Zhen Nuo editor di salah satu platform novel online. Secara tidak sengaja terjebak di dalam dunia novel yang penuh intrik pernikahan. Dengan semua kemampuannya ia berusaha merubah takdirnya sebagai pemeran pendukung. Yang akan terbunuh di bab kedua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sri Wulandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Telah melekat di ingatan
Seperti perkiraan sebelumnya, tanggul yang mengalami retakan. Tidak lagi dapat menanggung beban air yang berlebih. Curah hujan yang terus meningkat setiap harinya. Membuat aliran sungai semakin tidak terkendali.
Di pertengahan bulan kedua, tanggul di kota Zhan Xu jebol. Seperempat kota itu terendam air setinggi rumah. Banyak juga warga yang terbawa air dan kehilangan rumah mereka. Pihak pemerintah daerah telah mencatat sebanyak tiga ratus korban jiwa telah di temukan. Dan sekitar puluhan warga lainnya masih belum di temukan.
Hal ini tentu menggemparkan pihak istana.
Di atas tahtanya, Kaisar Xiao Chen menekan keningnya. Hela napas dalam terus di tahan. Sesekali di keluarkan dengan sangat berat.
Semua petinggi pemerintah hanya diam. Mereka tidak memiliki keberanian untuk bersuara di saat keadaan telah sepenuhnya kacau.
"Menteri Bai Yang." Kaisar Xiao Chen menatap pria yang langsung berjalan maju.
"Yang Mulia." Menteri Bai Yang memberikan hormatnya.
"Segera kirimkan bantuan makanan, obat-obatan, baju juga semua keperluan yang di buatkan. Bawa juga para tabib bersama mu. Pastikan tidak akan ada banjir susulan di kota Zhan Xu." Perintah Kaisar Xiao Chen.
"Baik."
"Perdana menteri Fu."
"Yang Mulia." Perdana menteri Fu Bojing melangkah maju.
"Jika sudah seperti ini. Haruskah pembangunan tanggul di hentikan?" Kaisar Xiao Chen menatap dengan dingin.
Pria paruh baya itu menundukkan kepalanya. Karena perintah yang salah telah mengakibatkan banyak korban jiwa. "Saya akan segera mengirimkan para pekerja. Melakukan pembaharuan tanggul yang jebol. Dan mengalokasikan dana untuk korban yang terdampak air bah jebolnya tanggul."
"Baik. Aku menunggu kabar terbarunya dalam waktu dekat." Kaisar Xiao Chen bangkit dari tahtanya. "Selesaikan sampai di sini. Kalian semua bisa pergi. Bawa semua dokumen ke ruangan kerja ku." Melangkah pergi.
"Yang Mulia panjang umur dan sejahtera," ujar semua orang yang ada di aula utama.
Perdana menteri Fu Bojing tetap memperlihatkan tatapan tenang. Dia melangkah pergi di ikuti semua orang yang ada di pihaknya.
"Jika bukan karena dia. Tanggul pasti telah di perbaiki. Sekalipun curah hujan tinggi tetap saja jebolnya tanggul masih dapat di atasi." Menteri Gao Jang mendekat kearah Menteri Bai Yang.
Menteri Bai Yang berjalan lebih dulu. "Semua telah terjadi. Penyesalan juga sudah tidak berarti. Yang terpenting saat ini. Memprioritaskan warga yang terdampak banjir. Dan semua korban jiwa yang telah di temukan atau pun yang belum di temukan." Langkahnya lebih di percepat.
"Tuan Bai, kau terlalu memudahkan situasi. Dalam keadaan seperti ini. Amarah warga pasti akan menjadi bumerang untuk semua pejabat yang datang. Kau harus berhati-hati." Menteri Gao Jang menepuk pundak pria itu setelahnya dia berjalan lebih dulu.
Di saat Menteri Bai Yang berniat untuk segera pergi dari istana. Kasim kepala Gu berlari dengan kencang menghampirinya.
"Menteri Bai."
"Kasim Gu."
"Tunggu sebentar. Ada pesan dari Yang Mulia untuk anda." Kasim kepala Gu mendekat. Dia berbicara sangat pelan. Untuk memastikan hanya mereka yang dapat mendengar ucapannya. "Keadaan aman. Korban jiwa hanyalah pengalihan situasi. Tutupi. Untuk memastikan tanggul berdiri kokoh." Kasim kepala Gu mundur dengan senyuman di wajahnya.
Menteri Bai Yang diam untuk beberapa saat. Satu anggukan dari Kasim kepala Gu. Membuat Menteri Bai Yang paham apa yang harus ia lakukan. Dia memberikan anggukan. Senyuman tipis melintas di wajahnya. "Kasim Gu, beritahukan kepada Yang Mulia. Semua tugas akan saya lakukan sebaik mungkin. Saya pastikan semua korban yang masih hidup mendapatkan penanganan terbaik. Dan terus melakukan pencarian untuk semua korban yang belum di temukan."
