Violet, seorang alien wanita dari bangsa Elaria, dikirim ke Planet Biru untuk mencari mineral langka yang dibutuhkan bangsanya. Setelah menemukan mineral itu, dia memakannya, menyebabkan mutasi yang memberinya kekuatan luar biasa dan kemampuan untuk melahirkan anak-anak dengan kekuatan khusus. Violet memimpin peradaban baru di Planet Biru hingga suatu hari dipanggil kembali oleh bangsanya, yang memicu konflik besar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TENANG, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17
Violet terus melesat di kedalaman lautan, semakin dalam ia menyelam, semakin ia merasakan lingkungan yang mulai memanas. Namun, dengan perisai yang ia buat, suhu ekstrem tersebut tidak mempengaruhi dirinya. Dia melihat ke peta hologram dan memastikan jalurnya sudah benar, mendekati lokasi Lembah Magma.
Sesampainya di Lembah Magma, Violet tertegun melihat pemandangan yang memukau. Di tengah lingkungan yang ekstrem, ikan-ikan indah berkelip di sekitar, menciptakan kontras menakjubkan dengan lava yang memancarkan cahaya merah.
"Indah sekali," gumamnya, terpesona oleh keajaiban alam yang jarang disaksikan.
Violet terus mengarungi Lembah Magma, matanya waspada mencari letak jalan menuju Kerajaan Thelessia. Meski lingkungannya terlihat berbahaya, tekad Violet tetap kuat. Setiap gelembung lava dan cahaya ikan-ikan yang berkelip seolah menjadi pengingat betapa pentingnya misinya untuk menyelamatkan Zafir.
Dia mengikuti petunjuk di peta hologram dengan seksama, memindai setiap sudut lembah untuk menemukan jalur yang aman. Akhirnya, dia melihat sebuah terowongan yang tampak seperti jalan menuju ke Kerajaan Thelessia. Violet mengarahkan dirinya ke sana.
Namun insting kuat nya menyelamatkannya, saat hendak memasuki gua tiba-tiba semburan larva yang hampir mengenai violet untung saja violet dengan gesit menghindar"Apa ini, ini ulusi?"
Kemudian violet menggunakan energi cahayanya, membuat cahaya lebih terang. kemudian munculah sosok penjaga berwujud seperti Shireen, namun memiliki sisik merah dan siripnya memiliki kobaran api.
Violet dengan hati-hati mengamati sosok penjaga di hadapannya, siren bersisik merah dengan sirip yang tampak berkobar seperti api. Sosok itu tersenyum licik, memandang Violet dengan penuh minat.
"Namaku Ignara, penjaga Lembah Magma. Hebat sekali kau, gadis kecil, lolos dari ilusiku."
Violet mengerutkan kening. "Itu berbahaya, siapa kau?"
"Aku penjaga lembah ini," kata Ignara. "Jika ingin lewat, kau harus menjawab teka-tekiku."
Violet memandangnya tajam. "Lantas jika tak berhasil menjawab, apa yang terjadi kepadaku?"
Ignara tersenyum licik. "Kau akan tenggelam di larva magma yang amat panas ini, hihi."
Mendengar ancaman itu, Violet menunjukkan aura yang dahsyat, membuat gelombang air bergetar dan magma menyembur. "Kurang ajar, akan ku lenyapkan magma ini dan juga kau," timpalnya dengan tegas.
Terkejut, Ignara mundur sedikit, menyadari kekuatan Violet. "Tu...tunggu... Aku hanya bercanda. Jika gagal, kau hanya bisa mengulanginya lagi."
"Mana sempat aku menjawab ulang teka-tekimu," gertak Violet, aura kekuatannya masih berkobar.
"Hiii... anu, tapi setidaknya tolong jawab teka-teki ku," kata Ignara dengan nada memelas. "Jika gagal menjawab, kau boleh lewat kok, tapi jangan hancurkan tempat ini, ya."
Violet menghela napas dalam-dalam, menenangkan dirinya. "Baiklah, apa teka-tekimu?"
Ignara tersenyum lega dan berkata, "Dengarkan baik-baik. Aku adalah sesuatu yang bisa mengalir namun tidak basah, bisa terbang namun tidak memiliki sayap. Aku bisa mengelilingi dunia tanpa bergerak dari tempatku. Apa aku?"
Violet berpikir sejenak, merenungkan kata-kata teka-teki itu. Ia mengingat semua yang ia pelajari selama petualangannya. Kemudian, dengan yakin, ia menjawab, "Kau adalah cahaya."
Ignara terkejut dan kagum. "Luar biasa! Kau benar. Kau boleh lewat."
Violet tersenyum puas. "Terima kasih, Ignara. Sekarang, biarkan aku lewat."
