NovelToon NovelToon
Pernikahan Weton Sang Pewaris Tunggal

Pernikahan Weton Sang Pewaris Tunggal

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Beda Dunia / Cinta Seiring Waktu / Kutukan / Romansa / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Realrf

“Mereka menikah bukan karena cinta, tapi karena hitungan. Namun, siapa sangka... justru hitungan Jawa itulah yang akhirnya menulis takdir mereka.

Radya Cokrodinoto, pewaris tunggal keluarga bangsawan modern yang masih memegang teguh adat Jawa, dipaksa menikah dengan Raras Inten, seorang penjual jamu pegel keliling yang sederhana, hanya karena hitungan weton.

Eyangnya percaya, hanya perempuan dengan weton seperti Raras yang bisa menetralkan nasib sial dan “tolak bala” besar yang akan menimpa Radya.

Bagaimana nasib Raras di pernikahan paksa ini? sementara Radya sudah punya kekasih yang teramat ia cintai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Realrf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Amarah Radya

…kau pikir aku tidak tahu kalau kau mata-mata yang ditanam Eyang di perusahaanku!”

Tuduhan itu meluncur begitu tajam dan tidak masuk akal hingga Raras sejenak lupa cara bernapas. Cangkir di tangannya, yang berisi teh jahe hangat untuk Eyang, terasa seperti sauh yang menahannya di tengah badai kebingungan. Mata-mata? Dia? Rencana apa?

“Mas… ngomong apa?” bisiknya, suaranya nyaris tidak terdengar.

“Aku nggak ngerti.”

“Oh, tentu saja kau tidak mengerti,” cibir Radya, melangkah lebih dekat lagi. Aura dingin yang aneh menguar dari tubuhnya, bukan dinginnya pendingin ruangan, melainkan hawa beku yang membuat bulu kuduk Raras meremang.

“Kau sangat pandai memainkan peranmu. Si gadis desa lugu, si penjual jamu yang butuh uang. Akting yang sempurna!”

Jantung Raras berdebar kencang, bukan karena takut, melainkan karena sesuatu yang lain. Sesuatu yang terasa salah secara fundamental. Pria di hadapannya adalah Radya, tetapi tatapan matanya… kosong dan penuh kebencian yang tidak proporsional. Seperti menatap topeng yang diisi oleh amarah orang lain.

“Mas Radya, ini sudah larut malam. Mas pasti capek,” ujar Raras, mencoba menjaga suaranya tetap tenang. Ia mengulurkan cangkir di tangannya sedikit.

“Ini teh jahe untuk Eyang. Kalau Mas mau, biar aku buatkan lagi.”

Radya tertawa, suara serak yang mengerikan.

“Lihat? Itu dia! Selalu Eyang! Kalian berdua pasti sudah merencanakan ini sejak awal, kan? Menjebakku dengan omong kosong weton itu, lalu kau menyusup ke kerajaanku, berpura-pura jadi pahlawan kecil yang menemukan kesalahan.”

Radya merebut cangkir itu dari tangan Raras dengan kasar. Jemarinya yang dingin menyentuh kulit Raras selama sepersekian detik, dan sensasi itu seperti sengatan es. Radya mengangkat cangkir itu ke bibirnya dan menyesapnya.

Seketika, wajahnya berubah. Ekspresi jijik yang pekat dan dalam terukir di sana, seolah ia baru saja menelan racun.

“Manis! Kenapa wedang jahe semanis ini?Kau mau membuat Eyang sakit?!” bentaknya, mendorong cangkir itu kembali ke arah Raras hingga isinya nyaris tumpah.

Raras mundur selangkah, bingung dengan perubahan topik yang begitu mendadak. Gadis itu menggeleng cepat.

“Itu… itu Eyang.... Beliau suka teh jahe yang manis.”

“Alasan! Selalu ada alasan!” sergah Radya, matanya menyala-nyala.

“Kau sengaja, kan? Kau tahu aku benci minuman manis! Kau mencoba meracuniku pelan-pelan? Atau ini semacam jampi-jampi murahan yang kau pelajari dari dukun di kampungmu?!”

“Mas!” Suara Raras akhirnya meninggi, campuran antara frustrasi dan keputusasaan.

“Ini cuma teh jahe! Nggak ada hubungannya sama jampi-jampi atau racun! Kenapa Mas jadi seperti ini?”

“Kenapa aku seperti ini?” Radya menunjuk dirinya sendiri dengan jari gemetar, amarahnya meluap sampai ubun-ubun.

“Aku seperti ini karena kau! Sejak kau masuk ke dalam hidupku, semuanya jadi kacau! Logikaku berantakan, perusahaanku hampir hancur, dan aku harus terikat pada perempuan sepertimu!”

“Tapi aku yang menyelamatkan perusahaanmu!” balas Raras, logikanya tidak tahan lagi untuk diam.

“Kesalahan di proposal itu… kalau aku tidak menemukannya…”

“Menemukannya?” Radya maju selangkah lagi, memojokkan Raras ke konter dapur.

“Aku lihat rekaman CCTV-nya, Raras. Aku lihat semuanya. Cara kau menganalisis kertas itu di pantry. Caramu membuka kalkulator di ponselmu. Itu bukan sesuatu yang bisa gadis kampung lakukan, perhitungan matang seperti itu! Kau bukan penjual jamu kan. Siapa kau sebenarnya?”

“Aku Raras Inten! Istrimu!”

“Kau bukan istriku!” raung Radya.

“Kau adalah dekret sialan dari Eyang! Sebuah jimat hidup yang ternyata punya agenda sendiri. Kau dan Eyang pasti menertawakanku di belakangku, kan? Melihat si CEO logis ini dipermainkan oleh takhayul dan seorang gadis penjual jamu yang licik!”

