Sepuluh tahun yang lalu, sebuah ledakan di tepi Sungai Adige menghancurkan kejayaan keluarga Moretti dan meninggalkan Elena Moretti sebagai satu-satunya pewaris yang menanggung noda pengkhianatan. Kini, Elena kembali ke Verona bukan untuk menuntut warisan, melainkan untuk mengubur masa lalunya selamanya.
Namun, Verona tidak pernah melupakan.
Langkah Elena terhenti oleh Matteo Valenti, pria yang kini merajai langit Verona. Matteo bukan lagi pemuda yang dulu pernah memberikan mawar di balkon rumahnya; ia telah berubah menjadi sosok berdarah dingin yang memimpin bisnis gelap di balik kemegahan kota kuno itu. Bagi Matteo, kembalinya Elena adalah kesempatan untuk menuntaskan dendam keluarganya.
Elena dipaksa masuk ke dalam kehidupan Matteo—sebuah dunia yang penuh dengan aturan tanpa ampun, pertemuan rahasia di gedung opera, dan darah yang tumpah di atas batu jalanan yang licin. Namun, saat "gema" dari masa lalu mulai mengungkap kebenaran yang berbeda tentang kematian orang tua mereka,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SHEENA My, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Arus Hitam dan Predator Langit
Hantaman air Laguna Venesia terasa seperti beton yang pecah saat tubuh Elena dan Matteo menghunjam permukaan yang pekat. Dingin yang menusuk segera merayap ke tulang, mengancam untuk membekukan sisa-sisa napas di paru-paru. Di bawah permukaan air yang gelap, penglihatan Elena terbatas, namun jemarinya tidak pernah melepaskan genggaman Matteo. Pria itu terasa berat, gerakannya melambat akibat kehilangan darah, namun tarikan tangannya tetap menjadi kompas bagi Elena di tengah arus bawah yang ganas.
Begitu kepala keduanya muncul di permukaan, oksigen malam yang tajam menyengat kerongkongan. Elena menyapu rambut basahnya dari wajah, matanya segera mencari keberadaan perahu motor yang seharusnya dikemudikan Luca. Di belakang mereka, Pulau Poveglia tampak seperti siluet neraka yang menyala samar oleh api dari gedung rumah sakit yang terbakar. Suara teriakan Isabella masih terdengar samar di antara deru angin, penuh dengan kemarahan yang tidak lagi manusiawi.
"Luca!" teriak Elena, suaranya parau.
Sebuah speedboat ramping dengan cat hitam matte muncul dari balik kabut, melaju tanpa suara mesin konvensional. Luca bermanuver dengan presisi, mendekatkan lambung kapal agar Elena bisa menarik tubuh Matteo yang kini mulai kehilangan kesadaran. Dengan sisa tenaga yang ada, Elena mendorong Matteo ke atas dek, lalu memanjat masuk tepat saat sebuah cahaya tajam menyapu permukaan air dari arah menara pengawas.
"Kita harus pergi sekarang!" bentak Luca tanpa menoleh. "Sensor mereka sudah mengunci koordinat kita!"
Baru saja Luca menarik tuas kecepatan, suara dengungan yang tinggi dan menjengkelkan terdengar dari arah langit. Bukan helikopter, tapi sesuatu yang lebih kecil dan lebih lincah.
"Drone," desis Matteo, suaranya nyaris hilang. Pria itu duduk bersandar di kursi belakang, tangannya menekan bahu yang bersimbah darah. "Isabella menggunakan predator drone kelas ringan. Mereka punya senjata termal."
Tiga bayangan kecil dengan lampu merah yang berkedip muncul dari kegelapan langit, menukik dengan kecepatan luar biasa. Elena segera merangkak ke bagian belakang perahu, membuka kotak penyimpanan darurat dan mengeluarkan senapan mesin ringan MP5 yang sudah disiapkan Luca.
"Banting ke kanan, Luca!" perintah Elena.
Tatatatata!
Rentetan peluru dari drone pertama menghantam air hanya beberapa inci dari sisi kiri perahu, menciptakan air mancur kecil yang membasahi dek. Elena mengokang senjatanya, mencoba menstabilkan pijakan di atas perahu yang berguncang hebat. Pikiran Elena bekerja cepat; maksud dari penggunaan drone ini bukan hanya untuk membunuh, tapi untuk merusak mesin perahu agar mereka terombang-ambing di tengah laguna tanpa perlindungan.
Elena melepaskan tembakan balasan. Kilatan api dari laras senjatanya menjadi satu-satunya cahaya di tengah kegelapan. Drone pertama meledak di udara setelah peluru Elena mengenai rotor utamanya, jatuh ke air seperti burung besi yang patah sayap. Namun, dua drone lainnya mulai berpencar, melakukan taktik pengepungan dari atas.
