Citra tak pernah menduga akan terjerat asmara dengan mantan kakak iparnya, Bima. Bima adalah kakak tiri Bayu, mantan suami Citra.
Rumah tangga Citra dan Bayu hanya bertahan selama dua tahun. Campur tangan Arini, ibu kandung Bayu membuat keharmonisan rumah tangga mereka kandas di tengah jalan.
Akankah Citra menerima Bima dan kembali masuk dalam lingkungan keluarga mantan suaminya dulu? Bagaimana juga reaksi Bayu juga Arini ketika mengetahui Bima menjalin asmara dengan Citra?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon REZ Zha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ziarah Ke Makam Ayah
Citra terlihat gelisah tak bisa terlelap. Dia terpikirkan akan Bima. Bukan hanya karena niat Bima yang ingin menjadikannya istri pria itu. Tapi, karena sentuhan fisik yang tak sengaja antara dirinya dan Bima tadi.
Genggaman tangan dan pelukan tangan kekar Bima dirasakan begitu menggetarkan hatinya. Dia wanita normal dan pernah merasakan interaksi intim dengan pria yang kini telah menjadi mantan suami, tentu saja hal tersebut membuat rasa yang selama ini hambar di hatinya kini terasa hangat kembali.
Pelukan Bima memang benar-benar terasa nyaman selain menyelamatkannya dari terjatuh. Harus ia akui, Bima adalah sosok laki-laki idaman. Bukan cuma tampan dan memukau secara fisik, tapi juga sangat gentle dalam tingkah laku. Itu dibuktikan dari cara pria itu memperlakukan Ibu Nurul, Uwa Ujang juga Uwa Ninik.
"Ya ampun, kenapa aku jadi mikir sejauh itu?" Citra mengerjapkan mata, mencoba menghilangkan bayangan Bima yang mulai mengusik hati dan pikirannya.
Sementara di sebelah ia berbaring, Ibu Nurul dan Ambar sudah terlelap dalam tidurnya. Tatapannya mengarah pada jam dinding yang menunjukkan pukul 23.45 menit.
Citra menarik selimutnya dan mencoba untuk beristirahat, sebab besok pagi ia beserta ibu dan adiknya akan berziarah ke makam sang ayah.
❤️❤️❤️
Citra bersiap berziarah ke makam Pak Zaenal, sang ayah yang dimakamkan di salah satu pemakaman di daerah Bogor. Rencana ziarah sengaja tak ia ceritakan pada Bima, karena pria itu pasti akan ikut jika ia beritahu rencana itu. Pasti akan dijadikan alasan bagi Bima untuk makin dekat dengan keluarganya.
"Mbak, cepetan! Mas Bima udah datang, tuh!"
Citra sedang mengambil kerudung pasminanya ketika Ambar memberitahu soal kedatangan Bima.
"Mas Bima?" Citra terkejut, sebab ternyata Bima datang pagi ini, padahal dia sudah bilang akan pulang ke Jakarta selepas Dzuhur dan tak mengatakan akan berziarah ke makam ayahnya. "Kamu kasih tahu Mas Bima kalau kita mau ziarah ke makam ayah?" Citra langsung menuding adiknya yang dianggap membocorkan rencana kepergian ke makam ayah mereka pada Bima.
"Dih, kok aku!? Aku nggak tahu apa-apa, kenapa Mbak nuduh aku?" protes Ambar lalu melangkah meninggalkan Citra dengan bibir mencebik.
"Ck, kenapa dia mesti datang, sih!? Kenapa juga bilang ke dia mau ke makam ayah, coba!?" Citra menggerutu, tak senang Bima datang, karena yakin Bima akan ikut berziarah.
Meski sudah mengizinkan Bima dekat dengannya, tapi Citra merasa tak nyaman Bima hadir dalam aktivitas privacy keluarganya.
Citra segera menutup kepala dengan kerudung dan meninggalkan kamar sambil bertanya-tanya, siapa yang memberitahu Bima soal rencana ziarah itu.
Sementara di luar, Bima berbincang dengan Uwa Ujang dan Ibu Nurul, menunggu Citra selesai bersiap-siap.
"Maaf, jadi ngerepotin kamu terus, Bima." Ibu Nurul merasa tak enak hati serba ditolong oleh Bima.
"Tidak apa-apa, Bu. Saya senang melakukanya. Daripada di hotel tidak ada yang dilakukan, mending antar Ibu dan Citra berziarah." Bima justru merasa senang, karena dengan begitu, ia merasa makin akrab dengan keluarga Citra.
"Mbar, suruh Mbakmu cepat!" Ibu Nurul lalu menyuruh Ambar saat anak bungsunya itu keluar dari dalam rumah.
"Udah, Bu. Malah Mbak Citra ngomel-ngomel," keluh Ambar.
"Ngomel-ngomel apa lagi, sih? Kamu sama Mbakmu tuh, ada aja yang diributkan." Ibu Nurul menggelengkan kepala, sebab Citra dan Ambar sering beradu argumen.
"Biasalah, Bu. Kelamaan menjanda jadi sensi gitu," celetuk Ambar cuek, tak perduli ada orang lain di sekitar mereka.
"Hush! Kamu ini kalau bicara dijaga lisannya!" tegur Ibu Nurul karena menganggap Ambar tidak sopan menggunakan bahasanya.
