~Karya Original~
[Kolaborasi dari dua Author/BigMan and BaldMan]
[Update setiap hari]
Sebuah ramalan kuno mulai berbisik di antara mereka yang masih berani berharap. Ramalan yang menyebutkan bahwa di masa depan, akan lahir seorang pendekar dengan kekuatan yang tak pernah ada sebelumnya—seseorang yang mampu melampaui batas ketiga klan, menyatukan kekuatan mereka, dan mengakhiri kekuasaan Anzai Sang Tirani.
Anzai, yang tidak mengabaikan firasat buruk sekecil apa pun, mengerahkan pasukannya untuk memburu setiap anak berbakat, memastikan ramalan itu tak pernah menjadi kenyataan. Desa-desa terbakar, keluarga-keluarga hancur, dan darah terus mengalir di tanah yang telah lama ternodai oleh peperangan.
Di tengah kekacauan itu, seorang anak lelaki terlahir dengan kemampuan yang unik. Ia tumbuh dalam bayang-bayang kehancuran, tanpa mengetahui takdir besar yang menantinya. Namun, saat dunia menjerumuskan dirinya ke dalam jurang keputusasaan, ia harus memilih: tetap bersembunyi/melawan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BigMan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 16 - Pelajaran di Balik Keterlambatan
...----------------...
Langit senja perlahan telah menggelap ketika Sora akhirnya tiba di depan rumahnya. Napasnya sedikit tersengal setelah berjalan cepat dari rumah Emi.
Jantungnya berdetak lebih kencang, bukan karena kelelahan… tetapi karena ia tahu ia telah melanggar aturan.
Ketika tangannya hendak mengetuk pintu, suara derit kayu mendahuluinya.
Pintu terbuka.
Di sana, Abirama berdiri dengan mata tajam yang menatapnya dalam diam.
Ia tidak langsung berbicara, hanya berdiri di ambang pintu dengan tatapan yang sulit diartikan. Namun, bagi Sora, keheningan itu lebih menekan daripada kemarahan yang meledak.
"Kau terlambat."
Suara Abirama rendah, tetapi memiliki bobot yang menghantam tepat di dada Sora.
Sora menelan ludah. "Aku mengantar Emi pulang," jawabnya cepat.
Abirama menyipitkan mata. "Dan itu lebih penting daripada aturan yang sudah kita sepakati?"
Sora menundukkan kepala. Ia tahu jawabannya.
"Masuk," perintah Abirama.
Sora melangkah ke dalam tanpa suara. Begitu pintu tertutup, suasana dalam rumah terasa lebih hangat oleh cahaya lampu minyak.
Di meja makan, Kimiko tengah menyiapkan makan malam untuk mereka. Ketika melihat Sora masuk, ia langsung menghampirinya seraya tersenyum lembut.
"Kau sudah pulang, nak. Makan malammu ada di meja," katanya sambil mengusap kepala Sora sekilas.
"Terima kasih, Ibu," jawab Sora lirih.
Namun, ia bisa merasakan tatapan ayahnya yang masih menembus punggungnya.
Sora menoleh.
Abirama berdiri di sudut ruangan, tangannya bersedekap.
Tatapan tajamnya seolah menembus kedalaman hati Sora.
"Ikut aku," ucapnya tegas, lalu berjalan menuju ruangan belakang.
Sora ragu sejenak, tetapi mengikuti tanpa suara.
Begitu mereka sampai di ruangan yang lebih sepi, Abirama berbalik, menatap Sora dengan mata penuh tekanan.
"Kau tahu kenapa Ayah kesal, Sora?" suaranya tetap datar, tetapi dingin.
Sora mengepalkan tangannya. "Aku… aku pulang terlambat."
"Bukan hanya itu," potong Abirama. "Kau melanggar disiplin."
Sora menegakkan tubuhnya, tetapi tetap menundukkan kepala.
"Kau ingin bertambah kuat, bukan?"
Sora mengangguk cepat.
"Kalau begitu, hargai aturan yang sudah kita sepakati," suara Abirama sedikit meninggi.
"Seorang pendekar tidak hanya kuat secara fisik, tetapi juga dalam kedisiplinan. Kau tidak bisa memilih kapan kau mau serius dan kapan kau mau santai sesukamu."
Sora menggigit bibirnya.
Ia ingin membela diri… ingin mengatakan bahwa ia hanya ingin bersikap baik kepada Emi. Tapi dalam hati, ia tahu ayahnya benar.
"Aku minta maaf…" bisiknya akhirnya.
Abirama menatapnya sejenak sebelum menghela napas panjang.
"Ayah tidak melarang mu berteman. Tapi ada batas yang harus kau patuhi. Malam ini, latihannya batal."
Sora tersentak. "Tapi—"
"Tidak ada tapi," suara Abirama memotong tegas. "Disiplin adalah harga yang harus kau bayar untuk kekuatan. Kalau kau tidak bisa menaatinya, maka tidak ada alasan bagi ayah untuk terus melatih mu."
Wajah Sora menegang. Ada kekecewaan yang dalam di sana, tetapi ia tidak bisa membantah.
Ini adalah kesalahannya.
Dan ini adalah konsekuensi yang harus ia terima.
Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat sebelum menghela napas dalam.
"Aku mengerti."
Abirama mengamatinya sejenak sebelum mengangguk kecil.
"Bagus."
Tanpa kata-kata lagi, Abirama berbalik dan berjalan keluar dari ruangan.
