Dikhianati saudari angkatnya sendiri, Su Fan — sang jenius fana pemegang rahasia Sembilan Dao Hukum Tertinggi memilih mati daripada menyerah. Namun, maut justru menjadi pintu reinkarnasi. Ia terbangun di tubuh pemuda bernama Li Fan di alam fana yang terpencil.
Ironisnya, Li Fan hanyalah pemuda biasa dengan akar spiritual normal. Bagi orang lain, itu hal biasa. Tapi bagi Su Fan yang dulu terkutuk 10.000 akar spiritual, tubuh ini adalah anugerah termurni untuk mulai berkultivasi. Berbekal wawasan hukum tertinggi dan pengetahuannya yang melimpah, Li Fan memulai pendakian berdarah dari titik nol.
“Surga sebelumnya tidak adil bagiku. Tapi sekarang, Aku sendiri yang mengadili Surga!”
Dari manusia fana yang dianggap sampah hingga menjadi penguasa hukum yang menggetarkan semesta. Inilah kisah perjalanan Su Fan ditubuh Li Fan untuk pendakian menuju puncak agung yang mustahil. Sang jenius yang dulu terbelenggu, kini telah lepas dari rantai takdirnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengakuan di Balik Asap Air Panas
Dua puluh ember air panas kemudian, bau busuk di kamar Paviliun Sayap Timur itu akhirnya mulai mereda. Jin Tianyu duduk menyandar di dinding kayu, terengah-engah dengan keringat membanjiri pelipisnya. Mengangkut air dari sumur asrama menuju kamar kelas atas di lantai dua berulang kali bukanlah tugas yang mudah, bahkan untuk fisik kasarnya yang terbiasa hidup di hutan.
Di balik partisi bambu, terdengar suara gemericik air. Li Fan sedang berendam di dalam tong kayu raksasa, menggosok sisa-sisa lumpur hitam yang menempel di pori-porinya. Setiap kali ia membilas tubuhnya, air di dalam tong seketika berubah menjadi sepekat tinta dan harus diganti.
“Kerja bagus, Tianyu. Kau boleh istirahat sekarang,” suara Li Fan terdengar dari balik partisi, jernih dan beresonansi dengan ketenangan yang aneh.
Jin Tianyu mengusap keringat di dahinya. “Ba-baik, Tuan Muda Ma. Apakah Anda membutuhkan handuk kering yang baru?”
Terdengar helaan napas pelan dari balik partisi. “Tianyu, sudah kubilang sebelumnya. Hentikan panggilan ‘Tuan Muda’ itu saat kita hanya berdua. Panggil saja aku Li Fan seperti biasa. Terus-menerus memanggilku Tuan Muda hanya akan membuat lidahmu kaku dan jarak di antara kita semakin jauh.”
Jin Tianyu terdiam sejenak. Ia memandangi tangannya sendiri yang kapalan. “Tapi... jika ada yang mendengarnya, penyamaran kita bisa terbongkar, Li—maksudku, Li Fan. Lagi pula, sikapmu... sangat meyakinkan sebagai seorang bangsawan arogan. Terkadang aku sendiri lupa bahwa kau berasal dari desa yang sama denganku.”
Li Fan bangkit dari tong air. Ia meraih jubah sutra putih bersih dari kursi kayu dan mengenakannya. Saat ia melangkah keluar dari balik partisi bambu, Jin Tianyu tanpa sadar menahan napasnya.
Bocah di hadapannya itu baru berusia sepuluh tahun, sama sepertinya. Namun, kulit Li Fan kini seputih pualam dan sehalus batu giok kualitas terbaik. Sisa-sisa gizi buruk dari desa fana telah lenyap tak berbekas. Matanya yang hitam legam memancarkan kedalaman yang menyerupai hamparan rasi bintang di malam tak berawan. Postur tubuhnya tegak, memancarkan aura dominasi bawaan yang tidak bisa diajarkan oleh guru etiket mana pun di dunia.
Li Fan menarik kursi dan duduk di hadapan sahabatnya. Ia menuangkan secangkir teh yang sudah mendingin dan menyesapnya perlahan.
“Omong-omong soal latihan, bagaimana kemajuanmu dengan teknik pernapasan Penguatan Tulang Harimau Langit yang kuajarkan tadi?” tanya Li Fan, sengaja mengalihkan pembicaraan.
Wajah Jin Tianyu sedikit merona malu. Ia menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. “Aku... aku belum berhasil membuka gerbang pertama. Saat udara panas itu menekan tulang rusukku, rasanya sangat sakit sampai aku kehilangan fokus. Tapi... anehnya, setelah kotoran hitam itu keluar dari tubuhmu tadi, aku merasa tubuhku ikut menjadi lebih ringan. Latihanku terasa jauh lebih lancar, meskipun gerbang itu belum hancur.”
Li Fan tersenyum tipis, mengangguk paham. “Itu wajar. Loncatan energiku saat membuka sembilan nadi menyebarkan residu Qi murni ke sekeliling ruangan. Kau secara tidak sadar menyerap remah-remah energi itu. Teruskan latihanmu. Dengan fisikmu, aku berani bertaruh kau akan mendobrak gerbang pertama dalam seminggu. Itu jauh melampaui rata-rata para bangsawan manja di sekte ini.”
Jin Tianyu tidak tersenyum mendengar pujian itu. Matanya justru menatap Li Fan dengan sorot yang rumit, campuran antara kebingungan, ketakutan, dan rasa penasaran yang sudah ditahannya sejak mereka masuk ke sekte.
