Zayna Almeera adalah badai yang dipaksa berhenti di sebuah desa tenang. Terbiasa dengan gemerlap kota, ia merasa dunianya runtuh saat harus menukar kehidupan mewahnya dengan ubin pesantren yang dingin. Ia datang membawa duri, siap menusuk siapa pun yang mencoba menjinakkan kebebasannya.
Di sana, ia bertemu Gus Haidar. Pemuda itu seperti telaga luas yang tak terusik; bicaranya tenang, tatapannya terjaga, dan dunianya hanya berisi pengabdian. Bagi Zayna, Haidar adalah teka-teki silang yang menyebalkan. Namun bagi Haidar, Zayna adalah kebisingan yang tiba-tiba membuat kesunyiannya terasa lebih lengkap.
Antara keras kepalanya Zayna dan sabarnya Haidar, ada sebuah cerita tentang bagaimana rasa pahit harus dibiarkan mengendap agar manisnya bisa dinikmati. Zayna ingin lari, tapi hatinya justru perlahan tertambat pada ketenangan yang tak pernah ia temukan di riuhnya kota.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Surat dari dasar dendam
Lantunan Ar-Rahman itu memang telah usai, namun getarannya masih merambat di sela-sela dinding pesantren. Zayna merasa seperti baru saja melewati jembatan ghaib yang menghubungkan masa lalunya yang bising dengan masa depannya yang hening. Namun, ia lupa satu hal: semakin tinggi sebuah pohon menjulang ke langit, semakin kencang angin yang ingin menumbangkannya.
Setelah keberhasilan Zayna di mimbar Imtihan, suasana pesantren seolah terbelah dua. Ada santriwati yang mulai memandang Zayna dengan kekaguman—melihatnya sebagai simbol bahwa perubahan itu nyata. Namun, di sudut-sudut gelap asrama, pengikut Najwa mulai berbisik-bisik, membangun narasi baru bahwa Zayna menggunakan "sihir kota" untuk memikat hati keluarga Ndalem.
Najwa sendiri menarik diri dari pergaulan. Ia tidak lagi menjadi asisten di kelas-kelas Diniyah. Ia mengurung diri di kamar, bukan untuk bertaubat, melainkan untuk meramu sebuah racun yang lebih mematikan daripada sekadar fitnah surat merah jambu.
"Mbak Najwa, jangan begini. Nanti Gus Haidar makin menjauh," bisik salah satu pengikut setianya.
Najwa menoleh dengan mata yang memerah karena kurang tidur. "Gus Haidar tidak menjauh. Dia hanya sedang tersesat oleh kabut yang dibawa perempuan itu. Aku harus membersihkan kabut itu, bagaimanapun caranya. Meskipun aku harus membakar seluruh hutan ini."
Malam Jumat yang keramat. Aroma kemenyan dan melati dari makam para sesepuh pesantren terbawa angin hingga ke koridor asrama. Zayna sedang asyik membasuh wajahnya di tempat wudu saat ia menemukan sebuah amplop cokelat terselip di balik cermin.
Tidak ada nama pengirim. Hanya tertulis: "Untuk Calon Istri Sang Gus yang Suci".
Dengan tangan gemetar, Zayna membukanya. Di dalamnya bukan berisi surat cinta, melainkan lembaran-lembaran foto. Foto-foto Zayna di masa lalu—saat ia masih berada di kelab malam, tertawa dengan pakaian yang minim, memegang gelas-gelas yang ia sendiri sudah lupa apa isinya, dan foto saat ia dipeluk oleh Geral di tengah keramaian konser.
Di bagian belakang salah satu foto tertulis pesan singkat dengan tinta hitam pekat:
"Sejarah tidak bisa dihapus dengan satu kali hafalan Ar-Rahman. Bagaimana jika seluruh wali santri melihat siapa calon ibu bagi anak-anak mereka nanti? Masihkah mereka akan mencium tanganmu, atau justru meludahimu?"
Zayna merasa dunianya berputar. Napasnya tercekat seolah ada tangan tak kasat mata yang mencekik lehernya. Ia terduduk di atas ubin yang dingin, mendekap foto-foto itu ke dadanya. Ketakutan terbesarnya kini menjadi nyata: masa lalunya telah mengejarnya hingga ke gerbang suci ini.
Di sisi lain, Gus Haidar sedang duduk di beranda Ndalem, menatap langit yang tanpa bintang. Pikirannya tidak tenang. Ia merasakan ada riak air yang salah di atmosfer pesantrennya. Tiba-tiba, ia melihat bayangan seseorang berlari menuju arah sungai yang berada di belakang asrama putri.
Itu Zayna. Langkahnya limbung, kerudungnya berkibar tidak keruan.
Haidar segera bangkit. Ia mengambil sandal kulitnya—sandal yang sama yang pernah ia berikan pada Zayna—dan mengikuti bayangan itu dengan langkah lebar namun penuh kehati-hatian.
