Dafsa Ramadan (30 tahun), ASN biasa aja yang siangnya sibuk urusan negara dan sorenya membuka lapak biro jodoh di Blok M. Tangannya “dingin” soal jodoh. Banyak testimoni pasangan yang ia jodohkan nyaris selalu berhasil.
Sampai satu anomali bernama Arcila Astoria (31 tahun) datang.
Seorang CEO perempuan yang cerdas, tajam, cepat bosan, dan mengalami emosi malfungsi minta dicarikan jodoh. Arcila terpaksa kesana karena Ayahnya mengancam akan menjodohkannya sama duda anak lima kalau sampai tahun ini belum menikah.
Dafsa mulai bekerja. Memasangkan dengan banyak kandidat unggulan, tapi semua pria yang ditawarkan ke Arcila gagal total. Bukan karena mereka nggak layak, tapi karena Arcila emang dari awal nggak pernah benar-benar niat cari jodoh.
Untuk pertama kalinya Dafsa merasa ini mustahil. Dan tanpa disadari malah dia sendiri yang mulai terjebak perasaan absurd itu.
Cover Ilustrasi by ig pixysoul
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rain (angg_rainy), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Dafsa dan Arcila tiba di rumah Suseno setelah menempuh perjalanan sekitar 20 menit. Agak lama dari yang seharusnya. Itu dikarenakan kondisi jalanan ibu kota beneran rame banget. Katanya ada event di mall deket rumah Suseno, jadi mereka harus nyari jalan pintas.
Untung aja selama perjalanan, Arcila nggak aneh-aneh. Dia nggak lagi ngomong ini dan itu soal gimana caranya Dafsa bersikap di depan keluarganya. Arcila 'kan udah tahu Dafsa bisa banget diandelin.
"Selamat datang calon mantu," sambut Hani dengan tangan terbuka.
Tau nggak, gimana muka Dafsa waktu ngeliat penampilan Hani? Dia melongo, nggak nyangka ternyata Hani punya selera fashion sama hebohnya kayak Arcila. Dafsa jadi mikir lagi, beneran 'kan acaranya cuma di rumah Suseno? Bukan di tepi pantai? Soalnya Hani juga pake dress bunga-bunga.
"Assalamualaikum, Tante," balas Dafsa ramah, nggak lupa cium tangan Hani, bersikap kalau dia beneran calon mantu idaman.
"Waalaikumsalam. Ya ampun, tiap ngelihat kamu, Daf, hati Tante rasanya legaaaaa sekali. Kamu ini berhasil jadi warna baru di keluarga kami."
Dafsa cuma nyengir, tapi sebentar aja, soalnya dia dibuat kaget lagi sama tingkah Arcila yang tiba-tiba aja ngeluarin banyak barang dari bagasi mobil.
"Mah, ini buah tangan dari Mas Dafsa," kata Arcila, yang udah pasti penuh dusta.
Dafsa bengong, terus nelen ludah. ‘Buah tangan apanya? Aku nggak bawa apa-apa,’ ucapnya dalam hati, tapi buru-buru ngambil alih semua barang itu.
Kayaknya, Arcila emang sengaja bikin citra Dafsa tambah bagus lagi di depan keluarganya. Inilah yang bikin Dafsa ngerasa bebannya bertambah. Arcila seolah-olah pengen Dafsa jadi suaminya. Iya, suami beneran, bukan lagi sekadar pacar bohongan.
"Masya Allah, Nak Dafsa, kenapa repot-repot bawa oleh-oleh segala?" Ratna keluar dari rumah, kelihatan takjub banget sama bawaan Dafsa.
"Eh, Nek, apa kabar? Sehat?" Dafsa langsung nyapa, gugup banget karena dia tahu Ratna ini sebelas-dua belas sama Suseno. Sama-sama suka nanya-nanya.
"Alhamdulillah Nenek sehat. Bahkan sekarang tambah sehat waktu tau kamu jadi dateng ke sini."
Dafsa nyengir sebentar. Dia masuk ke rumah Suseno bareng tiga perempuan beda generasi. Rasanya kayak diapit menuju kursi interogasi.
"Santai aja, Mas," bisik Arcila, yang secara nggak sadar baru aja embusin napas panas di telinga Dafsa. Tiupan angin itu bikin Dafsa sedikit merinding.
"Jangan kikuk, kalau bisa pegang tangan saya." Arcila ngasih arahan waktu Hani sama Ratna pamit ke dapur.
