NovelToon NovelToon
Bunda Untuk Daddy (Tamat)

Bunda Untuk Daddy (Tamat)

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:18.8M
Nilai: 4.9
Nama Author: saskavirby

pengalaman pahit serta terburuk nya saat orang yang dicintai pergi untuk selama-lamanya bahkan membawa beserta buah hati mereka.

kecelakaan yang menimpa keluarganya menyebabkan seorang Stella menjadi janda muda yang cantik yang di incar banyak pria.

kehidupan nya berubah ketika tak sengaja bertemu dengan Aiden, pria kecil yang mengingatkan dirinya dengan mendiang putranya.

siapa sangka Aiden adalah anak dari seorang miliarder ternama bernama Sandyaga Van Houten. seorang duda yang memiliki wajah bak dewa yunani, digandrungi banyak wanita.


>>ini karya pertama ku, ada juga di wattpad dengan akun yang sama "saskavirby"

Selamat membaca, jangan lupa vote and coment ✌️

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saskavirby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

eps 17

STELLA AYU GHANI

a.k.a BUNDA

[]

Gadis dengan rambut ekor kuda, serta poni yang menutup keningnya itu berjalan santai setelah keluar dari stasiun. Menghirup udara dan menghembuskannya pelan. Dia menyetop sebuah taxi yang melintas dan bergegas masuk, menunjukkan alamat yang dituju pada sang sopir.

Tak berapa lama taxi berhenti di depan sebuah gedung perkantoran. Gadis itu menurunkan kaca mobilnya.

Dia tersenyum senang ketika melihat gedung tempat kerjanya yang baru. "Akhirnya aku bisa bertemu dengannya lagi," gumam gadis itu tersenyum lebar.

"Jalan, Pak," ucapnya kepada sang sopir taxi setelah puas mengamati.

Gadis itu turun dari taxi, menyeret kopernya menuju rumah dua lantai dengan tulisan di depan pagar, "MENERIMA KOST PUTRI"

Gadis itu memutuskan mencari kost di sekitaran kantor barunya, untung saja pak sopir sempat memberitahu bahwa ada tempat kost sekitar sini.

Setelah bertanya-tanya soal harga dsb, gadis itu resmi menempati kamar kost di lantai dua.

Dia berbaring di kasur busanya, tersenyum membayangkan wajah tampan bosnya, yang sudah lama dia taksir tapi tak kunjung berani mengungkapkan.

Kini dirinya semakin dekat dengan bos tampannya itu, semakin banyak kesempatan untuk dekat dengannya.

Tak sabar dirinya ingin bekerja besok, dia memeluk gulingnya gemas, berguling ke kiri kanan, sampai tak terasa matanya terlelap.

***

Rega keluar dari kantornya berniat mengajak Stella makan siang. Namun sebelum berhasil membuka pintu mobil, suara seorang perempuan menghentikannya.

"Siang, Pak Rega,"

Rega memutar tubuhnya. "Hem, siang" jawabnya datar.

"Bapak mau makan siang ya?"

Rega hanya menaikkan salah satu alisnya tanpa berniat menjawab.

Wanita itu meremas ujung kemejanya. "Bi-bisakah saya ikut dengan bapak?" ucapnya sambil menggigit bibir bawahnya.

"Kamu siapa?"

Wanita itu mendongak. "Saya karyawan pindahan, Pak. Saya belum hafal daerah sini, cuma bapak yang saya kenal," bohongnya.

Rega memperhatikan penampilan wanita di hadapannya dari atas sampai bawah, 'berani sekali' bathinnya.

"Kau bisa tanya sama satpam dan beberapa karyawan lain di sini," ucap Rega ramah.

Rega menjunjung tinggi rasa perikemanusiaannya, walaupun dia bos tapi harus ramah terhadap karyawan. Selagi masih di batas normal.

"Tapi, Pak. Saya —"

"Maaf, saya sibuk," sela Rega segera berbalik dan membuka pintu. Meninggalkan wanita yang masih menatapnya dengan tatapan nanar.

***

Stella dan Rega kini tengah duduk di meja salah satu cafe untuk makan siang.

