Aku Nadia istri dari Mas Afif dan ibu dari Bintang. aku istri yang setia, yang selalu berusaha melayani suamiku dengan baik, menemaninya dari nol. aku juga ibu yang baik untuk anakku Bintang. singkatnya aku berusaha menjadi yang terbaik untuk suami dan anakku.
Namun di saat pernikahanku yang ke tujuh, Mas Afif memberikanku kejutan besar, dia membawa seorang wanita lain ke dalam rumah tangga kami, namanya Laras dan anak tirinya bernama Salsa, yang Bintang selalu bilang kalau anak itu adalah anak tercantik di kelasnya.
cerita perhianatan dan kebangkitan Nadia dari penghianatan suaminya.
happy reading All❤️ bantu support cerita pertama saya ya, trims🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Acaciadri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Akhirnya senjata pamungkas terakhir pun ku keluarkan. Terpaksa ku lakukan, karena dia kekeuh akan mempersulit jalanku.
Masih tak menyangka suamiku sendiri bisa-bisanya melakukan hal yang tak bermoral dengan chek in ke hotel bersama wanita yang bukan istrinya. Padahal aku di rumah setiap hari, selalu mendo'akannya, selalu berusaha berpikir positif kalau dia hanya bekerja profesional dan semua itu di lakukan untukku dan juga untuk anaknya Bintang, tapi apa yang ku dapat dari kenyataan baru-baru ini yang bukan lagi menggores hatiku, melainkan mengambilnya secara paksa, sampai aku di buat lebih dari sakit hati.
Bukti kalau suamiku dan Laras, mereka melakukan hal 'itu' sebelum menikah. Ahh bahkan aku masih ingat jelas di hari aku mendapatkannya bagaimana responku. Aku semalaman tidak tidur dan sudah seperti seseorang yang hilang akal saja. Masih tak percaya, padahal bukti sudah ada. Ya, meski pun tidak se detail itu, tapi bukti cctv sangat menunjukan jelas kalau dia chek in ke hotel bersama Laras dan pulang keesokan paginya dengan memakai baju berbeda. Coba, mereka menginap di hotel bukan untuk main uno atau ular tangga kan? Ku rasa bukan, tetapi main yang lain.
Ya Alloh, ini mah zina bukan lagi nikah terpaksa, tapi mungkin bentuk tanggung jawab Mas Afif terhadap perempuan itu.
Dan yang tak ku sangka, seseorang yang mengirimi video itu adalah seseorang yang merupakan sahabat baik Laras yang meminta supaya aku merahasiakan jati dirinya. Katanya dia pernah melihatku dan Mas Afif tanpa sengaja, lalu mendengar percakapan kami. Dan katanya sebagai sesama wanita, ia hanya ingin memberikan bukti yang barangkali bermanfaat untukku. Tentu, aku sangat berterimakasih, di tengah kekalutanku, Alloh maha baik, Alloh mengirimiku seseorang yang semakin meneguhkan hatiku untuk berpisah dari Afif.
“Mama ngelamun?.“Tanya Bintang yang membuat tubuhku terperanjat lalu buru-buru ku gelengkan kepalaku, sambil memaksa bibir ini tersenyum walau agak kaku.
“Eh engg.ak kok, mama cuman lagi sedikit mikir..hehe.“Kilahku, Bintang meninggalkanku sebentar lalu mengambilkanku segelas air mineral dan membawakannya ke hadapanku, aku menghabiskannya dan sebagai ucapan terimakasih, aku pun mengelus kepalanya sayang.
“Enggak mau bobo lagi? Kalau mau bobo, boleh kok, kan hari minggu ini, Bin.“Ucapku berbisik lembut di telinganya, Bintang malah memelukku dan membuatku kebingungan.
“Lho Bin, kenapa?.“Tanyaku heran.
“Mau bobo sama mama, ya? Sama adek juga deh.“Rengeknya dan aku pun mengangguk, sebelum membawa Bintang ke kamar, ku lirik sebentar jam dinding yang bertengger manis di ruang tamu, masih pukul enam pagi. Baiklah, setidaknya ada satu jam sebelum aku membuat sarapan yang rencananya akan ku rekam untuk kontenku berikutnya.
