NovelToon NovelToon
A Killer Reborn

A Killer Reborn

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Hernn Khrnsa

Elizabeth Valerie, seorang pembunuh bayaran yang terkenal kejam dan dingin, mati diracun oleh orang-orang kepercayaannya. Namun, kematian bukanlah akhir baginya. Alih-alih pergi ke alam baka, jiwanya justru terjebak di tubuh seorang gadis miskin yang mati dengan mengenaskan.

Bersama ingatan dan rasa sakit milik Elijah, Elizabeth bertekad bahwa ia harus membalaskan dendam gadis itu jika ingin pergi dengan damai. Elizabeth pun menjalani kehidupan keduanya yang sulit dan miskin demi membalaskan dendam sang gadis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hernn Khrnsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

AKR 17 — Kekhawatiran Elizabeth

Masih terlalu pagi ketika Benjamin terbangun di sofa apartemennya. Ia bahkan tidak ingat kapan tepatnya ia tertidur. Foto-foto Jean masih berserakan di atas meja, laporan pemeriksaan masih terbuka di halaman yang menampilkan detail memar dan luka tembak itu. Semua terasa seperti mimpi buruk yang menolak selesai.

Namun satu hal terus mengusik pikirannya sejak semalam.

Gelagat Chad yang terlalu tegang. Tatapannya terlalu sering menghindar. Benjamin bangkit, meraih ponselnya. Ia menatap layar beberapa detik sebelum akhirnya mengirim pesan singkat pada Isaac.

“Aku ingin kita memeriksa timeline Chad malam itu.”

Balasannya datang satu menit kemudian..

“Aku juga memikirkan hal yang sama.”

Benjamin mengembuskan napas pelan. Setidaknya ia tidak sendirian dalam kecurigaannya. “Aku harus mulai mencari tahu dan menyelidikinya sendiri.” 

***

Siang harinya, Benjamin memutuskan menemui ayahnya di kantor kepolisian. Ia tahu ia bermain di wilayah berbahaya, tetapi ada satu hal yang belum ia periksa secara menyeluruh, yaitu rekaman CCTV di sekitar lokasi kejadian.

Ayahnya menatapnya lama ketika Benjamin menyampaikan maksudnya.

“Kau masih belum bisa menerima hasil penyelidikan?” tanya pria itu datar. “Bukankah semuanya sudah Ayah jelaskan?”

“Bukan soal menerima atau tidak. Tapi, aku hanya merasa ada yang janggal dari kematiannya.”

Ayahnya terdiam beberapa saat sebelum akhirnya menghela napas. “Rekaman di sekitar lokasi sudah diperiksa. Tidak ada hal yang mencurigakan. Apa yang sebenarnya ingin kau cari?”

“Boleh aku melihatnya sendiri? Ada sesuatu yang harus kupastikan.” Benjamin setengah memohon. 

Tatapan ayahnya berubah tajam. “Benjamin.”

“Aku hanya ingin memastikannya, sebentar saja. Kumohon.”

Keheningan menegang di antara mereka, tetapi akhirnya sang ayah menyerah. “Baiklah, tapi hanya 5 menit.”

Benjamin duduk di depan monitor ruang pengawasan. Ia memperhatikan rekaman malam kejadian, detik demi detik. Jalanan tampak relatif sepi. Beberapa mobil lewat. Angin menggerakkan dedaunan. Lalu ia melihat sesuatu.

Sebuah mobil hitam berhenti tidak jauh dari lokasi sekitar dua puluh menit sebelum waktu kematian Jean diperkirakan.

Benjamin memperbesar gambar. Plat nomornya tidak terlihat jelas. Namun yang membuatnya membeku adalah sosok yang turun dari kursi pengemudi.

Postur tubuh itu, ia sangat mengenalinya. .

“Chad?” 

Pria itu mengenakan jaket gelap dan topi, tetapi cara ia berjalan dengan sedikit membungkuk, dan tangan kirinya yang masuk ke saku, terasa terlalu familiar bagi Benjamin.