Ignara mengangguk dan membuka jalan bagi Violet. "Selamat jalan, gadis kuat. Semoga berhasil menyelamatkan Zafir."
Saat mendengar nama Zafir disebut, Violet berhenti dan menoleh kembali ke arah Ignara.
"Zafir? Kenapa kau tahu dia?" tanya Violet, curiga.
Ignara terkejut melihat reaksi Violet yang mendadak menoleh, mundur sedikit dengan gugup. "Si... siapa yang tidak kenal dia? Dia salah satu bangsawan di Kerajaan Thelessia. Dia sering kali ke permukaan melewati tempat ini. Karena dia salah satu ras yang sama dengan leluhurku, tentunya aku membiarkannya lewat."
Violet mengerutkan keningnya. "Kenapa pasukan Zira kau biarkan lewat?"
Ignara tampak bingung. "Siapa Zira? Aku tak mengenalnya. Mungkin saja dia lewat jalur lain karena jalur ini adalah jalur tercepat menuju permukaan."
Violet mengangguk, menerima penjelasan itu, dan melanjutkan perjalanannya tanpa berkata apa-apa lagi. Ignara menghela napas lega melihat Violet pergi begitu saja.
"Gadis kecil yang mengerikan, ada apa dengan Zafir kenapa gadis itu ingin menemuinya, ah sudahlah aku kembali berjaga." bisik Ignara, sambil memandang Violet yang semakin jauh.
Violet terus melesat dalam perjalanan, semakin mendekati Kerajaan Thelessia. Dia tahu bahwa tantangan-tantangan berikutnya mungkin akan lebih sulit, tetapi tekadnya semakin kuat untuk menyelamatkan Zafir.
***
Violet terus melesat menuju sarang naga laut. Sesampainya di titik itu, dirinya tiba-tiba dihadang oleh tiga naga laut yang muncul dari kedalaman dengan menyemburkan nafas nuklir ke arahnya. Violet dengan cepat mengaktifkan prisai cahayanya, menciptakan perisai berkilauan yang melindungi dirinya dari serangan mematikan itu.
"Apa urusanmu di wilayah kami?" geram salah satu naga dengan suara menggema di dalam air.
Violet menatap ketiga naga tersebut dengan tenang, mencoba untuk tidak memperlihatkan ketakutannya. "Aku datang ke sini untuk menyelamatkan seorang teman yang ditawan di Kerajaan Thelessia. Aku tidak ingin bertarung, hanya meminta izin untuk lewat."
Naga-naga laut tersebut saling berpandangan sebelum naga yang terbesar berbicara kembali. "Temanmu adalah Zafir, bukan? Kami mendengar desas-desus tentang kudeta yang terjadi di Kerajaan Thelessia."
Violet mengangguk, sedikit lega karena para naga ini tampaknya mengetahui situasi. "Benar, Zafir adalah temanku. Tolong biarkan aku lewat, aku harus segera menyelamatkannya."
Naga terbesar itu mengangguk perlahan. "Baiklah, kami akan membiarkanmu lewat, tapi ingatlah ini: jika kau mengkhianati kepercayaan kami, kami tidak akan ragu untuk menghancurkanmu."
Violet mengangguk dengan tegas. "Aku menghargai kepercayaan kalian. Terima kasih."
Para naga laut perlahan mundur, memberikan jalan bagi Violet. Dia melesat melewati mereka, tetap waspada terhadap kemungkinan ancaman lain.
Saat Violet berhasil keluar dari wilayah naga laut, tiba-tiba seekor naga dengan sisik gelap menyerangnya dengan ganas. Nafas nuklir yang menyala-nyala menyembur ke arahnya, memaksa Violet untuk melesat menghindar dengan cepat.
"Aku akan melenyapkanmu! Jangan ganggu urusan Proteus di Kerajaan Thelessia!" teriak naga itu dengan suara menggelegar.
Violet menatap naga tersebut dengan tajam. "Apa maksudmu ini? Kau mau berperang denganku?"
Naga gelap itu tertawa sinis. "Aku tidak seperti naga lain yang naif. Aku adalah sekutu Proteus, dan tugas ku adalah memastikan tidak ada yang menghalangi rencananya!"
Sang naga berenang dengan gesit, menyemburkan nafas nuklir dari berbagai arah. Violet dengan cekatan menghindari setiap serangan, menggunakan kecepatan dan kelincahannya untuk tetap berada di luar jangkauan.
"Kalau begitu, kau memaksaku untuk bertarung," ujar Violet dengan tegas. Dia membentuk bola-bola cahaya di sekelilingnya dan mulai melancarkan serangan balik. Cahaya terang menyinari lautan gelap, menciptakan percikan-percikan energi saat serangan Violet dan nafas nuklir naga saling bertabrakan.