"Ambar, Ambar ..." Sementara Uwa Ujang terkekeh melihat kekonyolan keponakan dari istrinya itu.
Berselang satu menit, Citra akhirnya muncul dengan mengenakan hijab, membuat Bima terpukau melihat wanita yang menaklukkan hatinya itu menutup aur4tnya.
Bima sampai tak berkedip melihat Citra yang tampak makin cantik dan anggun dengan memakai hijab. Ini pertama kalinya ia melihat Citra berpenampilan seperti itu.
"Kita berangkat sekarang saja, Bima! Biar nggak kesiangan." Ibu Nurul langsung mengajak mereka berangkat karena selepas Dzuhur mereka harus kembali ke Jakarta.
"Oh, b-baik, Bu." Bima sampai tergagap menjawab ucapkan Ibu Nurul tadi.
"Mas Bima terpukau lihat Mbak pakai kerudung kayaknya." Ambar merapat dan berbisik pada Citra, dia cepat menangkap perubahan ekspresi Bima ketika melihat penampilan Citra.
"Berisik!" Citra mendelik, karena tak ingin Bima mendengar ucapan Ambar tadi.
Mereka kemudian berpamitan pada Uwa Ujang dan segera berangkat ke tempat pemakaman umum di mana ayah Citra dimakamkan.
"Kenapa kamu tidak memberitahu saya akan ke makam pagi ini?" tanya Bima ketika mereka berjalan di belakang Ibu Nurul dan Ambar.
"Maaf, ini dadakan, Mas." Citra berbohong, padahal setiap ke Bogor dia dan keluarga selalu punya waktu untuk mengunjungi makam ayah mereka, jadi acara berziarah memang ada dalam jadwal saat mereka berada di Bogor. "Mas tahu dari mana kami akan berzirah?" Citra penasaran, karena ia yakin ibunya tidak mungkin memberitahu Bima, sebab ibunya tak ingin selalu merepotkan Bima.
"Dari Pak Eka. Semalam dia bilang tidak bisa mengantar kalian karena mobilnya mogok dan minta saya untuk mengantar kamu berziarah." Bima akhirnya menyebut orang yang memberitahunya yang tidak diduga oleh Citra.
Kening Citra berkerut, seingatnya mobil kakak iparnya itu baik-baik saja dan tidak mogok.
"Hmmm, ini pasti idenya Mbak Sekar." Citra tak yakin kalau Eka keberatan mengantar berziarah, karena Eka justru selalu menawarkan mengantar ke sana tiap dia dan keluarganya ke Bogor. Dia menduga ini rencana Sekar agar dirinya makin dekat dengan Bima.
***
Setengah jam perjalanan yang mereka butuhkan untuk sampai di tempat pemakaman umum ayah Citra.
Mereka kini duduk dengan berjongkok mengelilingi pusara ayah Citra. Ketika Citra dan keluarganya membaca doa untuk sang ayah. Bima pun ikut berdoa seraya memperhatikan nisan Pak Zaenal.
"Saya berniat memperistri putri bapak. Saya berjanji, saya akan menjaga, membahagiakan dan menyayangi putri bapak lebih dari yang dia harapkan. Semoga bapak dapat melihat dari sana, keseriusan saya ini dan semoga Tuhan mengabulkan permintaan saya." Bima seperti meminta restu dari ayah Citra, meskipun ia tahu Pak Zaenal tidak akan menjawab permintaannya tadi.
"Kenapa bapak dimakamkan di sini, Bu?" Setelah Ibu Nurul selesai berdoa, Bima menanyakan alasan ayah Citra tidak dimakamkan di TPU yang ada di daerah Jakarta.
"Dulu waktu ayahnya Citra meninggal, kami tinggal di Bogor. Rumah ibu dulu di belakang jalan depan makam ini." Ibu Nurul menjelaskan seraya bangkit berpegangan tangan Ambar. "Kami baru pindah ke Jakarta setelah Citra mendapat pekerjaan di Jakarta. Ibu khawatir meninggalkan anak gadis jauh dari rumah. Takut salah pergaulan dan ketemu laki-laki yang nggak benar. Eh, ternyata tetap saja kecolongan Citra dapat suami yang seperti itu. Nggak anaknya, nggak keluarganya, sama semua seperti itu!" Ibu Nurul menumpahkan unek-uneknya terhadap keluarga Bayu yang sudah menyakiti hati Citra.
"Semoga saja Mbak Citra nggak ketemu lagi keluarga modelan kayak gitu ya, Bu!?" Ambar menimpali. Dia dan ibunya tidak tahu jika orang yang sedang mereka keluhkan masih berhubungan dengan Bima.
Sontak Bima menoleh pada Citra yang juga melakukan hal yang sama. Namun, wanita itu langsung memalingkan wajah. Walau sepintas dia dapat melihat kalau Citra seperti tak yakin dirinya bisa meluluhkan hati keluarga wanita itu untuk mendapatkan restu.
❤️❤️❤️
woooooy kamu itu udah mantaaan yaah
mantan buang pada tempatnya
tempat nya tong sampah
semoga bima sama citra tdk terpengaruh...
sepicik itu pikiran Arini terhadap Citra?
Ayo Bima lindungi Citra dari niat jahat Arini
kamu emang the best