yaseer, seorang anak yang hidup di negara konflik. keluarga petani zaitun, namun dia bermimpi untuk mengembangkan usaha orangtuanya dewasa kelak. Namun, karena konflik semakin parah, semua usahanya perlahan runtuh. hingga ketika konflik berhenti, yaseer berusaha sekuat tenaga nya beserta keluarga nya untuk membangun kembali. tapi tiba-tiba hantaman rudal dari penjajah meluluh lantakkan bahan utama usahanya. hingga akhirnya menghancurkan usahanya tak bersisa. akan kah yaseer bangkit kembali atau tamat dengan keadaan fustasi berat? yuk kita simak
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummi Adzkia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 8 Musim Dingin yang Terlalu Dingin (part 2)
Rasa kehilangan selalu ada pada diri manusia, wajar.. Itu normal. Hanya saja hakikatnya tidak diperbolehkan dengan meraung-raung seolah menyalahkan takdir Allah.
Kepergian orang yang dicintai, atau hilang nya harta berharga kita itu semua adalah titipan Sang Maha Kuasa. Apakah kita ikhlas setelah kita merawatnya, atau kita merasa berhak atas kepemilikan dengan tidak boleh sesuatu pun mengambilnya.
Kepergian Ali masih terasa walau sudah berlalu 2 bulan lamanya. Satu tempat kosong yang mulai terbiasa di hadapi oleh Laila dan ke 4 anaknya. Tidak ada kepala keluarga sebagai tempat bersandar keluh kesah keluarga, tidak ada nasehat atau teguran dari seorang ayah, dan pastinya, tidak ada lagi yang di panggil "baba" di dalam rumah nya.
Musim dingin telah tiba. Dingin merasuk hingga ke tulang. Apalagi jika di sertai angin kencang, sungguh ini adalah ujian besar diakhir tahun ini bagi mereka yang beraktifitas diluar ruangan.
Di dalam rumah adalah satu-satunya tempat terhangat pada keluarga yang berbahagia. Siapa yang menciptakan keluarga bahagia jika bukan anggota keluarga itu sendiri yang membangunnya.
Begitu pula keluarga Laila. Di tengah rasa kehilangan karena kepergian suaminya, namun apakah ia harus berkeluh kesah, menyerah pada keadaan? Bukan kah hidup tetap harus berjalan? Apalagi ada anak-anak yang masih sangat membutuhkan arahan, saran, nasehat, pendidikan dan bimbingan dari orangtuanya.
Motivasi inilah yang membuat Laila harus tegar dalam ujian hidupnya. Senyum bahagia anak-anaknya lah yang sekarang menjadi salah satu penyemangat nya untuk terus bertahan, berkarya dan produktif.
Kunafa atau knafeh adalah salah satu makanan yang sangat di gemari di musim dingin seperti ini. Dengan rasa gurih, renyah dan hangat, poin penting pembuatan kunafa.
Maka kunafa menjadi makanan andalan yang di jual oleh Laila. Namun sekarang bukan hanya kunafa yang Laila buat, tapi ada kudapan lainnya yang cocok di santap saat sarapan. sedang penjualan kunafa di lakukan pada siang hari.
Laila masih berjualan di pasar ditemani oleh Abia. Karena Abbas, Haniya dan Yaseer masih masuk sekolah. Laila akan mengolah menu sarapan dari sebelum shubuh hingga pagi, kemudian setelah siap, baik sarapan untuk dirumah dan yang akan ia jual, baru kemudian berangkat ke pasar untuk menjajakan hasil olahannya.
Tak banyak yang ia buat. Hanya roti dan kuahnya atau ini salad sayur segar. Terkadang ia hanya membuat kunafa di pagi dan siang hari. Atau makanan berat yang ber bahan dasar beras.
Berbeda menu adalah salah satu cara supaya pelanggan nya tidak bosan.
"Abia, bisa tolong ummi bawakan tas ini?" pinta ummi kerepotan membawa barang jualannya.
" Baik ummi. Ada lagi ummi yang bisa Abia bawa..? Tanya nya.
"Sudah cukup itu saja dulu ya." kata ummi nya sambil tersenyum.
