Bayangan pernikahan yang bahagia agaknya tidak berlaku untuk Nadia Witama. Gadis seperempat abad itu justru terpaksa menikah dengan pria kasar dan arogan seperti Arya Dirgantara untuk melunasi hutang ayahnya. Bisakah Nadia bertahan dengan sikap Arya? Atau pada akhirnya dia akan menyerah ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jaena19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12
"Aku mohon, jangan!" Nadia berusaha menahan lengan Arya dengan sekuat tenaga. Ia menggeleng pelan, berusaha menjaga batas yang selama ini ia pegang erat. Ada sesuatu yang sangat berharga baginya, sesuatu yang tak ingin ia lepaskan begitu saja, apalagi kepada pria yang selama ini ia benci.
Arya tersenyum tipis. "Kenapa? Apakah kamu belum pernah merasakan sentuhan seseorang?" Nadia hanya diam, mengangguk kecil sebagai jawaban.
Detak jantung Arya seolah berhenti sesaat. Ada perasaan lembut yang tiba-tiba menyentuh hatinya, membuatnya ragu untuk melangkah lebih jauh dan menyakiti Nadia. Namun, di sisi lain, hasratnya semakin membara saat melihat wajah cantik Nadia yang basah oleh keringat, menambah pesona yang sulit ia abaikan.
Dalam hati, Arya berjuang menahan gejolak perasaannya. Ia ingin menghormati keinginan Nadia, meski godaan itu begitu kuat. Ekspresi Nadia yang penuh ketegangan membuatnya semakin ragu, dan ia berusaha menahan diri agar tidak melangkahi batas yang Nadia tetapkan.
"Jangan..." Nadia kembali menitikkan air mata. Ia tak ingin Arya memaksakan kehendaknya. Baginya, hubungan suami istri haruslah terjadi atas dasar keinginan bersama, itulah yang selalu ia yakini.
Arya tampak ragu, hatinya bergejolak. Ia terdiam dalam posisi yang sulit, antara hati dan logika yang saling bertentangan. Ia takut gagal lagi seperti malam sebelumnya. Nadia menggelengkan kepala dengan lebih kuat, matanya berkaca-kaca menahan ketakutan yang menggerogoti hatinya. Dengan sisa tenaga yang hampir habis, ia mundur perlahan, menjauh dari sosok Arya yang berdiri di dekatnya dengan tatapan penuh tekanan.
Napas Nadia tersengal, dadanya terasa sesak seperti hendak meledak. Tangannya gemetar saat menggenggam gagang pintu, jari-jarinya bergetar hebat mencoba membuka pintu itu. Kaki Nadia yang lemas hampir tak mampu menopang tubuhnya yang hampir runtuh. Suaranya pecah ketika berteriak memohon tolong, berharap ada seseorang yang segera datang membebaskannya dari ruang yang membelenggu itu.
"Tolong... buka pintunya!" seru Nadia dengan suara gemetar penuh ketakutan, matanya terus melirik ke arah Arya yang diam tanpa berkata apa-apa. Ia tak ingin berada di ruangan itu lebih lama lagi. Bukan hanya rasa takut kehilangan kehormatannya, tapi juga nyawanya seolah terancam.
"Siapapun, tolong buka pintunya!" teriak Nadia dengan putus asa sambil terus mengetuk pintu di depannya, berusaha keras agar ada yang datang membebaskannya. Di balik pintu, Arya masih terpaku, bergulat dengan perasaannya sendiri. Hasrat yang sempat membara mulai mereda, digantikan oleh rasa iba melihat Nadia yang menangis hanya dengan selimut tipis membalut tubuhnya.
Dalam benaknya, tiba-tiba muncul bayangan samar seorang pria yang lembut mencium kening Nadia, mengoyak kedamaian yang baru saja ia raih. Wajah Arya memerah, menahan amarah dan perasaan campur aduk yang berkecamuk di dadanya.
Dengan langkah pasti dan tatapan tajam yang memancarkan tekad membara, Arya mendekat, tubuhnya seolah menjadi benteng penghalang antara Nadia dan dunia luar. "Kenapa kamu begitu ngotot meninggalkanku?" suara Arya dalam, bergetar penuh amarah.
Harga dirinya tercabik, melihat gadis di depannya ini menolak sentuhan tangannya, sementara bibir lain bebas menyapa keningnya seolah itu adalah hal yang biasa.
