NovelToon NovelToon
1 JANUARY - Cinta Yang Seharusnya Tak Pernah Ada

1 JANUARY - Cinta Yang Seharusnya Tak Pernah Ada

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / KDRT (Kekerasan dalam rumah tangga) / Sad ending / Menikah dengan Musuhku / Selingkuh
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: sea.night~

Sejak SMP, ia mencintainya dalam diam.Namun bagi pria itu, kehadirannya hanyalah gangguan yang ingin ia hindari.Tahun demi tahun berlalu, perasaan itu tidak pernah padam—meski balasannya hanya tatapan dingin dan kata-kata yang menyakitkan.Tapi takdir mempertemukan mereka kembali, saat keduanya kini telah tumbuh menjadi dewasa.Luka lama kembali terbuka.Rasa yang seharusnya mati, justru tumbuh semakin dalam.Apakah cinta yang bertahan sendirian mampu berubah menjadi sesuatu yang layak diperjuangkan?Atau ia hanya sedang menghancurkan dirinya sendiri demi seseorang yang tidak pernah ingin melihatnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sea.night~, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

-Dirga

Aku tidak pernah suka mengingat masa SMP.

Bukan karena aku gagal di masa SMP. Bukan karena aku lemah di masa SMP.

Tapi karena ada satu nama yang selalu muncul setiap kali aku mencoba untuk tidak mengingatnya.

Winda.

Di sekolah dulu, aku bukan murid biasa.

Aku tahu itu, bahkan tanpa harus bercermin.

Teman-teman menyebut namaku lebih sering.

Dan setiap kali aku lewat, selalu ada kepala yang menoleh.

Aku terbiasa jadi pusat perhatian.

Dan di dunia seperti itu, segalanya soal citra.

Lalu ada Winda yang menyukai ku secara terang terangan.

Gadis biasa.

Kulit kuning langsat.

Jerawat kecil di wajahnya—bukan parah, tapi cukup terlihat.

Bekasnya juga ada. Tidak sedikit. Tidak juga berlebihan.

Tapi cukup.

Cukup untuk membuatku sadar satu hal:

dia tidak seharusnya menyukaiku.

Bukan karena dia jahat.

Bukan karena dia salah.

Aku cowok yang dianggap ganteng.

Dan gadis seperti Winda… bukan tipe yang orang bayangkan berdiri di sisiku.

Saat pertama kali aku tahu perasaannya, reaksiku bukan marah.

Tapi entah mengapa aku merasa jijik?

Dulu, aku tidak langsung membencinya.

Awalnya biasa saja.

Ia duduk beberapa bangku di depan ku. Terlalu sering melihat. Terlalu terang-terangan.

Aku pura-pura tidak sadar.

"Dia naksir kamu tau" ucap salah satu temanku sambil tertawa.

Aku hanya menjawab, "Biasa saja."

Dan itu benar. Saat itu.

Aku masih bisa berteman. Masih bisa menyapa seperlunya.

Aku tidak pernah mempermalukannya.

Tidak pernah mengatakan hal kejam.

Aku tidak langsung jijik padanya.

Awalnya hanya risih.

Ia sering mencari alasan bicara.

Menanyakan hal yang sudah ia tahu jawabannya.

Cara matanya mencari aku setiap kali aku masuk kelas.

Cara senyumnya muncul lebih cepat dari seharusnya.

Cara ia sengaja melewati mejaku, padahal jalannya bisa lewat sisi lain

Dan semakin ia berusaha terlihat, semakin aku ingin menghilang.

Dan di situlah rasa risih itu berubah.

Bukan lagi sekadar tidak nyaman.

Tapi jijik—pada situasi yang memaksaku terus menyadari keberadaannya.

Aku merasa aku sedang dikejar oleh sesuatu yang tidak kuinginkan. Bukan hanya secara fisik. Tapi juga secara sosial.

Aku mulai menjaga jarak.

Aku berharap dia mengerti sendiri.

Berhenti. Menjauh. Sadar posisi.

Winda tidak mengerti. Ia tetap sama. Tetap berharap, dia tidak berubah. Tatapannya tetap terang. Caranya mendekat tetap polos.

Dan justru itu yang membuatku tidak nyaman.

Aku mulai merasa seolah-olah ada kesalahan besar:

gadis biasa menyukai cowok yang dianggap spesial.

Teman-temanku mulai bercanda.

"Dir, fans kamu tuh serius banget."

"Dia yakin bisa dapet kamu?"

"Dia nggak sadar diri apa?"

Tawa mereka ringan.

Tapi cukup untuk menusuk.

Aku tidak mau dikaitkan dengan sesuatu yang tidak kupilih.

