Mira akhirnya harus kembali ke desa setelah kehilangan pekerjaannya di kota.
Kepulangan itu bukan karena keinginan, melainkan keterpaksaan yang lahir dari keadaan.
Rumah yang dulu ia tinggalkan masih sama, orang tuanya tetap setia dengan rutinitas sederhana.
sementara ia datang membawa beban kegagalan dan kegelisahan yang sulit ia sembunyikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chiknuggies, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 17 Dinding
Perut keroncongan akibat tidak ikut makan malam, membuat aku terbangun lebih cepat dari biasanya.
Matahari masih belum naik, langit gelap dari balik jendela kamar memanduku pergi menuju dapur untuk mengecek stok makanan.
Aku angkat tudung saji , hanya ada kepala ikan asin dan minyak yang mengendap pada piring lauk sisa semalam.
"Uhh~ laparnya..." Gumamku sambil memegang perut.
Aku menutup kembali tudung saji dengan helaan napas panjang. Perutku berbunyi, keras, seperti protes yang tidak bisa lagi diabaikan.
Tidak ada nasi. Tidak ada sayur. Tidak ada apa pun yang bisa dimakan, membuat tenggorokan ikut terasa kering.
Aku membuka lemari kayu di sudut dapur kosong. Mengintip rak kayu, hanya garam dan cabai kering.
Aku berdiri di tengah dapur, memeluk lengan sendiri untuk menahan dingin. Hingga aku teringat sesuatu.
Di bukit, dekat bekas akar Rerindang ada sumur mata air kecil, tempat bapak dulu sering mengambil air, sayur dan tanaman liar sebagai lauk.
Di sekitar mata air itu, tumbuh daun-daun liar yang bisa dimasak. Daun kemangi, daun ginseng jawa, kadang ada pucuk labu yang merambat liar.
Aku menelan ludah.
Mungkin aku bisa membawa pulang sesuatu. Setidaknya bahan makanan untuk ibu memasak. Apa lagi kalau beruntung, aku bisa mendapat beri liar matang untuk sekedar mengganjal perut.
Aku mengambil jaket tipis, mengikat rambut, dan meraih keranjang kecil di dekat pintu dapur. "Ya udahlah, sekalian jalan-jalan." Gumamku
Udara pagi menggigit kulit saat aku melangkah keluar rumah. Langit masih gelap, tapi garis tipis cahaya mulai muncul di ufuk timur.
Jalan menuju bukit sepi, hanya terlihat embun yang jatuh dari daun-daun pisang. Setiap langkah terasa seperti memasuki ruang yang belum sepenuhnya bangun.
Dan entah kenapa… ada sesuatu yang menarikku lebih jauh dari sekadar mencari beri atau daun liar. Seperti ada yang menunggu di sana, atau sesuatu yang harus kulihat.
Bukit itu tampak samar di kejauhan, siluetnya seperti bahu seseorang yang sedang menunduk. Aku menarik napas panjang, memeluk keranjang kecilku lebih erat.
"Rerindang, apa kabar ya?" Bisikku.
Dengan alasan sederhana, lapar, aku melangkah menuju bukit.
Sesampainya di ujung anak tangga, aku melihat sesosok siluet bungkuk yang sedang menyiram anak pohon di tengah rerumputan.
Pohon kecil yang dikelilingi pasak bambu itu tampak akrab. Daunnya masih sedikit, batangnya kurus, dan tanah di sekitarnya tampak basah oleh air yang baru saja dituangkan.
Aku berhenti di anak tangga terakhir. Keranjang di tanganku terasa menarik tangan agar segera sampai ke sana.
Siluet itu bergerak pelan, seolah setiap gerakan harus dilakukan dengan hormat. Dan ketika ia menegakkan punggungnya sedikit, cahaya pagi yang samar menyentuh wajahnya.
Pak Wiryo.
Aku menahan napas.
Ia tidak melihatku. Ia terlalu sibuk menatap pohon kecil itu, tatapan yang sama seperti seseorang melihat sosok mendiang kekasih dari anak yang ia rawat.
Tangan tuanya gemetar sedikit saat menuang air menggunakan gayung kayu dari kendi tanah liat. Air itu jatuh perlahan, meresap ke tanah yang dulu menjadi rumah bagi akar Rerindang.
Aku melangkah satu kali lagi, hati-hati agar tidak mengejutkannya. Rumput basah menyentuh ujung kakiku.
Pohon kecil itu, baru aku ketahui sekarang. Telah tumbuh sedikit dari ratusan biji yang kering, yang dipilih sendiri oleh pak Wiryo sendiri.
Dadaku terasa hangat. Ada sesuatu yang menegang di tenggorokan. Sampai aku akhirnya memberanikan diri membuka suara.
"Pak…?"
Pak Wiryo tersentak kecil, lalu menoleh. Matanya yang keriput melebar sedikit saat melihatku berdiri di sana, dengan keranjang kosong dan rambut yang masih berantakan karena baru bangun tidur.
"Mira?" suaranya serak. "Pagi-pagi sudah ke bukit?"
Aku mengangkat keranjang, mencoba tersenyum. "Lapar, Pak. Mau cari lalapan."
Pak Wiryo tertawa kecil, "Lapar ya..." ulangnya, seolah kata itu punya makna lain.
Aku mendekat, berdiri di sampingnya. Pohon kecil itu tampak lebih jelas sekarang. Daunnya masih muda, warnanya hijau pucat, dan batangnya ditopang tiga pasak bambu agar tidak roboh.
"Pak…" bisikku, "ini… anaknya Rerindang?"
Pak Wiryo mengangguk pelan. Sangat pelan. "Iya, Mir. Bibit terakhir yang masih hidup."
Aku menatap pohon kecil itu lama. Ada sesuatu yang hadir di mataku, campuran haru, kehilangan, dan harapan yang belum berani tumbuh.
Pak Wiryo mengusap lututnya pelan, lalu menatap keranjang kosong di tanganku. Senyumnya muncul tipis, seperti seseorang yang sudah tahu jawaban sebelum ditanya.
"Lalapan?" gumamnya sambil menghela napas pendek. "Kalau sekarang, jarang ada yang tumbuh di sini."
Aku mengerjap. Pak Wiryo mengangguk, kali ini dengan nada ringan, seolah sedang membicarakan hal sepele padahal jelas tidak.
"Buah liar udah nggak banyak. Daun-daun yang dulu suka kamu petik itu juga udah susah dicari."
Ia menunjuk ke arah semak-semak yang tampak kurus dan jarang. "Paling… jamur. Itu pun kalau semalam hujan."
Jamur. Hanya itu?
Pak Wiryo menambahkan, "Dulu, waktu Rerindang masih gede, tanah di sini lembab terus. Banyak yang tumbuh. Sekarang panasnya langsung kena tanah. Yang kecil-kecil jadi gampang mati."