Dafsa nggak ngangguk, tapi dia raih tangan Arcila. Dafsa nggak sadar lagi ngukur tangan mereka berdua, perbandingannya kelihatan jelas. Tangan Arcila lebih putih, jemarinya lentik, ada cincin di jari tengahnya.
Ekhem!
Deheman itu bikin Dafsa ngangkat pandangan. Dia masang senyum waktu Rama sama Suseno dateng ke ruang keluarga. Dia kayak lagi kepergok mesra-mesraan, padahal cuma lagi ngeliatin tangan Arcila aja, sekaligus menghindar dari obrolan nggak jelas yang selalu dibawa Arcila.
"Kalian makin romantis, ya." Suseno adalah orang pertama yang berkomentar. Nadanya bukan lagi nyindir, tapi beneran seneng sama kemajuan cucu semata wayangnya.
Kapan lagi bisa ngeliat Arcila kayak perempuan normal lainnya yang nggak lagi ngomongin kerjaan kalau mereka lagi kumpul? Ya ... meskipun yang baru aja dilihat Suseno bukan adegan mesra-mesraan, tapi itu udah tergolong manis. Cukuplah bikin hatinya seneng.
"Biasanya Mas Dafsa lebih romantis dari ini, Kek," Arcila nggak cuma ngomong pake nada manja, tapi dia juga udah ngelakuin aksi nyata. Dia gelendotan di lengan Dafsa, nggak tau yang namanya malu.
Inilah yang dimau sama keluarganya. Mereka pengen Arcila nggak cuma fokus kerja, tapi juga fokus nyari suami. Ah, untung aja Arcila ketemunya sama Dafsa yang paket lengkap.
Iya, Arcila nggak mau nyangkal kalau Dafsa itu sempurna. Baik itu dari segi fisik, otak, sampai tingkah laku. Yang kurang dari Dafsa cuma sering bengong aja. Arcila wajar, toh Dafsa lagi berusaha adaptasi.
"Bicarakan sekarang sama Dafsa, Pa," kata Rama kelihatan nggak sabar.
Dafsa deg-degan lagi, apalagi waktu keluarga Arcila kumpul semua. Cuma keluarga inti, tapi aura mereka emang nggak bisa bohong. Dafsa jadi ngerasa kecil, padahal dia punya banyak kelebihan yang selalu diakui Rama sama Suseno. Dafsa cuma harus lebih percaya diri aja.
"Soal apa ya, Om?" tanya Dafsa setelah neguk minuman dingin yang dibawa Hani.
"Katanya Kakek kenal sama almarhum kakek kamu, Daf," ungkap Rama dengan senyum. Binar bahagia di matanya nggak bisa disembunyiin.
"Maksudnya bagaimana ya, Om? Bagaimana bisa kenal? Kakek saya itu bukan pengusaha."
"Apa harus jadi pengusaha dulu untuk saling kenal, Daf?" Suseno bertanya santai. Dia udah nggak sabaran pengen bilang sama Dafsa, kalau mendiang kakek Dafsa yang bernama Yahya adalah salah satu temen deketnya. Dulu mereka pernah ada di satu sekolah yang sama, kelas yang sama, bahkan di satu meja yang sama.
Suseno ceritain semuanya tanpa kebohongan, yang mana semua cerita itu bikin Dafsa melongo lagi. Dan sekarang, Arcila juga ikut-ikutan.
"Kek, yang bener? Kakek ada bukti?" tanya Arcila.
"Ada. Makanya Kakek berani ngomong begini. Ditambah, Kakek udah memastikan sendiri semuanya sama Dafsa."
"Maaf, Kek, saya masih belum paham." Dafsa ngomong jujur, takutnya ada kesalahpahaman.
"Kamu bilang kakek kamu pernah jadi guru madrasah, kan? Nah, dulu sebelum Kakek bisa seperti sekarang, Kakek pernah menitipkan Rama sama almarhum Yahya. Cuma tiga bulan, tapi itu berhasil bikin Rama jadi lebih religius," tutur Suseno, lalu menceritakan lagi kalau sebagian sawah milik Yahya pernah dijual dan uangnya dipinjemin ke Suseno buat modal kerja di luar negeri.
"Waktu itu dia udah nikah duluan, tapi Kakek belum. Tapi dia berani ngasih kepercayaan sama Kakek. Setelah utang itu dikembalikan, kami ketemu lagi. Yahya udah punya anak, dan Kakek baru nikah sama Nenek Ratna," imbuh Suseno tak bisa berhenti senyum. Dia beneran seneng bisa ketemu sama cucu dari mendiang sahabatnya.
