuskan untuk keluar sebentar.
Ia melangkah keluar dari penginapan. Udara pagi masih dingin, dingin yang menusuk pori-pori tapi juga menyegarkan, tetapi jalanan Kota Jiang sudah mulai ramai.
Pedagang kaki lima sudah membuka lapak mereka, asap mengepul dari tungku-tungku arang, aroma sarapan pagi seperti bubur ayam, kue putu, dan teh jahe menyebar di sepanjang jalan.
Kota ini termasuk kecil dibanding kota-kota kultivasi lainnya. Tapi justru karena kecil itulah Kota Jiang terasa nyaman.
Tidak terlalu banyak kultivator dengan tatapan angkuh, kultivator level tinggi biasanya malas berkeliaran di kota kecil seperti ini, tidak pula terlalu banyak pedagang yang berteriak-teriak menawarkan pil dan senjata palsu.
Semua berjalan dengan kecepatan yang manusiawi.
Wang Chan berjalan santai di sepanjang jalan utama. Di kanan kirinya berjejer kios-kios sederhana dengan atap anyaman bambu.
Lantainya masih basah karena embun pagi yang belum sepenuhnya menguap.
Seorang nenek menjual kue kukus. Asap putih mengepul dari kukusan bambu bertumpuk-tumpuk, mengeluarkan aroma harum beras dan gula aren.
Nenek itu sudah tua sekali, punggungnya bungkuk, kulitnya keriput, tapi matanya masih jernih.
Dua anak kecil berlarian sambil tertawa, hampir menabrak Wang Chan.
Mereka lincah seperti anak kucing, saling kejar-mengejar tanpa peduli dengan orang dewasa di sekitar mereka.
"Hati-hati," ucapnya pelan.
Anak-anak itu hanya tertawa lalu berlari pergi, tidak mendengar atau mungkin tidak peduli dengan peringatan halus itu.
Wang Chan menggeleng-gelengkan kepala, tapi senyumnya tidak hilang.
Wang Chan mengamati sekeliling dengan tatapan yang tenang.
Di sudut jalan, seorang lelaki tua duduk bersila di atas tikar anyaman dengan papan kayu di depannya.
Di papan itu tertulis dengan aksara yang cukup rapi, "Meramal nasib, menghitung jodoh, 5 batu sumber sekali".
Seorang wanita muda sedang berdiri di depan lelaki tua itu. Wajahnya tegang saat mendengar ramalan tentang masa depannya.
Jari-jarinya menggenggam erat ujung bajunya, tanda cemas. Lelaki tua itu memegang tangan wanita itu, membaca garis-garis di telapak tangannya sambil sesekali mengerjap-ngerjapkan mata.
"Dua tahun lagi kau akan bertemu belahan jiwamu. Tapi hati-hati, ia memiliki watak yang keras kepala."
Wanita itu tersenyum tipis, lega sekaligus geli, membayar lima batu sumber dari kantong kecil di pinggangnya, lalu pergi dengan langkah yang sedikit lebih ringan dari sebelumnya.
Wang Chan menggeleng. Ramalan baginya hanya omong kosong. Di desanya dulu ada juga peramal seperti itu.
Pernah meramal bahwa ia akan menjadi kultivator hebat di usia tiga puluh. Nyatanya di usia tujuh belas ia masih jadi sampah yang tidak bisa masuk sekte.
Pernah juga meramal bahwa Luo Peiran akan mati muda.
Lihatlah sekarang, Luo Peiran sehat walafiat, diterima di sekte besar, berpesta pora semalam, sebelum akhirnya... desa itu diserang, entah ia hidup atau mati. Tapi seharusnya dengan keberuntungannya mungkin ia masih hidup.
Nasib seorang kultivator ditentukan oleh pedang dan usahanya sendiri, bukan oleh bintang atau telapak tangan.