Menceritakan seorang pemuda bernama Darren yang kehidupannya tampak bahagia, namun terkadang menyedihkan dimana dia dibenci oleh ayah dan kakak-kakaknya karena sebuah pengakuan palsu dari seseorang.
Seseorang itu mengatakan bahwa dirinya sebagai pelaku atas kecelakaan yang menimpa ibunya dan neneknya
Namun bagi Darren hal itu tidak penting baginya. Dia tidak peduli akan kebencian ayah dan kakak-kakaknya. Bagi Darren, tanpa mereka dirinya masih bisa hidup bahagia. Dia memiliki apa yang telah menjadi tonggak kehidupannya.
Bagaimana kisah kehidupan Darren selanjutnya?
Yuk, baca saja kisahnya!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sandra Yandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tetap Pada Rencana
Di Perusahaan ER'Ld Corp..
Erland saat ini berada di ruang kerjanya. Begitu juga dengan Davin dan Andra. Mereka sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.
^^^
Andra saat ini tengah berkutat dengan laptopnya. Dia mengetik sesuatu disana, mengetik tentang profosal kerjasama perusahaan ER'Ld Corp dengan perusahaan Axa Farma.
Ketika Andra fokus dengan pekerjaannya, tiba-tiba ponselnya berdering.
Andra melihat kearah ponselnya. Dia melihat nama tangan kanannya di layar ponselnya.
Setelah itu, Andra mengambil ponselnya itu, lalu menjawab panggilan dari tangan kanannya itu.
"Hallo, Tio!"
"...."
"Informasi apa?"
"...."
Andra seketika membelalakkan matanya ketika mendengar jawaban dari Tio yang menyebut nama kedua adiknya yaitu Gilang dan Darka.
"Kenapa dengan mereka?"
"...."
"Apa?!" Andra seketika terkejut dan syok mendengar jawaban dari Tio.
"Jadi... Jadi Riyo benar-benar melakukan niatnya ingin mencelakai Gilang dan Darka?" batin Andra.
Detik kemudian..
"Jangan-jangan dia juga yang telah mencelakai Mama dan Oma, lalu melimpahkan semuanya kepada Darren!" batin Andra lagi.
Seketika Andra mengepal kuat tangan kirinya ketika menyadari kejadian yang menimpa ibu dan neneknya.
"...."
Andra seketika tersadar ketika mendengar suara dari tangan kanannya.
"Ach, maaf. Bagaimana keadaan kedua adikku itu?"
"...."
Andra seketika tersenyum ketika mendengar jawaban dari Tio.
"Ren, maafkan kakak!" batin Andra.
"Apa kau mengetahui siapa nama dari pria yang menjadi pemimpin saat mencegat kedua adikku?"
"...."
"Baiklah. Awasi ketiga adikku selama diluar rumah."
"...."
Pip..
Setelah berbicara dengan tangan kanannya, kini Andra duduk termenung. Pikirannya seketika melayang pada kejadian adik bungsunya yang baru pulang ke rumah. Pada saat itu kondisi adiknya tak baik-baik saja, terlihat pucat pada wajahnya.
Tes..
Tanpa diminta air matanya jatuh membasahi pipinya ketika mengingat kejadian tersebut.
Yah! Andra seketika menangis. Dia menangis teringat akan perlakuan buruknya terhadap adik bungsunya.
Andra seketika menghapus air matanya. Setelah itu, dia berdiri dari duduknya. Dia ingin menemui ayah dan kakaknya, lalu memberitahu tentang Gilang dan Darka yang hampir celaka akibat ulah Riyo.
^^^
Ruang kerja Erland.
Davin saat ini berada di ruang kerja ayahnya. Dia kesana membawa berkas proyek kerjasama perusahaan Lender yang dia terima. Davin ingin meminta persetujuan sekaligus pendapat ayahnya itu.
Ketika Erland dan Davin tengah membahas kerjasama tersebut, tiba-tiba ponsel Davin berdering menandakan panggilan masuk.
Davin seketika langsung mengambil ponselnya. Dia melihat nama adik pertamanya yaitu Andra di layar ponselnya.
"Siapa, Sayang?"
"Andra, Pa!"
"Kenapa dia menghubungi kamu?"
"Mana aku tahu. Aku kan disini bersama Papa," jawab Davin.
Erland seketika langsung tertawa ketika mendengar jawaban dari putra sulungnya.
Setelah itu, Davin pun menjawab panggilan dari adiknya itu.
"Ya, Ndra!"
"...."
"Kakak di ruangan Papa. Ken...?"
Tutt..
Tutt..
Andra langsung mematikan panggilannya setelah mengetahui keberadaan kakaknya.
Sementara Davin, dia seketika membelalakkan matanya tak percaya akan kelakuan adik pucatnya itu.
"Dasar adik sialan!" Davin berucap kesal.
Sementara Erland, dia hanya tersenyum sembari geleng-geleng kepala mendengar ucapan dari putra sulungnya.
Beberapa detik kemudian..
Cklek..
Terdengar pintu ruangan kerja Erland dibuka. Dan setelah itu, masuklah seorang pemuda ke dalam.
Erland dan Davin bersamaan langsung melihat keasal suara. Dan keduanya melihat kedatangan putra keduanya/adik pertamanya.
Kini Andra sudah duduk di sofa, tepat di depan kakaknya. Wajahnya tampak tak baik-baik saja.