Benjamin merasakan jantungnya berdetak keras.

Ia memajukan rekaman. Beberapa menit kemudian, sosok kedua muncul di sudut layar.

Rekaman berikutnya menunjukkan mobil hitam itu pergi dengan kecepatan tinggi sekitar lima belas menit kemudian.

Benjamin mundur dari kursi perlahan.

“Ayah,” suaranya terdengar lebih pelan dari yang ia kira, “Kenapa rekaman ini tidak dimasukkan dalam laporan?”

Ayahnya menatap layar, lalu pada Benjamin. “Karena tidak ada bukti jelas bahwa itu Chad. Gambarnya buram. Dan Chad mengaku berada di rumah malam itu.”

“Dia sudah berbohong.” Benjamin menggumam seraya mengepalkan kedua tangannya. 

Ayahnya menatapnya tajam. “Hati-hati dengan tuduhanmu, Benjamin. Kau tidak boleh asal menuduhnya begitu saja tanpa bukti yang jelas.” ”

Namun bagi Benjamin, potongan-potongan itu mulai membentuk sesuatu. “Siapa sosok yang datang setelahnya? Dan mengapa Chad datang ke sana? Apa yang sedang dia sembunyikan?” 

*** 

Sore itu Benjamin menghubungi Isaac dan Ernest, meminta mereka datang ke apartemennya lagi. Kali ini suasananya jauh lebih tegang.

Isaac langsung membaca ekspresi wajah Benjamin begitu ia membuka pintu. “Sepertinya kau menemukan sesuatu.”

Benjamin tidak menjawab. Ia hanya memutar ulang rekaman CCTV di layar televisi.

Ketika sosok dari mobil hitam itu muncul, Ernest berdiri lebih dekat ke layar.

“Tolong perbesar lagi.”

Benjamin kemudian memperbesar gambar sebisa mungkin.

Isaac mengembuskan napas panjang. “Itu dia! Itu Chad, bukan?” tanyanya merasa tak percaya. 

“Jelas sekali itu dia, mau apa dia datang ke sana?” tanya isaac, merasa tak yakin. 

Benjamin mengedikkan bahu, “Entahlah, tapi satu hal yang jelas kita tahu bahwa dia sudah berbohong.” 

“Astaga, sulit dipercaya, dia bilang saat kejadian dia di rumah, kan?” gumam Ernest.

Isaac berjalan mondar-mandir, pikirannya bekerja cepat. 

“Jika mereka bertemu malam itu, berarti teori pistol ilegal semakin masuk akal. Jean mungkin datang dengan senjata. Entah untuk mengancam atau membicarakan sesuatu.”

“Lalu terjadi perkelahian itu pun terjadi,” lanjut Ernest pelan.

Benjamin mengepalkan rahangnya. “Yang harus kita cari tahu adalah sosok yang datang paling terakhir itu. Chad mungkin saja hanya memeriksa atau memastikan sesuatu. Aku yakin pelakunya adalah sosok terakhir itu.”

“Bagaimana kita mencarinya?” tanya Isaac dan Ernest hampir bersamaan. 

“Haruskah kita menanyai Chad secara langsung?” tambah Isaac lagi, memberi saran. 

Namun, Benjamin langsung menggeleng. “Tidak, untuk sementara waktu, biarkan dia merasa bahwa kita tidak tahu apa-apa.” katanya memutuskan. “Tetap awasi saja dia dalam diam, aku ingin tahu rahasia apa yang sebenarnya ia pegang.” 

***

“Apa kau suka dengan sekolah itu?” tanya Elizabeth sesampainya mereka di rumah. Ia mengeluarkan kunci dan membuka pintu rumahnya perlahan. “Ayo masuk.”

Kael langsung berlari masuk ke dalam dan berteriak senang. “Aku suka sekali, Kak. Apakah aku akan kembali bersekolah seperti anak-anak yang lainnya?” 

