Gimana jadinya kalau kau harus menikah dengan muridmu sendiri secara rahasia?? Arghhh, tidak ini gak mungkin! Aku hamil! Pupus sudah harapanku, aku terjebak! Tapi kalau dipikir-pikir, dia manis juga dan sangat bertanggung-jawab. Eh? Apa aku mulai suka padanya??!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Poporing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17 : Perhatian yang manis
Sesampainya di klinik Rio membawa masuk Risa dengan begitu telaten. Tak sedetik pun ia melepaskan penjagaannya dari Risa.
"Duduk, Bu...." Ia membantu Risa duduk yang berpegangan kuat pada lengannya.
Rio kemudian pergi ke arah bagian pendaftaran sekaligus penerima pasien dan mendaftarkan nama Risa di sana.
"Oh ya, Kakak bisa langsung masuk ke ruangan dokternya," ujar si resepsionis mengarahkan Rio untuk langsung membawa Risa ke dalam. Yah, mungkin karena masih pagi sekali jadi belum ada pasien yang datang, sehingga Risa bisa langsung masuk.
"Ayo Bu, katanya bisa langsung diperiksa." Rio mengulurkan tangannya kepada Risa untuk membantunya berdiri.
Risa sendiri gak banyak berkomentar. Maklum saja, dia lebih fokus menahan rasa sakit di dalam perutnya yang kayak ditusuk-tusuk jarum.
Keduanya masuk ke dalam ruangan sang dokter praktek, sementara pak Rahmat menunggu duduk di depan.
Sang dokter tersenyum ramah begitu melihat Risa dan Rio masuk ke ruangannya.
"Ayo duduk," ucapnya ramah.
Risa mendudukkan tubuhnya perlahan sambil memasang ekspresi wajah kesakitan. Rio masih setia mendampingi di samping.
"Baik Ibu, keluhannya apa?" Tanya sang dokter perempuan mulai melakukan prosedur pemeriksaan.
"Saya gak tau dok, tiba-tiba perut bagian samping saya nyeri, sakit sekali, buat bergerak juga sakit," ucap Risa menjelaskan rasa sakit yang ia alami saat ini.
"Saya periksa ya Bu." Si dokter segera berdiri dari tempat duduknya. "Maaf, Kakaknya geser dulu ke samping," ucapnya kepada Rio.
Ia berdiri di depan Risa yang posisinya sekarang duduk menyamping agar memudahkan si dokter memeriksa dirinya.
"Maaf ya Bu, saya periksa dulu."
Ia menekan-nekan perut Risa di beberapa titik dan bertanya, "Di sini sakit?" Risa mengangguk ketika bagian pinggir kirinya ditekan.
""Ada rasa mual atau pusing? Atau rasa sakit lain selain saat bergerak?" Tanyanya yang kini memeriksa Risa dengan stetoskop.
"Enggak ada mual atau pusing...." Risa berbicara dengan suara lemah.
"Yak, sudah, tunggu sebentar ya Ibu...." Dokter itu kembali duduk dan meletakkan alat periksanya di atas meja.
"Apa di keluarga Ibu ada riwayat penyakit lambung?" Tanya sang dokter kembali sambil menuliskan sesuatu di atas kertas.
"Enggak ada dok, cuma dulu saya memang punya maag karena sering lupa sarapan," jawab Risa mengenai riwayat kesehatannya.
"Tadi pagi Ibu sarapan? Coba ingat ada salah makan tidak?" Sang dokter melirik sekilas ke arah Risa yang sedari-tadi terus berpegangan tangan pada Rio yang berdiri di sebelahnya.
"Saya lagi sarapan kok, dan enggak ada salah makan," jawab Risa yang merasa yakin gak ada yang salah sama apa yang dia makan.
"Bohong tuh, Bu Risa sempat makan mie ayam pedas banget sampai dua mangkuk," sambar Rio langsung cepu. Risa mendelik tajam ke arah Rio, tapi pemuda itu cuek.
"Ah, mungkin karena itu, bisa jadi perut Ibu lagi sensitif." Sang dokter langsung tersenyum melihat reaksi Risa yang seperti anak kecil tertangkap basah makan permen.
"Kalau bisa dihindari dulu ya makanan pedasnya, apalagi ibu sedang hamil," jelasnya tiba-tiba menyinggung soal kehamilan. Wajah Risa langsung memerah.
"Ah, Dokter kok tahu?" Balas Risa sambil setengah menunduk.
"Saya 'kan Dokter." Sang dokter geleng-geleng kepala mendengar pertanyaan itu. "Lain kali datang ditemani sama suaminya jadi dia bisa bantu awasin Ibu," ucap sang dokter tiba-tiba yang langsung bikin perasaan Risa enggak enak.
"*Yeaaah, gua suaminya tahu! Tapi gak mungkin juga bisa gua bilang 'kan*...." Rio cuma bisa membatin antara pasrah sama nasib dan kesal karena ngerasa kayak ga diakui.
"Ini resepnya, silahkan minta ke resepsionis, nanti akan dijelaskan." Wanita yang kelihatannya lebih tua beberapa tahun dari Risa itu menyerahkan resep obat yang sudah ia tulis kepada Risa.