"Ste, ada apa?" tanya Rega penasaran, karena berulang kali terlihat Stella mengecek ponselnya.

Stella mendongak dan menggeleng. "Adik tiriku kemarin datang ke Jakarta, tapi sampai hari ini belum menghubungiku."

"Memang ada urusan apa dia ke sini?"

Stella menggeleng pelan. "Sepertinya pindah kerja."

Rega mengangguk. "Telepon saja," ucapnya memberi saran.

"Sudah, tapi tidak pernah di angkat." Stella menggoyang-goyangkan ponselnya.

"Jangan dipikirkan, mungkin dia sudah mendapatkan tempat tinggal dan belum sempat mengabarimu," ucap Rega menghibur.

Stella mengangguk. "Semoga."

***

Keluar dari cafe, Stella menolak tawaran Rega yang akan mengantarkannya.

"Tidak usah, Ga. Aku ada urusan dengan customerku, aku bisa naik taxi," tolak Stella.

"Tapi, Ste. Kau ke sini denganku, setidaknya biarkan aku mengantarmu ke sana," paksa Rega

Stella berfikir sejenak. "Baiklah."

Rega tersenyum saja. Membukakan pintu mobil untuk Stella, dan berjalan mengambil duduk di belakang kemudi, kemudian mulai menjalankan mobilnya.

Di ujung jalan, seorang gadis berkemeja biru yang dimasukkan ke dalam rok, serta rambut yang dikuncir ekor kuda menatap mobil Rega yang perlahan menjauh.

Raut wajahnya menekuk lesu, melihat orang yang selama ini dia cintai bersama wanita lain. Dia tidak bisa melihat bagaimana wajah wanita itu karena posisi yang membelakangi.

Dia menghela nafas lelah, susah payah dirinya mencari taxi guna mengikuti bosnya itu yang ternyata malah bersama wanita lain.

"Apa itu kekasih Pak Rega?" gumamnya sedih.

***

Hari sudah sore, Stella bergegas pulang dari butiknya. Di tengah jalan dirinya berbelok ke minimarket guna membeli beberapa keperluan.

Stella berada pada jejeran rak tepung, dia berniat membuatkan Aiden roti, beberapa kali Aiden memintanya membuatkan roti namun belum disanggupi olehnya.

Sedang asik memilih tepung yang akan dibeli, seseorang di sampingnya menepuk lengannya, membuat dirinya menoleh.

"Mbak Stella?"

Stella menoleh namun belum menyadari siapa wanita di depannya ini, dia berusaha mengingat-ingat.

Wanita itu menepuk lengan Stella lagi. "Aku Intan, Mbak. Masa' sama adik sendiri lupa?" sindirnya cemberut.

Stella terbelalak. "Astagaa Intan," pekiknya kemudian, menarik Intan ke dalam pelukannya.

"Bagaimana kabarmu? Kau sudah besar sekarang," goda Stella menilai penampilan Intan dari atas sampai bawah.

Intan menyengir. "Baik, Mbak. Aku tambah cantik 'kan?" jawab Intan berpose ala model seraya menaik turunkan alisnya.

Stella terkekeh. "Iya-iya kau sangat cantik," pujinya tulus.

"Kenapa tidak mengangkat teleponku, adik nakal," ucap Stella kemudian, mencubit hidung Intan.

"Aku sibuk, Mbak. Hehe," jawab Intan mengelus hidungnya.

"Ayo ikut Mbak ke rumah, kau harus cerita banyak," Stella menarik tangan Intan menuju kasir setelah menyelesaikan belanjanya.

***

"Bagaimana kabar Ayah dan ibu, Tan?" Stella menuang minuman ke dalam gelas menyodorkan pada Intan.

"Alhamdulillah baik, Mbak," jawab Intan menerima gelas dan meminumnya.

"Ayah bilang kamu pindah kerja di Jakarta?"

Intan mengangguk. Tangannya terulur untuk mengambil cemilan di dalam toples. "Iya mbak, pindah di kantor pusat."