******
“Assalamu'alaikum..“Ucap seseorang yang membuatku bangkit dan segera mem-pause videoku yang sedang ku tonton dan ku edit di laptop, aku berjalan tergopoh-gopoh keluar dari rumah, saat aku membuka pintu. Tubuhku mendadak kaku dengan kedua mata membeliak karena terkejut mendapati sepasang papa dan ibu mertuaku dengan membawa kantung kresek yang entah berisikan apa.
Dari mana mereka tahu tempat tinggal baruku? Bibi atau Arka? Ku rasa keduanya sama-sama telah berjanji untuk merahasiakan tempat tinggal baruku ini pada siapapun. Aku juga sudah mewanti-wanti supaya mereka bungkam, walau di paksa sekalipun. Aku belum siap menerima keluarga Afif pun dengan Afif sendiri.
Tapi mereka sudah datang, masa iya aku usir, walau aku sudah muak dengan anak mereka, bukan berarti aku memperlakukan kedua mertuaku dengan kejam juga.
“Eh pa, ma, ayo masuk..“Tukasku setelah sadar dari keterkejutanku lalu membawa keduanya masuk ke ruang tamu, untungnya rumah mungilku ini sudah selesai ku beresi, ya. Walaupun tetap acak-acakan sih, terutama di dapur, habis masak dan buat konten tadi.
Aku menyalimi mereka satu persatu dan tak lupa memberi mereka senyum tulusku.
“Bagaimana kabar kamu, Nad? Kamu sehat?.“Mama mengawali percakapan denganku, dan ku balas dengan anggukan pelanku.
“Sehat ma, mama dan papa sendiri?.“
“Alhamdulillah, papa dan mama sehat.“
“Syukurlah, oh ya. Sebentar, Nadia ambilkan air dan juga camilan__”Saat aku sudah bersiap untuk mengambilkan air minum dan camilan untuk mereka, di saat itulah tanganku di tarik oleh mama dan aku di suruh duduk di sebelahnya, pada akhirnya aku pasrah saja dan duduk di sebelahnya. Aku merasakan perasaan yang tak enak, kedatangan mama dan papa pastinya membawa maksud dan tujuan tertentu, dan aku sudah bisa menebaknya.
“Sebetulnya mama dan papa di kasih tahu sama Afif, dan kami cukup terkejut saat tahu kamu udah keluar dari rumah kalian.“Tutur mama yang membuat aku menunduk dengan kedua tangan tertaut di atas lutut.
“Mama dan papa lebih terkejut lagi saat Afif cerita kalau kamu udah ngajuin gugatan cerai, Nad..“
Aku menoleh dan mendapati raut wajah mama yang nelangsa dengan kedua mata berkaca-kaca dan siap menangis, andai mama tahu, seperti apa kelakuan anaknnya. Mungkin dia pun akan sangat maklum kenapa aku mengambil langkah ini.
“Gak bisa di bicarain baik-baik ya? Barangkali kamu dan Afif memiliki kesalah pahaman.“Lirihnya, ku hela nafas dalam-dalam dan ku usap air mataku ini kasar, ku tatap mama, sosok yang paling lembut, baik , pengertian. Mama Afif baik sekali padaku dan alasan kenapa aku menerima Afif sebagai suamiku, salah satunya karena mamanya yang berhati malaikat ini.
“Maaf ma, tapi Nadia udah gak bisa mentorerir kesalahan mas Afif, Nadia mau cerai karena Nadia anggap mas Afif udah gak sejalan lagi sama Nadia.“
“Apa karena Afif nikah lagi?.“Tanya mama terdengar hati-hati dan membuatku tersenyum kecut.