Sora tetap berdiri di tempatnya, menatap lantai dengan tatapan kosong.
Ia tahu ia harus lebih baik lagi.
Ia tahu ia tidak bisa mengecewakan ayahnya.
Ia tahu…
Jika ia ingin benar-benar menjadi kuat, maka kedisiplinan adalah sesuatu yang tidak boleh lagi ia abaikan.
......................
Malam itu, meski Sora sudah berbaring di atas tikarnya, ia tak bisa memejamkan mata. Kata-kata ayahnya terus terngiang di pikirannya.
"Disiplin adalah harga yang harus kau bayar untuk kekuatan."
Ia berbalik, menatap langit-langit rumah mereka yang terbuat dari kayu. Rasa kecewa masih menyelimuti dadanya.
Ia ingin kuat. Ia ingin melanjutkan pelatihannya. Tapi… ia juga ingin tetap menjalani hidupnya sebagai anak desa biasa.
Apa itu salah?
Sora mengepalkan tangannya.
Tidak. Ia harus lebih baik lagi.
Ia harus membuktikan bahwa ia bisa menjadi kuat dan tetap menjaga orang-orang yang ia sayangi.
Malam pun berlalu dan matahari perlahan muncul melipat kegelapan malam.
Pagi-pagi sekali, Sora bangun lebih awal dari biasanya. Ia segera membantu ibunya menyiapkan sarapan, lalu tanpa menunggu perintah, ia mengambil keranjang dan bersiap pergi ke pasar untuk membeli bahan makanan.
Kimiko tersenyum melihatnya. “Hari ini kau semangat sekali.”
Sora hanya mengangguk. “Aku tidak ingin membuat Ayah kecewa lagi.”
Kimiko mengerutkan kening, tetapi sebelum sempat bertanya lebih jauh, Sora sudah menyambar keranjangnya dan keluar rumah.
Di pasar, suasana pagi masih sepi. Beberapa pedagang mulai menggelar dagangannya, dan aroma roti panggang serta rempah-rempah mulai menguar di udara.
Sora sedang memilih beberapa ubi ketika suara familiar menyapanya dari belakang
“Sora?”
Ia menoleh. Emi berdiri di sana, membawa keranjang kecil, dengan senyum cerah seperti biasa.
“Kau pagi sekali datang ke pasar."
Sora mengangguk. “Aku ingin membantu Ibu.”
Emi tersenyum lebih lebar. “Wah, anak yang berbakti, ya. Seharusnya teman-teman kita belajar darimu.”
Sora hanya tertawa kecil.
Mereka berjalan berdampingan, mengobrol ringan sambil memilih bahan makanan. Tapi di tengah perbincangan mereka, Emi memperhatikannya dengan tatapan yang lebih serius.
“Sora… ada yang mengganggumu?”
Sora terdiam sesaat. “Kenapa kau berpikir begitu?”
“Kau terlihat lebih serius dari biasanya. Biasanya, kau selalu tersenyum dan bercanda.”
Sora menunduk sedikit, menimbang apakah ia harus menceritakan hal ini. Tapi pada akhirnya, ia menghela napas pelan.
“Ayah menegurku tadi malam. Aku pulang terlambat.”
Emi membelalakkan mata. “Karena mengantarku?”
Sora mengangkat bahu. “Bukan itu masalahnya. Aku melanggar disiplin.”
Emi menatapnya dalam diam, lalu menggigit bibirnya.
“… Maaf,” gumamnya lirih.
Sora menggeleng cepat. “Bukan salahmu. Aku yang seharusnya lebih disiplin.”
Emi menatapnya lekat-lekat sebelum tersenyum kecil. “Aku yakin Ayahmu hanya ingin yang terbaik untukmu.”
Sora tersenyum tipis. “Aku tahu.”
Mereka melanjutkan perjalanan, tetapi kata-kata Emi terngiang di kepala Sora.
"Aku yakin Ayahmu hanya ingin yang terbaik untukmu."
Ya. Ia tahu itu. Tapi mengapa rasanya begitu sulit?
......................
Sepulangnya Sora ke rumah, Abirama sudah duduk di depan rumah, mengasah pedangnya dengan batu asah.
Sora berjalan mendekat, berdiri tegap di hadapan ayahnya.
“Aku tidak akan pulang terlambat lagi,” katanya dengan suara mantap.
Abirama berhenti mengasah pedangnya, lalu mengangkat wajahnya untuk menatap putranya.
“Dan?”
Sora mengepalkan tangannya. “Dan aku ingin terus berlatih.”
Abirama menatapnya lama, seolah menimbang sesuatu dalam pikirannya. Lalu, sudut bibirnya sedikit terangkat.
“Baik,” katanya akhirnya. “Tapi buktikan dulu.”
Sora mengangkat alis. “Buktikan?”
Abirama bangkit, menepuk bahunya dengan tangan yang kuat.
“Jika kau bisa mempertahankan disiplin selama satu minggu tanpa gagal… Ayah akan meningkatkan intensitas latihanmu.”
Mata Sora berbinar. “Benarkah?”
Abirama menatapnya tajam. “Tapi jika kau gagal—”
“Aku tidak akan gagal!” potong Sora dengan penuh tekad.
Abirama tersenyum kecil.
“Kalau begitu, kita lihat saja.”
1. Disiplin >> Lulus.
2. .... ?
Lanjut thoorr!!! /Determined//Determined/