Starla, putri kandung seorang pengusaha kaya yang tidak disayang memutuskan menerima tawaran seorang pria untuk dijadikan simpanan. Setelah empat tahun berlalu, Starla pun memutuskan untuk tidak memperpanjang kontrak diantara mereka lagi. Starla meninggalkan Nino begitu saja. Hingga pada akhirnya, Nino ternyata berhasil menemukannya dan mulai terus membayanginya dengan cara mendekati Kanaya, kakak tiri Starla. Nino, pria yang terbiasa dipuja-puja oleh banyak wanita, jelas tidak terima dengan perbuatan Starla. Seharusnya, dia yang meninggalkan wanita itu. Namun, justru malah Starla yang meninggalkannya.
Berbekal dendam itu, Nino awalnya berniat untuk mempersulit Starla. Siapa sangka, di tengah rencananya mendekati Kanaya, Nino menemukan sebuah fakta bahwa selama ini Starla tak pernah merasakan bahagia. Sedari kecil, hidupnya selalu dirundung kesusahan. Hak-haknya bahkan direbut.
Berawal dari rasa penasaran, Nino justru mendapati bahwa perasaannya terhadap Starla ternyata sudah berbeda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itha Sulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hampir membunuh
"Nino, Papa akan berulang tahun sepuluh hari lagi. Datang, ya! Jangan lupa bawa hadiah agar Papa semakin menyukaimu."
Nino membaca pesan itu sambil tersenyum sinis. Pesan tersebut berasal dari Kanaya.
"Akan disebarkan sekarang, Tuan?" tanya Dika setelah merekam pengakuan keempat orang itu.
"Tahan dulu!" jawab Nino sambil memasukkan ponselnya ke dalam saku jasnya. "Kita buat pertunjukan tepat di hari ulang tahun Arlo saja," tambahnya.
"Tuan Arlo akan berulang tahun?" tanya Dika.
"Ya," angguk Nino. "Sepuluh hari lagi."
"Lalu, bagaimana dengan orang-orang ini? Harus kita apakan mereka? Haruskah saya mendorong mereka satu persatu dari atas gedung ini?"
Degh!
Empat orang yang sudah babak belur itu langsung tersentak kaget. Napas mereka mendadak tercekat.
"Tidak, jangan lemparkan kami! Kami masih mau hidup!"
Mendengar permintaan putus asa itu, Nino langsung tersenyum lebar.
"Kurung mereka dulu! Ide ini akan aku pikirkan baik-baik. Sepuluh hari lagi, baru ku beritahukan keputusan ku. Apakah harus mengampuni mereka, atau lemparkan saja agar mereka semua mati?"
"Jangan!"
Hanya Boris yang tidak mengatakan apa-apa. Pemuda itu pasrah saja. Dia mengakui kesalahannya dan siap menanggung konsekuensinya.
*****
"Bibi, aku ingin makan makanan yang bergizi mulai hari ini," kata Starla yang akhirnya keluar dari rumah sakit setelah dua hari di rawat.
"Baiklah. Bibi akan memasaknya untuk Nona Starla."
"Nanti, menunya akan aku tuliskan untuk Bibi. Jadi, Bibi tinggal mengikutinya saja."
Bibi Wirda mengangguk dengan ekspresi sedikit kebingungan.
"Kemarin-kemarin, Nona Starla menolak untuk makan. Tapi, hari ini tiba-tiba berubah ingin makan makanan yang bergizi. Sebenarnya, ada apa?"
Karena tak tahan menanggung rasa penasaran, Bibi Wirda akhirnya memberanikan diri untuk bertanya.
"Aku harus mengembalikan berat badanku seperti semula, Bi. Selain itu, kulitku harus dirawat dengan baik dari luar maupun dalam agar lebih putih, mulus, dan kenyal."
"Memangnya, untuk apa?"
Starla tersenyum lebar. "Tentu saja untuk menggoda pria."
Bibi Wirda terdiam selama beberapa detik. Selang beberapa saat, dia langsung menggeleng keberatan.
"Tidak!" tolaknya dengan tegas. "Nona Starla tidak boleh jadi perempuan penggoda. Mau sejahat apapun mereka menuduh Nona, tapi Nona juga tidak boleh merendahkan diri dengan benar-benar mewujudkan apa yang mereka inginkan."
"Aku punya rencanaku sendiri, Bi. Tenang saja!" kata Starla yang berusaha meyakinkan Bibi Wirda.