“Mama tahu?.“Tanyaku yang mungkin terlihat bodoh, padahal Afif pernah mengatakan kalau keluarganya sudah tahu, bodohnya aku, kenapa masih bertanya..ckck
“Maaf Nad, tapi waktu itu Afif bilang kalau Afif tidak punya pilihan lain selain harus menikahi Laras.“
Aku mengangguk”Ya, dia bilang seperti itu juga sama aku.“
“Nad, mama tahu poligami itu berat sekali. Tapi tak bisakah kamu bertahan? Setidaknya lihat Bintang Nad, dia masih kecil, masih butuh keluarga lengkap. Gak kasihan kamu sama anak kamu sendiri?, bagaimana pun mama pernah tumbuh di keluarga broken home dan mama tahu bagaimana hidup dengan orang tua yang bercerai, rasanya gak enak Nad. Mama bahkan merasa hidup mama berat sekali karena gak bisa tinggal dengan orang tua lengkap di satu rumah, saat teman-teman mama jalan-jalan dengan orang tuanya, mama hanya bisa termenung dan menangis Nad. Mama gak mau cucu mama seperti itu Nad, mama ingin cucu mama bisa bahagia di besarkan oleh kedua orang tuanya yang lengkap.“
“Ma, Keputusan Nadia ini sudah Nadia pikirkan matang-matang, Nadia juga udah minta petunjuk sama Alloh, kok ma. Dan ya, jawaban itu datang, semakin membuat Nadia yakin,.kalau cerai dengan mas Afif adalah keputusan terakhir, maaf ma. Dan untuk Bintang, Nadia tidak akan membatasi waktu Bintang bersama Mas Afif, silahkan kalau Mas Afif mau bertemu Bintang, kapanpun itu. Mau menginap juga boleh kok dan insyaAlloh Nadia akan didik Bintang dan memberinya pemahaman kenapa Nadia bisa berpisah dengan Mas Afif tanpa membuat jiwanya terguncang.“
Mama Afif menangis tersedu-sedu dan sekarang di tenangkan oleh papa mertua. Melihatnya hatiku pun tersayat, tapi keputusanku sudah bulat, mau di bujuk dengan cara apapun aku tidak akan mundur lagi.
“Nad, bukankah rasul juga poligami? Kamu gak bisa mencontoh seperti siti Aisyah yang rela melihat suaminya poligami? Papa denger pahala seorang istri yang di poligami itu jaminannya syurga Nad.“Ujar papa mertua yang membuatku terkekeuh pelan, mama mertua pun menyenggol lengan papa mertua dan papa mertua menghendikan bahunya kasar, seolah tak peduli kalau ucapannya menyentil hatiku.
Lucu sekali ya, poligami rasul di sama-samakan dengan poligami di zaman sekarang. Padahal jelas berbeda jauh sekali. Dulu, rasul poligami itu bukan karena alasan nafsu semata, melainkan perintah Alloh. Rata-rata istri yang di nikahi rasul itu adalah nenek-nenek dan kenapa rasul berpoligami?, alasannya jelas. Karena rasul ingin memuliakan wanita, menolong mereka dari kemiskinan dan menjaga mereka__meski aku bukan anak kiyai atau ustadz, tidak pernah mondok di pesantren juga. Tapi aku sering baca-baca soal syiroh nabi. Dan aku ingat sekali tentang pembahasan poligami rasul, poligami itu sebetulnya titah Alloh dan seperti yang ku bilang alasannya ingin memuliakan wanita, menjaga dan menolongnya.
Dulu di zaman rasul peperangan selalu mengharuskan para pria meninggalkan istri-istrinya dan saat tahu ada janda yang di tinggalkan mati suaminya. Rasul pun langsung menikahinya karena alasan itulah rasul berpoligami__andai tidak di wajibkan, maka mungkin rasul pun tidak akan poligami.
Cinta rasul yang sejati adalah siti khadijah, istri pertama dan istri yang tidak rasul poligami ketika dia masih hidup. Perintah menikah lagi turun setelah Siti Khadijah wafat dan rasul pun semata-mata menikah lagi dengan Siti Aisyah karena perintah Alloh semata.
