NovelToon NovelToon
Pengganti Yang Dipilih

Pengganti Yang Dipilih

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Crazy Rich/Konglomerat / Misteri
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ayyun

Olivia Nugraha, gadis 18 tahun yang baru lulus SMA, terpaksa menggantikan kakaknya, Olin, untuk menikah dengan Juna demi menjaga nama besar keluarga mereka. Ia mencoba melawan, namun Oma selalu selangkah lebih maju. Pernikahan tetap terjadi.

Sementara itu, keberadaan Olin masih menjadi tanda tanya. Benarkah ia kabur? Atau ada alasan lain di balik menghilangnya? Dan mengapa namanya kembali disebut saat ia resmi menjadi bagian dari dinasti?

Karena mungkin… Olivia tidak pernah benar-benar dipilih untuk menggantikan Olin, tapi ia dipilih karena seseorang sudah mengincarnya sejak awal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayyun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10

Sepanjang penerbangan, pikiran Olivia tidak pernah benar-benar tenang. Ia membuka ponsel, mencari sinyal Wi-Fi pesawat, lalu langsung mengirim pesan pada Jesica.

Jes, jadi direktur cabang Eropa itu bagus nggak sih?

Atau itu cuma cara elegan buat ngatur hidup gue?

Balasan datang lama. Mungkin Jesica juga sedang berpikir keras.

Liv… kita baru lulus SMA.

Yang kita tahu cuma cara ngerjain matematika dasar dan drama percintaan receh.

Soal bisnis internasional? Gue nggak punya referensi 😭

Tapi kalau itu hadiah… mungkin artinya Oma percaya sama lu

Olivia membaca ulang kalimat itu.

Percaya? Atau mengikat? Ia menatap layar cukup lama sebelum akhirnya mematikan ponsel.

Jawaban pasti memang tidak datang. Mereka masih terlalu muda untuk memahami dunia yang tiba-tiba menyeretnya masuk.

***

Cahaya musim dingin menembus tirai kamar hotel transit mereka. Olivia membuka mata perlahan. Sofa di sudut kamar kosong. Bantalnya sudah rapi. Juna tidak ada. Ia duduk, menyibakkan selimut, dan berjalan ke kamar mandi tanpa banyak berpikir.

Air hangat mengalir. Sedikit menenangkan. Ketika ia keluar dengan rambut setengah kering dan jubah hotel masih melilit tubuhnya—Ia berhenti.

Di ruang duduk terpisah dalam suite itu, Juna sedang berdiri di dekat jendela besar. Laptop terbuka di meja. Ia mengenakan setelan abu-abu gelap yang jatuh sempurna di bahunya. Rambutnya sudah tertata rapi.

Ia sedang berbicara dalam bahasa Inggris yang fasih dan tenang. Nada suaranya profesional. Tegas. Berkelas.

Olivia terdiam di ambang pintu. Ia akui dalam hati—Juna memang keren untuk usianya. Matang, stabil dan justru itu yang membuatnya merasa kecil.

Ia masih kekanakan. Masih emosional. Masih mencari jati diri. Sedangkan Juna sudah seperti pria yang tahu persis ke mana ia melangkah.

“Ya, saya akan hadir langsung bersama istri saya,” ucap Juna sebelum menutup panggilan.

Istri saya. Olivia menelan ludah. Ia masih belum terbiasa dengan frasa itu.

“Udah bangun?” suara Juna memecah lamunannya.

Olivia tersentak.

“T-tadi lu nggak ada di sofa, kak.”

“Gue pindah ke ruang kerja kecil di sini. Nggak mau ganggu tidur lu.”

Ia melirik jam di pergelangan tangannya. “Satu jam lagi kita ke bandara. Private jet sudah siap ke Zurich.”

Olivia mengerjap. “Sekarang juga?”

“Kita cuma transit semalam. Rapat keluarga nggak bisa ditunda.”

Olivia mendesah pelan. Ia berjalan mendekat, masih dengan rambut basah. Juna memperhatikannya sepersekian detik lebih lama dari seharusnya.

“Lu belum siap.”

“Belum,” jawab Olivia jujur.

“Untuk Zurich?”