Elizabeth mengangguk setelah mengunci ganda pintu rumahnya. Usai mendapatkan pesan anonim semalam, ia tak bisa tak merasa khawatir soal keamanan Kael. Untuk itu ia memutuskan mengirim Kael ke sekolah asrama. 

“Tentu saja, kau akan seperti anak-anak yang lainnya. Kau akan belajar dengan baik, bukan?” Elizabeth berjalan ke arah dapur, berniat untuk membuat makan malam bagi mereka berdua.

“Tapi, Kak. Kenapa kau mengirimku ke sekolah asrama? Aku ingin tetap tinggal bersamamu di rumah ini,” kata Kael seraya duduk di kursi meja makan. 

Tanpa menoleh, Elizabeth menjawab pelan. “Aku harus bekerja, Kael. Dan mungkin tidak akan memiliki banyak waktu untukmu. Kau akan bosan jika berada di rumah ini seorang diri untuk waktu yang lama. Jadi, lebih baik kau di asrama.” 

Kael terdiam untuk waktu yang lama, merasa sang kakak mulai tak menyayanginya. 

Dan Elizabeth menyadari perubahan kecil itu. Ia menuangkan segelas jus jeruk dan meletakkannya tepat di hadapan Kael. “Percayalah kepadaku, kau akan memiliki banyak teman saat di asrama.” 

Kael mendongak, lalu tersenyum saat melihat wajah sang kakak yang menurutnya sudah banyak berubah. 

Elizabeth kembali ke dapur untuk memasak. Namun tiba-tiba, ponselnya berdenting, tanda sebuah pesan masuk. Ia membuka dan membacanya perlahan. 

“Mereka sudah mulai mencurigaimu, cepatlah bergerak.” 

Kening Elizabeth mengernyit saat membaca pesan dari nomor yang sama. “Apa maksudnya ini?” gumamnya merasa heran. 

Elizabeth mencoba untuk menghubungi nomor itu demi menghilangkan rasa penasarannya. Tetapi, nomor itu bahkan tidak bisa dihubungi.

1
awesome moment
mesti mengumpulkan ingatan utk merangkai cerita meski cm sekedar baca
Night Watcher
mood ku mulai hilang tor, karna terlalu lama teka teki sulivan.
kalo bab berikutnya masih gak terungkap, kyknya mending gak lanjut deh..😇
HK: Silakan 😇😇😇
total 1 replies
❤️⃟Wᵃf༄SNѕ⍣⃝✰🥑⃟ᴢͣʏᷮᴀͬɴͥ🦀
mulai curiga.
awesome moment
smg eliz ttp tersamar dlm tubuh elijah
awesome moment
d yg jd stalker eliz
awesome moment
eliz sdg bermain. spt mrk mempermainkan elijah dlu. melecehkan elijah. merekam dan menjual. bahkan dajjalpun spt.nya hrs berguru ke mrk soal kekejian
awesome moment
good. kehadiran eliz jd bukti kesakitan yg slama n elijah derita
awesome moment
bikin perkara n manusia buzuk 1
awesome moment
smg eli tdk dihalangi
awesome moment
😄😄😄mrk butuh disiksa, eli
Night Watcher
sayangnya elij gak bisa menyamarkan sikapnya agar gak menimbulkan kecurigaan, utk memuluskan langkah selanjutnya.
awesome moment
👍👍👍cerdik
awesome moment
duh...kasihan bgts ternyata elijah..
awesome moment
duh...smg elijah bukan sasaran pelecehan berkali2
Night Watcher
sudah saatnya ikutan sukreb..👌
Night Watcher
hingga bab ini, alurnya bagus & penyajiannya simpel dan asyik diikuti.👌💪
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Ada, Elijah buktinya 🤣
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Fisik nya sama tapi roh nya beda 🤭
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Sekarang sudah berubah 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
dan sekarang akan balas dendam 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!