Pernikahan Adrian dan Hanin Kirana menginjak 5 tahun, tapi mereka belum juga dikaruniai anak, sementara mertua Hanin membencinya dengan masalah itu.
Adrian dan Hanin akhirnya bercerai, Hanin berusaha bangkit dari keterpurukannya dengan menata hidup lebih baik dan menjadikannya seorang pebisnis yang sukses.
Segala hal yang terjadi dalam hidupnya membuatnya lebih tegar, dan menciptakan kesan bahwa perempuan single bisa mandiri dan meraih kekayaan yang luar biasa.
Bagaimana kisah selanjutnya? , apakah Hanin tetap menjanda? atau menemukan pasangan hidupnya yang baru?
Yuuk kita ikuti ceritanya .....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yance 2631, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jadian
Sita masih berada di kamar Bimo yang bernuansa hangat, sambil meneguk segelas kopi Sita pun melanjutkan ceritanya..
"Begini mas, soal kejadian kemarin yang aku ceritakan.. sebenarnya mas Adrian adik dari mbak Astrid itu adalah mantan tunanganku," ujar Sita.
Bimo tampak kaget,
"Ooh gitu?, ya..ya.. mungkin aku nggak tahu soal keluarga lagi karena saat itu aku bangkrut, Adrian juga nggak pernah cerita.. tapi dia pernah bilang juga kalau dia akan menikah," ujar Bimo.
"Ya, mas.. jadi aku minta maaf kalau sebelumnya kedekatan kita membuat aku ragu, mungkin aku bukan perempuan seperti yang ada pikiran mas sekarang ini, aku mau jujur... aku dan Adrian.. mm aku... "ujar Sita.
"Ada apa Sita, ada apa dengan Adrian?" tanya Bimo yang semakin bingung. Sita hanya menunduk.
"Mas, aku .. sudah nggak suci lagi, dan itu aku lakukan dengan mas Adrian, dengan sadar" ujar Sita lalu terdiam, malu. Bimo juga terdiam.
Hening..
"Ya, aku paham sekarang.. mm.. it's okay aku bisa terima kejujuran kamu Sita, anggap saja itu musibah, nggak ada manusia yang betul-betul sempurna di dunia" ujar Bimo bijak.
Sita kemudian mengangkat wajahnya, lalu tersenyum.. "Makasih mas buat pengertiannya" ujar Sita menatap Bimo.
"Apa itu artinya kita 'jadian?', oh ya umurmu sekarang berapa maaf.. "tanya Bimo, "usiaku 27 tahun mas" ujar Sita, "usiaku 37 tahun" ujar Bimo menunjuk dirinya sendiri.
"Kamu nggak malu menjalani hubungan serius dengan aku.. aku 10 tahun di atas kamu Sita dan aku juga punya seorang putra," tanya Bimo menatap lembut Sita.
"Nggak mas,.. aku hanya berharap mas Bimo bisa membimbing aku, itu saja" ujar Sita. Bimo pun mengangguk.
Kedua mata mereka bertemu, mereka saling menatap.. jemari tangan Bimo mulai menggenggam jemari Sita, tak lama tangan itu naik ke atas membelai rambut hitam Sita, ada rasa yang tidak bisa di ungkapkan oleh Sita,
"Kenapa Mas?" tanya Sita.
"Aku sayang kamu Sita sejak pertama kali kita ketemu.." ujar Bimo tersenyum. Sita pun tersenyum juga hingga hasratnya muncul.
Bimo terus membelai rambut Sita, lalu turun ke punggung sambil mengusap lembut karena mungkin sudah lama 'hasrat' itu terkubur,
"Kamu .. cantik Sita" ujar Bimo, nafas mereka bertemu dulu sebelum bibir mereka saling bersentuhan lembut.
Sita membiarkan Bimo menciumnya, hangat, lembut.. tanpa suara. Sita kemudian menatap Bimo, "Mas Bimo...... "ujar Sita sambil tangannya mulai berani melingkar di leher Bimo, Bimo pun mengerti tanda itu, lalu menutup dan mengunci pintu kamar kosnya.
"Maafkan aku Sita, aku nggak bisa menahan perasaan ini" ujar Bimo sambil mencium leher Sita, juga menggigit bibir bawah Sita.
