Q adalah makhluk hidup. Q adalah esensi alam semesta.
Master Q adalah sosok Yang Mulia, pribadi yang melampaui batas kehormatan biasa dan menapaki jalan kemuliaan sejati.
Master Q memiliki tiga tugas utama: menjinakkan Q; memelihara Q; menggunakan Q.
Di tengah kebingungan dan misteri yang menyelimuti kesadarannya, Bagas Pratama terbangun dan mendapati dirinya bereinkarnasi ke dalam tubuh seorang remaja bernama Rostav Zertu, di sebuah dunia yang dikuasai oleh lautan luas, mesin uap, bajak laut, deru meriam, ramuan-ramuan misterius, serta keberadaan Q dan Anomali.
Ikuti perjalanan Rostav Zertu menghadapi bahaya dan konspirasi yang memburunya, saat dia terjerat dalam intrik organisasi-organisasi rahasia yang mengendalikan dunia dari balik kabut.
Inilah kisah tentang "Kapten Mawar Hitam".
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DaoisttjmlCe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33 - Anomali
Sore hari, sebuah kapal terapung dengan tenang di atas Laut Nug'got, sesekali terhantan oleh ombak kecil atau sedang, membuatnya bergoyang kecil. Di dek atas, para penjaga dan awak kapal sedang berpesta, mereka meminum rum dan bir sambil tertawa satu sama lain, membicarakan hal-hal yang menurut mereka lucu.
Di haluan, seorang awak kapal tengah membersihkan segala macam kotoran yang diakibatkan oleh meledaknya tubuh salah satu tahanan. Darahnya yang bercampur dengan segala macam cairan dan organ membuatnya lebih susah untuk dibersihkan.
Dia menghela napas, merasa kesal karena harus melakukan tugas pembersihan sementara teman-temannya berpesta dan bersuka cita.
Tapi, tak lama kemudian, ketika dia mengangkat kepalanya untuk membersihkan keringat di dahi, pupil matanya memantulkan sebuah pemandangan aneh di langit. Awan-awan berubah menjadi hitam dan berputar satu sama lain, membentuk semacam lubang raksasa di langit. Kilatan cahaya sesekali terlihat di dalam awan-awan hitam itu.
Hembusan angin kencang datang tanpa peringatan, dan suara gemuruh guntur yang menggelegar disertai oleh petir putih terdengar di telinga semua orang, membuat mereka akhirnya tersadar.
Di kabin kapten, saat dia sedang menghitung kekayaannya saat ini, suara gemuruh guntur disertai petir terdengar di telinganya, membuatnya tersentak kaget. Dia berdiri dan melihat melalui jendela. Langit berubah menjadi fenomena aneh, awan-awan bergulung membentuk sebuah lingkaran raksasa, seolah-olah langit itu sendiri sedang runtuh.
Pada momen itu, salah seorang perwira datang untuk melaporkan, dia menerapkan posisi hormat dan kemudian berkata, "Kapten, sepertinya badai besar akan datang. Saya menyarankan agar kita segera pergi dari tempat ini."
Tapi, bukannya mendengarkan saran anak buahnya, dia malah mendengus dan membalas, "humph, hanya badai belaka. Apa yang perlu kita takutkan? Selama berlayar di laut, kita telah menghadapi badai puluhan, bahkan ratusan kali. Badai ini tak ada bedanya dengan badai-badai yang kita hadapi sebelumnya."
"T-tapi, Kapten," perwira itu hendak menolak usulan Kapten, tapi melihat tatapannya yang menajam membuatnya mengurungkan niatnya.
Dia akhirnya menunduk dan melangkah keluar dari kabin, kembali ke dek atas.
Suara gemuruh guntur dan petir terdengar dan menyambar setiap sepuluh detik sekali. Petir itu begitu dekat dengan kapal, membuat awak kapal menjadi sedikit frustasi. Tidak hanya itu, dada mereka seolah-olah tertekan oleh kekuatan tak kasat mata, membuat tubuh mereka secara perlahan melemah.
Para perwira yang merupakan Master Q Tingkat 2 hanya bisa berusaha untuk menenangkan para awak kapal yang panik, meminta mereka untuk segera masuk ke dek tengah untuk berlindung.
Sementara itu, Sang Kapten kembali fokus menghitung kekayaannya, tak memperdulikan badai besar yang ada di luar.
.....
Tepat ketika Cia berbalik arah dan melihat sesuatu yang ada di belakangnya, seketika tubuhnya mematung, meremang, raut wajahnya berubah menjadi gelap, pikirannya saat ini hanya dipenuhi oleh satu hal: ketakutan. Matanya melotot tajam, seolah-olah ingin keluar dari tempatnya.