Setiap kata adalah tamparan. Raras bisa merasakan air mata mulai menggenang, tetapi ia menahannya. Menangis di hadapan pria ini sekarang hanya akan memberinya kepuasan. Ia harus tetap tenang. Ia harus menemukan sumber dari kegilaan ini.

“Mas, dengarkan aku,” katanya pelan, mencoba menatap lurus ke mata Radya, mencari sisa-sisa kewarasan di sana.

“Aku tidak punya rencana apa-apa. Aku tidak bersekongkol dengan Eyang. Aku melihat ada yang salah dengan dokumen itu, dan aku hanya melakukan apa yang menurutku benar. Itu saja.”

Penjelasannya yang rasional terdengar begitu hampa di tengah badai emosi Radya. Itu seperti mencoba memadamkan api neraka dengan segelas air.

“Benar?” desis Radya, suaranya kini turun menjadi bisikan yang jauh lebih menakutkan daripada teriakannya.

“Menurutmu benar mempermalukanku? Membuatku berutang budi padamu? Membuatku terlihat seperti orang bodoh yang tidak bisa mengurus perusahaannya sendiri?”

“Bukan itu maksudku…”

“Lalu apa?!” Radya menyambar cangkir teh jahe itu lagi dari tangan Raras. Genggamannya begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih.

“Apa maksud dari semua ini, hah?! Apa tujuan akhirmu?! Mengambil alih Cokrodinoto? Membuat Eyang mewariskan semuanya padamu karena kau punya ‘weton inten’ sialan itu?!”

Kemarahan Radya mencapai puncaknya. Wajah Raras yang tetap tenang meski pucat pasi seolah menjadi bahan bakar terakhir bagi apinya. Ia tidak tahan lagi dengan perempuan ini. Dengan keberadaannya. Dengan bau herbal samar yang menempel di tubuhnya. Dengan tatapan matanya yang seolah bisa melihat menembus dirinya.

Dengan teriakan frustrasi yang tertahan, ia mengangkat cangkir itu tinggi-tinggi.

“Aku muak dengan permainanmu!”

KRAAANG!

Cangkir porselen itu melayang dan menghantam dinding di belakang Raras, pecah berkeping-keping. Cairan hangat berwarna cokelat keemasan menyiprat ke tembok dan lantai, menyebarkan aroma jahe dan gula yang tajam di udara yang tegang.

Raras tersentak kaget, tubuhnya membeku. Tetesan teh hangat menodai seragamnya, tetapi ia tidak merasakannya. Matanya terpaku pada satu titik. Bukan pada pecahan keramik yang berserakan. Bukan pada wajah Radya yang terengah-engah karena amarah.

Melainkan pada bayangan suaminya yang jatuh di dinding di bawah cahaya lampu dapur.

Dalam sepersekian detik yang beku saat cangkir itu pecah, tepat di puncak ledakan emosi Radya, Raras melihatnya. Sesuatu yang seharusnya tidak ada di sana. Seberkas energi, segumpal bayangan yang lebih hitam dari bayangan itu sendiri, keluar dari punggung Radya seperti embusan asap. Bentuknya tidak jelas, hanya sekelebat kegelapan yang berdenyut sesaat sebelum tersedot kembali dan lenyap ke dalam bayangan suaminya.

Itu terjadi begitu cepat, begitu tidak nyata, hingga otaknya yang logis berusaha menolaknya sebagai trik cahaya atau kelelahan mata.

Tapi instingnya berkata lain. Hawa dingin yang ia rasakan sejak tadi kini memiliki sumber. Itu bukan sekadar kemarahan. Ini bukan sekadar stres.

Ini adalah sesuatu yang lain. Sesuatu yang asing. Sesuatu yang menempel pada suaminya seperti parasit.

Napasnya tercekat di tenggorokan. Saat ia mengangkat pandangannya kembali ke wajah Radya, ketakutan yang sesungguhnya akhirnya mencengkeram hatinya. Radya menatapnya dengan tatapan predator, bibirnya menyeringai tipis penuh kemenangan.

“Lihat?” bisiknya, suaranya serak dan penuh racun.

“Bahkan benda mati pun tahu betapa kotornya dirimu. Mereka hancur berkeping-keping daripada harus disentuh olehmu.”

Matanya… itu bukan lagi mata Radya Maheswara yang ia kenal. Ada kilat asing di dalamnya, kilat dingin yang penuh kebencian purba. Dan di balik kilat itu, Raras bisa melihat jiwa suaminya yang asli, terperangkap dan menjerit tanpa suara.

1
Vay
♥️♥️♥️♥️♥️
Vay
💙💙💙💙
Vay
❤️❤️❤️❤️
Vay
♥️♥️♥️♥️
Vay
💙💙💙💙
Vay
♥️♥️♥️♥️
Vay
❤️❤️❤️❤️
Vay
💜💜💜💜
Vay
💙💙💙💙
Vay
💜💜💜💜
juwita
iih ko bayu tau sih
juwita
pdhal g ush di tolong Raras biar bangkrut sekalian perusahaan. klo udh kere ap si ayunda mau sm dia
juwita
waah ternyata bayu org jahat. radya sm. eyangnya miara ular
juwita
semoga g berhasil ada yg lindungi raras
juwita
jahat si bayu mgkn musuh dlm selimut dia
Vay
💜💜💜💜
Vay
❤️❤️❤️❤️
Vay
♥️♥️♥️♥️
Vay
💜💜💜💜
Vay
❤️❤️❤️❤️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!