Sita yang memang sejatinya haus akan kasih sayang ini menikmati sentuhan Bimo.
Sita menghela nafas panjang, lalu.. mendorong tubuh Bimo ke atas kasur empuknya, Bimo pun pasrah, hasrat Sita pun memuncak.. lalu segera ia raih jemari tangan Bimo.. dan dengan sengaja membuka rok kerjanya, menuntun jemari Bimo masuk ke dalam organ intimnya.
"Sita, kamu kenapa.. kamu mau sayang?" ujar Bimo yang hasrat laki-lakinya muncul. Sita hanya mengangguk.
"Mas .. ,mainkan aja jari kamu please?" ujar Sita berbaring menyamping di sisi Bimo dengan rok yang sudah entah kemana.
Bimo pun menuruti keinginan Sita itu, dengan lembut ia memberi gesekan halus jemarinya di area paling sensitif di tubuh Sita, perlahan.. lalu semakin cepat..
Sita akhirnya merasakan kenikmatan yang ia raih hingga tubuhnya terguncang, "sudah basah sayang.. ini.. "ujar Bimo.
"Mas, kita ke hotel sekarang... "ujar Sita tiba-tiba sambil mencari roknya tadi, Bimo mengangguk sambil merapikan celana kerja yang sudah terbuka oleh Sita.
Tiba di kamar hotel, Sita tidak memberi kesempatan Bimo untuk duduk sesaat.. dengan sedikit kasar mulai melucuti kemeja kerja Bimo dan juga menarik celana kerja Bimo, hingga hanya terlihat boxer abu-abu Bimo..
Mereka saling berpelukan dengan tubuh mereka yang sudah polos di balik selimut hotel, tangan Sita mulai memainkan 'pusaka' Bimo yang sudah mengeras, dan semakin keras ini..
Begitu pun Bimo, jemari tangannya mulai bermain di atas gunung kembar Sita yang mulus lalu menggigitnya..
"Mmm.. Mas ..," ujar Sita.
"iya sayang.. Sita ini sudah basah, kamu mau?" ujar Bimo. Sita hanya mengangguk. Bimo pun dengan leluasa menembus pertahanan Sita yang memang sudah jebol sebelumnya.
Tubuh mereka pun menyatu, 1 jam.. 2 jam ritme yang sama, tidak tergesa-gesa tapi intens.
Hingga akhirnya.. Sita menjerit kecil tanda hasratnya sudah mulai terlepas, terbebas.. Bimo pun sengaja melepas benihnya di rahim Sita, tak lama Sita pun jatuh di dada Bimo yang kekar terkulai lemas.
"Aku akan segera menikahi kamu Sita," ujar Bimo tersenyum puas tanpa menyadari mereka sudah melakukan hubungan yang terlarang.
Sita pun tersenyum, dia akan membalas dendam kepada Adrian dengan menikahi mantan kakak iparnya ini.
"Mas, kita udahan dulu ya.. aku mau mandi, mau ikut?" tanya Sita. Bimo pun mengangguk. Mereka kemudian membersihkan diri, mandi bersama.
Setelah selesai mandi mereka kembali berpakaian dan tak lama mereka pun pergi meninggalkan hotel tersebut.
Hari pun berganti,
Salman.. laki-laki timur tengah yang sekarang ini sudah menjadi sandaran bagi Hanin kini tampak sudah tiba di bandara Soekarno-Hatta bersama dengan kedua orang tuanya,
Mereka hadir untuk melamar Hanin, yang sebelumnya Salman sempat mengkonfirmasi kedatangannya pada Hanin,
Hanin pun saat sedang bersiap menerima tamu dari Qatar tersebut. Hanin mempersiapkan acara hitbahnya sendiri di sebuah hotel terkenal di kota Bandung dengan nuansa bunga putih yang ia sudah booking sebelumnya.
"Mbak, bunga Lilinya di tambah lagi boleh nggak?" tanya Hanin pada pegawai hotel yang sedang mendekor.
"Boleh mbak, tapi tambahannya tidak termasuk paket ya" ujar pegawai tersebut. Hanin pun mengangguk, "iya nggak masalah.. "ujar Hanin kemudian ia berkeliling ruangan sambil melihat lihat hasil dekor.