Pertarungan itu sengit, dengan Violet dan naga gelap saling menghindar dan menyerang. Violet mengerahkan seluruh kemampuannya, memanfaatkan kekuatan cahayanya untuk melawan kegelapan yang dibawa oleh naga tersebut.
Akhirnya, setelah serangan balik yang tak terhitung jumlahnya, Violet berhasil melancarkan serangan terakhir yang menghantam naga gelap dengan keras, membuatnya terlempar jauh ke belakang. Naga tersebut mengerang kesakitan, lalu melarikan diri ke dalam kegelapan lautan.
Dengan napas tersengal, Violet melanjutkan perjalanannya. Dia tahu bahwa setiap langkah semakin dekat dengan Kerajaan Thelessia, dan dia harus tetap waspada.
Alih-alih kabur, ternyata naga hitam itu memanggil dua sekutunya untuk bergabung dalam pertempuran. Violet tiba-tiba menerima tiga serangan sekaligus, membuatnya cepat-cepat membentuk perisai cahaya yang amat kuat. Namun, serangan gabungan mereka sedikit demi sedikit mendorong Violet mundur.
"Hancurlah kau sekarang! Kau akan lenyap!" seru naga hitam yang dikenal sebagai Nyxar.
Violet mengerahkan seluruh tekadnya. "Aku tidak akan kalah!"
Dia kemudian menggunakan kemampuan alamnya. Akar-akar raksasa muncul dari dasar laut, menyerang ketiga naga tersebut. Naga-naga itu segera menghentikan serangan nafas nuklir mereka dan berenang meliuk-liuk, mencoba menghindari serangan akar raksasa yang mengejar mereka.
"**Kemampuan macam apa ini?!**" bentak Nyxar, terkejut dengan kemampuan Violet.
Dengan lantang, Violet berteriak, "Aku adalah Violet! Aku tidak akan gentar melawan kalian! Kalian telah menyerangku, maka aku tidak segan membinasakan kalian!"
Nyxar menyeringai, tidak mau kalah. "Jangan sombong, gadis kecil!"
Pertempuran pun semakin sengit. Violet mengombinasikan perisai cahayanya dengan serangan akar-akar raksasa, menciptakan serangan ganda yang membuat ketiga naga itu kesulitan. Nyxar dan sekutunya terus mencoba menghindari akar yang menyerang dari segala arah, namun Violet tetap gigih, tidak memberi mereka ruang untuk menyerang balik.
Ketiga naga itu menggabungkan nafas nuklir mereka, melenyapkan akar-akar kuat yang dibuat oleh Violet. Namun, akar-akar baru terus tumbuh semakin banyak, membuat Nyxar memberi aba-aba.
"Menghindar dan serang!" perintah Nyxar.
Ketiga naga itu berenang dengan lincah, menyemburkan nafas nuklir mereka ke arah akar-akar yang terus tumbuh. Violet, yang mengendalikan akar-akar tersebut, kemudian melesat ke arah naga sambil menembakkan energi cahaya.
Salah satu naga terkena serangan itu. Saat Violet hendak mengikatnya dengan akar, Nyxar tiba-tiba menyerang, memaksa Violet mundur. Violet menjaga jarak sambil mengendalikan akar-akar dan menembakkan energi cahaya.
Pertempuran semakin sengit. Violet menggunakan akar-akar untuk menahan dan membingungkan naga-naga, sementara dia menyerang dengan cahaya. Nyxar dan dua rekannya berusaha menghindar dan menyerang balik, namun kombinasi serangan akar dan cahaya dari Violet membuat mereka kewalahan.
Nyxar semakin marah dan meningkatkan serangannya. "Kita tidak akan kalah dari gadis kecil ini! Serang habis-habisan!"
Violet tetap tenang dan fokus. Dia memanfaatkan kekuatannya secara optimal, mengendalikan medan pertempuran dengan taktik cerdas. Akhirnya, setelah serangan bertubi-tubi dan strategi yang cermat, Violet berhasil mengalahkan ketiga naga tersebut, membuat mereka tak berdaya dan mundur ke dalam kegelapan lautan.
Melihat Nyxar mundur beserta dua bawahannya, Violet bertekad mengejar mereka. "Kalian pikir bisa lolos setelah menyerangku?" teriaknya.
Kejar-kejaran pun terjadi di antara mereka, meliuk-liuk di kedalaman lautan. Violet mengerahkan kekuatannya lebih kuat, melesat dengan cepat sambil mengendalikan akar-akar yang tumbuh lebih cepat. Setelah pengejaran sengit, ketiga naga itu akhirnya tertangkap oleh akar-akar Violet.
Violet mengumpulkan energi cahayanya, siap melancarkan serangan pamungkas. Namun, sebelum dia sempat melakukannya, sosok besar muncul dari kegelapan lautan. Tetua naga, dengan aura kebijaksanaan dan kekuatan yang menenangkan, mendekat.
