Ahimsa Radeya Sanjaya adalah kandidat Presdir dari kerajaan bisnis milik kakeknya. Salah satu syarat yang harus dia penuhi sebelum menjadi seorang Presdir pilihan adalah menikahi perempuan pilihan kakeknya. Sevim Zehra Mahveen adalah perempuan yang harus dia nikahi.
Awalnya Ahimsa menyetujui syarat tersebut hanya untuk mendapatkan posisi sebagai Presdir. Namun, akhirnya dia jatuh cinta kepada Sevim. Sayangnya, meskipun saling mencintai, tapi mereka seringkali dibuat salah paham.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pp_poethree, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jujur
Sepertinya mulai sekarang memang Ahimsa harus waspada dengan Harsa , kakaknya. Baru pertama kali bertemu dengan Sevim saja, kakaknya langsung bisa memuji calon istrinya. Sevim juga nampaknya sudah akrab dengan Harsa. Posisi Ahimsa sepertinya terancam.
Bagi Sevim sendiri, mudah saja membuka hati untuk Ahimsa. Calon suaminya itu hanya perlu memutuskan hubungannya dengan Rosy. Hanya itu keinginan Sevim jika Ahimsa benar serius ingin memulai hubungan dengannya dari awal. Namun, sepertinya keinginan Sevim tidak akan pernah terwujud karena sepertinya Ahimsa juga masih mempertahankan hubungannya dengan Rosy.
" Vim..., Aa' udah nunggu dibawah.."
" Iya Ma..sebentar..",
Hari ini adalah schedule Prewedding yang tante Anin sudah katakan. Dan, pagi ini Ahimsa sudah berada di rumah Sevim untuk menjemput calon istrinya. Selangkah lagi, Sevim akan menjadi miliknya. Jika saja waktu bisa di percepat, Ahimsa sangat ingin memutar waktu agar hari pernikahannya segera tiba.
" Ganti bajunya..", ucap Ahimsa dingin.
" Kenapa? ada yang salah..?"
" Pake celana.."
" Nggak usah ngatur-ngatur gitu deh.."
" Cepetan ganti.."
Dengan kesal, Sevim kembali naik ke atas untuk mengganti pakaiannya yang kala itu mengunakan terusan dress bermotif bunga dengan panjang selututnya. Padahal, Sevim sangat cantik dan terlihat anggun. Entah mengapa penampilannya langsung dikritik oleh Ahimsa. Dasar aneh!
" Ayo.., naik.."
" Pake motor? "
" Hmmm, kenapa? "
" Aku nggak pernah naik motor Him..takut.."
" Nggak apa-apa, aku tuh mantan muridnya Valentino Rossy, tenang aja.."
" Bukan mantan murid, tapi pacarnya Rossy gitu kan maksud kamu..",
Astaga salah ngomong lagi, batin Ahimsa dalam hatinya.
" Nggak Se..udah yuk naik.., kalo pake motor itu enak, bisa selip sana selip sini.."
" Pake mobil aja, aku nggak mood.."
" Nggak, pokoknya kamu nurut sama aku kali ini.."
Dengen muka cemberutnya, Sevim naik ke atas motor membonceng Ahimsa yang sudah siap mengendarai motor gedenya. Kedua tangan Sevim memegang pundak Ahimsa
Nih cewek, dia kira aku tukang ojek. Oke..kita liat aja.
Padahal, Ahimsa memang sengaja hari ini menjemput Sevim dengan menggunakan motor. Sudah menceranakan sedemikian rupa, malah berakhir seperti ini? Ahimsa yang kesal langsung menambah kecepatan laju kendaraannya.
" Him...pelan-pelan..."
" Biar cepet sampai, lagian nggak enak kalo naik motor tapi pelan.."
" Aku takut.."
" Makanya pegangan.."
" Ini udah.."
" Bukan gitu caranya.."
" Gimana?"
" Peluk..."
" Ih..itu sih maunya kamu.."