"Lepas!" teriak Nadia, suaranya pecah diselimuti getar ketakutan dan kemarahan. Selimut yang selama ini melindunginya melayang terlepas dari pelukan tubuhnya. Dengan napas terburu dan jantung berdetak kencang, dia meraih kain tebal itu lagi benteng terakhir yang bisa ia pertahankan sebelum berlari menuju pintu, meloloskan diri dari cengkeraman laki-laki itu.
Arya menelan ludah dengan susah payah, berusaha menahan gejolak yang kembali muncul dalam dirinya. Penampilan Nadia malam ini terasa lebih memikat dibanding sebelumnya. Tanpa menunda lebih lama, Arya mengangkat tubuh Nadia dan membaringkannya kembali di ranjang. Ia semakin mendekat, menahan kedua tangan Nadia di atas kepala dengan lembut namun tegas.
Tubuhnya yang tegap menyentuh Nadia, menimbulkan perasaan campur aduk dalam hati keduanya. "Kita lihat apakah kamu benar-benar tidak pernah di sentuh oleh siapapun," bisik Arya dengan suara pelan, penuh keraguan dan harap.
Nadia menggeleng kuat, menolak dengan tegas, hatinya penuh luka dan air mata yang tak terbendung. Ia merasa harga dirinya terancam, namun di balik rasa takut itu, ada kekuatan yang mencoba bangkit. Arya pun terdiam sejenak, menyadari betapa dalamnya perasaan Nadia. Ia mulai mengerti bahwa yang terpenting bukanlah apa yang terjadi secara fisik, melainkan bagaimana mereka bisa saling memahami dan menyembuhkan luka bersama.
Gadis itu bungkam, tidak tau apa yang harus ia lakukan untuk melarikan diri. Kini, semuanya bergantung menjadi perih, matanya tertutup rapat karena tidak ingin melihat pria yang tengah menikmati tubuhnya.
"Kamu benar-benar..." Arya tak sanggup melanjutkan kalimatnya. Ia kemudian mengamati wajah Nadia yang terlihat menahan sakit. Ternyata Nadia benar-benar tidak pernah di sentuh sama sekali oleh laki-laki manapun.
Nadia bungkam, ia gak bisa lagi melawan laki-laki itu, namun ia juga tidak ingin menikmati apa yang laki-laki itu lakukan. Hatinya terluka, selain karena kata-kata kasar yang Arya ucapkan, perlakuannya benar-benar seperti binatang dan dia begitu membencinya.
Arya menyingkirkan helai rambut yang menutupi wajah Nadia. Cahaya lampu yang jatuh di pelipis wanita itu semakin menonjolkan kecantikannya. Arya merasa puas setelah menikmati momen bersama Nadia, merasa bahwa semua usaha dan pengorbanannya tidak sia-sia untuk mendapatkan wanita yang begitu berharga itu.
Namun, Nadia tetap diam, mengabaikan semua kata-kata Arya. Ia memilih untuk tidak merespon, bertekad menunjukkan bahwa dirinya bukan wanita yang mudah diatur seperti yang Arya duga. Keheningan Nadia membuat Arya semakin percaya diri dan bebas bergerak. Tangannya lembut menyentuh rambut panjang Nadia dari belakang, sesekali memainkan jari-jarinya dengan penuh perhatian. Meski Arya bertanya-tanya, Nadia tetap memilih untuk tetap diam, membiarkan perasaan dan pikirannya berbicara dalam kesunyian.
“Kamu marah?” bisik Arya sambil jemarinya menelusuri bahu mulus Nadia, seolah menguasai setiap inci kulitnya dengan gelora yang membakar.
Nadia tetap diam, membungkam suara hatinya yang berontak. Rasa sakit menyesakkan dada, seolah hidupnya yang dulu berarti kini hancur berkeping-keping, direnggut paksa oleh tangan kasar yang tak ia kenal lagi. Arya menyeringai, semakin tenggelam di sudut-sudut sensitif itu dengan bibirnya, menciptakan getar aneh yang merambat di tulang Nadia.
“Kamu tidak menjawab, ya? Huh?” goda Arya, memancing reaksi yang ia tahu pasti tersembunyi dalam diam Nadia.
“Aku akan terus membuatmu merasakan sakit, kalau kamu tetap diam seperti ini,” ancam Arya, jemarinya menyusuri perut istrinya tanpa henti di balik selimut tipis itu. Nadia menggigit bibir hingga nyeri, menahan segala amarah dan keputusasaan yang ingin meledak. Dalam hatinya, dia membara ingin mengutuk pria buas di hadapannya, melepaskan semua sumpah serapah yang menggunung sejak dia terluka dan terkekang begitu dalam. Namun, semua itu terkunci rapat dalam sunyinya.