NovelToon NovelToon
Pewaris Yang Tertukar

Pewaris Yang Tertukar

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Identitas Tersembunyi
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: zanita nuraini

Di balik kemewahan keluarga Mahendra, tersembunyi sebuah rahasia kelam. Bertahun-tahun lalu, Alisha Pratiwi diculik dan dipisahkan dari orang tua kandungnya, Ragendra dan Helena Mahendra. Sementara itu, kebohongan besar ditanam rapi oleh dalang licik bernama Bram Santoso.

Tanpa menyadari takdir yang terhubung, Alvaro tumbuh sebagai pewaris keluarga Mahendra, sedangkan Alisha hidup dalam kesederhanaan dengan identitas yang bukan miliknya. Ketika kebenaran perlahan terkuak, cinta, pengkhianatan, dan perebutan hak waris tak lagi bisa dihindari.

Siapakah pewaris yang sesungguhnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zanita nuraini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20 — Telepon Misterius

Bab 20 — Telepon Misterius

Alisha Mahendra berdiri di dekat jendela kamarnya. Tirai tipis bergerak pelan tertiup angin dari luar. Ia menatap halaman rumah yang luas dengan tatapan kosong.

Rumah itu sudah menjadi tempat tinggalnya sejak kecil. Setiap sudutnya terasa begitu akrab. Tangga marmer, ruang tamu yang besar, taman belakang tempat ia sering duduk saat sore hari.

Semua itu selama ini ia anggap miliknya.

Tetapi sejak malam tadi, semuanya terasa berbeda.

Percakapan yang tidak sengaja ia dengar masih terngiang jelas di kepalanya.

Suara Ragendra.

Suara Helena.

Kedua orang yang selama ini ia panggil Papah dan Mamah.

“Ada kemungkinan Alisha Pratiwi adalah anak kita.”

Kalimat itu seperti menghantam dadanya dengan keras.

Alisha tidak pernah membayangkan akan mendengar kata-kata seperti itu.

Ia berdiri di balik dinding saat percakapan itu terjadi. Tubuhnya kaku. Ia bahkan tidak berani bergerak sedikit pun.

Helena terdengar sangat cemas.

“Kita harus memastikan semuanya dulu.”

Ragendra menjawab dengan suara berat.

“Selama ini kita sudah berusaha mencarinya.”

Alisha menutup mulutnya agar tidak bersuara. Jantungnya berdegup sangat cepat.

Yang mereka bicarakan bukan orang lain.

Itu tentang dirinya.

Tentang kemungkinan bahwa ia bukan anak kandung keluarga Mahendra.

Sejak kecil ia hidup sebagai putri keluarga besar itu. Semua orang mengenalnya sebagai Alisha Mahendra.

Tidak pernah ada yang meragukan hal itu.

Sampai sekarang.

Alisha menarik napas panjang. Ia masih berdiri di tempat yang sama sejak beberapa menit yang lalu.

Pikirannya kacau.

Ia mencoba meyakinkan dirinya bahwa mungkin ia salah dengar.

Mungkin pembicaraan itu bukan tentang dirinya.

Mungkin semua hanya kebetulan.

Tiba-tiba ponsel di atas meja bergetar.

Layar ponsel menyala.

Sebuah nomor asing muncul di sana.

Alisha mengerutkan kening. Ia ragu beberapa detik sebelum akhirnya mengangkat telepon itu.

“Hallo?”

Beberapa detik tidak ada jawaban.

Lalu terdengar suara pria yang rendah di seberang sana.

“Bagaimana rasanya menjadi ratu… tapi bukan ratu yang sebenarnya?”

Alisha langsung membeku.

Tangannya yang memegang ponsel sedikit gemetar.

“Apa?”

Suara pria itu terdengar santai. Seolah ia sedang menikmati reaksinya.

“Menjadi ratu selama bertahun-tahun,” lanjutnya pelan, “lalu tiba-tiba mengetahui bahwa semuanya bukan milikmu.”

Alisha berdiri tegak.

“Siapa kamu?”

Terdengar tawa kecil dari ujung telepon.

“Kamu tidak perlu tahu siapa aku.”

Alisha mulai kehilangan kesabaran.

“Kalau begitu jangan meneleponku.”

Pria itu kembali tertawa.

“Tapi aku tahu apa yang sebenarnya terjadi.”

Alisha langsung terdiam.

Beberapa detik ia tidak mengatakan apa pun.

Pikirannya kembali pada percakapan yang ia dengar malam tadi.

Tangannya mengepal.

“Apa maksudmu?” suaranya meninggi. “Cepat katakan!”

Pria itu menjawab dengan nada santai.

“Tenang, tuan putri palsu.”

Alisha langsung merasa darahnya naik ke kepala.

“Jangan panggil aku seperti itu!”

“Kenapa?” pria itu berkata ringan. “Bukankah itu kenyataannya?”

Alisha menggigit bibirnya.

“Apa tujuanmu?”

Pria itu tidak langsung menjawab.

“Aku hanya ingin menawarkan kerja sama.”

Alisha tertawa sinis.

“Kerja sama? Dengan orang yang bahkan tidak mau menyebutkan namanya?”

Pria itu terdengar tidak terganggu.

“Kamu akan tahu semuanya… kalau kamu mau menjadi sekutuku.”

Alisha terdiam beberapa saat.

Pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan.

Bagaimana pria itu bisa tahu tentang rahasia keluarga Mahendra?

Siapa sebenarnya dia?