Tepat di depannya saat ini adalah sebuah monster.
Tubuhnya yang seperti cacing menjulur dari kegelapan seperti tentakel besar yang bertekstur kasar dan berurat, seolah tersusun dari daging yang terus bergerak. Mulutnya yang menganga lebar berbentuk lingkaran sempurna, dipenuhi deretan gigi tajam berlapis-lapis yang mengarah ke langsung ke arahnya, seolah-olah mengatakan bahwa dia mampu menelannya secara langsung. Di sekeliling mulutnya menjulur banyak tentakel berduri yang melengkung ke berbagai arah seperti akar pohon.
Monster itu tak memiliki mata, tapi seolah-olah dapat melihat bahwa makhluk seperti ikan kecil di depannya sedang dipenuhi oleh rasa takut.
Tubuh Cia bergetar hebat, dia bahkan ingin memuntahkan seluruh isi perutnya karena rasa takut yang luar biasa. Rasanya tubuhnya seperti dihantam oleh kegelapan tak berujung, dimana dirinya disiksa olah rasa takut.
'I-i-itu... Anomali...' Cia bergumam dalam hatinya dengan gagap. Dia memandangi Anomali di depannya, tubuhnya merinding.
Monster itu semakin mendekat ke arahnya, dan ketika dia membuka mulutnya yang kini bahkan semakin lebar, Cia mendapatkan kesadarannya kembali.
Tepat sebelum dirinya ditelan oleh Anomali itu, dia berhasil menghindar dengan cara berenang ke samping, berbalik arah, lalu dengan mengerahkan seluruh tenaganya, dia berenang dengan kecepatan tinggi hingga membuat air terbelah dan gelembung-gelembung udara muncul.
Anomali yang gagal menelan mangsanya itu mengaum marah dan bergerak, berenang dengan kecepatan tinggi mengejar mangsanya. Tubuhnya meliuk-liuk seperti cacing, menghantam batu karang, membuatnya hancur berkeping-keping.
Cia berenang dengan kecepatan penuh, jantungnya berdetak sangat kencang, seolah-olah dapat meledak kapan saja. Napasnya memburu, pandangannya menjadi kabur. Dia sesekali melirik ke belakang, dan ketika melihat monster itu mengejarnya, hal itu membuatnya semakin panik.
Dia menatap ke depan, berenang secara zig-zag melewati celah-celah batu yang sempit, berharap monster itu mengambil jalan yang lebih panjang, atau lebih baik berbalik arah dan berhenti mengejarnya.
Tapi, monster itu malah memilih untuk tetap mengejarnya, dia berusaha menerobos celah-celah bebatuan yang sempit, tapi karena tak bisa, dia mengambil jalur lain, berusaha mengejar mangsanya.
Ketika Cia melihat hal itu, dia menjadi sedikit lebih lega. Dia tetap berdiam diri di antara celah bebatuan itu, untuk beristirahat sejenak.
Dia mengambil napas dengan berat, dadanya terasa sesak. Tapi, tak lama kemudian, monster itu kembali datang dari arah berlawanan. Untung saja Cia memilih untuk tetap berada di celah bebatuan, kalau tidak, dia pasti sudah menjadi santapan monster itu.
Monster itu berusaha menerobos celah-celah bebatuan, tapi hal itu sia-sia.
Cia mundur perlahan, sebelum akhirnya dia mengingat tanda penyelamat di lengan kanannya. Dia meliriknya dan tanpa ragu-ragu memencetnya.
Satu detik.
Dua detik.
Tiga detik.
Cia tetap berada di tempat yang sama, dia tidak berpindah ke kapal.
'Ini, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa aku tidak berpindah ke kapal? Ayolah, ayolah!' dia memencet tandanya berkali-kali dengan panik. Tapi hasilnya tetap nihil.
Anomali yang menganggap usahanya sia-sia mengaum dengan suara yang memekakkan telinga. Akhirnya, tentakel berduri yang mengelilingi mulutnya memanjang, berusaha menangkap Cia.
Cia yang melihat hal itu tentu saja tak dapat menyembunyikan keterkejutannya. Akhirnya dia memilih untuk menyerah menekan tanda penyelamat dan berusaha menghindari tangkapan tentakel berduri itu.
Tentakel itu berjumlah delapan, semuanya mengarah ke Cia.
Cia berusaha sekuat tenaga untuk menghindarinya. Dia memilih untuk berenang keluar dari celah bebatuan, dan ketika berada di luar dia dapat menghindari tangkapan tentakel dengan cukup licin. Walaupun detak jantungnya sendiri semakin meningkat.