Aku tidak pernah pandai berbohong pada diriku sendiri.

Dan kalau aku jujur, alasannya sederhana.

Aku tidak suka wajahnya.

Bukan karena luka.

Bukan karena cacat.

Tapi karena ia tidak menarik—bagiku.

Kulitnya kuning langsat.

Jerawat kecil tersebar di wajahnya.

Bekasnya tidak terlalu parah, tapi cukup terlihat.

Cukup untuk tidak bisa kuabaikan.

Dan aku orang yang terbiasa diperhatikan.

Di sekolah dulu, aku tahu posisiku.

Aku tidak perlu bercermin untuk tahu orang-orang menganggapku ganteng.

Tatapan mereka selalu datang lebih dulu.

Dan di dunia seperti itu, penampilan bukan hal sepele.

Lalu Winda menyukaiku.

Terang-terangan.

Tidak disembunyikan.

Tidak dijaga.

Dan semakin ia terlihat, semakin aku merasa risih.

Bukan cuma karena perasaannya.

Tapi karena siapa dia dibanding siapa aku.

Sekarang, bertahun-tahun kemudian, hidup seolah mengejekku.

Aku dijodohkan dengan orang yang sama.

Gadis yang dulu ku benci wajah nya, namanya, bahkan kehadiran nya.

Saat ia berdiri di depanku, lebih dewasa, lebih tenang, wajahnya masih sama—jerawat kecil itu masih ada, bekasnya belum benar-benar hilang.

Perasaanku tidak berubah.

Dan nama itu kembali. Winda.

Bukan sebagai kenangan.

Tapi sebagai keputusan keluarga.

"Ini untuk kebaikan bersama," kata ayahnya-Bram.

Aku tahu arti kalimat itu.

Bukan kebaikanku.

Bukan kebahagiaan siapa pun.

Tapi kestabilan.

"Kamu masih keberatan?" tanya Bram penasaran.

"Aku tidak mau menikah dengannya."

Bram mengangguk pelan, seolah itu bukan hal baru. "Keinginanmu sudah kudengar. Sekarang dengarkan aku."

Aku diam.

"Kamu tahu kenapa aku tetap memilih Winda?" tanya Bram.

"Aku tidak mau," jawabku singkat.

"Aku tidak tanya kamu mau atau tidak."

"Kamu sudah besar, Dirga," lanjut Bram perlahan. "Dan aku sudah cukup tua untuk tidak membuat keputusan asal."

Aku menatapnya. "Dia tidak cocok dengan ku."

Bram mengangguk pelan. "Aku tahu standar kamu." Nada suaranya netral. Tidak menyindir.

"Dan justru karena itu," lanjutnya,

"aku tidak akan memilihkan kamu perempuan yang bikin kamu lupa diri."

Aku tertawa kecil. "Lupa diri?"

"Kamu pikir aku tidak tahu?" Bram menatapku tajam.

"Perempuan cantik, pintar bicara, pintar tampil—itu semua menarik. Tapi juga berbahaya."

"Berbahaya buat siapa?" tanyaku.

"Buat rumah tangga," jawabnya tenang.

"Buat fokus kamu. Buat kontrol."

Aku menghela napas. "Jadi Winda dipilih karena aman."

"Iya," jawab Bram tanpa ragu.

"Aman itu penting."

Aku menyandarkan punggung ke sandaran sofa. "Karena dia biasa saja."

"Karena dia tahu diri," katanya.

"Karena dia tidak tumbuh di dunia yang sama dengan kamu."

Aku terdiam.

"Kamu cowok ganteng," lanjut Bram datar.

"Kamu terbiasa dipilih. Dipuja. Diinginkan."

Aku menatapnya. "Dan itu salah?"

"Tidak," jawab ayah.

"Tapi itu membuat kamu lupa satu hal—bahwa hidup tidak selalu tentang apa yang kamu inginkan."

Aku mengepalkan tangan. "Terus janji lama itu apa?"

Bram menghela napas pendek.

"Ayah Winda pernah menolong aku. Bukan uang. Tapi waktu aku hampir kehilangan segalanya."

Aku menoleh tajam. "Dan aku harus bayar itu?"

"Kita," jawab Bram. "Bukan kamu saja."

"Aku tidak pernah setuju."

"Kamu juga tidak pernah setuju waktu aku memilihkan sekolahmu," kata Bram.

"Tapi kamu lihat hasilnya."

Aku terdiam.

"Janji itu sudah lama," lanjut Bram.

"Dan aku tidak mau dikenal sebagai orang yang ingkar."

"Terus perasaanku?" tanyaku dingin.

Bram menatapku lama.

"Perasaan itu bisa dilatih," katanya.

"Ego itu yang harus dipatahkan."