"Tapi, Bibi tidak mau jika Nona Starla direndahkan dan dibully lagi," ucap Bibi Wirda dengan suara parau.
"Bibi tidak perlu khawatir. Kalaupun harus berubah jadi arang, setidaknya musuhku berhasil ku jadikan abu."
"Lalu, bagaimana dengan masalah restoran?" tanya Bibi Wirda lagi.
Starla tampak menghela napas panjang. "Untuk sementara, kita biarkan saja restoran itu tutup. Aku masih punya sedikit simpanan. Rencananya, ingin membuka sebuah butik pakaian terlebih dulu. Nanti, anak-anak akan aku pindahkan ke sana untuk bekerja."
"Nona Starla sudah menyerah mengenai restoran?"
Starla tersenyum getir. Dia terlihat berusaha menahan tangis.
"Tidak, Bi," geleng Starla. "Hanya saja, untuk saat ini, mengambil langkah mundur adalah solusi satu-satunya yang aku miliki."
*****
Sejak obrolan mereka hari itu, Arlo terus memikirkan perkataan Nino. Dia merasa gelisah tanpa sebab didalam hatinya. Benar-benar takut, andai Starla melakukan hal yang dikatakan Nino waktu itu.
"Bagaimana kalau Starla tahu jika Om Arlo adalah dalang dibalik semua ini? Menurut Om Arlo, apakah Starla bersedia kembali atau malah semakin menjauh? Paling parah... mungkin saja Starla tidak akan mengakui Tuan Arlo sebagai Ayah lagi."
"Tidak mungkin," geleng Arlo. "Starla tidak mungkin tahu. Dia juga tidak mungkin membenciku. Aku ini Ayah kandungnya."
Arlo berusaha menanamkan afirmasi itu ke dalam pikirannya. Namun, sesering apapun dia berusaha meyakinkan diri bahwa Starla tak mungkin membencinya, justru kegelisahan dalam hatinya malah semakin tidak bisa dikendalikan.
"Tuan..." Seseorang tiba-tiba menerobos masuk ke dalam ruangan Arlo.
"Ada apa?" tanya Arlo.
"Ada kabar mengenai Nona Starla," jawab orang itu.
Arlo reflek tersenyum kecil. "Apa dia akhirnya datang untuk menemuiku? Baguslah. Biarkan dia masuk! Asal dia setuju untuk menyerahkan restoran itu pada Kanaya, maka aku akan langsung membersihkan nama baiknya."
"Nona Starla tidak datang berkunjung, Tuan," geleng orang itu dengan ekspresi tegang.
Kening Arlo seketika berkerut. Senyumnya perlahan memudar dari wajahnya.
"Kalau dia tidak datang, lalu apa yang ingin kamu sampaikan soal dia?" tanya Arlo sedikit kecewa. Terus terang, dia merindukan putri kandungnya.
"Nona Starla masuk rumah sakit," jawab orang itu.
"Apa!?" pekik Arlo terkejut. "Anakku kenapa? Kenapa dia bisa masuk rumah sakit?"
Pria dihadapan Arlo tampak menghela napas frustasi. "Nona Starla berniat bunuh diri dengan memakan banyak pil obat tidur. Beruntung, Nona Starla cepat ditemukan oleh Bibi Wirda. Kalau tidak..."
Ciiit.
Kursi kerja Arlo sedikit berdecit saat Arlo tak sengaja menabraknya. Tubuhnya goyah. Dia tak menyangka, kabar seperti ini akan sampai di telinganya.
Putrinya yang super kuat mencoba bunuh diri? Kabar ini sepertinya tidak mungkin terjadi.
"Apa kau sudah pastikan soal ini?"
"Sudah, Tuan. Dan, hasilnya memang begitu. Dokter sudah menginformasikan jika Nona Starla benar-benar overdosis obat tidur."
Argh!
Arlo reflek meringis kesaktian. Bagian kepalanya mendadak mengalami nyeri yang sangat hebat.
"Astaga!! Apa yang sudah aku lakukan? Aku.... hampir membunuh putri kandung ku sendiri?"
Buang laki² yang demi gengsi & ego tinggi hanya untuk merendahkan dirimu😠
Nino pikir di dunia hanya ada dia saja tanpa ada orang lain yang masih baik untuk menolongmu Starla 💪
Starla bangkit & cari kebahagianmu tanpa Arlo & Nino, masih banyak orang yang baik padamu Starla 💪