Pria paruh baya dengan uban yang berada di sela-sela rambutnya. Pergi setelah mendapatkan perintah lanjutan dari Kaisar Xiao Chen.
Di ruangan kerja pemimpin negeri.
Kaisar Xiao Chen membuka setiap lembaran dokumen yang ada di mejanya. Sesekali gerakan tangannya berhenti. Ingatannya kembali di saat dirinya menghabiskan waktu bersama Yu Qianlu. Selir yang masuk ke istana satu setengah tahun yang lalu. Wajah cantik itu pada awalnya memuakkan baginya. Namun beberapa waktu terakhir semua perasaan tidak nyaman itu sirna. Tergantikan keinginan untuk selalu ada di dekatnya.
Dia pejamkan matanya. Senyuman indah wanita itu membuatnya tidak lagi dapat melupakannya.
Brkakk...
Menggebrak meja.
Kaisar Xiao Chen meremas dokumen di tangannya. "Ini sudah terlalu berlebihan." Berusaha menelan semua perasaan yang hampir tidak tertahankan.
"Yang Mulia." Kasim kepala Gu berlari masuk. Dia terkejut di saat mendengar suara gebrakan kuat di dalam ruangan.
Pria di meja kerjanya menghela napas dalam. "Tidak. Kau bisa keluar."
"Baik." Kasim kepala Gu mengangguk mengerti. Dia keluar dan kembali keposisi semula. Menjadi penjaga di depan pintu untuk memastikan tidak ada orang luar yang datang mengganggu.
"Gu Ji."
Baru beberapa menit Kasim kepala Gu keluar. Suara teriakan terdengar dari dalam.
Dengan cepat Kasim kepala Gu berlari masuk ke dalam ruangan. "Yang Mulia." Pria di depannya terlihat menatap binggung.
"Tidak jadi. Kau bisa pergi," ujar Kaisar Xiao Chen dengan entengnya.
"Baik."
"Tunggu."
Pria renta itu di hentikan berulang kali. "Yang Mulia, tulang-tulang tua ku tidak lagi sanggup." Menarik napas berulang kali. "Jika harus mondar-mandir tanpa henti. Tolong ampuni hamba."
Kerutan kening terlihat jelas. Kaisar Xiao Chen masih terlihat ragu. "Sudah beberapa hari ini aku tidak melihat Selir Yu. Cari tahu apa saja kegiatan wanita itu belakangan ini."
"Baik." Kasim kepala Gu membalikkan tubuhnya berjalan pergi. Senyuman di wajahnya mengembang sempurna.
Selang setengah jam Kasim kepala Gu kembali.
"Bagaimana?" Kaisar Xiao Chen bertanya dengan tidak sabar.
"Yang Mulia, Selir Yu tidak ada di istana."
"...?"
"Sudah dua hari terakhir, Selir Yu pergi saat pagi. Dan kembali ke istana saat malam hari," jelas Kasim kepala Gu.
"Apa yang dia lakukan di luar istana!" Pria di kursi kerjanya terlihat gelisah. "Panggilkan Zhu Wan."
"Baik."
Pengawal Zhu Wan yang ada di luar di panggil masuk.
"Yang Mulia." Pengawal Zhu Wan memberikan hormatnya.
"Cari tahu keberadaan Selir Yu. Aku ingin mengetahui semua aktivitas yang ia lakukan selama beberapa hari ini." Kaisar Xiao Chen melepaskan cincin giok sejernih kristal di jari manisnya.
"Baik."
Baru saja Pengawal Zhu Wan ingin melangkah pergi. Lagi dan lagi. Kaisar Xiao Chen mencoba menahan.
"Tidak perlu. Aku saja yang akan pergi." Kaisar Xiao Chen berjalan keluar dari ruangan kerjanya. Dia pergi menuju kamar utama di istana timur. Tempat pintu rahasia berada.
Di saat masuk ke dalam ruangan kamar. Jubah luarnya di lepas. Lalu di berikan kepada Kasim kepala Gu.
"Guji, seperti biasa. Pastikan tidak ada yang bisa masuk ke dalam kamar ini. Sebelum aku benar-benar kembali. Jika ada yang melanggar. Bunuh di tempat." Tegas Kaisar Xiao Chen.
"Baik."
Patung di singa sebagai alat utama membuka jalur rahasia di tekan.
Kreekkkk...
Pintu terbuka.
Kaisar Xiao Chen bersama Pengawal Zhu Wan masuk ke dalam.
Melalui jalur itu mereka dapat pergi ke semua tempat yang ada di Ibu Kota. Tanpa di ketahui orang luar. Dan terjaga kerahasiaannya.
sibucin ketakutan jika nyai cemburu
jadi gemesin deh /Smirk/
lanjut kak tetap semangat /Determined/
semangat dan sehat terus kak 🤲
thanks Thor, lanjut