Kalimat itu jelas. Tidak dibungkus apa pun.

"Kamu perlu belajar hidup dengan sesuatu yang tidak sempurna menurutmu," lanjut nya.

"Karena rumah tangga bukan pameran."

"Aku jijik." Aku berdiri.

"Kamu maksa aku menikah dengan perempuan yang tidak menarik buatku."

Bram ikut berdiri.

"aku memaksa kamu jadi laki-laki yang bertanggung jawab."

Aku menatapnya tajam. "Kalau aku menolak?"

Bram menjawab tanpa ancaman, justru lebih menekan.

"Kalau kamu menolak, kamu bebas."

Aku mengernyit.

"Bebas tanpa dukungan," lanjutnya.

"Tanpa namaku. Tanpa jalur yang selama ini kamu pakai."

Hening.

"Itu bukan hukuman," ucap Bram pelan.

"Itu konsekuensi."

Aku tahu ayah tidak bercanda.

"Pilihannya sederhana," lanjutnya.

"Kamu menikah dengan Winda,

atau kamu hidup dengan pilihanmu sendiri—tanpa aku."

hening sejenak.

"kamu terlalu tinggi menilai dirimu sendiri."

Kalimat itu menusuk egoku tepat di pusatnya.

"Kamu pikir aku peduli dia cantik atau tidak?" Bram diam se detik sebelum melanjutkan.

"Yang aku pedulikan, kamu belajar hidup dengan keputusan yang bukan kamu buat."

Aku terdiam.

"Janji ini harus ditepati," lanjutnya.

"Dan kamu harus belajar patuh."

Aku menarik napas dalam.

"Kalau begitu jangan harap aku bersikap baik." kataku dingin.

"Aku tidak akan berpura-pura."

Bram mengangguk. "Aku tidak butuh kamu berpura-pura."

"Bagus," jawabku.

"Karena aku tidak mencintainya. Dan aku membencinya."

"Cinta tidak pernah jadi syarat," kata ayah tenang.

Aku keluar dari ruangan itu dengan dada terasa berat, tapi wajah tetap netral. Di lorong rumah, langkah kakiku terukur. Tidak cepat. Tidak lambat.

Di kamarku, aku menutup pintu dan berdiri beberapa detik tanpa bergerak. Sunyi. Baru setelah itu aku duduk di tepi ranjang.

Winda muncul di kepalaku tanpa diundang.

Bukan wajahnya. Bukan suaranya. Tapi keberadaannya. Fakta bahwa namanya sekarang terikat dengan hidupku, dengan keputusan yang tidak bisa kutarik kembali.

Aku menghela napas pelan.

Aku tidak mau ini. Itu jelas.

1
partini
kalau kata" mah biasa mau ini itu Ampe penghuni kebon binatang pun masih ok busettt ini Ampe nampar gara" muak lihat muka
dalem bnggt sehhh
partini: nanti muka muak Widia jadi ngangenin 🤭
total 2 replies
partini
Kaka ipar yg
sea.night~: yess kakak ifar
total 1 replies
partini
hati yg kosong dari kecil,
sea.night~: huhu iyaa , tapi sama juga kayak Winda nya jadi anak tuntutan keluarga
total 1 replies
partini
aku baca sinopsisnya langsung loncat bab ini ma"af ya Thor
Winda muka tembok ga sih ini
sea.night~: Sudah up ya, kak
Selamat membaca🙏😁
total 11 replies
si kecil nikkey
kayanya si Winda tipe cwe menye2, bkin hati sejati para cwe mencelid TDK senang thor....masa mau aja JD bucin KY gtu lagian d lahirin GK nyadar klo kita ada bukan buat orang lain tp untuk kebaikan diri sndiri, payah Winda dahlah thor..
sea.night~: Setuju sih kak, tapi setiap orang punya waktunya sendiri buat sadar. Winda juga lagi berjuang kok, cuma caranya masih salah.😁🙏
total 1 replies
BiruLotus
Halo kak, aku mampir. Mau kasih saran aja, tanda bacanya masih ada yg keliru. Misalnya setelah tanda petik 2, langsung saja kalimat, jangan pake spasi. Semangat!
sea.night~: okaayy kakak , makasih banyak ya kak saran nyaa 🙏🙏😁
total 1 replies
BiruLotus
lanjut
BiruLotus
Gak punya otak!
BiruLotus
Ayahnya minta di slebew!
BiruLotus
Wah jangan berkecil hati Winda
BiruLotus
Dari Dirga kok berubah Dimas, kak?
sea.night~: 😭makasih koreksi nya kak, awal nya mau di kasih nama dimas kian🙏
total 1 replies
Gohan
Penuh makna
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!