Rubellite Valtia hanyalah seorang "Putri Palsu" yang haus akan kasih sayang Kaisar. Namun, kesetiaannya dibalas dengan hukuman mati di tangan ayahnya sendiri.
Kembali ke masa lalu saat ia masih berusia delapan tahun, Rubellite bersumpah tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Namun, setiap kali ia berusaha menjauh, bayang-bayang masa lalu dan pertanyaan yang belum terjawab terus menghantuinya: Mengapa Ayah begitu membenciku?
Di tengah konspirasi istana dan trauma yang mendalam, Rubellite harus memilih: Benar-benar pergi, atau sekali lagi mencoba menembus hati sang Kaisar yang sedingin es meski risikonya adalah kematian kedua?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ChikoGin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 17: Bangkitnya Sang Mawar Valtia
Suara pintu jati yang berat itu akhirnya tertutup dengan dentuman pelan, meninggalkan gema langkah Valerius yang perlahan menghilang di lorong sunyi. Rubellite tetap berdiri mematung di tengah kamarnya yang luas. Cahaya lampu kristal di langit-langit memantulkan bayangan tubuhnya yang kaku di atas lantai marmer, sementara napasnya mulai teratur meski dadanya masih terasa sesak oleh amarah yang membeku.
"Anna," panggil Rubellite dengan suara rendah namun tajam, memecah keheningan ruangan itu.
Pintu besar itu terbuka kembali. Anna melangkah masuk dengan terburu-buru, wajahnya tampak sangat pucat. Ia segera menutup pintu rapat-rapat, memastikan tidak ada telinga pengawal yang menguping di lorong, lalu menghampiri Rubellite dengan tangan yang saling meremas gelisah di depan tubuhnya.
"Nona... hamba di sini," bisik Anna, suaranya hampir hilang karena cemas melihat perubahan aura Rubellite yang begitu drastis. Ia berdiri beberapa langkah di depan Rubellite, menanti instruksi dengan setia. "Hamba mendengar semuanya dari luar. Valerius... bagaimana bisa dia bersikap setega itu setelah semua penantian Nona? Padahal dia tahu betapa Nona mengharapkannya kembali malam ini."
Rubellite perlahan membalikkan badannya, menatap Anna dengan sorot mata yang kini sepenuhnya dingin dan penuh perhitungan. "Dia sudah memilih jalannya sendiri, Anna. Dan pilihannya adalah membawa wanita itu ke hadapanku tepat di hari kedewasaanku. Pria itu bukan lagi sosok yang kita kenal dulu."
Anna menunduk dalam, mencoba menjaga sikapnya agar tetap tegak demi mendampingi sang Putri. "Apa pun perintah Nona, hamba akan melaksanakannya. Nona tahu hamba akan selalu berada di pihak Nona."
"Aku tahu, Anna. Karena itulah, aku butuh bantuanmu sekarang," Rubellite melangkah menuju meja riasnya, jemarinya menyentuh permukaan kayu yang halus namun matanya tetap tertuju pada pantulan Anna di cermin. "Ayahanda sudah menempatkan Shiera di Paviliun Mawar Putih. Aku tidak bisa membiarkan wanita itu merasa terlalu nyaman di sana sementara dia merencanakan sesuatu untuk merebut posisiku."
"Apa yang harus hamba lakukan, Nona?" tanya Anna, kini suaranya terdengar lebih mantap.
"Pergilah menemui Kepala Pelayan Gretta sekarang juga. Gunakan otoritas kedewasaanku yang baru saja diumumkan oleh Kaisar," Rubellite memberikan jeda sejenak, menyunggingkan senyum tipis yang terasa sangat berbahaya. "Katakan pada Gretta bahwa aku ingin 'menyambut' tamu istimewa Ayahanda dengan memilihkan pelayan pribadinya sendiri. Tugaskan Hilda dan Martha untuk melayani Shiera."