Dia berenang menjauh, berusaha menuju permukaan.
Anomali yang melihat Cia menghilang dari pandangannya mengaum murka, dan berenang dengan kecepatan tinggi setelah menarik kembali tentakelnya.
Cia berenang hingga mencapai kedalaman delapan puluh meter. Dia dapat mengetahui bahwa Anomali itu masih mengejarnya dengan mendengar suara aumannya.
Pada momen itu, di depan, dalam jarak dua puluh meter dia dapat melihat seorang Ras Athu perempuan lain yang berenang dengan kecepatan tinggi, raut wajahnya terlihat panik.
Saat dia melihat Cia mendekat, dia berteriak putus asa, "LARI!"
Jeritan itu bahkan belum sempat sepenuhnya lenyap ditelan lautan, ketika dari kedalaman melesat sebuah mahakarya neraka. Sesosok Anomali berbentuk ikan raksasa, seluruh tubuhnya bukan dilapisi sisik, melainkan hamparan daging hidup yang basah dan mengilap, dengan organ-organ dalam yang bergelantungan dan masih berdenyut kejang di setiap inci tubuhnya. Mulutnya terbelah secara vertikal menjadi empat kelopak bergerigi, masing-masing dipenuhi gigi seperti mata gergaji berkarat yang berlapis-lapis.
Dia menerkam perempuan itu dengan kecepatan yang menghancurkan akal sehat.
KRAK!
Dia melahap dengan proses. Kedua rahang atas dan bawahnya merenggut tubuh korban dari dua arah berlawanan, mencabiknya seperti selembar kertas basah. Darah langsung menyembur bagai geiser kental, mengubah air di sekitarnya menjadi kabut merah pekat yang begitu tebal hingga nyaris hitam. Potongan daging segar berhamburan, serpihan lengan yang masih mengejang, lembaran kulit kepala dengan rambut yang masih menempel, dan serpihan lemak kuning yang melayang lembut seperti konfeti menjijikkan.
Suara tulang retak dan patah bertubi-tubi menyerang gendang telinga Cia dengan ketajaman yang brutal, meski jarak memisahkan mereka. Suara remukan basah saat sumsum tulang belakang diremas dan tulang rusuk dipatahkan satu per satu seperti ranting kering. Kemudian, sebuah sobekan basah yang panjang terdengar. Usus sepanjang beberapa meter meluncur keluar dari rongga perut yang kini tinggal lubang menganga, menjuntai seperti ular merah muda yang berkilau, sebelum dengan lahap disedot masuk oleh salah satu kelopak mulut Anomali itu.
Lambung meledak, isinya yang setengah tercerna bercampur dengan darah, lalu dengan rakus dikunyah. Hati yang masih hangat, kantung empedu yang pecah dan mengucurkan cairan kehijauan yang pahit, serta pankreas yang kenyal, semuanya disantap dengan kenikmatan yang memuakkan. Makhluk itu seolah-olah mengecap setiap organ dengan penuh penghayatan, memutar-mutar sepotong ginjal di lidahnya yang bergelombang sebelum menelannya bulat-bulat.
Kraak!
Kepala perempuan itu akhirnya masuk ke dalam mulut utama. Rahangnya mengatup perlahan di pelipis, menyebabkan retakan pertama merambat seperti sarang laba-laba di tengkoraknya, diikuti bunyi yang tumpul saat tempurung kepalanya pecah total. Bola matanya terpental keluar dari soketnya, melayang sesaat dengan saraf optik yang masih menggantung seperti ekor kecebong, sebelum diremas di antara gusi bergerigi. Isi kepala yang lengket, gumpalan otak abu-abu kemerahan yang bertekstur seperti tahu sutra, menyembur dan berhamburan, bercampur aduk dengan serpihan tulang hidung dan gigi-gigi.
Potongan tangan yang telah tercabut dari sendinya melayang dengan anggun, jari-jemarinya masih melengkung kejang seolah mencengkeram hantu kehidupan. Ekor ikannya, yang masih berkedut karena sisa-sisa sinyal saraf, terpisah jauh di sisi lain, menari-nari dalam pusaran darah yang semakin meluas.
Melihat tontonan darah dan jeroan yang begitu menjijikkan dalam kebrutalannya, perut Cia langsung memberontak hebat. Dia tidak bisa lagi menahannya. Bukan hanya isi perutnya yang dimuntahkan, melainkan sebuah lolongan sunyi kesakitan dan kengerian total, disertai semburan muntahan bercampur asam lambung yang langsung menghilang dalam lautan yang kini telah menjadi sup daging dan plasma manusia.