Masih duduk di bangku SMA tapi sudah dijodohkan, apa jadinya?
Thea, gadis yang mencintai kebebasan tanpa kekangan harus dijodohkan dengan Sagara yang selalu taat pada aturan dan prinsip hidupnya. Keduanya setuju untuk menikah, namun mereka mempunyai aturan masing-masing. Keduanya akan hidup satu atap tanpa ikut campur urusan masing-masing dan juga cinta. Namun, karena kesalahpahaman, hubungan mereka memburuk. Thea mengira Sagara hanya mengincar harta keluarganya, sementara Sagara mengira Thea lah dalang dibalik kematian adik kandungnya. Lalu, apa yang akan mereka lakukan selanjutnya?
"Sudah Lima tahun, kita berpisah atau hidup kamu akan Aku buat lebih menderita!"
Thea menyunggingkan seulas senyuman. "Mana mungkin aku melepaskan kamu begitu saja, kamu adalah peliharaan keluargaku!"
"Brengsek! bahkan harta yang kamu miliki nggak bisa beli hati Sagara! kamu terlalu angkuh dan sombong! Sagara, nggak cocok hidup sama kamu!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wulan_Author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pisah Rumah Saja?
Ceklek
(Pintu terbuka lebar)
"Pak, acaranya sudah selesai, mari kita pindah lagi ke ruangan Bapak," tutur perawat.
Semua orang mengangguk dan menuruti perintah suster yang sebelumnya mengijinkan mereka menempati kamar yang lebih besar sementara untuk pernikahan Sagara dan Thea.
Sementara Pak Jordan dan yang lainnya beres-beres untuk pindah ruangan, Thea dan Sagara pamit untuk pulang lebih dulu.
"Pah, Tante, Om, aku sama Sagara pulang dulu ya, kalau ada apa-apa langsung kabarin."
Semua orang mengangguk, "Iya sayang."
Kini Pak Jordan dan yang lainnya pun ikut pergi dari ruangan itu dan kembali ke ruangan Suite Anggrek kamar sebelumya.
Satu Jam Kemudian.
"Hai, Om, Mam," sapa Zara.
Mami Jesica menoleh ke arah suara. "Loh, Zara! Kok kamu baru sampai sih?" tanyanya.
Zara menoleh ke seluruh ruangan. Namun, sayang tempat itu kini sepi dan hanya ada Mami Jesica dan Om Jordan. "Iya Mam, tadi aku sempet nyasar malah masuk ruangan lain. Terus mana Thea sama suaminya?" tanya Zara.
"Anak nakal, bukannya tanya keadaan Om nya dulu, malah nanya pengantin baru!" sahut Om Jordan yang masih terbaring lemah.
Zara tersenyum lalu mendekat ke arah sang Om. "Maaf Om, Zara juga khawatir sama keadaan, Om. Gimana sekarang kondisi, Om?"
Om Jordan menghela nafas kecil. "Om baik-baik saja sayang, kamu sendiri gimana? Mana calon suami kamu?" cetus sang Om.
Zara memanyunkan bibirnya. "Mentang-mentang sekarang Om udah punya mantu, jadi aku di pojokin nih harus punya suami cepet juga?" sahutnya.
Om Jordan tertawa renyah. "Lagian kamu kalah cepet sama sepupu kamu, tuh. Dia udah punya suami, kamu masih anteng aja kerja! Nggak capek kah sayang?"
"Nggak Om, aku masih suka sendiri."
Tante Jesica menghela nafas panjang. "Terus aja suka sendiri, kapan mau nikahnya dong?" cetusnya.
Zara hanya melirik sambil tersenyum acuh, tak menanggapi serius ucapan sang Mami.
Zara kembali menoleh ke arah kamar mandi, berharap ada petunjuk tentang suami Thea.
"Oh iya, jadi sekarang Thea sama suaminya pulang ke rumah, Om, dong?"
Om Jordan mengangguk pelan. "Iya sayang, mereka pulang untuk istirahat. Kasian Thea besok harus sekolah dan suaminya harus pergi ke kantor," jawab Om Jordan.