"Kamu tinggal di sini saja sama Mbak, Mbak sendirian di sini," saran Stella meneguk minumannya.

"Aku sudah sewa kost, Mbak. Selama sebulan."

"Kamu lupa punya Mbak di sini?" sindir Stella menatap Intan kesal.

Intan menyengir. "Aku pengen mandiri, Mbak. Lagipula kostnya deket sama kantor aku yang baru."

Stella mengangguk pelan. "Kalau kamu bosan di sana, kamu pulanglah ke sini."

"Siap, Mbak."

*

Karena hari sudah larut, dan besok juga hari Minggu, Intan memutuskan menginap di rumah Stella.

Terlihat Stella yang sedang berkutat di dapur dengan beberapa sayur dan kompor.

"Pagi, Mbak," sapa Intan mengambil duduk di meja makan.

"Pagi, Tan. Sudah bangun?" jawab Stella menoleh sekilas dan kembali melanjutkan kegiatannya.

Intan bangkit menghampiri Stella. "Mbak buat apa?"

"Oh? Ini, Mbak buat kue."

"Enggak perlu repot-repot begitu sama Intan, Intan jadi malu," balas Intan tersipu.

Stella menoleh. "Kamu mau?" tawarnya.

"Loh? Emangnya itu bukan buat Intan Mbak?" tanyanya bingung.

Stella tersenyum menggeleng.

"Lalu? Buat siapa, Mbak?" tanyanya penasaran.

"Buat seseorang," jawab Stella tersenyum.

Intan tersenyum lebar. "Pasti buat pacar Mbak ya?" tebak Intan mencolek lengan Stella.

"Hust, jangan ngawur kamu, Mbak enggak punya pacar," bantahnya.

"Jangan bohong, Mbak. Punya juga nggak masalah," goda Intan mengambil buah anggur di hadapannya.

"Ini untuk Aiden."

"Ohh namanya Aiden," sahut Intan manggut-manggut memakan buah anggurnya.

"Dia masih kecil, Intan. Tiap lihat Aiden aku teringat dengan Rafa," ucap Stella tersenyum mengingat wajah menggemaskan Aiden.

Intan yang sudah tahu peristiwa itu mengelus lengan Stella menguatkan.

"Kamu sendiri bagaimana? Sudah punya pacar?"

Intan menyengir. "Lagi proses pedekate, Mbak," jawabnya terkikik.

Stella menyernyit. "Siapa?" tanyanya penasaran.

Intan tersenyum mendekatkan bibirnya pada telinga Stella. "Sama bos Intan, Mbak," bisiknya pelan.

Stella melotot. "Bos?"

Intan mengangguk. "Jangan salah paham, Mbak. Bos di kantor Intan masih muda, ganteng, keren, baik, rajin fitness deh kayaknya," terang Intan menggebu, mengetuk dagunya mengingat body tubuh sang bos yang kelewat body goals.

Stella meringis dengan kernyitan di dahinya. "Darimana kamu tahu dia sering fitness?"

Masih pada posisi menatap langit-langit dapur, serta memangku wajahnya dengan tangan. "Terlihat dari ototnya yang menyembul di balik kemeja, six pack atau eight pack ya?"

"Aaaaaaa," teriak Intan histeris menutup wajahnya dengan kedua tangannya, dia tersipu.

Stella hanya geleng-geleng kepala melihat kegilaan adiknya.

Tak lama raut wajah Intan berubah sendu membuat Stella bingung. "Kenapa? Hm?"

Intan menghela nafas panjang, menopang wajahnya dengan kedua tangan. "Kemarin aku lihat dia sama wanita, Mbak. Pasti itu pacarnya," jawabnya lesu.

Stella menggeleng pelan, tersenyum melihat tingkah Intan yang lucu saat murung. "Kamu yakin itu pacarnya?"

Intan mendongak kemudian menggeleng.

Stella mengelus pundak Intan. "Harus optimis dong? Siapa tahu itu hanya temannya," ucapnya memberikan semangat.

Intan berdiri tegak. "Iya, Mbak. Aku akan berusaha mendapatkan Pak bos ganteng," tekadnya mengepalkan tangan di udara.