"Gadis kecil, maafkan rakyatku," ucap tetua naga dengan suara dalam yang berwibawa. "Bolehkah saya menghukum mereka dengan tangan saya sendiri?"
Violet menatap tetua naga dengan penuh pertimbangan. Energi cahayanya masih bersinar, namun dia bisa merasakan ketulusan dan kekuatan moral dari tetua naga itu. Dia perlahan mengendurkan kekuatannya, akar-akar yang menahan Nyxar dan kedua naga lainnya mulai mereda.
"Baiklah," jawab Violet dengan suara yang tetap tegas namun sedikit melunak. "Tapi pastikan mereka tidak mengganggu perjalananku lagi."
Tetua naga mengangguk. "Terima kasih, gadis pemberani. Saya akan memastikan mereka belajar dari kesalahan mereka."
Dengan itu, Violet melanjutkan perjalanannya, meninggalkan tetua naga dengan Nyxar dan bawahannya.
***
Di sisi lain, Raja Proteus merasa amat kesal di singgasananya. Dia mencoba menghubungi Ratu Seraphine melalui telepati, namun upayanya tertolak. Begitu pula saat dia mencoba menghubungi Nyxar, hasilnya sama.
"Apa mungkin alien itu berhasil melewati mereka? Meski aku tidak tahu rute rahasia Zafir, mendengar informasi dari Ratu Seraphine dan Naga Nyxar, dimana Zafir sering ke permukaan melewati rute itu. Seharusnya alien itu akan melewati jalur itu untuk datang ke sini. Apa jangan-jangan mereka telah dikalahkan? Kurang ajar!"
Kemudian Proteus memanggil jenderal tertingginya, dengan wujud humanoid berekor ikan. Jenderal ini berbeda dengan evolusi Proteus, yang leluhurnya mewariskan bentuk seperti manusia dengan kaki, sementara garis keturunan lain dari leluhurnya memiliki sirip ekor ikan. Bahkan dari leluhur lain, wajahnya masih seperti ikan namun tubuhnya menyerupai manusia.
"Jenderal Thalassar," perintah Proteus dengan suara dingin dan tegas, "jaga gerbang masuk menuju Kerajaan Thelessia lebih ketat. Pastikan tidak ada satu pun yang bisa masuk tanpa izin."
Jenderal Thalassar, yang memiliki sisik perak mengkilap dan mata biru laut, mengangguk hormat. "Baik, Yang Mulia. Saya akan memastikan keamanan gerbang diperketat dan tidak ada yang bisa menembus pertahanan kita."
Proteus mengangguk, masih dengan wajah kesal. "Kita tidak bisa membiarkan alien itu mendekati kita. Lakukan apa pun yang perlu, Thalassar."
"Siap, Yang Mulia," jawab Jenderal Thalassar sebelum berbalik dan meninggalkan ruangan, siap melaksanakan perintah dengan ketat dan tanpa ampun.
Jenderal Thalassar, dengan persiapan lengkapnya, mengenakan armor canggih berwarna hitam pekat yang terbuat dari bahan berteknologi tinggi. Armor tersebut dilengkapi dengan sistem pelindung energi nuklir yang canggih dan tombak besar yang memancarkan energi nuklir yang sangat kuat. Tombak ini bersinar dengan warna biru keemasan, memancarkan aura yang menakutkan.
Dengan membawa pasukannya, Jenderal Thalassar menaiki kapal terbang yang dilengkapi dengan peralatan mutakhir. Kapal terbang ini melesat melalui langit yang luas menuju gerbang perbatasan Kerajaan Thelessia. Gerbang ini terletak jauh dari ibu kota kerajaan, di tepi lautan yang luas dan penuh dengan tantangan.
Sesampainya di lokasi, mereka melihat gerbang raksasa yang tampak seperti cermin besar, namun sebenarnya terbuat dari air yang diproses dengan teknologi tinggi. Gerbang ini memancarkan sinar biru keemasan yang mencolok, hasil dari pantulan sinar matahari buatan yang diatur oleh teknologi canggih Kerajaan Thelessia.
Thalassar memandang gerbang itu dengan mata penuh tekad. "Ini adalah pertahanan utama Kerajaan Thelessia. Kita harus memastikan bahwa tidak ada yang bisa menembus pertahanan ini tanpa izin."
Pasukannya bersiap di posisi masing-masing, dan Thalassar memerintahkan mereka untuk menjaga setiap sudut gerbang dengan ketat. Dengan tombak nuklirnya yang bersinar, dia memastikan bahwa gerbang akan terjaga dengan baik, siap menghadapi segala ancaman yang mungkin muncul.