Olivia Nugraha, gadis 18 tahun yang baru lulus SMA, terpaksa menggantikan kakaknya, Olin, untuk menikah dengan Juna demi menjaga nama besar keluarga mereka. Ia mencoba melawan, namun Oma selalu selangkah lebih maju. Pernikahan tetap terjadi.
Sementara itu, keberadaan Olin masih menjadi tanda tanya. Benarkah ia kabur? Atau ada alasan lain di balik menghilangnya? Dan mengapa namanya kembali disebut saat ia resmi menjadi bagian dari dinasti?
Karena mungkin… Olivia tidak pernah benar-benar dipilih untuk menggantikan Olin, tapi ia dipilih karena seseorang sudah mengincarnya sejak awal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayyun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Pria itu menatap Olivia yang mendadak terdiam.
“Ada apa?” tanyanya pelan.
Olivia tersadar. Ia mematikan layar ponselnya dengan cepat. “Nggak ada apa-apa,” jawabnya ringan, lalu mengalihkan pandangan ke luar jendela butik, seolah lebih menarik daripada pesan misterius yang baru saja ia baca.
Padahal jantungnya berdetak tidak wajar. Pesan itu singkat.
Hati-hati dengan apa yang kamu lakukan.
Tidak ada yang menjamin semua kebaikan itu berbalas baik
Siapa sih yang mengirimnya? Dan bagaimana orang itu tahu? Namun seperti biasa, Olivia memilih bersikap tenang.
Mereka pun kembali ke kampus dan berpisah di parkiran. Pria itu berjalan ke arah gedung fakultasnya tanpa banyak tanya. Olivia memperhatikannya sekilas sebelum akhirnya melangkah menuju gedung tempat Juna berada.
Ia sudah menebak. Juna pasti sudah tahu. Karena Juna selalu tahu. Sebelum masuk, Olivia menyuruh sopirnya membeli kopi. Ia butuh sesuatu untuk menenangkan pikirannya—atau setidaknya memberi alasan agar terlihat biasa saja.
Saat tiba di lantai khusus tamu penting, Olivia sedikit tertegun. Ruang tunggu VIP. Interiornya elegan. Sofa kulit gelap, meja marmer, aroma kopi mahal yang samar. Lampu gantung minimalis memantulkan cahaya lembut di dinding kaca.
“Di kampus ada beginian juga?” gumamnya lirih.
Pintu ruangan terbuka. Juna duduk santai di kursi utama, kaki bersilang, jasnya tetap rapi seperti biasa. Wajahnya tenang. Terlalu tenang.
“Sudah selesai dari… rest room?” tanyanya ringan, nada suaranya bercampur gurauan tipis. “Rest room mana yang lu datangi sampai berjam-jam begitu?”
Olivia mengangkat bahu. “Yang mana aja. Asal bukan yang di ruangan ini.”
Jawaban datar. Tanpa rasa bersalah. Juna tersenyum kecil. Tapi matanya tidak ikut tersenyum.
Ia sudah menerima laporan lengkap. Dari awal Olivia menarik pria itu keluar kafe. Ke mall. Ke butik. Sampai kembali ke kampus. Semua. Namun ia memilih bermain peran.
“Lama juga,” katanya sambil berdiri. “Beli kopi?”
“Lagi dibeliin,” jawab Olivia singkat, datar dan berusaha untuk tidak kaget dengan pertanyaan Juna.
Tak ada yang menyebut soal pria lain. Tak ada yang menyebut soal mall. Tak ada yang menyebut pesan misterius. Tapi udara di antara mereka terasa lebih berat dari biasanya.
Sore mulai turun ketika mereka memutuskan pulang. Olivia berjalan lebih dulu menuju parkiran VIP. Juna beberapa langkah di belakangnya, sambil menerima panggilan singkat.
Suara mesin motor besar tiba-tiba meraung, memecah kesunyian parkiran. Sebuah moge hitam melintas cepat di jalur keluar. Besar. Mahal. Gagah. Olivia yang sedang melangkah tanpa melihat hampir saja tersenggol.
“Liv!” Juna refleks berseru.
Motor itu mengerem halus, berhenti hanya beberapa meter dari Olivia. Hening. Pengendara itu membuka kaca helmnya.