"Selama para saksi belum bilang 'sah' aku tidak akan menyerah mendapatkan cintamu Pak bos ganteng," sambungnya terkekeh geli mendengar ucapannya sendiri.

Stella ikut terkekeh sambil geleng-geleng mendengar ucapan Intan.

Intan itu tipikal orang yang ceria, cerewet dan ... ya itu, tidak tahu malu kalau sama bos gantengnya.

*

Intan duduk di sofa sambil menonton televisi, mulutnya tak berhenti mengunyah cemilan yang ada di pangkuannya.

Stella masih mandi, katanya dia akan pergi menemui Aiden, yang Intan tidak tahu seperti apa wajahnya.

Terdengar ponsel berdering, Intan mengecek ponselnya, bukan miliknya. Mungkin punya Stella, pikirnya.

Intan bangkit dari sofa mencari ponsel Stella yang berdering, ternyata ada di meja makan.

Tertera nama "Rega" di layar, membuat Intan tersentak, kenapa namanya sama?

Ragu-ragu dirinya hendak mengangkat, tapi sambungan telepon sudah terputus.

Intan mengendikkan bahu dan kembali ke sofa melanjutkan kegiatannya menonton televisi.

Tak berapa lama Stella keluar dari kamar, sudah rapi dengan dress peach selutut serta memegang tas di tangan kanannya.

"Intan kamu lihat ponsel Mbak, nggak?" tanya Stella celingukan mencari ponselnya.

"Tuh, di meja makan," tunjuk Intan dengan dagunya. "Eh, ada telepon dari Rega, Mbak, tadi," sambungnya.

Stella mengangguk dan membuka ponselnya.

"Dia siapa, Mbak? Pacar?" tebak Intan penasaran.

"Bukan, dia teman Mbak," jawabnya tanpa menoleh

"Mbak pergi dulu ya? Kamu betah-betahin di sini, kalau perlu menginap," ucap Stella berjalan menghampiri.

"Nanti Intan pulang, Mbak. Kapan-kapan aku ke sini lagi."

Stella mengangguk. "Mbak pergi dulu. Assalamualaikum."

"Wa'alaikumsalam," jawab Intan.

Seakan teringat dia memutar tubuhnya. "Mbak, kuenya Intan bawa pulang ya?" teriak Intan ketika Stella hampir keluar dari pintu.

"Iya, bawa saja."

~••~

**Jeng jeng jeng!!

Demi apa sepagi ini sudah update? 😜

Terlalu semangat ini mah! 😂

Oh iya, ada pemain baru loh? Gimana nih tambah seru atau tambah bosen ... ??

Jan bosen yah.. 😚😉**

1
PNC
katanya Sandy CEO
kok milih perempuan kasar bgt nganggep cocok to dia

aneh sich

tp bnyak kok orang yg ga paham dng pilihannya
PNC
wong sugih tapi kok
Ervina T
Luar biasa
Nuriati Mulian Ani26
semoga ..rumahnya dibeli sandi
Nuriati Mulian Ani26
wanita hebat dan mandiri..stela
Nuriati Mulian Ani26
keren ceritanya ringan .aku suka alurnya
Kasih Bonda
semangat
iis sahidah
Luar biasa/Good//Good//Good//Good//Good/
iis sahidah
rega laki2 banget
iis sahidah
bunda Stella keren
Tea and Cookies
Luar biasa
Dewa Dewi
😂😂😂😂😂
Dewa Dewi
😂😂😂😂😂😂😂😂
Modish Line
♥️♥️♥️♥️♥️
Modish Line
😂😂😂😂😂😂
Modish Line
bodoh banget
Modish Line
good job Rega👍👍👍👍👏👏👏👏
Modish Line
blm jadi mamanya Aiden udh kaya ema tiri gini kelakuannya ....kalo jadi nikah bakalan abis nih Aiden disiksa sama si Fara gila
Al.Ro
Luar biasa
Ida Haedar
"ini sederhana sesuai porsi ku.. " (sandy) shommboong!!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!