Meski tidak di awali dengan baik, bahkan sangat jauh dari pernikahan impian nya. sejak kalimat akad di lantunkan, saat itu ia bersumpah untuk mencintai suami nya, bahkan dalam keadaan terburuk sekalipun.
Tanpa Arina tau kalau detik itu juga ia dengan sadar membakar hidup nya, dunia nya bahkan cinta nya dengan perihnya api neraka pernikahan .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vanillastrawberry, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
rencana poligami
Sebelum keluar dari kamar, Arina menyempatkan diri untuk mengecek ponsel nya, ada pesan dari Desi, wanita itu bilang kalau hari ini suster Wulan sedang cuti, jadi Arina bisa menemui Tania dengan bebas.
Masalah cctv dan para pekerja yang ada di sana akan ia atur nanti, keadaan Tania sudah kembali stabil, gadis itu sudah hampir tidak pernah mengamuk lagi, mungkin kedatangan nya akan sedikit memancing reaksi depresi nya.
Tapi Arina tidak bisa begini terus. Sebisa mungkin ia harus melakukan pendekatan dengan gadis itu, mengembalikan semangat hidup nya, baru ia bisa mengurus kakaknya begitu bukti kalau Ayahnya tidak bersalah sudah ia kantongi.
Ada riwayat pesan lain dari nomor ponsel Fabio, dia mengatakan kalau orang suruhannya sudah mengantongi delapan puluh lima persen bukti valid kalau Ayah nya tidak bersalah.
Dengan perasaan membuncah ia menggunakan banyak cara untuk merayu Fabio agar dia mau memberitahunya. Tapi, dia bilang kalau ia akan segera menghubungi Arina begitu hasilnya sudah fix seratus persen benar.
Dengan langkah santai Arina beranjak menuju meja makan, Arina menemukan Alvian tengah sarapan terlebih dahulu, ia sempat melihat Alvian melirik nya beberapa kali, tapi Arina berpura-pura tidak menyadarinya dan bersikap bodoh.
Setelah kejadian yang sangat menjijikkan pagi itu, Arina tidak pernah lagi melihat kehadiran Riska di sini. Bagus deh, ia nggak mau ikut kena getahnya begitu rumah ini di azab karena di gunakan untuk berbuat mesum.
Tapi, pagi ini ia sedikit terganggu dengan kehadiran Riska yang tengah melayani Alvian, wanita itu bertingkah seakan ia adalah istri Alvian, sesekali terdengar suara wanita itu yang mendayu-dayu saat berbicara dengan Alvian.
Arina sih nggak perduli, Asal jangan tumpang tindih memadu gairah di depannya, karena jujur itu sangat menjijikkan. Orang waras tidak akan mengumbar keintiman mereka di depan orang lain. Karena itu sampai sekarang ia masih melabeli kedua orang itu dengan sebutan 'binatang' meskipun tidak pernah mengatakannya secara terang-terangan.
Arina melirik sekilas begitu mendengar Alvian berdehem untuk memulai perbincangan di antara mereka pagi ini. " Minggu depan perusahaan akan mengadakan gathering di pulau bali, sebagai istri ku aku ingin kamu ikut. "
Arina sengaja mengulum senyum begitu Riska menatap nya dengan kedua mata yang menyalak." kenapa tidak mengajak dia? Aku ada urusan penting di kantor ku." tenang saja, Arina sama sekali tidak berminat bersaing dengan 'binatang' seperti nya.
" kau istri ku Arina! Jadi, hanya kau yang bisa mendampingi ku!" Arina terkekeh, kali ini terang-terangan menatap ke arah Riska.
" kau lihat, Setelah semua yang kalian lewati dan yang kau berikan, Alvian tetap akan membawa ku dan mengakui ku sebagai pasangan nya di depan umum, Miris sekali. Aku kasihan melihat mu."
Arina menyeringai saat melihat kepalan tangan wanita itu, begitu pula dengan cengkraman nya pada sendok yang tampak semakin menguat.
" kau jangan senang dulu, begitu Alvian menikahi ku nanti, akulah yang akan digandeng nya kemana-mana. Pasangan di atas kertas saja kok bangga!"
Arina menopang dagunya di atas jalinan kedua tangannya nya dengan siku yang bertumpu langsung pada meja. " tentu bangga, meski tidak di akui setidak nya aku istri sah nya, bukan pelakor yang merasa berhak pada suami orang lain." tak ketinggalan senyum mengejek pada sudut bibir Arina.