"Kenapa tuh wajah? Jelek amat," tanya dan ledek Davin.
Andra tidak menjawabnya. Justru saat ini dia masih memikirkan apa yang dikatakan oleh Tio, tangan kanannya, sekaligus ingatan saat dia menyakiti adik bungsunya dengan kata-katanya.
"Andra, kamu kenapa?" tanya Davin yang mulai khawatir.
"Sayang."
Andra menatap kearah ayah dan kakaknya yang mana kakak dan ayahnya itu kini menatap dirinya dengan tatapan khawatir.
"Ini masalah Gilang dan Darka."
"Kenapa, Sayang? Kenapa dengan kedua adikmu itu?" tanya Erland yang mulai khawatir.
"Barusan Tio, tangan kananku menghubungiku. Dia mengatakan bahwa ada sekitar 30 pengendara motor mencegat mobil Gilang dan Darka dalam perjalanan menuju kampus."
"Apa?!" Erland dan Davin seketika berteriak. Keduanya terkejut.
"Bagaimana keadaan Gilang dan Darka, Ndra? Mereka baik-baik saja kan?" tanya Davin.
"Mereka baik-baik saja, kak karena dua tangan kanannya Darren bersama beberapa anggotanya datang menyelamatkan mereka."
Davin seketika tersenyum lega mendengarnya. Begitu juga dengan Erland.
"Lalu bagaimana dengan para pengendara motor itu, Andra?" tanya Erland.
"Semua pengendara itu tewas, kecuali pimpinannya."
"Jadi maksud kamu. Pemimpin dari pengendara motor itu masih hidup?"
"Iya, kak. Dia memang masih hidup, tapi dia mengalami luka tembak di kedua pahanya. Dia di bawa ke Markas DR'GUARD97."
Andra menatap wajah ayah dan kakaknya secara bergantian. "Apa kalian ingin tahu siapa nama dari pemimpin para pengendara motor itu?"
"Siapa? Katakan," ucap dan tanya Davin.
"Bondan."
Davin sektika terkejut ketika mendengar jawaban dari Andra.
Flashback On..
Davin melangkah menuju pintu keluar. Dia hendak pergi ke perusahaan.
Namun ketika Davin tiba diluar, dia melihat adik bungsunya masih berada di teras, di atas motor miliknya.
Davin melihat adiknya tengah berbicara dengan seseorang di telepon, dan dia bisa mendengarnya dengan jelas.
"Kerahkan beberapa anggota kamu untuk menuju jalan yang biasa dilalui oleh kedua kakakku ketika pergi ke kampus. Ajak Hansel bersama kamu."
"...."
"Yang akan menyerang kedua kakakku adalah kelompok Bangau. Pimpinannya bernama Bondan. Khusus Bondan, lumpuhkan dia. Setelah itu, bawa dia ke Markas DR'GUARD97."
"...."
Setelah memberikan perintah kepada Fito, tangan kanannya. Darren pun memutuskan untuk pergi ke kampus.
Setelah kepergian adik bungsunya, Davin seketika tersenyum. Dia tersenyum karena bangga memiliki adik seperti adik bungsunya itu.
"Apa yang diucapkan oleh Darren di hatinya telah terbukti. Riyo ingin mencelakai Gilang dan Darka karena tidak terima kembali menyayangi Darren. Atau lebih tepatnya mempercayai Darren," ucap Andra.
"Ini untuk kesekian kalinya ucapan isi Darren terbukti." Andra berucap dengan tatapan matanya menatap ayahnya dan kakaknya. "Pa, kak!"
Erland dan Davin saling memberikan tatapan matanya. Setelah itu, keduanya menatap kearah Andra.
"Tiga bukti sudah kita dapatkan. Itu semua kita dapatkan dari ucapan isi hati Darren," ucap Davin.
Erland dan Andra menganggukkan kepalanya bersamaan.
"Bukti pertama dari pengakuan Paman Bima. Bukti kedua dan ketiga dari ucapan isi hatinya Darren," ucap Davin lagi.
"Dari tiga bukti itu menyatakan bahwa Darren tidak melakukan apa yang dikatakan oleh Riyo dan orang-orang itu," ucap Andra.
Davin menganggukkan kepalanya tanda setuju akan ucapan Andra. Begitu juga dengan Erland.
"Terus, apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Andra dengan tatapan matanya menatap ayahnya dan kakaknya.
"Seperti yang sudah kita rencanakan sebelumnya. Kita bersikap seolah-olah masih membenci Darren, namun bedanya kita tidak mengeluarkan kata-kata yang akan menyakiti Darren karena kita sudah mengetahui bahwa Darren tidak terlibat, walau belum 100 persen kebenaran muncul." Davin menjawab pertanyaan dari Andra.
"Baiklah."
"Kamu beritahu Dzaky dan Adnan masalah ini," pinta Erland.
"Baik, Pa!"
"Riyo, tunggu saja apa yang akan menghampiri kamu jika kamu terbukti sebagai dalang atas kecelakaan yang menimpa ibuku dan Omaku," batin Andra.
"Aku Davin Aldan Smith tidak akan memberikan kata ampun jika terbukti bahwa kau yang menjadi dalang kematian ibuku dan Omaku," batin Davin.
penasaran kelanjutannya
semangat
up lagi ya
kasian Darren
semangat trus kak