Anna mengerutkan kening sejenak, mencoba mengingat sosok dua pelayan yang disebutkan Rubellite. "Hilda yang sering ceroboh dan Martha yang... mulutnya tidak bisa berhenti bercerita di dapur bawah, Nona? Mengapa Anda memberikan mereka pada tamu agung Kaisar?"
"Justru itu tujuannya, Anna," desis Rubellite. "Aku ingin Shiera merasa tidak nyaman dengan pelayanan yang kacau tanpa aku harus turun tangan secara langsung. Biarkan mulut Martha menyebarkan setiap detail memalukan tentang siapa sebenarnya wanita itu ke seluruh penjuru istana sebelum matahari terbit besok pagi. Dan biarkan kecerobohan Hilda membuat Shiera terlihat seperti beban yang merepotkan di mata Ayahanda."
Anna langsung menangkap maksud strategis Rubellite. Sebuah anggukan kecil ia berikan sebagai tanda kepatuhan mutlak. "Hamba mengerti, Nona. Martha akan memastikan seluruh penghuni istana tahu siapa Shiera sebenarnya, dan hamba sendiri akan tetap menjadi mata dan telinga Nona di sana. Tidak akan ada satu pun informasi yang luput dari pengawasan hamba."
Rubellite mengangguk puas, merasa sedikit lebih tenang karena memiliki sekutu yang paling jujur di sisinya. "Terima kasih, Anna. Pergilah sekarang sebelum malam semakin larut."
Keesokan paginya, matahari musim semi menyelinap masuk melalui celah jendela, namun tidak ada kehangatan yang dirasakan Rubellite. Ia bangun lebih awal, membiarkan Anna membantunya mengenakan gaun sutra berwarna biru tua yang elegan namun tertutup rapat—sebuah warna yang melambangkan ketenangan sekaligus jarak.
Rubellite melangkah keluar dari kamarnya, menyusuri lorong panjang menuju ruang makan utama. Ia berjalan dengan punggung tegak dan dagu terangkat, persis seperti yang ia lakukan setiap hari selama bertahun-tahun. Namun, ada satu hal yang terasa sangat berbeda pagi ini.
Biasanya, setiap pelayan yang berpapasan dengan Rubellite akan berhenti sejenak, menunduk dalam, dan menyapanya dengan nada penuh hormat. Namun kali ini, suasana lorong itu mendadak sunyi saat ia lewat. Para pelayan yang sedang membersihkan pilar atau membawa nampan perak segera memalingkan wajah. Mereka seolah-olah mendadak sibuk dengan pekerjaan masing-masing, menghindari kontak mata dengan Rubellite. Tidak ada sapaan, tidak ada senyum. Mereka menatap lantai atau dinding, seolah-olah kehadiran Rubellite adalah sesuatu yang tidak ingin mereka saksikan.
Rubellite menyadari perubahan itu. Ia bisa merasakan tatapan-tatapan rahasia yang menusuk punggungnya saat ia sudah lewat, diiringi bisik-bisik yang langsung terhenti ketika ia menoleh. Dunia yang ia kenal selama ini telah bergeser porosnya hanya dalam satu malam.
"Nona..." Anna yang berjalan di belakangnya berbisik pelan, suaranya mengandung kecemasan yang tertahan.
"Tetap berjalan, Anna," perintah Rubellite dengan nada datar yang tidak bisa dibantah. "Biarkan mereka menunduk. Semakin mereka takut menatapku, semakin mudah bagi kita untuk melihat siapa yang benar-benar setia."
Saat ia tiba di depan pintu ruang makan utama, dua pengawal segera membuka pintu besar itu. Di dalam, suasana terasa jauh lebih menyesakkan. Meja panjang jati itu sudah terisi. Kaisar Volrantz duduk di kursi kepala meja dengan wibawa yang menekan. Di sisi kanannya, Caspian duduk dengan wajah tenang namun sulit ditebak, sementara Scarlet di sampingnya tampak sibuk memainkan sendok peraknya dengan senyum tipis yang meremehkan.