Mereka beriringan berjalan menuju souq(pasar). Di pasar inilah semua barang bisa diperjualbelikan. Pasar pasti ramai. Oleh karena menjadi pusat untuk mencari segala kebutuhan, dari pokok, harian, pakaian bahkan sampai oleh-oleh bagi para pelancong.
***
"Jam malam 3 jam lagi. Apa kita sudah menyetok makanan ummi?". Tanya Abbas khawatir.
" Alhamdulillah sudah bang, insyaallah cukup untuk 2 hari jika kita berhemat ". Jelas ummi tersenyum menenangkan
Ya jam malam sudah sering kali di berlakukan. Bukan hanya jam malam yang berlaku selama 6jam saja. Bahkan sampai 24 jam. Dan itu terkadang sampai berhari-hari. Mereka tidak diperbolehkan keluar rumah selama waktu yang tidak ditentukan.
Oleh karenanya ekonomi masyarakat menurut drastis. Banyak kelaparan karena lamanya diberlakukan jam malam.
Kenapa tidak nekad keluar mencari pasokan makanan? Jawaban nya, bukan berhasil mendapat makanan tapi berhasil tewas. Karena tank-tank baja militer zionis, sniper-sniper yang berkeliaran bebas mencari warga yang ketahuan keluar rumah.
Suasana yang penuh ketakutan, kelaparan dan ketegangan. Bersiap mendapat kabar bahwa ada warga mereka yang tewas tertembak.
" Ummi..... kita kenapa jadi begini mi? Di kurung dirumah sendiri.,. " keluh Yaseer
" Andai saja baba masih ada..... ". Haniya berkaca-kaca.
" Iya mi.. Ga ada lagi yang cerita buat kita. Ga ada yang ngajarin kita belajar lagi..... Sekolah kita aja sekarang tutup ntah sampai kapan...". Ummi menatap anak-anaknya sendu. Ya dan dengan suasana begini semua semakin terasa.
" Baba pergi sudah kehendak Allah. Kita tidak boleh berandai-andai. Kita harus ikhlas. Baba sudah bahagia di sana. Kita harus berdoa semoga kita bisa melewati keadaan ini dengan shobar, tegar dan kuat." nasehat ummi sambil menggerakkan tangannya.
Anak-anak tertawa melihat ummi nya yang bergaya binaragawan. Abia bahkan sampai memegangi perutnya cekikikan. Abbas tersenyum pahit. Umminya berusaha tegar di depan anak-anak nya. Walau ia tahu jika malam umminya selalu tersedu di setiap tahajud nya.
" Sepi ya bang...padahal dulu waktu masih ada baba, Abia paling rame. Minta gendong di pundak. Debat sama aku, jadi penengah kita kalo lagi debat. Haniya yang banyak tanya ini itu tentang sekolah." cerita Yaseer sambil melihat saudara-saudaranya.
Mereka semua tertunduk sedih mengenang kebersamaan bersama baba mereka. Biar pun tegas. Tapi jika sudah mode ramah. Bisa bikin semua ketawa cekikikan.
Akhirnya mereka hanya saling bercerita mengenang kebersamaan bersama babanya. Hingga waktu menjelang Maghrib baru mereka bersiap sholat berjamaah dirumah. Di imami oleh Abbas.
Setelah sholat mereka makan malam bersama. Hingga terdengar suara gemuruh tank yang melewati jalan dekat rumah mereka...
Brum....brummm..grtk..grtk..
Suara roda yang melindas jalan aspal berbatu. Membuat suasana semakin horor. Takut saja tiba-tiba dum..gitu kan. Apa ga hancur rumah.
Mereka terus komat-kamit meminta perlindungan Allah. supaya tidak terkena peluru atau rudal nyasar mengenai rumah mereka. Hingga..
Tiuuuuu...,... Dummmm.....
"Allahu Akbar...!!! " teriak semua isi rumah.
Terdengar suara rudal yang mendarat entah dimana. Sepertinya tak jauh dari rumah mereka karena terasa getaran nya.
" Ya Allah... Dimana itu jatuhnya... " gumam ummi prihatin sekaligus ngeri membayangkan keadaan lokasi yang terkena.
happy reading 💪
happy Ied Mubarak
komen baik nya ditunggu ya.