"Matteo, tetaplah tunduk!" Elena berteriak di antara bising angin.
Matteo, meskipun dalam kondisi sekarat, meraba saku jaketnya. Matteo mengeluarkan sebuah perangkat kecil berbentuk tabung—sebuah signal jammer portabel yang dia ambil dari ruang rahasia semalam. Dengan tangan gemetar, Matteo mengaktifkan perangkat tersebut.
"Elena... bidik drone yang di sebelah kiri... sekarang!" perintah Matteo.
Saat Matteo menekan tombol pada alat itu, frekuensi kontrol drone tersebut terganggu sejenak. Pesawat tanpa awak itu tampak limbung di udara, kehilangan stabilitas elektroniknya. Elena tidak menyia-nyiakan kesempatan; satu rentetan peluru tepat sasaran membuat drone kedua hancur berkeping-keping.
Namun, drone ketiga jauh lebih cerdas. Pesawat itu naik lebih tinggi, berada di luar jangkauan tembakan efektif senapan mesin ringan dan menjauh dari radius gangguan jammer. Drone itu mulai mengunci target dengan laser merah yang tipis dan mematikan, diarahkan tepat ke tangki bahan bakar perahu.
"Dia akan menembak tangki kita!" teriak Luca.
Elena menjatuhkan senapannya, menyadari bahwa peluru biasa tidak akan cukup. Matanya tertuju pada tas taktis Matteo yang terbuka. Di sana terdapat sebuah suar (flare gun) jarak jauh. Elena segera meraihnya. Tujuannya bukan untuk menembak jatuh drone itu, melainkan untuk mengacaukan sensor infra-merah yang menjadi mata bagi senjata drone tersebut.
Cahaya merah laser itu sudah menyentuh dek perahu. Dalam hitungan detik, sebuah rudal kecil akan diluncurkan. Elena menarik pelatuk suar. Bola api terang melesat ke langit, menciptakan panas yang luar biasa di udara.
Sensor drone itu terkecoh oleh tanda panas suar yang lebih besar dari panas mesin perahu. Rudal kecil diluncurkan, namun ia berbelok tajam mengikuti arah suar dan meledak di udara, menciptakan kembang api maut yang menerangi seluruh laguna untuk sesaat.
"Sekarang, Luca! Keluar dari radius mereka!" Elena terengah, paru-parunya terasa terbakar.
Luca memacu mesin hingga batas maksimal. Mereka meluncur di atas air menuju daratan utama Venesia, meninggalkan Pulau Poveglia yang kini hanya menjadi titik hitam di cakrawala. Elena segera menghampiri Matteo, menjatuhkan diri di samping pria itu.
Matteo menatap Elena dengan tatapan kosong, kulitnya kini sedingin air laguna. "Kau... kau melakukannya..."
"Kita melakukannya, Matteo," Elena memeluk kepala Matteo, mengabaikan darah yang mengotori gaunnya. "Jangan tutup matamu. Kita akan sampai di daratan. Marco sudah menunggu di dermaga Mestre."
Matteo tersenyum lemah, sebuah senyuman yang tampak tulus untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu kembali. "Isabella tidak akan membiarkan kita sampai ke Roma... dia akan mengerahkan segala yang dia miliki..."
"Biarkan dia mencoba," bisik Elena dengan nada yang penuh ancaman. "Dia telah meremehkan apa yang bisa dilakukan oleh seorang Moretti yang tidak lagi punya beban masa lalu."
Di kejauhan, lampu-lampu kota Venesia mulai terlihat, namun Elena tahu bahwa perjalanan menuju Roma akan jauh lebih berdarah. Kemenangan digital di Poveglia barulah permulaan. Mereka telah merobek jaring labirin Isabella, dan sekarang, laba-laba itu akan keluar dari sarangnya untuk berburu secara terbuka.
Elena menggenggam tangan Matteo, merasakan denyut nadi pria itu yang semakin lemah namun tetap bertahan. Maksud dari perjuangan ini bukan lagi sekadar bertahan hidup; ini adalah tentang memastikan bahwa sejarah Italia tidak lagi ditulis oleh orang-orang yang bersembunyi di balik cincin emas dan koper perak.
Perahu itu terus melaju, membelah ombak laguna yang hitam, membawa dua jiwa yang telah terbakar habis namun menolak untuk padam. Malam panjang di Venesia mungkin akan segera berakhir, namun fajar di Roma menjanjikan badai yang jauh lebih besar.