Kim Ae Ra hanya ingin hidup tenang setelah kehilangan ayahnya di masa kecil. Demi bertahan, ia bekerja keras hingga akhirnya diterima di Aegis Corp dan menjadi sekretaris CEO muda yang dingin, Hyun Jae Hyuk.
Bagi Ae Ra, pertemuan mereka hanyalah kebetulan. Namun tanpa ia sadari, Jae Hyuk telah mengenalnya jauh sebelum itu—pada sebuah malam hujan yang hampir mengubah hidupnya.
Saat hubungan mereka perlahan mendekat, seseorang dari masa lalu muncul kembali membawa kenangan yang telah lama terlupakan. Di antara rahasia, takdir, dan perasaan yang tumbuh diam-diam, Ae Ra mulai menyadari bahwa beberapa pertemuan bukanlah kebetulan.
Karena terkadang, orang yang berdiri di samping kita saat hujan… adalah rumah yang sejak lama kita cari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhafira nabhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16 — Kenangan yang Tidak Pergi
Langit Seoul kembali mendung sore itu.
Bukan hujan deras, hanya awan berat yang menggantung rendah, membuat cahaya matahari terasa redup lebih cepat dari biasanya. Kim Ae Ra sibuk merapikan dokumen di mejanya, memastikan semua agenda besok tersusun rapi sebelum pulang.
Beberapa minggu bekerja di Aegis Corp perlahan mengubah ritmenya.
Tangannya kini bergerak tanpa ragu. Ia hafal kebiasaan CEO-nya, tahu kapan telepon harus disaring, dan bahkan mulai bisa menebak perubahan jadwal sebelum diminta.
Namun ada satu hal yang justru semakin sering mengganggunya.
Hujan.
Atau lebih tepatnya… setiap tanda hujan akan datang.
Ia menatap keluar jendela sebentar. Langit kelabu membuat dadanya terasa berat tanpa alasan jelas.
“Sekretaris Kim.”
Suara Hyun Jae Hyuk membuatnya tersadar.
“Iya?”
“Kau sudah selesai?”
“Hampir.”
Jae Hyuk berdiri di ambang pintu ruangannya, jas tergantung di lengannya. Pandangannya sekilas mengikuti arah mata Ae Ra menuju jendela.
“Hari ini mungkin hujan lagi,” katanya pelan.
Ae Ra mengangguk.
Tanpa sadar, tangannya menyentuh payung hitam yang bersandar di sisi meja.
Jae Hyuk memperhatikan gerakan kecil itu.
Dan ingatannya, tanpa izin, kembali pada malam bertahun-tahun lalu.
---
Hujan.
Lampu jalan yang redup.
Seorang gadis kecil duduk diam di tepi Sungai Han.
Seragam sekolahnya basah, rambutnya menempel di pipi. Ia tidak menangis. Tidak bergerak. Hanya menatap air gelap di depannya seolah dunia sudah terlalu berat untuk dipahami.
Jae Hyuk yang saat itu masih berseragam SMA berdiri cukup jauh.
Ia awalnya hanya lewat.
Namun sesuatu membuatnya berhenti.
Ia ingat rasa ragu itu.
Apa ia harus mendekat?
Apa ia akan dianggap aneh?
Beberapa menit ia hanya berdiri.
Lalu hujan semakin deras.
Tanpa berpikir panjang, ia membuka payungnya dan berjalan mendekat.
Ia tidak tahu harus berkata apa.
Akhirnya hanya satu kalimat yang keluar.
“Kalau hujan terus, kau bisa sakit.”
Gadis itu tidak menjawab.
Namun ia tidak pergi.
Dan untuk alasan yang bahkan tidak ia pahami saat itu, Jae Hyuk tetap berdiri di sana… sampai hujan reda.
---
“CEO?”
Suara Ae Ra menariknya kembali ke masa kini.
Jae Hyuk berkedip pelan.
“Iya.”
Ia berdeham kecil, menutupi pikirannya sendiri.
“Kita pulang.”
---
Malam membawa Ae Ra kembali ke toserba seperti biasa.
*Klining…*
Bo Ram langsung menyambutnya dengan energi penuh.
“Ae Ra! Aku baru dapat diskon es krim!”
Seo Jun berdiri di belakang kasir, tersenyum tipis.
“Kau terlihat lelah.”
“Sedikit.”
Ia duduk di kursi kecil, menerima minuman hangat dari Seo Jun.
Kehangatan sederhana itu membuat bahunya rileks.
Namun hari itu Seo Jun terlihat lebih diam dari biasanya.
Tatapannya sesekali mengarah ke luar toko.
Seolah menunggu sesuatu.
---
Di seberang jalan, sebuah mobil hitam berhenti.
Hyun Jae Hyuk memandang ke arah jendela toko.
Ia tidak berniat turun.
Hanya memastikan.
Namun kali ini perasaannya berbeda.
Ia tidak lagi sekadar penasaran.
Ia tahu.
Gadis itu memang Ae Ra.
Gadis di bawah payung bertahun-tahun lalu.
Dan semakin ia menyadarinya, semakin sulit baginya menjaga jarak.
Ia menghela napas panjang sebelum mobil kembali bergerak perlahan.
---
Di dalam toko, Seo Jun melihat pantulan lampu mobil yang menjauh.
Tatapannya berubah sesaat.
Tenang.
Namun waspada.
Ia tidak tahu alasan pastinya.
Tapi ia bisa merasakan satu hal—
hidup Ae Ra perlahan bergerak menuju sesuatu yang tidak lagi sederhana.
Dan kali ini, ia mungkin tidak bisa hanya berdiri diam.