“Li Fan...” panggil Jin Tianyu pelan, suaranya sedikit bergetar. “Kau tahu, kita tumbuh besar bersama di Desa Batu Hitam. Aku tahu kapan kau menangis karena tersandung, dan aku tahu kapan kau dipukuli oleh anak berandalan. Tapi bocah yang menangis itu... dia tidak tahu cara mengintimidasi penjaga bayaran seperti Guan Lao Da. Dia tidak tahu cara mengatasi naik gunung dengan mudah. Dan dia jelas tidak tahu teknik kultivasi dari ‘Alam Dewa’ yang kau sebutkan tadi.”
Jin Tianyu mengepalkan tangannya di atas lutut. “Siapa kau sebenarnya? Apa yang terjadi pada sahabatku, Li Fan?”
Hening menyelimuti ruangan itu. Cahaya lilin menari-nari, memantulkan bayangan mereka di dinding kayu. Li Fan meletakkan cangkir tehnya dengan sangat pelan hingga tidak menimbulkan suara benturan sedikit pun. Ia sudah menduga pertanyaan ini akan muncul. Menipu dunia adalah satu hal, tetapi menipu seseorang yang berbagi kerak nasi yang sama dengan pemilik asli tubuh ini adalah hal yang mustahil.
“Kau sangat jeli, Tianyu. Dan aku menghargai kejujuranmu,” ucap Li Fan. Ia menatap lurus ke dalam mata Jin Tianyu, membiarkan sedikit demi sedikit aura jiwanya yang kuno merembes keluar.
“Li Fan yang kau kenal... sahabat masa kecilmu yang sering kau lindungi dari pukulan anak berandalan itu... dia sudah tiada, Tianyu. Li Fan yang asli telah mati saat terjatuh dari sungai,” ungkap Li Fan dengan nada datar namun tidak kehilangan empati.
Mata Jin Tianyu melebar. Setetes air mata menggenang di sudut pelipisnya, namun ia menahannya agar tidak jatuh. “Lalu... jika dia sudah mati, roh siapa yang merasukimu saat ini? Apakah kau iblis yang mengambil alih tubuhnya?”
Li Fan tertawa kecil, tawa yang terdengar sangat ironis. “Iblis? Jika aku adalah iblis, aku tidak akan membuang waktu mengajarimu teknik pernapasan. Aku adalah seorang reinkarnator. Di kehidupan masa laluku, aku adalah entitas yang berdiri jauh di atas langit fana ini. Karena sebuah takdir dan hukum alam semesta yang rumit, jiwaku terbangun di dalam tubuh bocah malang ini tepat saat napas terakhirnya berhembus.”
Li Fan mencondongkan tubuhnya ke depan. “Aku mewarisi ingatan sahabatmu, Tianyu. Aku merasakan rasa syukurnya padamu karena selalu melindunginya. Itulah sebabnya, saat aku mengambil alih kendali, aku memutuskan untuk membawamu ikut bersamaku, memberimu kesempatan untuk mengubah takdirmu sendiri agar kau bisa melihat luas dan menakjubkannya dunia.”
Jin Tianyu terdiam seribu bahasa. Kisah tentang reinkarnasi dan kepemilikan tubuh sering ia dengar dari dongeng pendongeng jalanan di kedai teh desa, namun mendengarnya langsung dari mulut sahabatnya sendiri terasa sangat surealis.
“Jadi... kau benar-benar bukan dia lagi?” suara Jin Tianyu tercekat.
“Bukan, dan ya. Jiwaku adalah Su Fan dari Alam Dewa, namun tubuh dan memori emosional ini adalah Li Fan. Kau bisa menganggapku sebagai versi dirinya yang telah bangkit dan menolak untuk diinjak-injak oleh dunia,” jawab Li Fan lugas. Ia menyandarkan punggungnya kembali ke kursi. “Sekarang kau tahu kebenarannya. Jika kau merasa takut, besok pagi kau bisa turun dari gunung ini. Aku akan memberimu cukup emas untuk hidup mewah sebagai manusia fana.”
Jin Tianyu mengusap matanya dengan kasar, menghapus air mata yang sempat menggenang. Ia menatap Li Fan, lalu menatap tangannya sendiri yang kapalan. Ingatan tentang penderitaan, kelaparan, dan pembantaian keluarganya di desa kemarin berkelebat di benaknya. Lalu ia melihat Li Fan yang sekarang—kuat, penuh teka-teki, dan bisa di andalkan.
“Li Fan yang dulu mungkin sudah mati,” ucap Jin Tianyu dengan suara serak namun mantap. “Tapi kau tetap memanggilku sahabat. Kau tetap melindungiku saat di paviliun pendaftaran bahkan mengajakku untuk melihat dunia yang lebih luas. Di duniaku yang keras, siapa pun yang memberiku makan dan melindungiku adalah saudaraku.”
Bocah pelayan itu menatap Li Fan dengan tekad baja. “Aku tidak akan turun dari gunung ini. Aku tidak peduli apakah kau dewa atau iblis yang bereinkarnasi. Selama kau tidak membunuhku, aku akan mengikuti langkahmu. Dan rahasia ini... akan kubawa sampai mati.”
Mendengar itu, senyum tulus perlahan mengembang di wajah Li Fan. Ia mengangkat cangkir tehnya tinggi-tinggi. “Pilihan yang cerdas, Tianyu. Mari kita guncang dunia fana ini bersama-sama.”
Cerdas...
Lucu...