Terlihat Hanin tampak begitu cantik, elegan dengan balutan kebaya putih khas Sunda.. sedangkan Amel dan Selly memakai gamis warna dusty muda dengan hijab senada, kang Bagas pun juga memakai setelan jas lengkap yang akan menjadi pengganti atau wali dari orang tua Hanin yang sudah tiada.
Tepat jam 10:15 pagi, Salman dan keluarga sudah tiba di hotel, kemudian mereka tampak duduk di kursi yang sudah disediakan,
Setelah semuanya siap, pembawa acara membuka acara hitbah atau lamaran ini, Salman terlihat di apit oleh kedua orang tuanya,
"Selamat datang kepada bapak dan ibu Ibrahim yang jauh-jauh datang dari Qatar, selamat datang juga khususnya kepada tuan muda Salman yang hadir bersama kita di sini.. "ujar pembawa acara.
(dalam bahasa inggris)
Pembawa acara pun kemudian menjelaskan rangkaian acara lamaran tersebut,
Kemudian wakil dari keluarga Salman yang fasih berbahasa Indonesia yang bernama pak Malik Kafi mengutarakan maksudnya..
Pak Malik : Assalamualaikum, selamat pagi semuanya.. Saya bersyukur pagi ini saya mewakili keluarga bapak Ibrahim dan ananda Salman dari Qatar sudah ada di acara ini, ada pun maksud tujuan kedatangan kami sekarang ini adalah untuk menghitbah atau melamar ananda HANIN KIRANA.. dari pasangan almarhum bapak Asep dan almarhumah ibu Dewi yang sekarang diwakili oleh bapak Bagas selaku orang tua,
Terima kasih.. ,assalamualaikum wr wb.
Kang Bagas : Assalamualaikum wr wb, terima kasih kepada bapak Malik yang telah menyampaikan maksud kedatangan ananda Salman beserta keluarga di tempat ini.. sebagai jawaban tentu saya bertanya dulu dengan ananda Hanin..
Bagaimana jawaban kamu nak, tentang maksud kedatangan ananda Salman untuk menghitbah kamu...
Hanin : iya pak, .. Bismillah saya terima lamaran kak Salman, insya Allah.
Pak Malik : Terima kasih ananda Hanin Kirana untuk jawabannya, alhamdulillah...
Salman tampak tersenyum kepada Hanin, kini mereka sudah berada di pelaminan kecil yang ditutupi di hiasi oleh bunga Lily putih yang elegan, kemudian ibunda Aisyah tampak berjalan menghampiri Hanin, lalu menyematkan sebuah cincin emas putih berlapis diamond yang indah di jari manis Hanin..
"Terima kasih ibu.. "ujar Hanin tersenyum.
Ibu Aisyah pun tersenyum melihat kecantikan Hanin, kemudian mencium lembut kedua pipi Hanin, lalu Hanin mencium punggung tangan calon mertuanya itu.
"Thank you for accepting our beloved son's proposal, we hope your wedding goes smoothly my dear.." ujar ibu Aisyah tersenyum.
"Aamiin, ya rabb.. thank you" ujar Hanin membalas ucapan ibunda Salman.
Wajah Salman terlihat begitu bahagia, dia berhasil melamar pengusaha terbaik wanita di negeri ini, begitu pun Hanin.. wajahnya yang teduh dan selalu tersenyum menyambut ucapan selamat dari tamu-tamu yang hadir.
Setelah selesai para tamu undangan yang hadir dipersilahkan mencicipi hidangan yang telah disediakan pihak hotel Papandayan salah satu hotel yg terbaik di kota Bandung ini.
Hanin pun kemudian tampak berbincang dengan kang Bagas, "Kang.. terima kasih sudah mewakili almarhum bapak saya" ujar Hanin sambil menitikkan air matanya.
"Sami-sami mbak Hanin, semoga lancar pernikahannya bulan depan nanti.. sudah.. sudah jangan menangis, yuuk kita gabung lagi sama mereka" ujar kang Bagas.
Hanin pun mengangguk.
Hanin, Amel dan Selly juga tampak ikut bergabung bersama kang Bagas dengan keluarga dari pihak Salman, mereka pun berbincang hangat.