"Terimakasih dok...," ucap Risa sambil setengah meringis kesakitan.
"Bu Risa duduk aja dulu di sini, biar Rio yang ke depan tebus obatnya."
Kali ini Risa menurut, membiarkan Rio mengambil resep obat itu dari tangannya dan pergi keluar menebus obatnya ke resepsionis.
"Adiknya perhatian banget ya Bu?" Celetuk sang dokter. Niatnya sih ingin memuji, cuma kondisinya 'kan dia gak tahu status asli keduanya.
"Haha, iya, dia emang anak yang baik," balas Risa sambil tertawa canggung. "*Dia bukan adik gue! Tapi dia itu suami gue yang elu cariin tadi*!" Risa hanya bisa berkomentar dalam hati. Entah bagaimana reaksi dokter itu kalau tahu Rio, pemuda yang dikira adiknya ternyata adalah si suami.
Gak lama pintu ruangan terbuka. Pemuda itu muncul dari balik pintu sambil membawa obat-obatan.
"Sudah selesai? Ada yang perlu ditanyakan?" Tanya sang dokter.
"Gak ada dok, udah paham, nanti saya tinggal jelasin ulang ke Bu Risa," jawabnya yakin.
"Emang semuanya jadi berapa?" Tanya Risa dan hendak membayar obat-obatan tersebut.
"Tenang aja Bu, semuanya udah Rio bayar," balas Rio menjelaskan.
"Hah? Kenapa kamu yang bayar?? Gak, saya gak perlu dibayari seperti itu! Bilang, harga obatnya berapa jadi biar Ibu yang gantiin uang kamu!" Risa kaget kalau biayanya ke dokter malah dibayari. Jujur dia gak suka kayak gini, karena ia masih merasa bisa bayar sendiri dan mampu untuk itu.
"Bu Risa jangan bandel, biar Rio yang bayar, atau nanti bakal Rio aduin ke Bu Dewi?" Mata Risa membulat saat mendengar ancaman dari pemuda itu.
"Jangan berani-beraninya ngadu ke Mama!" Bisik Risa sambil menarik tangan pemuda itu dengan jengkel.
"Makanya, Bu Risa diem aja, gak usah bayar buat gantiin uang Rio!"
Risa mengalah daripada kena lapor. Dia bisa diceramahi 3 hari 3 malam oleh sang ibu nanti kalau sampai ketahuan dia makan pedas sampai sakit lambung.
"Ya udah, ayo pulang." Rio tersenyum lebar, merasa puas bisa bikin gurunya gak berani berkutik.
"Terimakasih dok, kami permisi dulu," ucap Risa yang kembali tersenyum sopan kepada sang dokter yang sedikit mengerutkan dahi saat melihat tingkah-laku keduanya.
Risa pun berjalan keluar ruangan masih dibantu oleh Rio. Pak Rahmat yang menunggu di depan segera menghampiri dan ikut membantu Risa untuk berjalan.
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...
Akhirnya mereka telah kembali lagi ke sekolah. Pak Rahmat sudah kembali berjaga di pos, dan Risa yang sudah duduk anteng di mobilnya sendiri dengan Rio yang ada di sebelahnya sambil berjongkok dan menjelaskan perihal obat-obat itu.
"Obatnya ada 4 macam, buat lambung, penghilang rasa nyeri, radang, sama untuk mual, semua harus diminum sebelum makan tiga kali sehari." Pemuda itu dengan hati-hati memberikan obat-obat tersebut sekalian menjelaskan aturan makannya. "Inget ya Bu, semua harus dihabiskan, kalau masih ada keluhan atau gak ada perubahan dalam tiga hari, Ibu bisa konsultasi lagi ke sana," lanjutnya kayak lagi menceramahi anak kecil.
"Cerewet banget sih!" Ketus Risa agak kesal karena merasa diperlakukan seperti anak kecil.
"Ibu itu suka ngeyel soalnya!" Balas Rio cepat dan gak segan-segan melempar kritik bikin Risa langsung manyun. "Oh ya, jangan telat makan dan jangan makan yang pedas dulu!" Imbuhnya yang sukses bikin Risa makin cemberut.
"Ibu tadi 'kan sudah makan, jadi sekarang obatnya bisa langsung di minum. Rio beliin air putih dulu." Tanpa banyak bicara pemuda itu pun bergegas pergi menuju ke arah kantin kayaknya buat beli air.
Risa cukup lama memandangi punggung pemuda yang berjalan semakin jauh itu. Ada suatu perasaan hangat ketika mengingat semua runtutan cerita hari ini mengenai bagaimana pemuda itu langsung sigap datang disaat dia membutuhkan bantuan, menjaganya sampai ke dokter dan mengurus segala keperluannya. Dia definisi *green flags*.
"*Aih, gue barusan mikir apaan???? Dia itu cuma bocah*!!!" Batin Risa berteriak tak rela. Gak dia belum boleh luluh, belum bisa pokoknya (gengsinya kegedean).
Gimana kelanjutan pernikahan kontrak keduanya? Apa Risa benar-benar tak bisa digoyahkan dan gak bakal jatuh cinta sama Rio meski bendera hijau bertebaran di atas kepala pemuda itu.
.
.
.
BERSAMBUNG....