" Pilihannya cuma 2, kamu peluk aku atau kamu mau jatuh?"
Sevim tidak punya pilihan,dengan terpaksa dia memeluk erat tubuh Ahimsa yang kala itu memang mengendarai motor dengan kecepatan tinggi. Ahimsa sendiri yang sebenarnya masih marah gara-gara mawar, langsung luluh seketika. Hatinya ikut menghangat ketika kedua tangan Sevim memeluk tubuhnya erat.
" Dasar, modus..", gerutu Sevim.
Ahimsa hanya terkekeh mendengar ucapan calon istrinya. Memang benar, apa yang dikatakan Sevim barusan. Ahimsa memang sengaja menjemput dengan motor,karena dia ingin memanfaatkan kesempatan untuk mendapatkan pelukan dari Sevim, seperti ini. Sebenarnya Ahimsa masih sedikit kesal , bukan kesal sebenarnya, tapi lantaran cemburu karena Sevim menerima bunga pemberian dari Harsa. Namun, kecemburuan dan kemarahannya malah membuatnya tersiksa dan semakin merindu. Rasakan!
Meskipun sudah menggunakan motor berdalih agar bisa sampai dengan cepat. Namun, kenyataannya mami Anin dan mama Eliza sampai lebih cepat dilokasi pemotretan dibandingkan dengan Sevim dan Ahimsa. Itu karena Ahimsa memilih jalan memutar agar dia bisa berlama-lama membonceng Sevim. Dasar Aa'...ada aja idenya.
" Kalian kok lama? fotografer sama MUA nya udah nunggu tuh..",
" Nggak tau tante..Aa' katanya bingung sama jalannya..", jawab Sevim.
" Kok bisa? Mami kan udah kirim share loc nya Aa'.."
" Himsa kan pake motor Mi..mana bisa ngecek ponsel.." ucapnya berbohong.
" Emangnya kamu pikir, Mami kamu ini anak kecil yang bisa di boongin?
Bilang aja kamu mau lama-lama sama Sevim..", ucapnya dengan memukul lengan harsa dengan menggunakan tas yang dibawanya.
" Awww Mi..sakit..",
" Makanya jangan modus terus.., nggak sabar banget ya Aa'.."
" Hmmm Mi.."
Tidak sulit bagi fotografer untuk mengarahkan gaya kepada Ahimsa dan Sevim. Keduanya nampak serasi bak model papan atas yang sangat piawai berekspresi di depan kamera foto. Bagi Ahimsa, inilah kesempatan emas untuknya memandangi dan menikmati wajah putih nan cantik yang dimiliki oleh Sevim. Beberapa kali Ahimsa harus dibuat kepayahan menahan gejolak pada dirinya. Respon tubuhnya saat berdekatan dengan Sevim sangat luar biasa, ingin menyentuh bahkan lebih dari itu. Beruntungnya dia ingat jika sedang ditempat umum . Apalagi, mereka saat ini didampingi oleh Mami Anin dan Mama Eliza. Tidak mungkin Ahimsa berbuat macam-macam pada Sevim. Bisa-bisa dia akan menjadi sasaran Maminya.
Sevim sendiri menjadi salah tingkah, berada di posisi seperti ini. Jantungnya berdebar saat matanya beradu dengan netra coklat milik Himsa. Entah apa yang dirasakannya saat ini, dia pun tak tahu. Merasa canggung dan merasa jika detak jantungnya berdegup kencang seperti habis melakukan kegiatan lari.
" Lihat anak kita mbak, serasi ya.." ucap mami Anin.
" Iya..mereka memang ditakdirkan berjodoh..",
Mama Anin dan Mama Eliza mengamati Ahimsa dan Sevim yang sedang bergaya di depan kamera dengan arahan dari fotografer.
" Capek ya sayang..",
" Iya tante..",
" Nih , minum dulu..habis itu ganti bajunya."
" Yang di tawarin minum cuma Sevim Mi? Himsa nggak.."protes Himsa.