Mami Jesica menyahut. "Memang kamu nggak papasan sama Thea tadi?"
Zara menggelengkan kepalanya. "Nggak Mam, kayaknya kita nggak lewat jalan yang sama," ucapnya.
"Ya kamu sih lama datangnya, jadi nggak sempet lihat mereka kan."
"Siapa nama pengantin prianya Mam?"
Om Jordan menyela. "Suami Thea umurnya jauh lebih tua dari umur Thea. Om berharap dengan adanya pendamping hidup yang dewasa, dia bisa menjaga Thea saat Om sudah pergi nanti."
Zara mendecak sambil menggenggam lengan Om Jordan dengan erat. "Om jangan ngomong kayak gitu dong. Om pasti sehat, lagian Thea kan masih punya aku dan Mami, jadi Om jangan khawatir, ya?" ucap Zara.
Om Jordan tersenyum hangat mendengar ucapan keponakannya yang terdengar lebih dewasa daripada biasanya.
"Nama suami Thea, Sagara, sayang."
Deg.
Zara mengerutkan keningnya. Perlahan-lahan senyuman yang mengembang diwajahnya kini memudar seketika saat mendengar nama Sagara.
"Apa, Mam, Sagara?"
Mami Jesica mengangguk.
"Iya, Sagara Narendra Pratama."
......................
Kediaman Thea.
Setelah menempuh perjalanan selama 30 menit dari rumah sakit, akhirnya Thea dan Sagara tiba di rumahnya dikediaman Pak Jordan.
"Thank's Lo udah nganterin Gue pulang, sekarang Lo boleh balik ke rumah Lo sendiri!" ucap Thea dengan wajah judesnya.
Sagara mengerutkan keningnya sambil menyipitkan mata mendengar ucapan sang istri. Bukankah kini mereka sudah menjadi suami istri? Lalu kenapa Sagara harus pergi ke rumahnya sendiri dan bukan dipersilakan masuk ke rumahnya? Ini sungguh lucu.
Dengan santai, Thea berlalu meninggalkan Sagara yang masih berdiam diri di dalam mobil sambil menatapnya dengan tatapan bingung. Namun, sayang Thea tidak peka dengan tatapan Sagara kepadanya.
Sagara sedikit menyunggingkan seulas senyuman. Walaupun Sagara belum menyukai dan mencintai Thea, namun tetap Sagara harus berusaha untuk menjaganya dengan baik.
Sagara tak mencegah Thea pergi meninggalkannya sendiri, pemuda itu lanjut memarkirkan mobil miliknya masuk ke garasi rumah Thea, dan menyusulnya setelah selesai nanti.
Ceklek.
(Suara pintu terbuka)
Bi Mia berlari dari dapur saat mendengar suara pintu yang terbuka lebar.
Dengan wajah berbinar, sang bibi berlari ke arah Thea untuk menyambutnya. "Non, sudah pulang? Ayo Non, Bibi sudah menyiapkan kamar untuk Non," ucap Bi Mia sambil tersenyum lebar.
Thea mengerutkan keningnya melihat tingkah pembantunya yang sedikit aneh ini. "Bibi kenapa senyum-senyum kayak gitu? Ada yang lucu sama aku?" tanya Thea sambil mengangkat kedua alisnya.
"Enggak, Non. Enggak ada apa-apa," sahut Bi Mia sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Beberapa saat kemudian, pintu kembali terbuka lagi. Dan betapa terkejutnya Thea saat melihat Sagara masuk ke dalam rumahnya membawa koper dan satu tas berukuran besar ke dalam rumahnya.
"Loh, Lo ngapain ada di sini? Harusnya kan Lo pulang ke rumah Lo sendiri. Ini rumah Gue!" ucap Thea dengan nada tinggi.
Sagara menghela nafasnya. "Kamu kan istri Saya, ya Saya akan tinggal disini juga sama kamu," sahut Sagara dengan entengnya.