Coba bandingan dengan Afif atau pria di luaran sana yang jelas berbeda sekali. Afif dan pria di luaran sana berpoligami semata-mata karena ingin menuruti hawa nafsu mereka, bukan? Kalau tidak. Ya, mungkin Afif akan memilih berpoligami dengan nenek-nenek terlantar dan kalaupun terjadi, tentu aku tidak keberatan sama sekali, pasalnya tidak akan pernah terjadi hal seperti itu.
“Pa, memang hadiah untuk istri yang di poligami itu Syurga, tapi tidak semua istri bisa ikhlas melihat suaminya menikah lagi, dan istri yang tidak ikhlas itu Nadia, juga.. apakah tidak ada ibadah lain? Tentunya banyak pak, tanpa harus poligami. Dan untuk poligami rasul, rasul berpoligami semata-mata ingin menolong para janda tua yang sudah di tinggalkan mati oleh suaminya, Nadia tanya. Istri Mas Afif, Laras. Dia janda miskin dan tua bukan? Hidupnya terlunta-lunta dan butuh perlindungan Mas Afif?.“Kedua mertuaku bungkam dan membuatku tersenyum sinis.
“Enggak kan?, Laras itu anak orang kaya. Tanpa di nikahi Mas Afif pun hidupnya masih sejahtera pa. Lalu di mana kemiripan poligami yang rasul lakukan dan Mas Afif? Enggak ada pa.“
“Tapi ya, kamu gak bisa gitu nerima aja. Lagian kamu harus seneng lho Afif poligami, dengan begitu kamu gak harus ngelayani suamimu setiap hari.“Ucap papa martuaku lagi yang lagi kena sikutan mama mertua.
Masih berusaha tenang, walau rasanya aku ingin berteriak kencang di hadapan wajah papa mertua. Tapi tidak, bagaimana pun beliau usianya lebih tau dariku dan sudah ku anggap sebagai papaku sendiri, walau tak ku sangka beliau punya ucapan yang membuat hatiku berjengit sakit begini.
“Seperti yang Nadia bilang tadi, Nadia bukan salah satu wanita yang ikhlas melihat suaminya berpoligami pa, dan menurut Nadia sendiri, kewajiban seorang istri untuk melayaninya, tidak membuat Nadia keberatan sama sekali, Nadia ikhlas. Kalau Nadia di beri pilihan, menerima poligami atau ibadah lain, ya. Nadia lebih memilih ibadah lain.“
“Kamu ini keras kepala sekali ya, Nad. Susah bicara sama kamu. Kami ke sini__.“
“Cukup pa, biar mama yang ngomong.“Potong mama mertuaku.
Lalu kedua tangan mama mertua menarik tanganku dan menggenggamnya erat, tatapan matanya mengunciku. Aku tahu, mama mertua adalah yang paling baik dan paling mengerti aku, mengingat latar belakang kami yang mirip, sama-sama sudah di tinggalkan oleh kedua orang tua kami, aku berharap mama mertua akan mendukung keputusanku.
“Nad, mama tahu ini berat untuk kamu tapi coba kamu pikir Nad. Bersama Afif membuat hidup kamu jadi lebih baik, kamu bisa minta apapun sama dia, Nad. Pun dengan Bintang, anak kalian yang tidak perlu kamu ambil pusing soal masa depannya..“
Makna tersirat dari ucapan mama mertua adalah, Afif kaya dan dengan tinggal bersama Afif setidaknya ekonomi kami sejahtera. Tapi tentunya aku bukan dari salah satu wanita yang mementingkan kekayaan tapi batin terluka__toh aku pun bekerja dan sudah menerima manfaat dan juga bayaran, walau tidak sebesar Afif. Tapi setidaknya mampu membiayai hidupku dan Bintang.
“Ma__.“
“Pikirkan dengan matang-matang ya, Nad. Papa dan mama serta Afif akan sabar nunggu jawaban kamu kok.“Potong mama mertua lalu pamit denganku setelah menyerahkan kantung kresek yang mereka bawa.