NovelToon NovelToon
Fatih & Raisa

Fatih & Raisa

Status: sedang berlangsung
Genre:Dokter / Diam-Diam Cinta / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Yahhh__

Muhammad Fatih Ar-rais, seorang dokter muda tampan yang terkenal dengan sifat dingin nya namun ramah pada semua pasien nya

Raisa Amira Al-hazm, Seorang Guru cantik yang terkenal dengan keramahan dan ketegasan nya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yahhh__, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16

Di koridor yang mulai menegang, Raisa melangkah cepat menuju ruang kepala sekolah. Wajahnya yang biasa ramah kini tampak sangat kaku dan serius. Di sana, ia melihat Pak Surya sedang berkoordinasi dengan petugas keamanan.

"Pak Surya," panggil Raisa dengan nada yang terjaga namun penuh penekanan.

Ketua yayasan itu menoleh, menyadari ada urgensi yang besar dari tatapan salah satu guru terbaiknya itu. "Ya, Bu Raisa? Bagaimana kondisi Vina?"

Raisa menarik napas panjang sebelum menjawab. Ia mendekat, memastikan suaranya tidak terdengar oleh siswa lain yang mulai berkerumun karena penasaran. "Vina sudah dalam penanganan medis dan psikis yang intensif, Pak. Namun, ada hal yang sangat mendesak yang harus segera kita tindak lanjuti secara prosedural dan tertutup."

Raisa menatap Pak Surya. "Saya minta Bapak segera menghubungi orang tua Rendi. Sekarang juga. Saya ingin kita mengadakan pertemuan tertutup bersama mereka, pihak sekolah, dan juga Dokter Sari sebagai saksi medis."

Pak Surya tampak ragu sejenak. "Apakah ini benar-benar tidak bisa menunggu sampai penyelidikan internal selesai, Bu?"

"Tidak bisa, Pak," tegas Raisa. "Ini bukan sekadar kenakalan remaja biasa. Apa yang dilakukan Rendi terhadap Vina sudah melampaui batas moral dan hukum. Kita harus membicarakan tindakan tidak pantas ini secara langsung dengan orang tuanya sebelum proses hukum formal berjalan lebih jauh. Sekolah harus mengambil posisi yang jelas untuk melindungi korban."

Melihat ketegasan Raisa, Pak Surya akhirnya mengangguk. Ia menyadari bahwa membiarkan masalah ini berlarut-larut hanya akan memperburuk situasi bagi korban dan reputasi sekolah.

"Baik, Bu Raisa. Saya akan minta staf TU untuk menghubungi orang tua Rendi. Kita akan gunakan ruang rapat kecil di belakang agar tetap privat," ucap Pak Surya.

Raisa mengangguk singkat. "Terima kasih, Pak. Saya juga akan memastikan tim medis memberikan laporan tertulis sebagai dasar pembicaraan kita nanti. Kita tidak bisa membiarkan pelaku merasa terlindungi oleh kekuasaan orang tuanya sementara masa depan korban sedang dipertaruhkan."

Sambil menunggu kehadiran orang tua Rendi, Raisa kembali menatap ke arah lobi dengan tatapan yang kosong dan penuh amarah

......................

Tak lama kemudian, sebuah mobil mewah berhenti di depan lobi sekolah. Ayah Rendi, Pak Baskoro, seorang pengusaha berpengaruh, melangkah keluar dengan raut wajah masygul, didampingi istrinya yang tampak sangat defensif. Mereka langsung menuju ruang rapat kecil tanpa memedulikan tatapan siswa lain.

Begitu memasuki ruangan, Pak Baskoro langsung menggebrak meja, tidak memberikan kesempatan bagi Pak Surya atau Raisa untuk membuka pembicaraan.

"ada apa ini, Pak Surya?! kenapa Anda memanggil kami seolah Rendi melakukan kejahatan besar!" seru Pak Baskoro dengan suara menggelegar.

Raisa menarik napas dalam-dalam, mencoba menjaga ketenangannya. Ia melirik Pak Surya yang tampak tertekan, lalu mengambil alih kendali pembicaraan.

"Selamat siang, Pak Baskoro, Ibu. Saya Raisa, wali kelas sekaligus guru Vina. Kami mengundang Bapak dan Ibu untuk membicarakan kejadian yang sangat serius yang melibatkan Rendi semalam," ucap Raisa dengan nada yang tenang namun sangat tegas.

"Kejadian apa? Rendi bilang dia cuma nongkrong biasa!" potong ibu Rendi dengan nada ketus. "Anak saya itu anak baik-baik. Dia punya masa depan cerah. Jangan coba-coba menuduh dia sembarangan hanya karena ada siswi yang mungkin... yah, kita tahu sendiri anak zaman sekarang, mungkin dia yang memancing."