Perlahan. Olivia membeku, tatapan itu. Tajam. Dingin. Intens. Ia hafal. Napasnya tercekat. Dia…
Hanya sepersekian detik mata mereka bertemu. Begitu memastikan Olivia tidak apa-apa, pria bermoge itu menurunkan kembali kaca helmnya.
Tanpa sepatah kata. Tanpa penjelasan. Mesin meraung lagi dan motor itu melaju pergi. Olivia masih berdiri kaku, jantungnya seperti dipukul keras dari dalam.
Juna sudah berdiri tepat di belakangnya sekarang. “Lu nggak apa-apa?” tanya Juna pelan.
Olivia tidak menjawab.
...***...
Malam itu sunyi. Lampu meja di ruang kerja pribadi mereka menyala temaram, memantulkan cahaya ke tumpukan berkas di hadapan Olivia. Rambutnya digulung asal. Sesekali ia mengerutkan dahi, menandatangani, lalu mengetik catatan kecil sebelum mengirim file ke email Juna.
Seperti biasa. Ia tidak pernah benar-benar menyerahkan keputusan tanpa meminta pendapatnya.
Beberapa menit kemudian, Juna yang duduk di sofa panjang membuka laptopnya. File dari Olivia sudah masuk. Ia membaca dengan saksama. Menggeser halaman. Mengangguk pelan.
“Semua sudah oke,” katanya akhirnya. “Revisinya tepat. Analisisnya juga bagus.”
Olivia menoleh, matanya berbinar. “Serius?”
“Serius.” Juna menutup laptopnya. “Untuk ukuran anak lulusan SMA, ini udah lebih dari cukup.”
Olivia tertawa kecil. “Anak lulusan SMA juga bisa pintar, tau.”
“Ya, ya.” Juna menggelengkan kepala, senyum tipis menghiasi wajahnya. “Lu cepat belajar.”
Olivia bersandar di kursi, menyilangkan tangan dengan bangga. “Iya dong, gue emang terlahir hebat.”
“Lu muji diri sendiri?”
“Kenapa nggak?” jawabnya ringan.
Juna hanya tersenyum, menggeleng lagi.
Senyum Olivia perlahan memudar, ada satu hal yang tiba-tiba mengganjal di dadanya. Ia memain-mainkan pulpen di jarinya sebelum akhirnya bertanya, suaranya terdengar santai—terlalu santai.
“Kak…”
“Hm?”
“Ada kabar terbaru soal Kak Olin?”
Nama itu menggantung di udara. Juna tidak langsung menjawab.
Olivia menatapnya. “Lu ngerasa kehilangan nggak sih?”
Hening.
“Lu masih cinta kan?”
Pertanyaan itu lebih pelan. Lebih jujur. Olivia tahu sejarah mereka. Semua orang tahu. Juna dan Oliana—kakaknya—berpacaran bertahun-tahun sejak masa kuliah. Saat itu Olivia masih anak SMP yang bahkan belum paham arti patah hati.
Mereka pasangan yang sempurna. Setidaknya dulu.
Juna menarik napas pelan. “Olin bagian dari masa lalu yang penting,” jawabnya tenang. “Perasaan tidak bisa dihapus begitu saja. Tapi hidup berjalan, Olivia.”
Jawaban yang dewasa. Bijak. Terkontrol.
“Tapi lu masih cinta?” desak Olivia.
Juna menatapnya. “Cinta nggak selalu berarti memiliki.”
Kalimat itu lembut. Namun justru karena lembut, ia terasa lebih menyakitkan. Olivia tersenyum kecil, tapi matanya berbeda. Ia bisa menyimpulkan sendiri.
Juna mungkin sudah memilih bertahan. Sudah memilih tanggung jawab. Tapi perasaannya pada Oliana… tidak benar-benar hilang.
Olivia menunduk sebentar, lalu kembali menatapnya. Kali ini tanpa bercanda.
“Kalau suatu hari Kak Olin balik…”
Juna tidak bergerak.
“Kalau dia pulang dan bilang masih cinta sama lu…”
Suara Olivia nyaris bergetar, tapi ia menahannya. “Apa lu balik sama kak Olin, kak?”
Hening menyelimuti ruangan. Dan pertanyaan terakhir itu keluar seperti peluru yang tak bisa ditarik kembali.
“Apa lu bakal ceraiin gue… untuk kak Olin?”
Tatapan mereka bertemu. Dan untuk pertama kalinya, Juna tidak punya jawaban.