Sejak kecil, Lolitta telah melewati begitu banyak penderitaan hidup. Berbagai masalah bahkan menyeretnya hingga ke penjara, menempa dirinya menjadi seorang gadis yang tangguh dan mandiri. Ia selalu menyelesaikan masalah dengan kekerasan. Meski bertunangan dengan pria kaya dan tampan, Lolitta tak pernah menjadi manja atau bergantung pada tunangannya.Di
balik ketegarannya, ia menyimpan luka yang hanya bisa ia tangisi dalam diam.
Dev Zhang, seorang konglomerat berpengaruh, menerima pertunangan itu hanya demi memenuhi permintaan sang kakek. Ia tak pernah menyadari bahwa gadis yang berdiri di sisinya telah mencintainya selama sepuluh tahun. Kedekatan Dev dengan cinta pertamanya membuat Lolitta memilih menjauh dan selalu menjaga jarak, mengubur perasaannya dalam diam.
Akankah Lolitta akhirnya berani mengungkapkan perasaan yang selama ini ia pendam pada Dev Zhang?
Dan di antara Lolitta dan cinta pertamanya, siapakah yang benar-benar dicintai Dev?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Dev masih memandang gadis itu dari kejauhan. Sosok Lolitta yang berdiri di antara para pekerja, dengan pakaian sederhana dan wajah yang terkena sinar matahari, membuat hatinya terasa campur aduk.
Ia tidak tahu kenapa, tetapi melihatnya bekerja sekeras itu justru membuatnya tidak nyaman.
“Aku tidak suka dia terlalu memaksakan diri… seolah-olah dia tidak ingin bergantung padaku sama sekali,” ucap Dev pelan, matanya masih tertuju pada Lolitta.
Shane melirik sekilas ke arah gadis itu, lalu kembali menatap tuannya.
Dev terdiam sejenak, seolah sedang memikirkan sesuatu. Tak lama kemudian, ia berkata dengan nada tegas.
“Cari tahu siapa pemilik pabrik itu,” perintahnya. “Beli pabriknya. Tapi pastikan hal ini disembunyikan dari Lolitta.”
Shane sedikit terkejut, namun ia tidak menunjukkan ekspresinya terlalu jelas.
“Posisikan orang kita di pelabuhan,” lanjut Dev. “Sedangkan Lolitta tetap menjadi pengawas pabrik.”
“Baik, Tuan,” jawab Shane patuh.
Namun setelah beberapa langkah berjalan, Shane kembali membuka suara.
“Tuan, kenapa tidak langsung menjadikan Nona Fang sebagai manajer?” tanyanya hati-hati. “Dengan kemampuannya, dia masih sangat layak.”
Dev tersenyum tipis, seolah sudah memikirkan hal itu sejak awal.
“Kalau tiba-tiba langsung dinaikkan jabatannya, dia akan curiga,” jawabnya tenang. “Lolitta bukan gadis yang mengejar posisi atau uang.”
Ia kembali menatap ke arah gadis itu yang sedang berbicara tegas pada para pekerja.
“Jadi tidak bisa terburu-buru.”
Shane mengangguk mengerti.
“Setelah satu bulan,” lanjut Dev, “baru kita atur ulang posisinya.”
Nada suaranya terdengar tenang, tetapi di balik itu jelas terlihat satu hal—Dev sedang merencanakan sesuatu agar tetap bisa berada di dekat Lolitta… tanpa disadari oleh gadis itu.
***
Malam hari suasana di depan gedung apartemen terlihat cukup sepi. Lampu jalan menyala redup, sementara beberapa kendaraan sesekali melintas.
Lolitta baru saja turun dari taksi. Setelah membayar, ia melangkah menuju pintu masuk apartemennya dengan langkah santai namun lelah setelah seharian bekerja.
Saat ia hendak masuk ke dalam gedung, tiba-tiba sebuah suara memanggilnya dari belakang.
“Nona Fang!”
Lolitta menghentikan langkahnya. Alisnya sedikit berkerut sebelum ia menoleh ke belakang.
Seorang pria berdiri tidak jauh darinya. Ia mengenakan setelan rapi dan tampak seperti orang kantoran.
“Saya sedang menunggu Anda, Nona Fang,” ujar pria itu sambil berjalan mendekat dengan senyum sopan. “Bertemu dengan Anda ternyata tidak mudah.”
Pria itu lalu mengulurkan tangannya.
“Perkenalkan, nama saya Stev Yu. Panggil saja saya Stev.”
Namun Lolitta tidak menyambut uluran tangan itu. Tatapannya tetap dingin dan waspada.
“Ada apa Anda mencariku?” tanyanya datar.
Stev sedikit canggung menarik kembali tangannya, tetapi tetap mempertahankan senyum profesionalnya.
“Tuan Lou ingin bertemu dengan Anda,” jawabnya. “Ada pekerjaan yang cocok untuk Anda.”
Lolitta langsung menggeleng tanpa ragu.
“Tidak butuh,” jawabnya singkat. “Pekerjaanku sekarang sudah cukup bagus bagiku.”
Ia kembali melangkah menuju pintu apartemen. Namun Stev buru-buru memanggilnya lagi.
“Nona Fang!”
Langkah Lolitta kembali terhenti. Ia menoleh dengan ekspresi mulai tidak sabar.
“Tuan Lou hanya berniat bekerja sama dengan Anda,” kata Stev cepat. “Kemampuan Anda membuat beliau sangat tertarik.”
Lolitta menatapnya beberapa detik. Wajahnya tidak menunjukkan minat sedikit pun.
“Aku tidak tertarik,” ujarnya dingin.
“Sebagai asisten, gajinya tinggi. Bonus tahunannya juga besar,” ujar Stev mencoba meyakinkan.
Lolitta menatapnya dengan ekspresi datar.
“Asisten bagian apa?” tanyanya tajam. “Bukankah Anda sudah menjadi asistennya? Memangnya seorang direktur punya berapa asisten?”
Stev tersenyum kaku. Ia bisa merasakan bahwa gadis di depannya bukan tipe orang yang mudah dibujuk.
“Nona Fang, jangan salah paham,” jelas Stev dengan nada lebih hati-hati. “Tuan Lou hanya tertarik pada kemampuan Anda. Karena itu beliau membutuhkan tenaga Anda. Tidak ada maksud lain.”
Lolitta terdiam sejenak lalu menghela napas pendek.
“Aku tidak tertarik dengan semua itu,” jawabnya terus terang. “Berikan saja kesempatan bagus itu kepada orang lain.”
Setelah mengatakan itu, Lolitta langsung berbalik dan berjalan menuju pintu masuk apartemen tanpa ragu sedikit pun.
Stev hanya bisa menatap punggung gadis itu yang semakin menjauh.
“No…” gumamnya pelan dengan wajah pasrah.
Ia mengacak rambutnya sendiri.
“Gadis ini benar-benar sulit didekati,” gumam Stev.
Beberapa saat kemudian ia mengeluarkan ponselnya dan segera menghubungi atasannya.
Tak lama panggilan tersambung.
“Tuan,” kata Stev. “Nona Fang menolak tawaran Anda. Dia juga tidak ingin bertemu dengan Anda.”
Di seberang telepon terdengar suara pria yang tenang namun penuh keyakinan.
“Kalau begitu beli pabrik itu sekarang juga,” perintah David tanpa ragu. “Cepat atau lambat dia akan menjadi bawahanku.”
Stev terdiam sesaat mendengar keputusan itu.
“Aku tidak percaya saat itu dia masih bisa membantah,” lanjut David dengan nada percaya diri sebelum menutup pembicaraan.