Siena Hartmann, gadis keras kepala dan sedikit bar-bar, selalu bisa membuat ayahnya pusing tujuh keliling. Tapi siapa sangka, di balik tingkahnya yang bebas, ada pria yang diam-diam selalu ada saat dia butuh.
Bastian Asher Grayson, muncul di hidupnya sebagai bodyguard baru dikeluarga Hartmann. Dia profesional, dingin, tapi entah kenapa selalu berhasil membuat hati Siena berdebar meski dia menolak mengakuinya.
Hingga skandal di malam wisuda membuat mereka terpaksa berada dalam satu atap, dan keputusan mengejutkan pun diambil. Namun, sesuatu tentang pria itu masih disembunyikan. sesuatu yang bila terungkap, bisa mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna_Ama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE TUJUH BELAS
Sepeninggalan Darian dan Ayah Alex, Bastian melangkah menjauh, ia memilih menuju taman kecil yang berada tak jauh dari kamar rawat Siena.
Udara malam menyambutnya dengan dingin yang tenang.
Lampu-lampu taman menyala redup, menciptakan bayangan panjang di atas lantai paving. Bastian berhenti di bawah salah satu lampu, kedua tangannya masuk ke saku celana, punggungnya tegak.
Tak ada lagi ekspresi datar yang biasa ia pasang di hadapan orang lain.
Sorot matanya berubah lebih tajam dan dingin.
Kemudian, Bastian merogoh saku celana nya tuk mengambil ponsel miliknya. Dengan lincah jari jemari besar nya menggulir layar benda pipih itu mencari nomor telepon seseorang dan setelah menemukan nya, tanpa pikir panjang Bastian segera mendial nya.
Dering pertama tidak diangkat.
Dering kedua masih berlanjut.
Barulah pada dering ketiga panggilan itu tersambung.
“Ya, Tuan.” suara Darian terdengar menyapa dari seberang telepon.
"5 menit lagi ku tunggu ditaman rumah sakit". Ucap Bastian dengan tegas
Setelah itu, tanpa menunggu sahutan dari Darian, ia langsung mengakhiri sambungan telepon itu sepihak.
Kemudian, Bastian kembali memasukkan ponselnya kedalam saku celana. Ketika itu bertepatan dengan Darian yang keluar dari ruang rawat Siena. Bastian bisa melihatnya dari kejauhan.
Pria itu terlihat menyisir sekitar mencari keberadaan nya sebelum akhirnya menemukan nya. Bergegas Darian menghampiri Bastian.
"Tuan". Sapa Darian
"Hmm, kita bicara di mobil". Kata Bastian, ia segera melangkahkan kakinya menuju tempat parkir dan Darian mengikuti nya dari belakang.
.
Sesampai nya diarea parkir, Bastian tidak masuk kedalam mobil. Ia memilih berdiri bersandar pada pintu mobil seraya mengeluarkan sebungkus rokok dari dalam jaket mantel nya.
Ia keluarkan sebatang rokok tersebut lalu diselipkan disela-sela bibirnya. Kemudian, sebelah tangannya merogoh saku celana formal yang ia kenakan tuk mengambil korek apik.
Bastian menjentikkan korek api itu. Api kecil menyala sesaat, menerangi sorot matanya yang dingin sebelum akhirnya menyentuh ujung rokok di bibirnya.
Ia menarik napas perlahan, lalu mengembuskannya tanpa tergesa.
Asap tipis mengepul di udara malam.
Darian berdiri tegak di hadapannya, menjaga jarak yang sopan. Ia tahu, setiap kali Bastian memilih diam lebih dulu, artinya ada sesuatu yang sedang ditimbang dengan serius.
"Kau sudah selidiki siapa orang yang menyenggol motor Siena?" tanya Bastian seraya menghisap lagi benda nikotin itu lalu ia hembuskan asapnya keudara.
Darian mengangguk, "Sudah tuan".
"Katakan". Ucap Bastian singkat
“Orang yang menyenggol Nona Siena sudah kami amankan, Tuan,” jawab Darian. “Seperti dugaan Anda, dia bukan pembalap biasa. Ada seseorang yang membayarnya.”
Tatapan Bastian tak berubah. Hanya jemarinya yang sedikit mengetuk bungkus rokok di tangannya.
“Nama?”
“Belum mau bicara. Tapi kami sudah menelusuri aliran dananya.”
Hening.
Angin malam berembus lebih kencang, membuat asap rokok yang keluar dari bibir Bastian terurai cepat di udara.
“Jangan sentuh dia dulu,” ucap Bastian pelan.
Darian terdiam sepersekian detik. “Tuan?”
“Biarkan dia merasa aman,” lanjut Bastian tenang. “Orang yang berada di belakangnya pasti akan bergerak.”
Mendengar itu, Darian akhirnya menganggukkan kepalanya paham. "Baik tuan".
Ponsel milik Bastian yang ia simpan didalam saku celana berdering. Dengan cepat ia segera merogoh nya.
Terlihat, nama ayah Alex terpampang jelas di layar benda pipih itu. Tanpa, menunggu lama Bastian segera menggeser tombol hijau lalu menempelkan ponselnya ditelinga kirinya.
"Ya tuan?" sapa Bastian terlebih dahulu seraya tangannya membuang puntung rokok lalu menginjaknya dengan ujung sepatunya.