Tepat di hadapan mereka, duduklah Shiera—wanita berambut putih itu tampak sangat kontras dengan gaun sutra polosnya yang memancarkan kesan rapuh. Valerius berdiri tegak di belakang kursi Shiera, seolah-olah ia adalah pelindung pribadi yang tidak akan membiarkan siapa pun menyentuh wanita itu.
"Duduklah, Rubellite," suara Kaisar Volrantz bergema pelan, memecah kesunyian yang mencekam.
Rubellite menarik kursinya dengan gerakan anggun, tanpa menimbulkan suara sedikit pun di atas lantai marmer. Ia memberikan penghormatan singkat kepada ayahnya sebelum duduk di tempat biasanya.
"Terima kasih, Ayahanda," ucap Rubellite tenang. Matanya sempat melirik ke arah Caspian dan Scarlet. Caspian hanya menatapnya sejenak dengan sorot mata yang rumit sebelum kembali fokus pada cangkir tehnya. Ia adalah kakak laki-laki yang sebenarnya baik, namun konflik masa lalu membuat hubungan mereka mendingin dan berjarak. Berbeda dengan Scarlet yang menatapnya dengan binar kemenangan yang tidak disembunyikan.
"Jamuan pagi ini mungkin terasa berbeda," Volrantz memulai, matanya kini tertuju sepenuhnya pada Shiera. "Tapi pagi ini, aku ingin kita berkumpul sebagai keluarga. Hari ini adalah jamuan penyambutan untuk kembalinya darah asli Valtia yang telah lama hilang. Shiera bukan lagi sekadar tamu, dia adalah bagian dari garis keturunan ini."
Scarlet tertawa kecil, suara denting yang menyakitkan telinga. "Sungguh mengharukan, bukan? Bayangkan, selama ini kita menganggap Mawar Valtia adalah yang paling istimewa," ia melirik Rubellite dengan tatapan penuh kebencian karena ia selalu menganggap Rubellite hanyalah darah rakyat jelata yang tidak layak, "ternyata ada permata yang jauh lebih murni yang baru saja ditemukan oleh Valerius."
Caspian menyesap anggurnya, matanya tidak lepas dari Rubellite namun ia memilih tetap diam. Ia tidak ingin memperkeruh suasana, meskipun hatinya tidak sepenuhnya setuju dengan cara Scarlet merendahkan saudari mereka.
Rubellite tetap diam, jemarinya memegang pisau makan dengan stabil. Ia bisa merasakan tatapan Valerius yang menusuk ke arahnya, namun ia menolak untuk membalasnya. Pengabaian para pelayan di lorong tadi sekarang masuk akal. Mereka sudah tahu arah angin berhembus. Mereka tahu bahwa posisi Rubellite sedang berada di ujung tanduk karena kehadiran anak asli sang Kaisar.
"Shiera," panggil Volrantz dengan nada yang jauh lebih lembut. "Jangan takut. Mulai hari ini, istana ini adalah rumahmu. Valerius telah menjamin keselamatanmu dengan nyawanya."
Shiera mendongak pelan, matanya yang biru tampak berkaca-kaca. "Terima kasih, Yang Mulia. Saya... saya hanya tidak ingin merepotkan siapa pun, terutama Putri Rubellite."
Mendengar namanya disebut, Rubellite meletakkan serbetnya di pangkuan. Ia tersenyum tipis, sebuah lengkungan bibir yang sangat sopan namun mematikan.
"Tentu saja kau tidak merepotkan, Shiera," suara Rubellite terdengar sangat jernih. "Sebagai putri yang sudah lama tinggal di sini, aku justru merasa terhormat bisa membimbing saudara baru sepertimu. Istana ini memiliki banyak lorong gelap dan aturan yang rumit. Tanpa bimbingan yang tepat, seseorang yang baru datang bisa saja tersesat... atau terjatuh."
Suasana meja makan itu mendadak membeku. Valerius tampak mengerutkan kening, sementara Kaisar Volrantz menatap Rubellite dengan mata merahnya yang berkilat tajam.
