Dunia mereka berbeda, tapi takdir mempertemukan hati yang kesepian.”
Sinopsis;Raina hanya ingin hidup tenang, bekerja keras untuk adik-adiknya. Tapi sebuah pertemuan di jalan sepi pinggiran Bogor mengubah semuanya. Julian Jae Hartmann, CEO muda yang dingin dan penuh rahasia, kini tergantung pada kebaikan gadis sederhana ini.
Di balik ketegasan Julian, tersimpan rahasia kelam, intrik keluarga, dan dendam masa lalu yang mengintai dari bayang-bayang. Dua hati yang berbeda dunia, terjebak oleh takdir, harus belajar mempercayai dan menyembuhkan luka masing-masing.
Akankah cinta mampu menembus dinding dingin dan rahasia yang mengelilingi mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Richacymuts, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17. Jejak yang hilang
Hujan tipis menimpa jendela suite hotel di Singapura.
Siluet seseorang berdiri menatap kota, tubuh tegap, wajah tak tersentuh emosi. Lampu kota memantul samar di matanya—tenang, tapi dalam.
Ponsel burner bergetar di meja.
Sebuah pesan masuk dari eksekutor terakhir—orang yang disewa untuk mengatur kecelakaan Julian.
Pesan itu sederhana:
"Semua telah selesai, target telah di buang dan di pastikan telah mati"
Tidak ada nama pengirim. Tidak perlu.
Sosok itu yang merencanakan semuanya. Ia membayar mereka, menyiapkan skenario, mengatur eksekusi… dan memastikan semua saksi hilang setelah tugas selesai.
Ia menatap layar. Sambil memejamkan mata, senyum tipis muncul—bukan senyum bahagia, tapi puas.
Segalanya berjalan persis seperti yang ia hitung.
Eksekutor? Sudah mati. Racun tak terdeteksi yang ia tempelkan di ponsel burner bekerja sempurna. Tidak ada bukti. Tidak ada yang bisa menghubungkannya.
Ia mengambil ponsel itu, menenggelamkannya sebentar di larutan kimia di gelas kecil. Plastik meleleh perlahan, lenyap tanpa bekas. Semua jejak musnah.
Lalu ia berjalan ke jendela.
Berjam-jam kota berpendar di bawahnya, hujan mengaburkan garis-garis jalan, cahaya lampu mobil yang jarang lewat menari di permukaan basah.
Senyum tipis itu kembali muncul.
Ia menyadari satu hal: ia bekerja sendiri. Tidak ada tim. Tidak ada bos. Tidak ada yang mengatur.
Semua rencana, semua eksekusi, sepenuhnya hasil pikirannya.
Namun tatapan matanya tiba-tiba melamun.
Seolah memanggil bayangan masa lalu yang selama ini ia kubur.
—Kilasan Masa Lalu—
Ia masih kecil saat semua runtuh.
Ayahnya ketahuan melakukan korupsi di tempatnya bekerja. Uang perusahaan hilang, dan hukum menuntut ganti rugi yang besar.
Ibu yang dulu lembut, penyayang, perlahan kehilangan akal.
Harta mereka diambil paksa untuk menutup kerugian yang ditimbulkan ayahnya.
Rumah mereka dijual, perabotan habis, dan anak-anak dipaksa melihat kehancuran itu.
Sosok kecil itu menatap dari sudut kamar yang dingin, tubuhnya gemetar, hati hancur.
Ia belum cukup dewasa untuk mengubah dunia, tapi sudah cukup memahami satu hal: kehidupan bisa runtuh dalam sekejap, orang yang kau cintai bisa hilang, dan dunia itu kejam tanpa alasan.
Tangisan ibu yang hilang kewarasannya, kemarahan ayah yang marah dan pasrah, semua terekam jelas di matanya.
Sejak saat itu, ia belajar: jika ingin bertahan, kau harus mengendalikan segalanya sendiri. Tidak ada yang bisa dipercaya. Tidak ada yang akan menyelamatkanmu.
—Kembali ke Masa Kini—
Sosok itu menegakkan tubuhnya kembali.
Wajahnya datar, mata menatap lampu kota yang basah.
Tidak ada rasa bersalah. Tidak ada panik.
Hanya perhitungan, ketenangan, dan kendali penuh.
Ia menulis satu catatan kecil di buku catatannya:
"Skenario berjalan sempurna. Semua alat telah disingkirkan. Target mati. Jejak hilang. Tidak ada saksi. Tidak ada yang tahu."
Catatan itu disimpan rapi.
Kemudian ia menepuk meja dengan jarinya, pelan, seolah menghitung sesuatu yang hanya ia mengerti.
Hujan di luar terus menimpa kaca, menciptakan ritme yang tenang namun mengancam.
Dalang itu—sendirian, sempurna, dan tak tersentuh—telah memastikan tidak ada yang mengganggunya. Setidaknya untuk saat ini.Ia melipat catatan itu dengan rapi, lalu menyelipkannya ke dalam laci.
Ujung jarinya menyentuh permukaan meja. Mengetuk pelan—seolah menguji sesuatu yang tak terlihat.
Satu.
Dua.
Tiga.
Ia berhenti.
Hening kembali mengisi ruangan. Hujan di luar tetap jatuh dengan ritme yang berbeda, tak pernah tepat sama.
Ia menarik tangannya, berdiri, dan melangkah menuju jendela tanpa menoleh lagi ke meja itu. Bagi siapa pun yang melihatnya, gestur tadi tak berarti apa-apa.
Namun baginya, tiga ketukan sudah cukup sempurna