“Apa tujuanmu?” tanya Alisha lagi.

Kali ini suaranya lebih pelan.

“Dan katakan di mana orang tua kandungku.”

Ucapan itu keluar tanpa ia sadari.

Beberapa detik hanya ada keheningan di telepon.

Lalu pria itu tertawa.

Tertawa cukup lama.

Suara itu terdengar seperti seseorang yang sangat menikmati situasi.

Alisha semakin marah.

“Berhenti tertawa!”

Pria itu masih tertawa.

Lalu tiba-tiba…

Telepon terputus.

Bunyi panggilan berakhir terdengar di telinga Alisha.

Ia menatap layar ponselnya dengan wajah tegang.

Nomor itu sudah tidak bisa dihubungi kembali.

Alisha menjatuhkan ponselnya ke atas meja.

Dadanya naik turun.

Siapa pria itu?

Bagaimana dia tahu semua itu?

Apakah benar dia tahu siapa orang tua kandungnya?

Alisha berjalan mondar-mandir di dalam kamar.

Ia mencoba menenangkan pikirannya.

Mungkin pria itu hanya mencoba memancing reaksinya.

Mungkin semua hanya kebetulan.

Ia tidak bisa langsung percaya pada seseorang yang bahkan tidak ia kenal.

Alisha berhenti berjalan.

Ia menatap cermin besar di depan lemari.

Bayangannya terlihat jelas.

Gaun mahal yang ia kenakan.

Perhiasan yang menghiasi lehernya.

Semua itu selama ini menjadi bagian dari hidupnya.

Ia tumbuh dengan semua kemewahan itu.

Tidak pernah kekurangan apa pun.

Ia tidak bisa membayangkan hidup tanpa semuanya.

Sementara itu, di tempat lain…

Seorang pria duduk di kursi putar di depan meja kerja.

Ruangan itu cukup gelap. Hanya lampu meja yang menyala.

Ponsel masih berada di tangannya.

Pria itu tersenyum tipis.

Bram.

Ia baru saja menutup telepon beberapa menit yang lalu.

Ia sudah menunggu momen ini cukup lama.

Bram bersandar di kursinya.

Ia bisa membayangkan ekspresi wajah Alisha saat ini.

Kaget.

Marah.

Bingung.

Semua emosi itu pasti bercampur menjadi satu.

Bram memutar kursinya pelan.

Ia menatap layar komputer di depan meja.

Di layar itu terdapat beberapa foto.

Salah satunya foto Alisha Mahendra.

Foto lainnya…

Alisha Pratiwi.

Bram tersenyum tipis.

Ia tahu Alisha tidak akan langsung percaya padanya.

Gadis itu terlalu bangga untuk menerima kenyataan begitu saja.

Tetapi Bram tidak terburu-buru.

Ia tahu satu hal.

Alisha Mahendra telah hidup lebih dari dua puluh tahun dalam kemewahan.

Rumah besar.

Keluarga terpandang.

Kehidupan yang nyaman.

Orang seperti itu tidak akan rela kehilangan semuanya.

Cepat atau lambat…

ia akan datang sendiri.

Kembali ke rumah Mahendra.

Alisha duduk di tepi tempat tidur.

Ponselnya masih berada di tangan.

Ia menatap layar cukup lama.

Pikirannya terus memutar percakapan tadi.

Tiba-tiba matanya tertuju pada sebuah foto yang tersimpan di galeri ponselnya.

Foto seorang gadis.

Alisha Pratiwi.

Foto itu ia ambil diam-diam beberapa waktu lalu.

Ia menatap wajah gadis itu dengan tatapan tajam.

Beberapa kata dari percakapan orang tuanya kembali teringat.

“Ada kemungkinan Alisha Pratiwi adalah anak kita.”

Dada Alisha terasa sesak.

Tidak.

Ia tidak akan menerima itu.

Ia yang selama ini hidup sebagai putri keluarga Mahendra.

Ia yang dikenal semua orang.

Ia yang memiliki semuanya.

Tidak mungkin semua itu tiba-tiba diambil darinya.

Alisha berdiri perlahan.

Tatapannya masih tertuju pada foto di layar ponselnya.

“Tidak,” gumamnya pelan.

Ia tidak akan membiarkan siapa pun merebut tempatnya.

Ia mengambil napas panjang.

Lalu membuka daftar kontak di ponselnya.

Sebuah nomor ia pilih.

Telepon langsung tersambung setelah beberapa kali nada panggil.

Suara seorang pria terdengar dari seberang.

“Ya?”

Alisha berbicara dengan suara dingin.

“Hallo.”

“Aku ingin kalian mengawasi seseorang.”

Pria itu langsung menjawab singkat.

“Siapa?”

Alisha menekan layar ponselnya lalu mengirim sebuah foto.

Foto Alisha Pratiwi.

Beberapa detik kemudian pria itu kembali berbicara.

“Kami sudah menerima fotonya.”

Alisha menatap layar ponselnya tanpa ekspresi.

“Awasi dia.”

Ia berhenti sejenak.

Tatapannya berubah tajam.

“Kalau sudah waktunya…”

Suaranya terdengar lebih pelan.

“…singkirkan dia.”

Telepon langsung ia tutup.

Alisha berdiri diam di tengah kamar.

Matanya kembali menatap halaman rumah.

Rumah besar keluarga Mahendra.

Tempat yang selama ini ia sebut sebagai rumahnya.

#bersambung

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!