Scarlet mendengus sinis, matanya menyipit saat menatap Rubellite. "Bimbingan? Kau bicara seolah-olah kau memiliki otoritas yang setara dengan darah murni kami. Ingatlah, Rubellite, kau hanyalah mawar yang dipungut dari tanah panti asuhan yang kotor. Kau beruntung Ayahanda memberikanmu nama Valtia, tapi jangan pernah lupa bahwa di bawah gaun mahalmu itu, kau tetaplah rakyat jelata yang tidak punya tempat di antara kami."
Caspian meletakkan cangkirnya dengan sedikit dentuman, matanya menatap Scarlet dengan tajam. "Scarlet, hentikan. Tidak perlu menyerang asal-usulnya di depan makanan. Rubellite sudah menjadi bagian dari keluarga ini selama bertahun-tahun atas izin Ayahanda."
"Hanya karena dia berguna sebagai pajangan diplomatik, Kak Caspian!" balas Scarlet tidak mau kalah. "Tapi sekarang permata yang asli sudah kembali. Untuk apa kita masih mempertahankan imitasi yang hanya merusak pemandangan?"
Rubellite tetap tenang, meskipun hatinya terasa seperti dicabik oleh kata-kata Scarlet yang tidak pernah berubah sejak dulu. Ia melirik ke arah Valerius yang hanya diam membeku di tempatnya. Pria itu bahkan tidak membuka mulut untuk membela Rubellite, padahal dulu ia adalah orang yang selalu berkata bahwa status tidaklah penting.
Tanpa mengubah ekspresi wajahnya yang anggun, Rubellite meletakkan sendok peraknya secara perlahan. Ia tidak ingin menghabiskan sedetik pun lebih lama di ruangan yang penuh dengan racun ini. Ia segera berdiri, membuat seluruh pasang mata di meja itu beralih padanya.
"Mohon maaf jika hamba menyela jamuan yang berharga ini, Yang Mulia Ayahanda," ucap Rubellite sambil memberikan penghormatan yang paling sempurna dan kaku. "Tiba-tiba hamba merasa sedikit kurang sehat, mungkin karena angin malam kemarin. Jika diizinkan, hamba ingin mengundurkan diri lebih awal untuk beristirahat di kamar."
Kaisar Volrantz menatap putrinya dengan mata merah yang tidak terbaca emosinya. Ia terdiam sejenak, seolah-olah sedang menimbang apakah Rubellite benar-benar sakit atau hanya ingin melarikan diri dari tekanan Scarlet.
"Pergilah," jawab Volrantz singkat tanpa menoleh. "Jaga kesehatanmu, Rubellite. Karena besok tugasmu untuk membimbing Shiera tetap harus dijalankan."
"Hamba mengerti, Ayahanda. Terima kasih atas kemurahan hati Anda," Rubellite membungkuk sekali lagi.
Ia berbalik dengan gerakan yang sangat elegan, gaun biru tuanya menyapu lantai marmer dengan suara desis yang halus. Anna segera mengikuti di belakangnya dengan langkah cepat. Rubellite berjalan melewati barisan pelayan yang masih tetap menunduk dan berpaling, namun kali ini ia tidak peduli.
Begitu pintu ruang makan tertutup di belakangnya, langkah Rubellite semakin cepat. Ia tidak menuju ke kamarnya, melainkan terus berjalan menuju lorong yang lebih sepi.
"Nona, apakah Anda benar-benar sakit?" tanya Anna dengan nada khawatir saat mereka sudah cukup jauh dari ruang makan.
Rubellite berhenti sejenak, mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku jarinya memutih. "Tidak, Anna. Aku hanya tidak bisa bernapas di sana. Setiap detik yang kuhabiskan bersama mereka adalah racun bagi kewarasanku."
Rubellite terus melangkah, sepatunya mengetuk lantai marmer dengan irama yang cepat dan konstan. Ia tidak menoleh ke belakang, namun telinganya yang tajam menangkap suara langkah kaki lain yang jauh lebih berat dan mantap. Langkah itu tidak terburu-buru, namun jelas sedang mengikutinya.
"Nona, sepertinya seseorang..." bisik Anna dengan waspada.