"Dimana kamu Bas? saya menyuruh mu untuk menunggu". Suara ayah Alex terdengar kesal dari seberang telepon.
"Saya akan segera kesana tuan". Sahut Bastian cepat
Tak ada sahutan lagi, ayah Alex mengakhiri sambungan teleponnya sepihak. Bastian segera menyimpan kembali ponsel nya kedalam saku celana, kemudian ia mendongak menatap Darian.
"Anda butuh bantuan tuan?" ujar Darian
Bastian menggeleng. "tidak, kau pulanglah dulu".
"Tapi anda-"
"Aku akan menelpon mu nanti". Sahut Bastian cepat
Darian menghela nafas pelan tak banyak membantah, ia mengangguk lalu pamit undur diri. Setelah itu, Bastian bergegas melangkahkan kaki jenjang nya dengan cepat menuju ruang rawat Siena.
Terlihat disana Ayah Alex sudah berdiri diambang pintu seolah tengah menanti kedatangannya. Bastian segera berlari kecil mendekat.
"Tuan". Panggil Bastian
Ayah Alex yang tengah menunduk menatap ponsel nya seketika mendongak.
"Kau dari mana Bas? Aku meminta mu untuk menunggu sebentar disini kenapa menghilang?" ujar Ayah Alex sedikit kesal dengan bodyguard putrinya itu
Padahal dia hanya tinggal sebentar menemani Darian menjenguk Siena. Tapi, begitu keluar Bastian sudah tidak ada ditempat.
"Maaf tuan, saya baru dari kamar mandi. Perut saya mendadak sakit". Ucap Bastian berbohong
Mendengar itu, Ayah Alex hanya menghela nafas pelan lalu menepuk lengan Bastian.
"Ya sudah ayo duduk di sana, ada hal yang ingin ku bicarakan dengan mu". Kata Ayah Alex seraya mengajak Bastian untuk duduk dikursi besi panjang yang tak jauh dari ruang rawat Siena.
Bastian mengangguk lalu segera mengikuti langkah kaki ayah Alex. Ia memilih berdiri disamping pria paruh baya itu.
Melihat Bastian hanya berdiam diri, ayah Alex langsung menepuk bangku kosong disisi nya.
"Duduklah Bas".
Tanpa ragu Bastian langsung duduk disamping ayah Alex, tapi masih memberi sedikit jarak sopan.
"Ada hal apa yang ingin anda bicarakan dengan saya tuan?" ujar Bastian lebih dulu berbicara
"Bas, aku tau pekerjaan mu selain menjadi bodyguard Siena..."
Deg!
Bastian yang mendengar itu sontak tubuhnya membeku. Refleks, ia menoleh menatap Ayah Alex dengan tatapan harap-harap cemas, campur aduk tak karuan.
"Apa dia tau aku bos nya Darian?"
"Atau tau jika aku seorang mafia?"
"Apa Darian mengatakan yang sebenarnya tentang ku?"
Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar-putar dikepala Bastian. Bukan karena takut jika identitas nya terbongkar hanya saja ia belum siap. Misi terselubung nya belum berhasil.
"M-maksud anda tuan Alex?"
Ayah Alex tidak langsung menjawab. Pria paruh baya itu menatap lurus ke depan, ke arah lorong rumah sakit yang lengang.
"Aku tau pekerjaan mu bukan hanya sebagai bodyguard Siena..." Ayah Alex menjeda ucapannya lalu menoleh menatap kearah Bastian, "Tapi kau juga bekerja sebagai sopir tuan Darian".
"Sopir Darian?" cicit Bastian lirih nyaris seperti berbisik, alisnya terangkat sebelah seolah tak paham dengan apa yang diucapkan oleh pria disampingnya ini.
"Hmmm..." Sahut Ayah Alex mengangguk seraya berdehem.
"Tuan Darian yang mengatakan. Jujur, aku sedikit terkejut saat melihat kau dan tuan Darian terlihat begitu akrab. Tapi, saat aku bertanya pada tuan Darian. Beliau mengatakan jika kau bekerja sampingan sebagai sopir pribadinya". Ucap Ayah Alex menjelaskan.
Bastian yang mendengar itu hanya bisa diam tak mampu berkata-kata lagi, tapi dalam hatinya ia terus mengumpati asisten pribadi nya itu.
"Darian sialan!!" Umpatnya dalam hati
"Bas..." panggil ayah Alex
"Ya tuan?"
"Apa gaji yang ku berikan pada mu sebagai bodyguard Siena kurang? sampai kau harus bekerja lagi paruh waktu menjadi sopir? Aku tau tuan Darian memang loyal tapi bisakah kau tinggalkan pekerjaan paruh waktu mu dan fokus menjadi bodyguard saja, Bas?" Ucap Ayah Alex dengan raut wajah sedikit memohon
Bastian yang mendengar itu tak henti-hentinya terus mengumpati Darian. Ia bahkan berniat ingin mencekik leher asisten pribadi nya itu. Berani sekali dia merendahkan harga dirinya nya dengan cara seperti ini dihadapan ayah dari wanita incarannya.
.
.
.
Haiii teman-teman semuanya.... Jangan lupa dukungannya yaa.... Like, vote dan komen... Terimakasih 🫶🏻♥️
ayo lanjut lagi
secangkir kopi susu manis untukmu
sebagai teman up date
ok👍👍👍
tetap semangat yaaaaa
lanjut