Mau menyimpan bangkai serapat apa pun, pada akhirnya akan tercium juga.
Niat hati memberi kejutan untuk suami tercinta di tahun ke 2 pernikahan. Nyatanya aku, yang di beri kejutan yang menjadi awal runtuhnya kepercayaan dan hancurnya hati ku. Hingga perpisahan gak lagi bisa ku hindari. Dari pada hidup bersama pria yang sudah menghianati.
Di balik ruang kebesaran Joseph.
"Pelan pelan, sayang!"
"Gak bisa, mas! Aku udah gak sabar pengen piton kamu!"
"Kamu ini, selalu saja pandai memu4skan ku! Kamu agresif, inisiatif, aku suka itu!"
"Siapa dulu dong, Karin! Kekasih mu! Karena aku, kamu bisa berada di posisi ini! Ingat itu! Aku pahlawan mu, mas!"
"Dan sayangnya aku harus berkorban menikahi si Jenny. Wanita bodoh, manja, menyusahkan, dan gak bisa apa apa!" gerutu Joseph.
Ceklek.
"Je- Jenny, ka- kamu ngapain ke sini?"
Hingga aku di pertemukan kembali, dengan bocah yang mampu mengusik hidup ku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mahlina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
...🌻🌻🌻🌻🌻...
Selepas kepergian Alan, perdebatan panjang terjadi di kediaman Rayan. Kamar utama menjadi saksi bisu, perdebatan sepasang suami istri beda tujuan ini. Hingga salah satu pihak, melayangkan tamparan.
“Terus aja papa samain mama dengan tom and jerry! Tokoh kartun kesayangan papa itu!” sentak Alena.
Rayan mengerdik kan bahunya, dengan nada santai, “Ya kan papa sudah lakukan, mah! Belum ada satu jam kan papa ngomong gitu!”
Alena mendengus kesal, “Kenapa sih! Papa gak pernah dukung mama?”
“Papa selalu dukung mama dalam hal pendidikan putra kita. Mama minta Alan sekolah di luar negeri, papa ikutin mau mama. Papa bahkan ikut mendampingi Alan.” kilah Rayan tak terbantahkan.
Alena menggeleng, menepis alasan Rayan, “Papa di sana itu bukan cuma mendampingi Alan! Tapi papa sedang berusaha menghindari mama! Papa menjaga jarak dengan mama! Mama salah apa lagi sama papa? Belum cukup pengabdian mama untuk papa?”
Rayan tersenyum sinis, “Papa tidak pernah meminta mu! Kamu sendiri yang menginginkan pernikahan kita! Maka terima lah segala kekurangan ku! Tidak pernah bisa mencintai mu, mah! Terlepas dari cara mu menjebak ku dalam pernikahan!”
“Ma- mama tidak menjebak papa! Papa sendiri yang salah minum obat! Hingga malam terlarang itu membuahkan hasil, putra kita Alan!” sangkal Alena dengan wajah panik.
Rayan terkekeh, mentertawakan kebodohan Alena, “Ahahaha kalo benar! Kenapa mama harus panik?”
“Ma- mama gak panik! Si- siapa juga yang bilang mama panik? Papa saja yang selalu mengungkit kebenaran Alan! Sudah jelas Alan putra kita! Putra sah yang lahir dari hubungan pernikahan mama dan papa!” sangkal Alena, berusaha tenang.
Rayan mengutak utik ponselnya, “Benarkah? Setelah papa perlihatkan bukti, apa masih mama berani menyangkal?”
“Bu- bukti apa? Gak ada bukti yang harus di sangkal! Alan itu putra kita, pah! Jangan pernah meragukan mama!” kekeh Alena pada pendiriannya.
Rayan memperlihatkan hasil tes DNA yang ia lakukan dengan Alan, dirinya dan Jaya. Ia juga melakukan tes yang sama terhadap Jenny.
“Coba lihat ini! Di sana jelas tertera 99 persen, papa bukan ayah biologis Alan. Sementara hasil tes lain membuktikan 99 persen, Alan cocok dengan Jaya! Kalian itu berteman dekat, melebihi saudara!
Sementara yang Jaya cintai cuma Jena, wanita yang harusnya menikah dengan papa!” cerocos Rayan dengan tatapan mengintimidasi.
Plak.
Tamparan melayang di pipi Rayan, dengan wajah merah padam. Antara malu, marah, kecewa yang Alena rasakan. Belasan tahun ia menyimpan rapat rahasia besarnya.
Namun sayangnya tanpa sepengatahuan Alena. Rayan sudah mengetahuinya dengan tes yang ia lakukan.
“Kenapa papa tega melakukan semua ini? Papa meragukan mama?” tanya Alena dengan nada tinggi.
“Bukan hanya meragukan! Tapi papa gak pernah habis pikir dengan mama! Ada ya, seorang ibu yang memisahkan anak dari orang tua kandungnya?
Sudah ada bukti, tapi masih mau menyangka! Waras mah?” tanya Rayan dengan nada meledek.
Bukan Alena jika gak bisa menghindar, dengan sengaja ia mengalihkan pembicaraan, dengan memunggungi Rayan.