" Kamu kan bisa ambil sendiri, tuh.."
" Teganya.."
" Nih Aa'.., minumnya", ucap mama Eliza yang menyodorkan sebotol air mineral kepada Himsa.
" Makasih tante..kayaknya Mami lebih sayang calon mantunya dibanding sama anak sendiri",
" Udah..nggak apa-apa. Tante juga sayang kok sama mantu tante..", ucap mama Eliza. Bukan sekedar untuk menghibur, tapi memang apa yang dikatakannya tulus.Mama Eliza sudah jatuh cinta dengan calon menantunya. Tidak hanya tampan, tapi Ahimsa sangat sopan terhadapnya, dan satu lagi. Dia sangat terlihat menyayangi Sevim, meskipun anaknya sendiri belum menyadari.
" Habis ini kalian mau kemana? "tanya mama Eliza
" Himsa mau ngajak Sevim keluar ya tante.."
" Loh, kita nggak ke kantor?" tanya Sevim.
" Nggak usah sayang, udah kamu ikut Aa' aja ya.."
" Iya tante..",
"Ya udah, mama sama tante Anin mau pergi dulu, kalian have fun ya. Anak tante jangan diantar pulang malam-malam ya Aa'.., apalagi kalian pake motor"
" Himsa naik mobil tante.., tuh udah dianterin sama sopir. Nanti sebelum jam 9 malam, Sevim sudah di rumah"
" Jaga calon mantu Mami loh Aa'. Lecet dikit aja , awas kamu.."
" Iya iya..",
Sevim menurut, dia juga tidak bertanya kepada Ahimsa kemana mereka akan pergi. Barulah saat mereka tiba di sebuah mall, dan Ahimsa membawanya ke toko perhiasan, Sevim baru memberikan pertanyaan.
" Kenapa kita kesini?"
" Kita pilih cincin pernikahan.."
" Cincin pernikahan kita?"
" Iya...apapun yang kamu pilih, aku pasti suka. Kamu bisa beli perhiasan yang kamu suka dan kamu mau.."
" Beneran?"
" Iya Se.."
Bukan matre, namun Sevim juga seperti perempuan kebanyakan yang sangat suka dengan perhiasan. Apalagi, barusan calon suaminya memberinya kebebasan untuk memilih cincin pernikahan dan perhiasan yang dia suka.
Mata Sevim berbinar, bukan karena melihat kilauan dari perhiasan. Tapi, dia juga senang karena sikap Ahimsa yang manis kepadanya. Tidak ada pertikaian atau perdebatan diantara mereka berdua seperti biasanya.
" Yang ini, boleh?"
" Kamu suka? "
" Iya..",
" Bagus, tapi punyaku modelnya terlalu rame. Ganti aja.."
" Tapi aku suka Him..itu aja ya" ucapnya masih dengan memegang cincin yang sudah dipilihnya.
" Boleh..tapi buat aku, minta custom yang polos aja.."
" Oke..",
Selesai memilih cincin pernikahan, Sevim beralih melihat-lihat perhiasan. Siapa tau ada yang membuatnya tertarik. Ahimsa sendiri , setia disamping calon istrinya.
" Rosy.."
Langkah Sevim terhenti ketika melihat gadis yang ada dihadapannya. Perempuan itu baru saja masuk ke toko itu, ditemani dengan laki-laki setengah blesteran yang tangannya melingkar dipinggang Rosy denganerat. Namun, saat mengetahui keberadaan Ahimsa dan Sevim, Rosy melepas tangan laki-laki itu.
" Dia siapa?", tanya Himsa mengintimidasi.
" Temen beb, dia partner kerja. Model kayak aku.."
" Terus kenapa kalian disini?"
" Hmmmmm..aannu..eeee.., aku mau beli kado buat temenku yang ulang tahun. Kamu sendiri ngapain disini sama perempuan ini?"
" Perempuan ini...dia pumya namanya. Jangan kurang ajar kamu, aku mau ngomong sama kamu.
