Zayna Almeera adalah badai yang dipaksa berhenti di sebuah desa tenang. Terbiasa dengan gemerlap kota, ia merasa dunianya runtuh saat harus menukar kehidupan mewahnya dengan ubin pesantren yang dingin. Ia datang membawa duri, siap menusuk siapa pun yang mencoba menjinakkan kebebasannya.
Di sana, ia bertemu Gus Haidar. Pemuda itu seperti telaga luas yang tak terusik; bicaranya tenang, tatapannya terjaga, dan dunianya hanya berisi pengabdian. Bagi Zayna, Haidar adalah teka-teki silang yang menyebalkan. Namun bagi Haidar, Zayna adalah kebisingan yang tiba-tiba membuat kesunyiannya terasa lebih lengkap.
Antara keras kepalanya Zayna dan sabarnya Haidar, ada sebuah cerita tentang bagaimana rasa pahit harus dibiarkan mengendap agar manisnya bisa dinikmati. Zayna ingin lari, tapi hatinya justru perlahan tertambat pada ketenangan yang tak pernah ia temukan di riuhnya kota.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Senja di pelataran kota
Jakarta di ambang fajar selalu terasa seperti napas yang tertahan—dingin, lembap, dan penuh rahasia. Bagi Zayna, kota ini bukan lagi tentang gemerlap yang menipu, melainkan tentang ladang pengabdian yang gersang namun harus tetap ia sirami dengan doa.
Berita penangkapan anak buah Geral menyebar laksana api yang melahap ilalang kering. Namun, Geral sendiri menghilang, seperti kabut hitam yang tersapu angin sebelum sempat tertangkap tangan. Zayna tahu, ular yang terluka biasanya lebih berbisa. Ia tidak membiarkan kewaspadaannya luruh, meski kondisi Ayah sudah mulai stabil dan Bunda mulai kembali menemukan senyumnya di atas sajadah.
Sore itu, Zayna memutuskan untuk mengunjungi kantor pusat Almeera Group untuk terakhir kalinya sebelum menyerahkan kepemimpinan sementara kepada paman yang ia percayai. Ia ingin mengambil beberapa barang pribadi, termasuk foto masa kecilnya bersama Ayah dan Bunda.
Saat ia melangkah di pelataran parkir yang mulai sepi, udara mendadak terasa berat. Aroma parfum maskulin yang tajam—aroma yang dulu sangat ia kenal—menyeruak di antara bau aspal basah.
"Kamu pikir kamu sudah menang, Zay?"
Geral muncul dari balik pilar beton. Wajahnya tidak lagi rapi. Matanya cekung, dipenuhi gurat keputusasaan yang berbahaya. Ia memegang sebuah korek api dan sebuah botol berisi cairan bening.
"Kamu menghancurkan hidupku, Zayna! Karena kamu dan si Gus penjaga asrama itu, aku kehilangan segalanya! Investor menarik diri, polisi mengejarku... Jika aku harus hancur, maka aku akan membawa kenangan terakhir keluargamu ini bersamaku!" Geral menunjuk ke arah gedung kantor dengan pandangan gila.
Zayna tidak lari. Ia berdiri tegak, laksana pohon tanjung yang akarnya sudah menghujam dalam ke bumi. Ia menatap Geral dengan rasa kasihan yang tulus.
"Geral, yang menghancurkan hidupmu bukan aku, bukan juga Gus Haidar. Tapi kebencianmu sendiri. Kamu membakar hatimu sendiri sebelum kamu mencoba membakar gedung ini."
"Diam! Jangan menceramahiku dengan bahasa pesantren itu!" Geral mendekat, tangannya gemetar saat hendak memantik korek api.
"Geral, lihat aku," suara Zayna lembut namun memiliki resonansi yang kuat. "Dulu aku adalah api yang sama sepertimu. Aku mencari kebahagiaan di tempat yang salah, aku membenci aturan, dan aku merasa dunia ini milikku. Tapi aku belajar satu hal di sana... bahwa api tidak akan padam jika dilawan dengan api. Ia hanya akan padam jika bertemu dengan air ketenangan."