Mendengar kalimat terakhir itu, tangan Raisa mengepal di bawah meja, namun ia tetap menjaga suaranya agar tidak bergetar karena amarah.

"Ibu, saya mengerti Bapak dan Ibu ingin membela putra Anda. Namun, ini bukan soal tuduhan tanpa dasar," Raisa menggeser sebuah map berisi laporan awal medis tanpa membuka detailnya terlebih dahulu. "Vina saat ini sedang dirawat di rumah sakit dengan trauma fisik dan psikis yang sangat berat. Berdasarkan keterangan saksi dan bukti awal yang ada, Rendi terlibat dalam tindakan yang sangat tidak pantas dan melanggar hukum terhadap Vina."

"Bohong! Itu pasti fitnah!" Pak Baskoro berdiri, wajahnya memerah. "Saya tahu siapa keluarga siswi itu. Mereka hanya orang biasa. Mungkin mereka cuma ingin memeras keluarga kami menggunakan nama anak saya! Saya bisa tuntut balik sekolah ini karena pencemaran nama baik!"

"Pak Baskoro, mohon tenang," sela Raisa, menatap mata pria itu tanpa rasa takut. "Kami tidak sedang mencari keuntungan atau mencoba menjatuhkan siapa pun. Kami sedang membicarakan fakta mengenai seorang siswi yang hancur mentalnya. Jika Bapak terus membela Rendi tanpa mau mendengarkan kebenaran, Bapak justru sedang menjerumuskan Rendi ke lubang yang lebih dalam."

"Anda tidak berhak menceramahi saya soal mendidik anak!" sahut Ibu Rendi sambil memalingkan muka. "Rendi tidak mungkin melakukan itu. Dia punya segalanya, buat apa dia melakukan hal menjijikkan seperti itu? Pasti perempuan itu yang berbohong!"

Suasana di dalam ruangan itu semakin memanas. Raisa menyadari bahwa dinding penyangkalan yang dibangun orang tua Rendi sangatlah tebal, tertutup oleh harga diri dan kekuasaan.

......................

Gavin dan Dafa yang sedang duduk di kursi panjang koridor, tidak jauh dari ruang rapat, saling berpandangan dengan kening berkerut.

Mereka melihat bagaimana Pak Baskoro dan istrinya masuk ke ruangan itu dengan emosi yang meledak-ledak hingga suaranya terdengar sampai ke luar.

"Tumben amat bokap si Rendi datang pagi-pagi begini, mukanya kayak mau ngajak perang lagi," bisik Gavin sambil menyikut lengan Dafa.

Dafa mengangguk, matanya masih tertuju pada pintu kayu yang tertutup rapat itu. "Iya, biasanya kan cuma asistennya atau supirnya yang datang kalau ada urusan sekolah. Ini sampai kedua orang tuanya turun tangan. Pasti ada masalah gede nih."

"Apa gara-gara si Rian tadi di kantin ya?" tebak Gavin lagi. "Tapi masa sih urusan sama si Beno doang sampai bokapnya yang pengusaha itu datang?"

Belum sempat Dafa menjawab, langkah kaki ringan terdengar mendekat ke arah mereka.

Dara, siswi yang tadi sempat menabrak Rendi di koridor, muncul dengan ekspresi bingung. Ia memegang beberapa buku di pelukannya, matanya melirik ke arah ruang rapat yang tegang itu.

"Gavin, Dafa," sapa Dara pelan, membuat kedua cowok itu menoleh serempak. "Ada apa ya di dalam? Kenapa suasana sekolah jadi aneh banget hari ini?"

Gavin mengangkat bahu. "Itu dia Dar, kita juga lagi nebak-nebak. Orang tua Rendi di dalam, kedengarannya lagi marah-marah banget sama Bu Raisa dan Pak Surya."

Dara terdiam sejenak, teringat bagaimana ekspresi Rendi saat menabraknya tadi, tatapan yang menurutnya sangat janggal dan penuh tekanan.

Dafa mendesah pelan. "Kalau sampai orang tuanya datang dengan gaya sombong kayak gitu, biasanya Rendi lagi dalam masalah tapi mereka berusaha nutupin pakai pengaruh mereka. Tapi kali ini kayaknya beda, Bu Raisa kelihatan serius banget."

Dara menatap pintu ruang rapat itu dengan perasaan tidak tenang.

"Semoga kebenaran yang menang ya," gumam Dara tulus, yang hanya dibalas anggukan ragu oleh Gavin dan Dafa.

1
Rian Moontero
lanjuuuutttt😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!