“Berhenti membahas jati diri Alan, pah! Dia putra kita! Darah daging kita! Keputusan papa mendukung hubungan Alan dengan wanita itu salah besar, pah!
Putra kita masih bisa mendapatkan wanita yang jauh seribu kali lebih baik dari Jenny! Calon janda! Malu pah!”
‘Sudah terbukti salah! Masih mau menghindar! Dasar wanita keras kepala!’ jerit Rayan dalam hati.
Namun tidak dengan langkah pria paruh baya itu. Dengan pasti, Rayan meninggalkan kamar.
Langkahnya bahkan gak terdengar, teredam karpet yang membentang di sepanjang kamarnya.
“Putra kita masa dapat janda! Bek4s orang, loh! Mau di taro di mana ini muka mama kalo ketemu kolega kita?” cerocos Alena dengan penuh emosi.
“Papa mau bilang apa sekarang hah? Gak malu dengan status wanita pilihan Alan? Mama masih bisa carikan Alan wanita yang jauh lebih baik dari Jenny, pah!
Pokonya mama gak setuju dengan wanita yang bernama Jenny! Pa… ko gak ada? PAPA!” teriak Alena, gak mendapati Rayan di hadapannya.
Sementara di tempat lain, di tengah gelapnya langit malam.
“Papa ngapain duduk di taman malam malam begini? Mending duduk di dalam, lebih hangat pah!” tegur Jenny, duduk bergabung bersama dengan Jaya di pendopo yang ada di taman belakang rumah.
Jaya menghembuskan nafasnya kasar, “Menikmati angin malam, Jen! Tenang, damai, hembusan angin malam yang alami. Nikmat mana lagi yang bisa kita dustakan atas berkah dari sang pencipta, Jen?”
Jenny tersenyum tulus, ”Iya iya, harus banyak bersyukur kan? Di beri sehat, masih bisa berkumpul, masih bisa menikmati indahnya malam.”
“Itu kamu tau jawabannya, Jen! Jadi apa keputusan kamu dengan rumah tangga mu, Jen? Masih mau bertahan dengan pria brengsek seperti Joseph?
Maksud papa mas Joseph mu itu?” goda Jaya, berusaha menjaga mood baik sang anak.
“Tapi biar gimana pun, dia itu pernah jadi karyawan terbaik papa di perusahaan kan? Jangan lupa itu, pah!” beo Jenny dengan santai.
Jaya menyandarkan punggungnya pada sandaran pendopo, “Itu dulu, sebelum kamu memutuskan menikah dengannya! Sebelum papa tahu niat dia di balik menikahi mu!”
“Sama aja, pah! Niatnya dalam waktu 2 sampai 3 hari ini, Jen mau mengajukan gugatan cerai, pah!” jelas Jenny meyakinkan.
Jaya mengerutkan keningnya penuh tanya, “Kamu serius? Dengan alasan apa kamu mengajukan gugatan?”
“Perselingkuhan, penggelapan uang perusahaan, penyalah gunaan jabatan, perzinahan.”
Jaya kembali menegakkan punggungnya, “Penggelapan uang perusahaan mana bisa di jadikan alasan, Jen? Tapi tunggu, perzinahan? Dengan siapa Joseph melakukannya?
Kamu punya buktinya? Jangan asal mengajukan kalo kamu gak punya bukti, Jen! Jatuhnya itu fitnah! Bisa aja Joseph menolak gugatan mu!”
Belum sempat Jenny menjawab, bi Sari sudah datang menghampiri keduanya.
“Maaf ganggu, Tuan besar!” beo bi Sari, usai membungkuk hormat.
“Sudah tau menggangu! Kenapa pake di perjelas, bi?” sentak Jaya gak senang.
Jenny menggeleng, “Dengerin bi Sari ngomong dulu kenapa, pah!”
“A- anu Tuan besar, Nona Muda. Di depan ada tamu, 2 orang wanita. Mereka bilang di undang sama Tuan besar untuk makan malam.” jelas bi Sari.
Jenny membola, “A- apa? Papa ngundang 2 wanita sekaligus buat makan malam? Wanitanya masih muda apa berumur, bi?”
“Masih muda, Nona.” beo bi Sari apa adanya.
Jenny beranjak dari duduknya, pikiran liar gak bisa lagi lari dari otaknya akan sang ayah. Langkahnya bahkan gak bisa lagi ia tahan untuk menghampiri 2 wanita yang di undang Jaya.
“Astaga, pah! Papa berencana mau menikah lagi? Jangan gila, pah! Jen gak larang papa buat cari pengganti mama. Tapi ya jangan wanita muda juga, pah!
Masa iya Jen punya ibu sambung yang usianya gak jauh beda dengan Jen! Ihs papa keterlaluan bangat ini mah! Sumpah, Jen gak nyangka papa mata keranjang juga!”
Jaya menyusul Jenny, “Astaga, Jen! Kamu salah paham itu, sayang! Papa sangat setia dengan mama mu!”
“Di mana tamunya, bi?” tanya Jenny tanpa menghentikan langkahnya.
“Ada di ruang tamu, Non!” seru bi Sari yang jelas tertinggal di belakang.
Ting nong.
Belum juga Jenny sampai di ruang tamu, bel rumah sudah kembali berbunyi.
Bersambung…