Zayna melangkah maju satu tindak. "Jika kamu ingin membakar gedung ini, silakan. Harta bisa dicari kembali. Tapi jika kamu membakar jiwamu dengan dendam, tidak akan ada yang bisa menyelamatkanmu, bahkan dirimu sendiri."
Tiba-tiba, suara sirine polisi terdengar dari kejauhan. Geral panik. Ia hendak menyulut botol itu, namun tangannya lunglai melihat ketenangan di mata Zayna. Di mata itu, ia tidak melihat ketakutan yang ia harapkan, melainkan sebuah kedamaian yang membuatnya merasa sangat kerdil.
Korek api itu terjatuh, padam sebelum menyentuh tanah. Geral jatuh terduduk, menutupi wajahnya dengan tangan sambil terisak. Polisi segera mengepung dan membawanya pergi.
Malam harinya, Zayna duduk di samping tempat tidur Ayah di rumah sakit. Ayah sudah bisa bicara meski suaranya masih parau.
"Zayna... Ayah bangga padamu. Kamu benar-benar sudah menjadi 'benteng' bagi Ayah dan Bunda," bisik Ayah sambil menggenggam tangan putrinya.
"Semua karena doa Ayah dan Bunda, juga bimbingan dari Al-Fatih," jawab Zayna. "Ayah, Bunda... jika urusan perusahaan sudah benar-benar stabil, apa Zayna boleh... pulang?"
Bunda tersenyum sambil mengusap kepala Zayna. "Pulanglah, Sayang. Rumahmu yang sebenarnya bukan lagi di antara gedung-gedung ini. Rumahmu adalah di tempat di mana hatimu merasa paling dekat dengan Tuhan. Dan Bunda tahu, ada seseorang di sana yang sudah terlalu lama menatap gerbang menunggumu."
Zayna memeluk Bunda dengan rasa syukur yang tak terhingga. Ia segera mengambil ponselnya dan mengetik sebuah pesan untuk Gus Haidar.
"Gus, badai di Jakarta sudah reda. Awan hitamnya sudah pergi, dan matahari mulai muncul di balik gedung-gedung tinggi. Esok pagi, setelah fajar menyingsing, saya akan pulang. Apakah pohon tanjungnya sudah berbunga?"
Hanya butuh beberapa detik, balasan masuk.
"Ia tidak hanya berbunga, Zayna. Ia sedang menebarkan aroma rindu yang paling harum ke seluruh sudut pesantren. Datanglah. Seluruh santri sudah merapikan jalan, dan saya... saya sudah menyiapkan satu tempat di baris depan hati saya yang tidak akan pernah diisi oleh siapapun lagi."
Zayna menatap bintang dari balik jendela rumah sakit. Ia menyadari bahwa perjalanannya di Jakarta adalah ujian 'Ikhlas' yang sesungguhnya. Ia kehilangan kemewahan palsunya, tapi ia menemukan kekayaan jiwa yang abadi. Esok, ia akan kembali ke pelukan sawah, sungai, dan tatapan teduh sang Gus yang telah menjadi kompas hidupnya.
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...
dari sekian banyaknya novel yg aku baca Cuma In yg Membuat Aku pangling Dan kagum Banget dengan Stiap Untaian katanya, Aplgi sangat Puitis banget
yg Lainnya Nanti Dluu hehehehhe,
yang Lain Tentang Apa Thor Law tentang percintaan Aku mau baca 🤭🤭🤭?
udah banyak Up Hari in
Pdhal aku bruu sja mendapatkan kesenangan Mlah Di BKIN Tak Karuan lgii
sring2 yaa Thor up 3 bab Biar Aku tambah smngat Bacanya
bercanda Thor mksih Thor Udah BKIN Novel SE kece In, Smangat Thor up nya law bisa 3 bab pun gpp