Lusy peri muda yang tidak memiliki sihir seperti peri lainnya. Dia berkeinginan menjadi ratu peri yang melampaui ratu peri generasi sebelumnya.
Lusy di remehkan oleh kaumnya sendiri. Namun, suatu ketika dia menemukan sebuah teknik terlarang dan sebuah pedang leluhur peri yang membuatnya bisa membangkitkan kekuatan sejatinya.
Lusy bangkit menjadi peri terkuat tanpa sihir, tapi banyak orang yang masih tidak menerima sebuah kenyataan kalau Lusy adalah peri terkuat di alam Peri.
Akankah Lusy berhasil menjadi Ratu Peri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadia Papendang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keluar Dari Kaki Gunung 1
Lusy menyapu pandangannya ke sekeliling, apa yang dia lihat berubah, tempat yang biasanya hanya ada bebatuan dan lava panas, dengan udara yang pengap. Kini dia melihat kembali indahnya dunia peri yang selama ini sudah tidak pernah dia lihat lagi.
Fire. "Ayah, kita dimana?" tanya Lusy pada Fire
"Tuan, kita berhasil keluar dari Dungeon, sekarang kita ada di kuil penyembahan sepertinya." jawab Fire yang juga tidak tahu ada dimana mereka sebenarnya.
Lusy mengangguk mengerti, karena fire selama ini hidup di hutan kematian, jadi wajar saja kalau dirinya tidak mengetahui tentang dunia luar.
Lusy yang sudah pulih sepenuhnya, dia beranjak dari tempat tersebut
"Ayah, kita cari penginapan dekat sini." Ucap Lusy
"Penginapan? Untuk apa?" tanya Fire pada Lusy.
Lusy tersenyum "Ayah, kita harus berbaur dengan orang-orang dunia peri lainnya, tidak selamanya kita harus menyendiri terus."
fire mengangguk mengerti, perkataan Lusy ada benarnya, mereka harus berbaur dengan orang lain.
Mereka berdua pergi dari tempat tersebut, Lusy menghilangkan sayapnya, agar tidak terlihat oleh orang lain, pasalnya sayap Lusy berbeda dengan peri lainnya-yang biasanya mereka memiliki dua sayap saja, tapi Lusy memiliki empat sayap layaknya leluhur peri.
Mereka berdua berjalan turun dari Kuil, mulai terlihat para peri lainnya yang berlalu lalang di depan mereka.
Dunia peri sebenarnya sama seperti dunia manusia, isinya juga sama, ada kota dan mereka yang berjualan maupun membeli, hanya saja mereka para peri memiliki sayap yang bisa mereka hilangkan layaknya manusia biasa, yang membedakan kalau mereka dari Ras manusia.
Semua orang yang melihat Lusy dan fire, mereka semua menatapnya dengan aneh, Pasalnya Lusy dan fire mengenakan pakaian zirah perang.
Apalagi Lusy yang tidak memerlihatkan wajahnya sama sekali.
"Ayah, apa ada yang salah dengan kita?"
Lusy merasakan tatapan aneh orang- orang yang melihatnya, oleh karena itu dia bertanya pada fire.
Fire menggelengkan kepalanya, menandakan kalau dirinya tidak tahu juga dengan apa yang sedang terjadi.
"Hei, Kalian berdua!" tiba-tiba terdengar suara orang yang menegur mereka berdua.
Sontak saja Lusy dan fire langsung menoleh, mereka berdua melihat seorang pria paruh baya dengan mata yang terpejam satu karena sayatan benda tajam, sedang berjalan mendekati mereka.
Lusy dan fire langsung waspada, energi sihir fire merembes keluar, dia sudah bersiap jika orang tersebut akan menyerangnya.
"Hei, hei... Tenanglah dulu, aku tidak bermaksud untuk mengganggu kalian." Pria tersebut mengangkat kedua tangannya ke atas.
Fire menatap Lusy untuk menanyakan apa yang harus dia lakukan lewat tatapan mata.
Lusy hanya menganggukkan kepalanya, dia juga tidak ingin mencari musuh ketika baru sampai di kota.
Fire menarik energi sihirnya kembali, orang tersebut tersenyum ke arah mereka berdua dan lebih mendekat ke arah keduanya.
"Saya Aldo, apakah kalian berdua baru pulang dari perang perbatasan?" tanyanya dengan sopan.
Lusy tidak tahu maksud aldo, tapi dia menganggukkan kepala, agar aldo tidak curiga dengan mereka.
"Pantas saja kalian masih berpakaian seperti ini, terima kasih atas kerja keras kalian, berkat kalian yang menahan para Monster kota peri selama seratus tahun ini, kami semua bisa hidup damai." Aldo membungkuk hormat pada fire dan Lusy yang bingung dengan perkataan-nya.
"Lebih baik kalian ke rumahku dulu, aku mau mendengar bagaimana kalian bisa selamat dari sana, Ayo!" Ujar Aldo