Ia menemukan Zayna sedang berdiri di tepi sungai yang alirannya deras karena sisa hujan. Zayna sedang mencoba menyalakan korek api untuk membakar foto-foto itu, namun angin malam terus mematikan apinya. Zayna terisak, suara tangisnya pecah bersaing dengan suara aliran air.
"Kenapa tidak mau menyala?! Kenapa?!" teriak Zayna frustrasi.
"Karena api tidak bisa menghapus apa yang sudah tercatat di Lauhul Mahfudz, Zayna."
Zayna tersentak. Ia berbalik dan melihat Haidar berdiri di bawah pohon beringin tua. Zayna segera mencoba menyembunyikan foto-foto itu di balik punggungnya, namun foto-foto itu justru terjatuh dan tersebar di atas rumput yang basah.
Haidar melangkah mendekat. Ia menunduk, namun kali ini ia tidak memalingkan wajah sepenuhnya. Ia melihat salah satu foto yang terjatuh tepat di depan sandalnya. Foto Zayna yang sedang tertawa lepas dengan latar belakang lampu disko yang remang.
Zayna menutup wajahnya dengan kedua tangan, terisak sejadi-jadinya. "Pergi, Gus! Jangan lihat! Saya kotor! Najwa benar, saya cuma noda di pesantren ini! Saya nggak pantas buat Gus! Tolong, batalkan perjodohan ini sekarang juga!"
Haidar diam seribu bahasa. Ia mengambil foto itu perlahan. Jemarinya yang biasanya memegang tasbih, kini memegang selembar kertas yang merekam jejak "dosa" wanita di depannya.
Hening yang lama. Zayna sudah bersiap untuk mendengar kalimat pengusiran atau kekecewaan yang mendalam.
Namun, yang terdengar justru suara sobekan kertas.
Haidar merobek foto itu menjadi potongan-potongan kecil, lalu membuangnya ke aliran sungai. Satu per satu, ia memunguti foto yang lain dan melakukan hal yang sama.
"Gus... apa yang Gus lakukan?" tanya Zayna tidak percaya.
Haidar menatap aliran air yang membawa pergi potongan-potongan kertas itu. "Saya tidak sedang menghapus masa lalumu, Zayna. Saya sedang membersihkan jalan yang akan kita lalui di depan."
Haidar akhirnya menatap Zayna lurus-lurus. Tatapannya tidak mengandung kemarahan, melainkan sebuah belas kasih yang begitu luas. "Kamu tahu kenapa air sungai selalu mengalir ke depan? Karena dia tahu, kembali ke hulu hanya akan membuatnya bertemu dengan lumpur yang sama. Dia memilih untuk terus mengalir, meski harus melewati bebatuan tajam, demi bisa sampai ke samudera yang tenang."
Haidar melangkah maju, memberikan sapu tangannya kepada Zayna—kali ini tanpa perantara kain.
"Najwa mungkin memegang fisik dari masa lalumu, tapi saya memegang janji masa depanmu. Foto-foto ini tidak akan membuat saya berhenti mencintaimu, Zayna. Justru ini membuat saya semakin sadar, bahwa Tuhan mengirim saya untuk menjadi tempatmu pulang, bukan tempatmu dihujat."
Zayna tersungkur di depan Haidar, bukan untuk menyembah, tapi karena kakinya tak lagi sanggup menahan beban haru. "Tapi bagaimana kalau Najwa menyebarkan ini ke semua orang, Gus? Nama baik Gus akan hancur. Pesantren ini akan difitnah."
Haidar tersenyum, sebuah senyuman yang sangat tenang, seolah ia baru saja memenangkan perang paling besar. "Biarkan saja. Jika mereka lebih memilih percaya pada lembaran kertas daripada pada perubahan seorang hamba, maka merekalah yang sedang diuji imannya, bukan kita. Dan soal Najwa... serahkan padaku. Seekor singa tidak perlu mengaum untuk menundukkan seekor kucing yang sedang ketakutan."
Malam itu, di tepi sungai yang menjadi saksi bisu, Zayna menyadari bahwa cintanya pada Haidar bukan lagi soal perjodohan, tapi soal keselamatan jiwa. Sementara di balik semak-semak, Najwa mengepalkan tangan hingga kukunya melukai telapak tangannya sendiri. Rencananya gagal total. Ia tidak menyangka bahwa 'benteng' Haidar begitu kokoh hingga dosa sebesar apapun tak sanggup meruntuhkannya.
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...
dari sekian banyaknya novel yg aku baca Cuma In yg Membuat Aku pangling Dan kagum Banget dengan Stiap Untaian katanya, Aplgi sangat Puitis banget
yg Lainnya Nanti Dluu hehehehhe,
yang Lain Tentang Apa Thor Law tentang percintaan Aku mau baca 🤭🤭🤭?
udah banyak Up Hari in
Pdhal aku bruu sja mendapatkan kesenangan Mlah Di BKIN Tak Karuan lgii
sring2 yaa Thor up 3 bab Biar Aku tambah smngat Bacanya
bercanda Thor mksih Thor Udah BKIN Novel SE kece In, Smangat Thor up nya law bisa 3 bab pun gpp