"Aku tahu, Anna. Berhenti di sini," perintah Rubellite pelan.
Mereka berhenti di sebuah balkon terbuka yang menghadap ke taman labirin istana. Angin musim semi yang dingin menerpa wajah Rubellite, sedikit mendinginkan sisa amarah yang membara di dadanya. Tak lama kemudian, sosok jangkung dengan jubah perak khas pangeran muncul dari balik pilar.
Caspian berdiri di sana. Ia tidak membawa pedang atau pengawal, hanya sepasang mata biru yang menatap Rubellite dengan sorot mata yang sulit diartikan—campuran antara rasa kasihan dan penyesalan yang tertahan.
"Kau selalu pandai melarikan diri dari situasi yang menyesakkan, Rubellite," ucap Caspian dengan suara rendah. Ia melangkah mendekat, namun berhenti pada jarak yang cukup sopan.
Rubellite membalikkan badannya, memberikan penghormatan singkat yang sangat formal. "Hamba hanya tidak ingin merusak suasana hati Yang Mulia Ayahanda dengan wajah hamba yang kurang sehat, Kak Caspian. Bukankah itu yang diinginkan Scarlet juga?"
Caspian menghela napas panjang, menyandarkan punggungnya pada pagar balkon yang dingin. "Kau tahu Scarlet memang bermulut tajam sejak dulu. Dia merasa terancam dengan keberadaanmu, dan sekarang dengan adanya Shiera, dia merasa memiliki sekutu alami untuk menyingkirkanmu."
"Dan Anda, Kak? Di mana posisi Anda dalam papan catur ini?" tanya Rubellite tajam, matanya menatap langsung ke mata kakaknya.
Caspian terdiam sejenak, menatap hamparan taman di bawah mereka. "Aku bukan bagian dari rencana Scarlet, tapi aku juga tidak bisa terang-terangan membantumu di depan Ayahanda. Kau tahu posisiku sulit sejak konflik di perbatasan Barat tahun lalu. Ayahanda sedang mencari alasan untuk menguji kesetiaanku."
Ia melangkah satu tindak lebih dekat, suaranya merendah hingga hanya Rubellite yang bisa mendengar. "Hati-hatilah, Adikku. Kedatangan Shiera bukan sekadar kembalinya anak yang hilang. Ada alasan mengapa Valerius menemukannya tepat saat kau merayakan kedewasaanmu. Ayahanda tidak hanya menginginkan darah asli, dia menginginkan 'sesuatu' yang dibawa wanita itu."
Rubellite menyipitkan matanya. "Sesuatu? Apa maksud Anda?"
"Aku belum bisa memastikannya, tapi jangan percayai apa pun yang tampak lemah dan suci di istana ini," Caspian merogoh saku jubahnya dan mengeluarkan sebuah lencana perak kecil berpola burung elang, lalu menyerahkannya pada Rubellite. "Gunakan ini jika kau butuh akses ke arsip rahasia di perpustakaan bawah tanah tanpa sepengetahuan pengawal Ayahanda. Anggap saja ini sebagai bentuk permintaan maafku karena hanya bisa diam di meja makan tadi."
Rubellite menerima lencana dingin itu, merasakan berat logamnya di telapak tangan. "Mengapa Anda membantuku sekarang, Kak? Padahal selama setahun ini kita bahkan tidak saling bicara."
Caspian memberikan senyum tipis yang pahit sebelum berbalik pergi. "Karena mawar yang berduri lebih baik daripada melati yang beracun. Dan aku lebih suka melihatmu tetap tegak daripada melihat istana ini jatuh ke tangan seseorang yang tidak kita kenal."
Begitu Caspian menghilang di tikungan lorong, Rubellite menggenggam lencana itu kuat-kuat.
"Anna," panggil Rubellite tanpa menoleh.
"Ya, Nona?"
"Simpan ini baik-baik. Sepertinya Kak Caspian baru saja memberiku kunci untuk membongkar siapa Shiera sebenarnya sebelum aku membawanya ke hadapan Dewan Klan besok."