"Bertahun-tahun kemudian, yang tadi udah Kakek ceritain, Kakek nitipin Rama ke Yahya. Tiap bulan Kakek kunjungan ke rumah Yahya, tercetuslah rencana perjodohan. Awalnya cuma bercandaan aja, tapi ketika Kakek kehilangan dua anak Kakek, Yahya bilang dia serius mau jodohin keturunan kami berdua."
Dafsa geleng-geleng. Maunya sih bantah, karena dia masih nggak percaya. Emangnya ada ya, kebetulan yang bener-bener kayak udah diatur begini? Tapi beberapa detik kemudian, Dafsa udah nggak bisa ngomong apa-apa lagi, waktu Suseno nunjukin foto mendiang Yahya yang lagi berdiri di depan sekolah madrasah, di sebelahnya ada Rama remaja.
Bukan cuma foto itu, tapi ada juga foto-foto yang lain, yang menunjukkan persahabatan Suseno sama Yahya emang beneran nyata, bukan cerita fiksi yang sengaja dikarang.
Arcila nutup mulut yang ternganga dari tadi. Diem-diem dia ngelirik Dafsa, terus nyenggol lengan cowok itu. Dafsa ngedip dua kali, lumayan cepet sambil istighfar dalam hati.
"Sayangnya Kakek kamu keburu meninggal waktu kamu masih sepuluh tahun, disusul ayah kamu lima tahun kemudian. Jadi rencana perjodohan itu pasti belum sampai di telinga kamu, kan?"
Iya, sama sekali belum sampai. Dafsa yakin banget, Sri juga nggak tahu apa-apa soal ini. Sekarang masalahnya ada kasus ‘perjodohan’ segala. Dafsa rasanya pengen jerit saking sakit kepalanya.
"Sekarang yang nggak disangka-sangka, kamu datang sendiri ke sini, terus jadi pacarnya Arcila. Ini bukan kebetulan biasa, Daf, ini adalah rencana dari Tuhan. Kita lanjutkan perjodohan ini, ya? Kamu mau, kan?"
"Mas Dafsa pasti mau, Kek," jawab Arcila lebih dulu, nggak ngasih waktu buat Dafsa mikirin semuanya. "Coba aja Kakek tanyain sama Ibu Sri, soal Mas Dafsa yang udah punya rencana nikahin aku."
"Cila," panggil Dafsa sambil megang tangannya. Dia mau ngasih peringatan supaya Arcila nggak macem-macem. Tapi apa mau dikata, Arcila dengan rencana gilanya selalu selangkah lebih maju.
"Udah, Mas, kamu nggak usah malu-malu begitu. Lihat, keluarga aku udah sayang banget sama kamu. Ayo kita nikah secepatnya, supaya kita bisa menuhin amanah almarhum Kakek Yahya," tutur Arcila, nggak lupa sambil gelendotan lagi.
Dafsa makin terjebak. Arcila nggak mikir kalau pernikahan itu isinya beneran sakral. Sementara di sisi Arcila, dia udah nazar sama dirinya sendiri nggak bakal lepasin Dafsa. Udah pernah Arcila bilang, 'kan, Dafsa itu tipe sempurna? Nikah sama Dafsa bakalan bikin hidup Arcila jadi lebih mudah.
"Mas Dafsa setuju kok, Kek, dia cuma masih malu-malu," kata Arcila masih cepet, takut Dafsa ngomong langsung nggak setuju sama perjodohan ini. "Jadi kapan kita dateng ke rumah Mas Dafsa buat ngasih tau Ibu Sri?" tanyanya penuh semangat.
"Minggu depan," putus Rama. "Sampaikan sama ibu kamu ya, Daf, kami sekeluarga akan datang ke rumah kamu, untuk membicarakan hubungan kalian berdua."
Itu musibah buat Dafsa, tapi jadi anugerah tak terkira buat Arcila.
"Siap-siap jadi suamiku ya, Mas Dafsa. Kamu udah terjebak," bisik Arcila pelan, dilakuin di depan keluarganya, sekali lagi tanpa rasa malu.
Dafsa nelen ludah. Oke, dia harus nyari cara buat gagalin semua rencana ini. Tapi gimana? Dafsa bahkan nggak tega ngeruntuhin rasa bahagia empat orang tua di depannya. Dia bakalan jadi manusia paling jahat, kalau beneran bikin mereka sakit hati dan nelangsa.
Lagi, Dafsa kayak makan buah simalakama.