Thea membulatkan matanya hingga melotot sempurna saat mendengar ucapan Sagara. "What? Enggak! Lo nggak boleh tinggal di sini! Lo harus pulang ke rumah Lo sendiri!" sentak Thea sambil menggeser koper Sagara menuju pintu keluar.
Namun, Sagara langsung menangkap koper miliknya lalu menarik kembali kopernya hingga Thea hampir terjatuh di pelukan Sagara.
"Kurang ajar!"
"Loh, ada apa ini? Kenapa berisik sekali?" ucap seorang wanita tua yang baru saja keluar dari dalam kamar.
Mendengar suara yang begitu familiar, Thea langsung membalikkan badanya melihat siapa sosok yang dia dengar barusan.
"Nenek?"
Thea terkejut saat melihat sang Nenek yang kini sudah berdiri tegak menggunakan tongkat tepat dibelakangnya.
"Kenapa kamu kaget seperti itu? Aku nenekmu dan aku masih hidup!" bentak Nenek Samantha.
Thea terdiam kaku sambil menelan ludahnya dengan kasar. "B-bukan gitu Nek, aku cuma kaget aja lihat Nenek tiba-tiba ada di disini," jawab Thea dengan nada terbata-bata.
Nenek Samantha memukul kaki sang cucu menggunakan tongkat miliknya. "Apa aku tidak boleh datang ke rumah cucu dan menantu Ku?"
Nenek Samantha berdecak kesal sambil mengomelinya seperti biasa. Namun, sebenarnya Nenek Samantha adalah Nenek yang baik hati, bahkan Nenek Samantha sangat menyayangi Thea karena Thea adalah cucu satu-satunya yang di miliki Nenek Samantha.
Sagara mendekat ke arah Nenek Samantha.
"Halo, Nek. Perkenalkan, nama aku Sagara," ucap Sagara sambil mencium tangan keriput sang Nenek.
Nenek Samantha mendelik tajam melihat pemuda asing dihadapannya.
"Jadi kamu adalah suami cucu Ku?" tanya Nenek Samantha sembari memiringkan kepalanya sedikit.
Thea begitu terkejut saat sang Nenek tahu jika Sagara adalah suaminya. Dari mana dia tahu? Apa semua ini sudah di rencanakan semua orang?
"Kok Nenek tahu dia suami aku sih?"
Nenek Samantha tak menggubris pertanyaan Thea, Nenek tua itu kembali menoleh ke arah Sagara yang masih berdiri dihadapannya.
Sagara mengangguk sopan. "Benar, Nek, saya suami Thea."
Thea mengepalkan tangannya sambil menggigit bibirnya dengan kasar. Rasanya ingin sekali Thea meninju wajah Sagara dengan keras karena kini semua perhatian malah tertuju kepadanya.
Nenek Samantha menghela nafasnya sambil berjalan menuju sofa.
"Aku sudah tahu apa yang baru saja terjadi. Ini sangat disayangkan, usia Thea masih begitu muda tapi karena keras kepala Jordan dia malah harus menikah muda!" ucap sang Nenek.
Mendengar rasa kecewa yang diucapkan sang Nenek, wajah Thea langsung berbinar, mungkinkah dia punya harapan?
Thea mendekat ke arah sang Nenek dengan wajah memelas. "Iya kan, Nek? Aku juga nggak setuju sama pernikahan ini, tapi Papa terus paksa jadi Thea.."
"Kamu memang harus menikah dengan dia!"
Wajah melas Thea langsung berubah lagi saat Nenek Samantha memotong ucapannya dengan kata-kata tidak menyenangkan.
"Nek?"
"Kenapa? Kamu nggak suka?" tanya Nenek Samantha sambil melotot tajam.
Thea langsung menundukkan kepalanya. "Nggak kok! Kalo gitu Thea mau mandi dulu, permisi!" ucap Thea dengan ketus sambil melenggang pergi.
Brak!
Thea membanting pintu dengan kencang hingga membuat semua orang terkejut.
"Thea belum layak menjadi seorang istri, apa lebih baik mereka pisah rumah saja?"