Rupanya kata-kata Arina berhasil menyulut kemarahan Riska, padahal dia yang meminta Alvian untuk melakukan ini karena ingin mengerjai Arina di depan umum nanti. Tapi, justru ia yang tersulut kemarahan oleh rencana yang di buatnya sendiri.
" tutup mulut mu! Kau yang pelakor di sini! Kamu yang sudah merebut calon suamiku!" Riska membanting sendok di atas piring nya, lalu menunjuk-nunjuk Arina dengan wajah yang mulai memerah.
" Apa kalian tidak bisa diam? Kepalaku pusing sekali melihat pertengkaran kalian!" Alvian tampak tertekan meski ia menikmati drama ini di awal-awal. Ada perasaan lain begitu Arina membanggakan dirinya sebagai istri nya, meski ia tau hal itu sengaja ia lakukan untuk memancing reaksi Riska.
" ini baru awal Al, begitu dia resmi menjadi maduku, hal ini akan terjadi setiap hari " Arina tersenyum lebar saat mengatakan nya, beberapa hari yang lalu Alvian memang mengatakan akan segera menikah secara resmi dengan Riska, dia meminta pada Arina untuk tidak mempersulit pernikahan nya.
" itu tidak akan terjadi karena kamu akan aku pindah ke rumah utama." wah, ini kabar terbaik di balik rencana poligami yang akan Alvian lakukan.
Arina mengangkat sebelah alisnya." kamu yakin? tidak mengkhawatirkan kondisi Tania kalau dia serumah dengan ku?"
" Aku akan membunuh mu kalau kau berani menyakiti Tania, tidak hanya kamu dan Ayah mu, tapi Sarah dan Diki akan ku buat menderita juga."
Sebenarnya ancaman itu terdengar begitu menakutkan, apalagi hubungan dengan Tania masih sangat buruk, ia takut setiap langkah yang ia gunakan untuk mendekati gadis itu berbalik membawa petaka untuk nya.
Tapi, ia yakin Alvian akan jarang mendatangi rumah utama karena Riska akan menguasainya full tujuh hari dalam seminggu, jadi menurutnya tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
" terserah apa katamu!" Arina memutuskan untuk menyelesaikan sarapannya.
" nanti pulanglah lebih awal, Riska akan menemani mu memilih gaun untuk acara perusahaan minggu depan." Arina melihat seringai samar pada bibir wanita itu, ia yakin ini akan berakhir tidak baik. Tapi, Arina bukannya wanita yang gampang di tindas, untuk ukuran wanita sembrono modelan Riska, ia yakin bisa mengatasinya.
" Aku bisa sendiri!"
" jangan membantah! Riska sangat mengerti selera pakaian yang aku suka, aku tidak mau kamu mempermalukan ku di depan semua orang!"
Arina sedikit tersinggung, apa baru saja Alvian menghina cara berpakaian nya, perasaan gaya pakaian nya cukup normal dan modis, ia memang begitu memperhatikannya fashion nya di depan umum.
" whatever! " mereka memang pasangan yang sangat serasi, sangat kompak dalam menghina orang dan menyulut kemarahan nya. Tidak mau berlama-lama di sana, Arina lekas bergegas keluar dari rumah itu.
Sebelum itu ia berbalik untuk menatap Riska." oh iya, jangan lupa bereskan meja makan ya, kamu kan sebentar lagi jadi istri Alvian, tentu sangat tau kalau Alvian sangat benci ruangan yang berantakan."
Riska terperangah, ia menarik lengan kemeja Alvian agar pria itu membantu nya." kamu jangan pergi dulu sebelum membereskan meja makan. Tangan Riska terlalu halus untuk pekerjaan kasar seperti ini."
" jangan harap kamu bisa menindas ku karena merasa menjadi nyonya di rumah ini!" Riska tersenyum penuh kemenangan ke arah nya.
" sorry, aku nggak bisa menunggu terlalu lama, aku memiliki pekerjaan sendiri, kalau tidak mau membersihkan nya, ya biarkan saja seperti itu hingga nanti malam, karena aku akan lembur hari ini, permisi!"
" Arina! Berhenti kamu!" lengkingan suara Alvian tidak dapat menghentikan nya, enak saja! Memang nya Riska tidak bisa di tindas tapi menurut nya dia bisa? Mimpi aja terus!