Se...tunggu Aa' disini ya? Jangan kemana-mana"
Sevim mengangguk tanda mengerti. Entah kenapa hari ini dia menjadi penurut. Mungkin lelah karena setiap Ahimsa dan Sevim bertemu, tiada hari tanpa perdebatan. Dan, kali ini Sevim sedikit bersabar.
" Aku tanya..itu siapa? Pacar baru kamu?",
" Nggak beb..dia emang partner kerja.."
" Jangan bohong, nggak mungkin cuma temen tapi dia meluk kamu kayak gitu.."
" Kamu cemburu?"
" Ini bukan waktunya bercanda..aku terima kalo dia itu pacar kamu atau calon suami mu sekalipun. Aku mau kita putus.., cuma itu yang aku pengen saat ini.."
" Nggak semudah itu beb.."
" Kenapa? Bukannya kamu nggak cinta sama aku? Yang kamu cari apa? Uang? Popularitas?"
" Ini menyangkut reputasi..kamu tau, namaku semakin tinggi saat aku memutuskan untuk pacaran sama kamu, kandidat terbesar penerus Sanjaya grup. Mereka tau, kita pacaran. So, nggak mungkin kan seorang penerus tahta, pacaran sama orang sembarangan..?"
" Itu..semua nggak penting,, yang aku mau kita putus.."
" Kamu lupa..aku pegang rahasia terbesar kamu sama Sevim? Jangan lupa itu sayang..aku bisa nekad ketemu sama kakek dan akhirnya pernikahanmu batal" ucapnya dengan meninggalkan Ahimsa.
" Sial..!!! ", Ahimsa menggerutu.
Aku tunggu di mobil ya.
Begitu isi pesan Sevim yang dikirimkan ke ponselnya. Sevim lelah menunggu, yang akhirnya memutuskan untuk pergi dari toko perhiasan itu.
" Uda dapet perhiasannya?"
" Nggak.."
" Kenapa? nggak ada yang bagus? Bukan selera kamu?"
" Bukan..aku tadi nggak bawa dompet Him. Kalo kamu pergi, siapa yang bayarin.."
" Astaga, aku lupa Se. Maaf ya..",
" Nggak apa-apa..",
" Nih..ayo Aa' temenin belanja lagi.."
" Nggak usah, lain kali aja.."
" Ya udah kartunya kamu pegang aja.."
" Nggak mau,, aku belum perlu.."
" Udah..pegang aja.."
" Nanti aja kalo kita nikah..",
" Ya udah.., ini aku pegang lagi kartunya",
Bagi Sevim sendiri, apa yang dia tangkap mengenai ekspresi Ahimsa adalah kecemburuan kepada Rosy yang tengah dipeluk oleh teman laki-lakinya. Wajar saja, Ahimsa bersikap demikian. Laki-laki mana yanh rela jika kekasihnya diusik.
Muka Ahimsa masam karena kesal, bukan gara-gara cemburu tapi lantaran ucapan putusnya , justru malah mendapatkan ancaman balik dari Rosy. Ahimsa hanya menginginkam hubungan dan statusnya berakhir. Namun, Rosy malah menolak karena hubungannya bersama Ahimsa justru adalah katrol bagi karirnya di dunia entertaint. Rosy ingin mendapatkan predikat model kelas atas yang berpacaran dengan salah satu pengusaha muda. Benar-benar licik.
Sevim memang seringkali dibuat salah paham mengenai sikap Ahimsa. Bukan hanya Sevim yang salah mengartikan yang membuat mereka belum mau mengakui perasaanya , tapi juga Ahimsa yang belum mau terang-terangan dan belum terbuka mengenai perasaannya terhadap Sevim. Sebenarnya baik Ahimsa maupun Sevim hanya perlu kejujuran dari dalam diri masing-masing bahwa mereka peduli satu sama lain. Mereka saling mencintai? Mungkin.
semoga ad kelanjutan season 2nya
Selamat ya Sevim untuk kelahiran baby girl