Olivia menggeleng. “Untuk semua ini.”

Hening sejenak. Juna menutup laptopnya pelan.

“Liv,” katanya lebih lembut dari biasanya, “Gue tahu lu merasa ini terlalu cepat.”

“Bukan cuma cepat. Ini… beda dunia.”

“Kita memang beda,” jawab Juna tanpa defensif. “Lu masih belajar. Gue sudah terbiasa.”

Olivia mengangkat dagu sedikit. “Dan itu yang bikin aneh.”

Juna mendekat selangkah, tidak mengintimidasi atau memaksa. Hanya cukup dekat untuk membuat Olivia sadar jarak mereka bukan lagi sekadar formalitas.

“Kita beda bukan berarti nggak bisa jalan bareng,” ucapnya pelan. “Lu nggak harus jadi dewasa dalam semalam.”

Olivia hendak membalas, namun tiba-tiba—Ia terpeleset sedikit karena lantai marmer licin bekas uap kamar mandi.

Refleks. Juna menangkap pinggangnya. Cepat dan stabil. Jarak mereka kini benar-benar dekat, sangat dekat.

Olivia bisa merasakan aroma parfum Juna yang lembut dan hangat. Juna menatapnya beberapa detik.

“Kalau lu terus jatuh kayak gini,” katanya ringan, “Gue bisa salah paham.”

Olivia langsung berdiri tegak. “Jangan geer.”

“Siapa yang geer? Lu yang nabrak.”

“Gue nggak nabrak!”

“Lu hampir meluk.”

Olivia membuka mulut hendak protes, tapi tak ada kata yang keluar.

Juna tersenyum kecil. “Siap-siap, sebentar lagi kita berangkat.”

Ia berjalan menjauh untuk mengambil jasnya. Olivia berdiri mematung. Dadanya berdebar bukan karena takut, bukan juga karena terpaksa. Tapi karena sesuatu yang mulai berubah... pelan-pelan.

Satu jam kemudian mereka sudah dalam perjalanan menuju bandara privat. Langit Eropa pucat, salju tipis terlihat di beberapa sudut kota. Di dalam mobil, Olivia menatap keluar jendela.

“Kak.”

“Hm?”

“Kalau nanti gue salah ngomong di rapat…?”

“Ada gue yang bantu.”

“Kalau gue kelihatan bodoh?”

“Gue tetap ada.”

Olivia terdiam. Ia melirik tangannya sendiri. Juna menyadarinya, lalu tanpa banyak kata mengulurkan tangannya. Tidak memaksa, hanya menunggu.

Olivia ragu satu detik. Lalu meletakkan tangannya di atas tangan Juna. Kali ini bukan karena turbulensi, bukan pula karena terpeleset. Hanya karena ia mau.

Juna menggenggamnya ringan. Bukan posesif ataupun mendominasi. Hanya memastikan ia tidak sendirian.

"Maksudnya lu ada untuk terlihat sama-sama bodoh?"

Juna melirik Olivia dengan dahi sedikit berkerut, "Liv, lu tau bukan itu maksud gue,"

Olivia hanya menghela napas panjang, lalu mengalihkan pandangannya keluar jendela.

Mobil berhenti. Di depan mereka, jet pribadi sudah menunggu. Namun saat mereka turun—seorang pria bersetelan hitam mendekat cepat, membisikkan sesuatu pada Juna. Wajah Juna yang tadi tenang berubah sedikit lebih serius.

Olivia langsung menyadarinya. “Ada apa?”

Juna menatapnya beberapa detik sebelum menjawab. “Rapatnya dimajukan.”

“Dimajukan ke kapan?”

“Begitu kita mendarat.”

Olivia menelan ludah. “Dan?”

Juna tersenyum tipis, tapi kali ini berbeda. “Dan lu yang bakal membuka pertemuan.”

Olivia membeku.

Jet di belakang mereka berkilau elegan di bawah matahari musim dingin. Romantis. Mewah. Berkelas. Tapi kini—Zurich bukan sekadar perjalanan. Itu panggung dan Olivia baru saja didorong ke tengah sorotan.

1
Paradina
semangat kakak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!